Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 107



“Seperti yang tuan lihat sendiri, saya juga sudah mengatakan pada tuan berkali – kali saat kambuhnya tuan muda waktu itu jangan pernah biarkan dia sendirian. Jika keadaan emosional tuan muda seperti itu jadi tak menutup kemungkinan hal yang sedari dulu terjadi padanya bisa terulang kembali. PTSD yang tuan muda alami kini tidak seperti dulu, mudah dipicu oleh hal - hal yang biasa seperti suasana hatinya namun tak menutup kemungkinan jika bayang masa lalu juga bisa menjadi pemicu setelah suasana hatinya. Prediksi saya jika tuan muda seperti ini terus dalam waktu kurang dari dua hari dan tuan Rendra tidak sadarkan diri, ia akan mengalami masa koma sampai kapan juga saya tidak bisa memberitahu. Jika dugaan saya tidak salah, tuan muda kini mengurung dirinya sendiri dialam bawah sadar miliknya dan entah kapan ia bisa sadar, juga kemungkinan saat nanti ia sadar memori tuan Rendra juga akan hilang sedikit demi sedikit entah itu bersifat sementara atau permanen tergantung kondisi tuan Rendra sendiri”


“Maafkan saya tuan”


“Teruskan saja saya ingin tahu detailnya”


“Tekanan yang di alami tuan muda menekan saraf yang ada di matanya juga kemungkinan bisa membuat tuan Rendra bisa mengalami kebutaan seiring berjalannya waktu. Jadi saya sarankan agar tuan bisa membuatnya mengembalikan semangat untuk hidupnya lagi. Saya juga harus memastikan semuanya kembali melalui hasil tes pemeriksaan yang dijalani tuan muda, maaf tuan saya pun tidak bisa berbuat apa – apa selain menunggu permisi Tuan” jelas dokter Agus namun membuat batin Hendra bergejolak.


‘Dimana aku mencari keberadaan Shita jika ia sudah seperti ditelan bumi selama ini? Rendra bertahanlah nak, ayah akan mencari Shita bagaimana pun itu’ gumamnya lirih setelah melihat kepergian dokter Agus dari hadapannya.


Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Rendra kala ia tertidur di atas ranjang berbalut kain putih khas rumah sakit. Kondisi Rendra tercium oleh Media sehingga banyak yang memberitakan jika Rendra sekarang sakit – sakitan semenjak ditinggal oleh tunangannya hingga menyebabkan saham perusahaan Rendra turun drastis dan banyak investor yang menarik dana mereka kembali di perusahaan.


“Pa, gimana sama Rendra pa? Mama khawatir” ucap Ratna dalam gelisahnya.


“Papa gak tau ma. Shita seperti hilang ditelan bumi dan dokter Agus pun mengatakan agar kita bisa mengembalikan suasana hati Rendra tapi dengan cara apa ma. Papa curiga dengan seseorang tapi apa hubungannya dia dengan Shita, papa akan coba minta bantuan ayah di Amerika tapi setiap kali papa ingat dengannya itu hanya menambah deretan luka papa dengan apa yang terjadi pada Rendra ma” ucap Hendra lirih tak memalingkan pandangannya dari Rendra yang masih senang tertidur.


“Dokter Agus memprediksi jika dalam dua hari Rendra tidak siuman dan Shita tidak dihadirkan maka dipastikan penyakitnya akan kambuh lagi ma. Dia juga akan mengalami seperti apa yang papa prediksi sebelum hasil pemeriksaan keluar dokter agus juga tidak bisa berbuat apa - apa” tambah Hendra yang kini tak bisa lagi menyembunyikan kesedihan yang nampak di wajahnya, jika dulu selalu ia bisa tahan dengan semuanya, tapi kini tidak lagi ayah tampan dan gagah itu menangis tak tega ia melihat penderitaan Rendra sedari kecil.


Ketiga sahabatnya juga Dharma dan Nana yang baru saja siuman begitu tercengang mendengar penjelasan Hendra tentang keadaan Rendra. Tangis semua orang pecah melihat ketidakberdayaan laki – laki yang tengah berbaring dengan selang oksigen yang dihidungnya juga beberapa alat yang menempel ditubuhnya.


Bahkan kedatangan Anna yang sudah berada di ambang pintu dan tidak mereka ketahui, tak dapat menyembunyikan wajah sedihnya mendengar apa yang di katakan oleh Hendra tentang kondisi Rendra.


“Nana, kamu harus kuat ada aku dan mereka disini kita pasti bisa menemukan Shita juga kak Rendra bisa sembuh. Apa kita harus mengatakan yang sebenarnya tentang kepergian Shita pada mereka?” bisik Anna namun tak ada jawaban yang berarti dari sahabatnya.


Sementara itu diruangan berbeda, selama satu bulan ini Fendra sudah mendapatkan perawatan yang begitu baik dari calon besannya juga calon ipar anaknya kondisi Fendra sudah stabil dan boleh pulang dengan syarat tidak boleh banyak beban pikiran lagi.


Widya yang baru saja mendengar beberapa orang staf bergosip jika Rendra sedang di rawat tak jauh dari tempat suaminya kemarin di rawat. Perlahan Widya mendekati Fendra juga Nayna untuk menjenguk Rendra sebelum kepulangan mereka.


“Bapak, ibu” panggil salah seorang dokter laki – laki yang tak lain adalah Andi yang datang bersama Nita. “Kalian ingin menjenguk Rendra?” tanya Andi yang dibalas anggukan oleh Fendra.


“Kalian tahu ruangannya dimana?” tanya balikWidya.


“Tentu kami tahu ibu. Perkenalkan nama saya Nita dan ini Andi juga sahabat Shita anak kalian berdua. Jika kalian tidak keberatan kami ingin mengantar kalian ke sana, bagaimana?” tanya Nita dengan sopan. Ya wanita itu telah berubah lebih baik sejak ia berpacaran dengan Andi dan itu semua karena Shita.


“Baik jika tidak merepotkan kamu cantik ayo pak, Nayna kita kesana sekarang” ajak Widya pada anaknya sambil


tersenyum.


Tak berapa lama mereka sudah berada di depan ruang rawat Rendra. Fendra yang sedari tadi sudah memegang gagang pintu dan ingin membuka nampak menghentikan niatnya kala ia mendengar pembicaraan serius keluarga yang ada di dalam.


“Bagaimana kita mencari Shita pa? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan keluarga Sanjaya? Kita sudah mengerahkan segala cara namun tak ada hasilnya sama sekali. Maaf pa jika aku menyembunyikan apa yang aku tahu, tapi Shita menyuruhku untuk merahasiakannya jadi Shita pergi dengan sengaja-


Tiittt tiiitt tiitt


“Akhh Rendra, Dharma cepat pencet tombol itu, Cepat” teriak Ratna histeris begitu melihat layar monitor yang terhubung pada alat pendeteksi jantung menunjukkan getaran jantung Rendra tidak stabil.


“Kakak bangun kak, bangun jangan tinggalin aku kak. Aku janji akan jadi adik yang baik buat kakak, tolong” teriak Nana histeris, Niko pun memeluk Nana dan mencoba menenangkan wanita itu.


“Ada apa ini? Mengapa bisa sampai seperti ini?” ucap dokter Agus yang baru saja datang kemudian memeriksa kondisi Rendra.


“Nana, bisakah kamu ceritakan detailnya seperti apa pada papa?”


“Pa, maaf sebenarnya Nana tahu tentang kepergian Shita tapi ia minta untuk merahasiakan semuanya karena ia juga kecewa dengan kak Rendra, ia ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya dan juga kak Rendra tentunya karena ia di ancam oleh seseorang jika tidak menuruti perintahnya maka Nayna juga kedua orang tuanya akan tersakiti. Jadi ia mengorbankan kebahagiaannya agar keluarga Shita bisa hidup dengan nyaman dan kak Rendra pun bisa tenang”


“Bisakah kalian keluar sebentar, kami sedang memeriksa pasien jika kalian ribut seperti ini kami tidak bisa konsentrasi” ucap salah satu asisten dokter Agus.


Bruukkkkk


Semuanya kaget mendengar suara orang jatuh di luar kamar rawat Rendra. Wisnu dan Riko pergi melihat keadaan diluar, alangkah kagetnya mereka melihat dua orang paruh baya pingsan juga seorang perempuan tengah menangis kebingungan.


“Apa yang terjadi?” tanya Wisnu lagi sementara Riko berlarian mencari bantuan.


Kedua orang tua Rendra dan yang lainnya begitu kaget melihat orang tua Shita tergeletak dilantai.


“Nayna” teriak Dharma. “Mengapa ini bisa terjadi? Ceritakan pada kami nanti yang penting sekarang orang tuamu mendapatkan penanganan terlebih dulu. Kak Niko bantu aku mengangkat tubuh pak Fendra”


Niko dan Dharma yang sudah berhasil mengangkat tubuh Fendra meletakkannya di brankar beralaskan kain putih yang di bawa petugas dan datang bersama Riko. Tubuh Widya juga sudah diangkat dan di larikan ke ruang gawat darurat bersama Wisnu dan Riko.


“Nayna, hikss sini peluk kakak. Kamu jangan khawatir lagi, kedua orang tuamu pasti sembuh. Bisa kamu ceritakan pada kami mengapa ayah juga ibumu seperti itu?” tanya Nana namun tangannya tetap memeluk tubuh Nayna.


“Hikss, bapak dan ibu mendengar semua yang kakak tadi katakan. Dokter bilang jika bapak tidak boleh banyak pikiran lagi, tapi setelah mendengar itu semua sepertinya kondisi bapak menjadi drop kembali”


Ceklek


“Tuan” panggil dokter Agus dengan wajah sedihnya. Disaat bersamaan datang Rian juga Desi yang bersamanya ingin memberitahukan kondisi perusahaan.


“Maaf, dengan berat hati saya memberitahukan kondisi tuan muda” dokter menghela nafas panjang masih dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. “Maaf tuan, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan tuan muda tapi mungkin tuhan punya rencana sendiri untuk tuan muda, dia saat ini-


“Tidak kak Rendra, tidakk” teriak Nana berlarian memasuki ruangan Rendra, alat pendeteksi jantung yang masih menempel ditubuh Rendra memperlihatkan garis datar.


Ia naik ke ranjang dan melakukan pompa pada jantung Rendra berharap bisa berdetak lagi, di luar kamar Ratna sudah pingsan mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Agus. Sementara Dharma tertatih menuju kamar Rendra setelah berhasil meletakkan Ratna di tempat tidur di samping kamar Rendra dan menyusul Nana yang sudah mendahuluinya. Rian juga Desi begitu tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Agus yang sudah tak terlihat lagi bayangnya.


Seuntai senyum penuh kemenangan terlihat diwajah seseorang yang sejak tadi berada di antara keluarga Jaya, sangat tipis bahkan sangat tipis hingga tidak bisa lihat oleh siapapun jika tidak terlalu memperhatikan. “Pak Rian saya permisi ke toilet sebentar ya”


Tuutt tuutt


“Halo Tomy, aku ingin memberitahukan bagaimana kondisi Rendra. Saat ini dia sedang berada di ambang kematian dan tak akan lama lagi ia akan meninggal” ucapnya begitu senang.


“Hahaha jalankan rencana kita selanjutnya Desi ah bukan Tara sayang. Aku sudah merubah penampilanmu agar tak bisa dikenali semua orang jadi berhati – hatilah dan mainkan peranmu sampai akhir”


"Baik sayang"


Tuutt


Tawa begitu kencang terdengar sampai di luar ruangan CEO TSanjaya Grup cabang Amerika.


“Aku bahagia, aku bahagia. Nikmati kekalahanmu Rendra silakan nikmati semuanya. Itu balasan terhadap apa yang kau lakukan pada kakak ku dan juga telah merebut wanita yang aku cintai sejak dulu. Hahaha”


Arya sang asisten hanya tersenyum mendengar tawa nyaring tuannya lagi saat ia memberitahukan kondisi perusahaan Jaya Corps.


“Hancurkan perusahaannya” titah Tomy lagi yang diangguki cepat oleh Arya. “Bahkan laki – laki itu tidak tahu jika ia memiliki musuh di sampingnya, hahahhaha. Tunggulah Rendra, nikmati setiap luka yang kau torehkan pada keluargaku dulu. Apa yang kamu rasakan ini belum seberapa untukmu” teriaknya lalu tertawa dengan kencangnya.


Kriiingg kriinggg


“Siapa yang menghubungiku, hah nomor internasional? Apa jangan – jangan keluarga Rendra” ucap seorang wanita yang sedang duduk di salah satu kamar mewah dengan cepat menggeser tombol hijau.


“Halo, siapa ini?” ucapnya lagi tanpa segan.


“Halo cantik, bagaimana kabarmu? Kau masih ingat dengan aku? Bagaimana dengan” ucap seorang laki – laki diseberang telepon.


“Siapa kamu?” tanyanya.


“Apa kamu lupa dengan laki – laki yang sudah membawamu pergi jauh dari keluarga Jaya?” jawabnya.


“Kau?”


“Ya ini aku, tunggu aku akan kembali setelah ini lalu kita akan melangsungkan pernikahan indah kita” ucapnya lagi seraya mematikan panggilan.