
20 menit kemudian wanita itu kini sudah berada di depan sebuah rumah bergaya Eropa dengan dinding yang terbuat dari kaca dilantai 2.
“Selamat datang nona” sapa seorang pelayan
“Mmmm dimana kakakku? Mengapa hanya kalian yang menyambutku? Ambilkan semua barang – barangku” ucap wanita itu dengan sinis sembari memasuki rumah besar itu dengan angkuhnya.
‘Mengapa tuan muda bisa bersama dengan wanita jahat ini’ gumam salah satu pelayan rumah itu yang kemudian keluar menuju taxi dan mengambil apa yang disuruh oleh wanita itu.
“Kakak, kakak. Kamu dimana? Tak rindukah kamu dengan adikmu ini?” teriak wanita itu.
“Hei adikku yang manis, kau kapan sampainya mengapa tak mengabari kakak?” ucap laki – laki yang baru saja menuruni anak tangga dengan wajah bahagianya memeluk wanita yang sedari tadi berteriak itu yang ternyata adalah adiknya sepupunya.
“Aku baru saja sampai, ngomong – ngomong kenapa kakak balik ke Indonesia? Bukannya perusahaan induk kakak tidak berada di sini?” tanya wanita itu sembari melerai pelukan kakak laki – lakinya.
“Bukankah kakak sudah mengatakan jika bisnis itu bukan bidang kakak? Kakak hanya ingin melanjutkan mimpi mama yang dulu sayang tapi sekali – kali kakak akan ke sana untuk melihat perkembangan perusahaan” ucap laki – laki itu dengan senyum manisnya.
“Ya aku tahu itu kak, tapi bisakan kakak menjalani semua ini juga di sana sekalian kakak melanjutkan apa yang kakak sukai” kata wanita itu sembari melepas pelukannya.
“Tidak ada jawaban. Kakak akan ke tempat kerja, beristirahatlah dulu, nanti akan kakak kenalkan kamu dengan teman kakak yang bekerja ditempatmu mulai besok dan kakak yakin kamu akan menyukainya” ucap laki – laki itu kemudian mengecup kening adiknya dan berjalan keluar dari rumah menaiki sebuah mobil sport mewah miliknya.
Laki – laki itu melajukan mobilnya namun sesekali matanya melihat ke arah ponsel yang kini sedang melakukan panggilan dengan temannya.
“Halo, Andi. Kamu dimana? Sibuk?” tanyanya.
“Aku ada dirumah sakit baru selesai dengan operasiku, kenapa Jod?” tanya laki – laki diseberang sana yang ternyata adalah dokter Andi.
“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu makan malam sembari mengenalkanmu pada seseorang. Dia adalah adik sepupuku yang baru kembali dari Amerika. Dia mengatakan jika besok ia mulai bekerja ditempatmu. Aku ingin membangun perkenalan diantara kalian agar tak canggung nantinya. Bagaimana?” terang Jodi pada sahabatnya Andi.
“Baiklah, kirimkan saja aku lokasi dan jam nya. Aku usahakan untukmu. Aku tutup”
Setelah menutup panggilannya, Jodi pun melajukan dengan kencang mobil yang ia bawa ke tempat kerjanya.
---
Sementara itu setelah menempuh perjalanan 1 jam, pasangan Shita dan Rendra telah mendarat dengan selamat di Bandara International Ngurah Rai. Mereka pun telah keluar dari jet pribadi milik Rendra dan disambut oleh asisten kepala rumah tangga dirumah keluarga Jaya yang berada di Bali.
“Tuan, Nona. Silakan masuk tuan, nona” ucap Bimo asisten rumah tangga keluarga jaya membuka pintu mobil yang ada di sampingnya.
“Terimakasih” ucap lirih Rendra yang kini memasuki mobil bersama Shita.
‘Sejak kapan Tuan muda mengucapkan terimakasih? Apa karena wanita yang disebelah tuan muda? Cantik, benar – benar memberikan dampak yang begitu besar untuk tuan muda’ gumam Bimo tersenyum diam – diam yang kini berada dibalik kemudi.
“Kita pulang ke rumah tuan?” tanya Bimo lagi.
“Tidak, ke nusa dua”
“Baik tuan”
Dengan cepat Bimo melajukan mobilnya melewati tol Bali Mandara untuk mempersingkat perjalanan mereka. Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Shita. Teriakan seorang perempuan terdengar memekik telinga Shita yang baru saja keluar dari mobil.
“Kakak”
“Bisakah kau tidak berteriak?” gerutu Shita namun tetap memeluk adiknya itu.
“Kak Rendra, apa kabar?”sapanya tersenyum ramah pada calon kakak iparnya.
“Tidak bisakah kau lihat kakakmu yang tampan ini keadaannya sangat baik sekali bahkan tambah tampan bukan” sahut Rendra dengan kekehan kecilnya. Shita yang melihat kelakuan Rendra mencubit pinggang laki – laki itu.
“Kakak memang selalu tampan, dan aku menyukainya”
“Sayang, kau dengar bukan apa yang dikatakan oleh adikmu itu bahkan dia saja menyukaiku. Kau memang benar – benar cantik persis seperti kakakmu” ujar Rendra mengusap perlahan ujung kepala Nayna, “tante dan om dimana Nay?” tanya Rendra lagi yang kini mereka bertiga sudah sampai di depan pintu rumah Shita.
“Eh kalian sudah sampai, masuk dulu tidak enak jika mengobrol di depan rumah seperti ini” ajak Fendra bapak Shita yang baru saja datang dari ruang tengah karena mendengar keributan yang terjadi di depan rumahnya.
“Tak usah pak, saya mau bertemu dengan teman – teman saya sebentar lagi. Kita ngobrol besok saja ya pak, besok saya akan suruh orang jemput ke sini untuk mengantar kalian ke pernikahan sahabat kami. Shita aku pergi menemui sahabatku dulu, nanti aku akan mengabarimu” ucap Rendra menolak dengan halus ajakan calon mertuanya seraya menyalami tangan lalu memutar tubuhnya menuju ke mobil yang mengantarkannya dan Shita.
“Baiklah nak bapak tidak akan memaksa untuk tinggal, hati – hati ya diperjalanan” ucap Fendra yang tangannya sudah berada di atas dan melambaikan tangannya.
Rendra membalas lambaian tangan ketiganya begitu ia telah masuk ke dalam mobil. Sengaja ia menolak ajakan orang tua Shita karena ia sangat yakin laki – laki yang tempo hari datang ke hotel membawakan hadiah untuk Shita sejak mereka keluar dari bandara sudah mengikutinya.
Benar dugaan Rendra tak berapa lama ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk juga di ponsel Shita, begitu mudahnya laki – laki itu memasang penyadap di ponsel Shita saat kekasihnya itu terlelap berada di jet yang membawa mereka tadi.
Namun Shita tak kunjung mengangkat panggilan dari nomor yang tak dikenalnya. Seuntai senyuman terlihat di bibir Rendramelihat sikap Shita yang mengabaikan panggilan dari nomor yang tak dikenalnya. Rendra kemudian mengetikkan sesuatu dengan cepat dan mengirimnya. Tak lama dering ponselnya terdengar lagi tapi kali ini panggilan itu di angkat oleh Shita.
“Halo”
“Halo Shita, akhirnya kamu mengangkat panggilanku. Aku sangat senang, apa kau senang juga dengan hadiah yang aku titipkan ke adikmu itu?”
“Kamu siapa dan mengapa kau bisa tahu adikku juga?” tanya Shita tak sabar.
“Tak itu saja yang aku tahu, masih banyak hal yang juga aku tahu. Apa kau pernah menanyakan pada orang tuamu terutama ayahmu mengenai kondisinya? Apa yang akan terjadi pada keluargamu jika mereka tahu bagaimana hidupmu dulu di Jakarta, aku yakin aku bisa menyembuhkan ayahmu jika kamu mau bersama denganku Shita, datanglah padaku” jawabnya dengan santai.
“Aku mengetahui apapun yang dialami oleh keluargaku. Kamu bukan siapa – siapa ku tapi mengapa kau ikut campur urusanku hah?” jawab Shita geram.
“Kamu lupa aku siapa? Akulah Pemujamu, suami masa depanmu. Apa kau yakin ingin bersama dengan laki – laki pilihanmu saat ini, dia menyimpan banyak rahasia yang tak akan pernah kamu bayangkan sebelumnya. Apa kau tahu dia adalah laki – laki yang sama sekali tidak tertarik dengan wanita” jawabnya namun dengan tawa yang bisa terdengar oleh Shita.
“Kau halu? Apa kau gila dan berhalusinasi, aku tak punya pemuja sepertimu yang menerorku seperti ini tiada henti. Jika memang kekasihku memiliki banyak rahasia buktikan tapi aku tidak percaya perkataanmu itu” ucap Shita cepat.
“Aku akan membuktikannya dengan senang hati sayang, tunggu aku. Jika sudah waktunya kamu yang akan mengemis padaku”
“Dalam mimpimu psikopat”
Tuutt
Dengan geram Shita menutup panggilan itu dan melemparkannya ke kasur tempat dimana adiknya duduk juga mendengarkan semua umpatan dan omelan kakaknya itu.
“Gara – gara kamu ni bilang dering ponsel kakak berisik jadi nerima panggilan dari orang halu kan. Gila tu orang emang, udah ah kakak mau tidur kamu mau nemenin kakak atau gimana?” tanya Shita lembut namun masih nampak wajah marahnya dan membaringkan tubuh di ranjang miliknya
“Nemenin kakak deh” jawab Nayna singkat yang kini ikut merebahkan diri disamping kakaknya
“Apa kakak sudah dengar semuanya?” ketik Nayna pada ponselnya dan segera mengirimnya.
Ting
“Terima kasih untuk bantuanmu adik kecil, jika kau perlu sesuatu kau bisa hubungi kakak” pesan yang masuk di ponsel Nayna.
“Aku hanya berniat membantumu, tidak lebih calon kakak ipar”
Tak berapa lama Nayna pun ikut tertidur disamping Shita ketika melihat kakakknya itu sudah terlelap dalam tidurnya.
“Hotel Ayana” singkat Rendra pada Bimo yang hanya dibalas anggukan oleh Bimo.
‘Kita bertemu di Ayana’ ketik Rendra kemudian mengirimkan pada ketiga sahabatnya.