Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 64



Mentari menyapa dengan cerah. Secerah harapan baru yang ada dibenak seorang laki – laki dan wanita yang kini berada di dua tempat yang berbeda.


“Pagi mah pah. Nana sama Dharma mana?” tanya laki – laki yang sudah duduk disebelah mamahnya tersenyum dengan manisnya.


“Bentar lagi juga turun. Tunggu aja sayang.” Ucap Ratna melihat Rendra sekilas dan melanjutkan mengisi telur disemua piring yang telah diisi nasi goreng.


“Pagi pah, mah, kak Rendra.”


“Pagi pah, mah, kak.”


“Pagi dek” jawab Rendra singkat.


“Mah pah, Rendra mau kasi tau sesuatu.” Rendra memulai perbincangaan di meja makan, sejenak Rendra menghela nafas untuk menenangkan hatinya. “Kalian bisa gak luangin waktu datang ke pesta yang akan Rendra adakan hari ini sekaligus untuk memperkenalkan kekasihku” lantang Rendra setengah gugup namun mencoba ia tutupi dengan memakan sarapan paginya.


“Eh niat bagus tuh, udah pengen gendong cucu nih mama. Setelah itu mama mau kamu ajak kesini Shita biar bisa akrab sama mamah dan papah. Ya kan pah?” Jawab Ratna menoleh ke arah suaminya.


“Yang kemarin papa kirim fotonya itu lo mah, mamah gak liat? Sampai buat satu rumah sakit heboh dengan kelakuan anak mama ini” canda Hendra yang sedang menyungah roti buatan istrinya.


“Ya ampun papa, mama tidak melihatnya dengan jelas. Bawa kesini nanti ya nak. Ohya kapan rencana nikahnya sayang?” tanya Ratna disela – sela kegiatannya.


“Setelah acara Riko kayaknya pa, nanti Rendra omongin berdua sama Shita. Rendra mau lamar nanti atau kapan gitu kalo ada kesempatan, Rendra juga udah siapin kejutan buat dia. Aku belum tanya sama Shita kapan dia luangnya di Rumah Sakit ma nanti aku ajak dia makan malam sama – sama ya ma.” Jelas Rendra yang kini meneguk air dalam gelasnya.


“Terserah kamu saja Rendra, papa mendukung semua yang kamu lakukan asalkan baik. Ingat jaga wanita itu seperti kamu menjaga ibumu Rendra. Karena kelak jika berjodoh dia adalah istri yang harus kamu bahagiakan.”ucap Hendra memberi nasehat dan meletakkan kembali kopi hitam kesukaannya setelah menyesapnya.


“Kalian gimana dek? Kasi saran dong.”


“Yah kakak, kita kan cuma bisa dukung kakak. Aku dan kak Dharma yakin Shita adalah pilihan yang tepat buat kakak. Ya kan kak Dharma?” tanya Nana pada kakaknya yang sedari tadi diam.


“Ya kak, aku juga setuju.” Jawab singkat Dharma. Semua menatap ke arah laki – laki yang berada disamping Nana, tak biasanya laki – laki itu begitu pendiam karena ia adalah tipe laki – laki banyak bicara dan ceria.


“Baiklah, aku akan coba bicarakan dengan Shita. Bukankah niat baik tidak boleh ditunda. Aku pergi dulu ya mah, pah. Dek kakak duluan ya. Mau jemput calon menantu kalian dulu” Ucap Rendra dengan senyum manisnya dan berpamitan pada orang tua dan adiknya, melangkahkan kaki keluar menuju mobil yang sudah disediakan oleh Rian.


“Dharma kamu kenapa nak? Ada masalah?” tanya Ratna kini menatap intens anak laki – lakinya.


“Tak apa mah, nanti Dharma beritahu jika aku memiliki masalah. Mama papa fokus ke kakak saja sekarang. Dharma berangkat dulu ya mah, pah” ucap Dharma seraya meninggalkan ruang makan menuju garasi mobil.


“Hati – hati ya nak. Nana kamu coba ceritakan wanita yang di pilih oleh kakakmu itu. Jika melihat saat pesta mama memang menyukainya" Nana pun menceritakan pada kedua orang tuanya bagaimana sosok seorang Shita di mata Nana.


Rian hari ini menjemput bosnya itu membukakan pintu kemudian melajukan mobil. Rian yang tahu kemana tujuan awal bosnya hanya diam tak banyak bertanya.


“Tuan, ada 2 berita yang ingin saya sampaikan kabar baik dan buruk. Kabar baiknya saya sudah menyelesaikan tentang perusahaan keluarga nona Tara.” Ucap Rian yang mengemudikan mobil yang ditumpangi oleh Rendra.


“Lalu” singkat Rendra yang kini sibuk dengan ponselnya mengirim pesan untuk kekasihnya.


"Yang selanjutnya adalah berita tentang tuan dan dokter Shita yang masuk ke salah satu apartemen yang begitu cepat menyebar dimedia sosial dan Banyak komentar di sosial media menyudutkan Nona Shita. Saya diberitahu oleh orang yang kita bayar untuk menjaga dokter Shita dari jauh mengatakan jika dirumahnya hari ini ada banyak wartawan” lanjut Rian yang begitu gugup menjelaskan masalah yang terjadi hari ini.


Rendra begitu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh asistennya, dengan cepat ia mencari nomor telepon kekasihnya.


Tuuttt tuuttt


“Kemana dia, mengapa tidak mengangkat panggilanku. Rian percepat laju mobilnya” ucap Rendra sedikit gelisah memikirkan kondisi kekasihnya.


“Baik tuan”


“Kita pergi sekarang, pecat manajer yang bekerja di apartemen milikku”


Sementara itu, wanita yang sejak tadi telah bersiap dan sedang menunggu seseorang yang akan menjemputnya dikejutkan dengan gedoran yang begitu keras dari luar. Merasa asing dengan situasinya, Shita hanya bisa mengintip dari balik jendela siapa yang menggedor pintu rumahnya.


Mata Shita terbelalak kaget begitu banyak orang yang ia lihat sedang berada dirumahnya.


‘Mengapa ada banyak orang dirumahku? Mau apa mereka?’ gumam Shita tak lama ponsel yang sedari tadi terhubung dengan pengisi daya bergetar dan menganggetkan Shita. Hampir saja ia terjatuh dari posisi berdiri karena terkejutnya kemudian dengan cepat ia mengambil ponsel dan menjawab panggilannya.


“Halo Nana, mengapa kau menghubungiku pagi – pagi begini? Kau hampir membuatku jantungan” ucap Shita yang masih menetralkan rasa terkejutnya.


“Kamu dimana Shita? Kak Rendra sudah disana? Jika belum kamu jangan keluar rumah. Aku yakin keadaan rumahmu sekarang pasti heboh juga jangan membuka pintu dari orang yang tak kamu kenal. Tunggu aku disana, aku segera kesana” jawab Nana cepat seraya mematikan ponselnya.


“Mengapa wanita itu mematikan panggilan seenaknya sih” gerutu Shita melemparkan ponselnya ke sembarang arah. Dengan cepat ia memikirkan kata per kata yang dilontarkan sahabatnya. “Aku tak boleh keluar rumah begitukah yang dia maksud tapi aku nanti siang akan bekerja. huhh” tambahnya menghela nafas panjang.


Sudah 3 jam ia menunggu kedatangan Nana namun tak kunjung datang,


Tok tok tok


Shita yang mendengar ketukan pintu dari arah luar ragu untuk membuka atau tidak namun ia berjalan menuju jendela memastikan siapa yang mengetok pintunya.


Wanita itu terperanjat kaget dengan apa yang ia lihat, dengan cepat ia membuka pintu rumahnya.


“Hai” sapa seorang laki – laki.


“Kalian? Mengapa jam segini kalian datang ke rumahku, ada apa? Dan dimana orang – orang banyak yang tadi berada di depan pintu?” tanya Shita kebingungan dengan kehadiran sahabatnya dan Sahabat Rendra. Ia celingak celinguk sendiri seakan menyadari ada sesuatu yang kurang disana.


“Tak ada apa, kami hanya ingin memastikan keadaanmu. Ah aku tahu kamu pasti mencari Rendra bukan? Tapi maaf dia tidak ada disini sekarang, ada yang ingin bertemu denganmu dan berkenalan denganmu” sahut Niko yang disebelahnya sudah ada Nana sahabatnya, dibelakangnya ada Riko dan Anna serta Wisnu dan asistennya Nisa.


“Hah? Bertemu denganku, siapa kak? Nana jelaskan padaku, apa yang terjadi disini dan mengapa Rendra tak ada disini?” tanya Shita yang kini menatap tajam sahabatnya.


“Jangan menatapku seperti itu Shita, ikutlah dengan kami maka kau akan mengetahuinya namun sebelum itu kau harus mengganti bajumu dulu sekarang.. Apa kau tak percaya pada kami?” sahut Nana dengan tatapan sedihnya.


Merasa bersalah telah mengajukan pertanyaan seperti itu, Shita hanya mengangguk dan menuruti kemauan sahabatnya. Nana yang mengetahui jika Shita tak bisa berdandan langsung menyeret Shita masuk ke dalam kamarnya dan membantu berdandan disusul oleh Anna dan juga Nisa.


“Sekarang sudah siap. Kau tampak sangat cantik mari kita pergi” teriak Nana dari dalam kamar Shita dan memutar tubuh Shita yang mengenakan dress warna hitam selutut.


“Tunggu sebentar, mengapa kau mendandaniku seperti ini Nana? Anna apa kau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi? Jelaskan padaku” tanya Shita memohon pada sahabatnya yang kini berdiri disebelahnya.


“Biarlah Rendra yang mengatakannya padamu nanti Shita, kamu tenang saja. Kami tak akan menjadikanmu santapan buaya” sahut Anna tertawa melihat wajah Shita yang memelas padanya.


“Dasar kalian sama saja, awas kalian” sahut Shita yang kemudian terdengar tawa memecah dari kamar Shita. Kedua sahabat Shita menertawakan tingkah lucu Shita dan kepolosannya.


‘Mengapa wanita ini memiliki sahabat dan kekasih yang begitu menyanjungnya? Bahkan aku tak pernah seperti ini


diperlakukan oleh sahabat maupun kekasihku sungguh menyebalkan. Jika aku berpacaran dengan bos Wisnu apakah aku akan mendapatkan lebih dari yang mereka lakukan pada wanita ini?’ gumam seorang wanita yang juga berada disana yang tak lain adalah Nisa.


Nisa yang sedari tadi melamun tersadar dari lamunannya kala suara wanita menganggetkannya. “Nisa, aku minta tolong padamu kamu keluar sebentar ya. Panggilkan kak Niko” ucap ramah Nana disertai senyuman yang begitu manis.


“Oke baiklah” sahutnya seraya keluar dari kamar Shita dan memanggil Niko.