Because Of Your Love

Because Of Your Love
Episode 59



Rendra tersenyum dan menatap lekat kekasihnya yang sedang membuat minuman untuk sahabatnya, pandangan yang tak pernah lepas dari gerakan – gerakan kecil yang di lakukan Shita.


“Mengapa kau memandangiku seperti itu? Kau membuatmu malu Rendra” ucap Shita yang kini datang membawa minuman. “Maaf hanya ada ini di dapurku” tambahnya yang kini meletakkan satu persatu gelas yang telah terisi minuman.


“Ini sangat special untukku sayang” ucap Rendra kini mencicipi cappuccino buatan kekasihnya.


“Dari tadi kamu menatap Shita terus dan menggodanya apa kamu tak bosan?” tanya Anna pada Rendra yang kini duduk di samping kekasihnya. Rendra hanya menjawab dengan senyum atas pernyataan Anna.


“Shita, aku ingin menawarkan sesuatu padamu, bagaimana jika kamu tinggal diapartemenku saja? Apartemen itu jarang aku tempati karena kesibukanku diluar negeri. Itupun jika kamu mau, berarti aku ada teman diapartemen saat ini” tanya Anna yang masih memeluk Shita yang duduk disampingnya.


“Begitu lebih baik Shita, tinggallah bersama dengan kekasihku” timpal Riko yang menyeruput kopi hitam kesukaannya dan tersenyum pada Shita.


“Benar sayang. Tinggallah bersama dengan Anna. Aku begitu khawatir padamu. Minggu depan aku juga ada perjalanan bisnis Shita. Kau paham bukan bagaimana khawatirnya aku” sahut Rendra memegang erat tangan Shita. Wajah khawatirnya sedari tadi tak pernah hilang dari wajah tampannya walaupun sudah berusaha ia tutupi agar tak terlihat oleh semua orang.


“Berapa lama kamu akan melakukan perjalanan bisnis?” tanya Shita menyandarkan kepalanya dipundak Rendra. “Boleh kan aku hanya sementara tinggal disana Anna tapi aku akan pindah setelah Rendra pergi bagaimana? Aku akan tetap tinggal disini setelah Rendra pulang bagaimana? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Bukankah aku sudah  pernah mengatakan padamu Rendra tentang hal itu? Aku sudah belajar dari hal lalu, aku wanita kuat bukan?” tambah Shita pada Rendra yang kini mendekap wanita itu begitu erat seakan tak ingin terjadi hal – hal yang buruk padanya lagi.


“Tentu saja boleh Shita, aku tak melarangmu” ucap Anna yang kini mengelus pelan pundak sahabatnya.


“Asiikkk kita bisa ngumpul bareng nantinya, bukankah begitu Anna? Aku ingin tidur dengan kalian dan menghabiskan waktu bersama. Ah ya, kau juga boleh ikut dengan kami Nisa jika kamu memiliki waktu luang” ucap Nana bersorak riang hingga membuat Niko gemas melihat tingkah lakunya.


“Baiklah sayang, kamu wanita yang kuat bahkan sudah kamu buktikan padaku hari ini. Hanya saat aku perjalanan bisnis saja ya sayang. Aku percaya padamu, namun lain kali hubungi secepatnya jika ada yang terjadi.” Ucap Rendra membelai rambut Shita.


“Hei tuan muda, aku sudah menghubungimu berkali – kali namun kamu tak menjawab panggilanku itu.” dengus Shita kesal namun semua orang hanya tertawa melihat interaksi sepasang kekasih itu.


“Benarkah?” ucap Rendra merogoh kantong celananya yang nampak kosong namun makin membuat Shita kesal . “Ah, ponselku ketinggalan Shita. Pasti ponsel Nana sekarang banyak panggilan dari papah dan sekretarisku.” Tambahnya santai hingga membuat seseorang yang disebut namanya tampak melongo.


“Mengapa kau menyebut namaku kak, Shita?” tanya Nana kebingungan dengan apa yang diucapkan kakaknya.


“Cek ponselmu.” Ucap singkat Rendra yang kembali menegak cappuccino buatan Shita.


Setelah mendengar ucapan Rendra untuk kedua kalinya, dengan cepat wanita itu mengecek ponselnya. Betapa terkejutnya Nana melihat ada 100 panggilan tak terjawab dari papahnya, 150 panggilan dari Dharma dan 200 panggilan tak terjawab dari sekretaris Rian.


“Ya ampun kakak, kamu seharusnya membawa ponselmu. Aku seperti buronan yang membawa kabur uang arisan online tanpa kabar, Mengerikan. Cepat hubungi semua orang.” Nana bergidik ngeri membayangkan hal yang begitu gambling ia lontarkan karena panggilan dan pesan yang begitu banyak diponselnya.


Rendra pun mengambil ponsel Nana dan mulai menghubungi keluarga dan sekretarisnya, mengatakan jika laki – laki itu dalam keadaan baik.


Setelah itu sekumpulan wanita dan laki – laki itu kembali berbincang dan tertawa dengan hal- hal yang mereka pikir lucu, Niko dan Riko yang selalu menggoda sifat Rendra yang berubah drastis semenjak ada Shita dikehidupannya, sementara Wisnu yang selalu menjadi pendengar yang baik hanya ikut menertawakan tingkah sahabatnya namun sesekali melirik wanita yang sedang duduk di samping Nana.


---


Matahari begitu cerah menampakkan sinarnya dan menerpa wajah cantik wanita yang kini sudah berada didepan rumahnya dan bersiap pergi bekerja. Pikiran dan kejadian buruk yang terjadi kemarin telah ia lupakan dengan mudahnya. Tak lama sebuah mobil datang menghampirinya. Seorang laki – laki dari dalam mobil membawa sebuket bunga kesukaanya dan keluar menyapa dengan senyum lebar.


“Hal indah untuk seorang yang terindah, ayo masuk. Kamu ada jadwal operasi bukan pagi ini? cepatlah” ajak laki – laki dengan senyum manisnya itu yang tak lain adalah Rendra. Wanita itu menerima buket bunga yang diberikan padanya lalu menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil.


“Baiklah sayang, kamu sudah sarapan?” tanya Shita yang kini memulai perbincangan setelah mobil yang dikemudikan Rendra melaju masuk jalan besar.


“Sudah sayang, kamu sudah sarapan kan?” tanya balik Rendra dengan senyum manisnya seraya menautkan jemari kirinya pada jemari kanan kekasihnya.


“Aku akan sarapan nanti di Rumah sakit Rendra.” Sahut Shita cepat dengan senyum tak kalah manis hingga membuat Rendra seketika menatapnya sebentar.


“Baiklah jangan lupakan sarapanmu, aku tak mau jika kamu sampai sakit” ucap Rendra mengecup punggung tangan dan meraih tengguk Shita mendekatkan wajah kekasihnya hingga laki – laki itu bisa mengecup singkat kening Shita.


30 menit perjalanan yang ditempuh untuk sampai di JMC. Shita keluar dengan tergesa – gesa karena hampir terlambat dari jadwal seharusnya melakukan operasi. Rendra yang melihat tingkah wanitanya hanya menggelengkan kepala.


“Eh tunggu tunggu, kamu sekarang mau kemana Rendra?” tanya Shita setelah mengetok kaca kemudi dan Rendra menurunkan kaca mobil kemudinya.


“Aku mau ke perusahaan sayang, ada yang harus aku kerjakan. Kenapa sayang? Kau ingin aku tak bekerja dan menemanimu?” goda Rendra dengan mengedipkan matanya.


“Ah tidak, eemm sebentar”


Cup


“Kau hati – hatilah”


‘Apa itu tadi, dia menciumku? Apa dia sedang menggodaku? Ah dia begitu manis sekali’ gumam Rendra tersenyum yang kemudian melajukan mobilnya dengan hati berbunga.


Seorang dokter laki – laki terkesiap melihat Dokter Shita yang kini sedang berada diruang operasi.


“Dokter, kamu yang mengoperasi hari ini? Ku lihat dijadwal hari ini bukan jadwalmu.”


“Ya, dokter Andre minta aku yang mengoperasi untuk hari ini dokter.”


“Wahh, baguslah. Aku bisa berte- eh bukan maksudnya bisa mengoperasi pasien bersama.” Ucap laki – laki yang tak lain adalah dokter Andi yang sedang menunggu giliran untuk membersihkan diri dan selanjutnya masuk ruang operasi.


“Tentu dokter, mohon kerja samanya.” Ucap Shita yang kemudian melangkah terlebih dahulu untuk membersihkan diri dan masuk ke orang operasi.


Operasi yang dilakukan oleh Shita dan Andi begitu memakan waktu yang lama. Selama 4 jam Andi bisa melihat wajah Shita yang begitu dekat lebih tepatnya berada disisi kirinya dan membuat jantungnya makin berdetak cepat hingga membuat laki – laki itu tampak bersemangat melakukan yang terbaik untuk menarik perhatian Shita.


Shita melihat apa yang dilakukan Andi, hanya bisa membiarkannya. Dulu Shita sebenarnya ingin mengakrabkan diri dengan Andi namun setelah ia mengetahui jika laki – laki itu menyukainya secara tak sengaja ia dengar Shita menghentikan niatnya agar Andi tak salah paham dengan apa yang dilakukan Shita padanya.


Waktu operasi pun berakhir, Shita membersihkan diri dan menuju ruangannya. Shita berbalik saat ia mendengar ponselnya bergetar yang menandakan ada pesan masuk.


“Maaf Shita, kamu bisa makan sendiri atau dengan Nana hari ini. Aku ada pertemuan dengan klien dari belanda untuk membahas proyek bersama. Tak apa kan Sayang? Sebagai gantinya nanti malam aku akan menjemputmu setelah lepas berjaga sore. Take care lovely,”


‘Biarkan saja dia sibuk, aku tak ingin mengganggu waktunya hanya untuk makan siang bersamaku.’ gumam Shita. Kemudian ia mengetikkan pesan yang akan dikirim untuk Rendra.


“Baiklah, gunakan waktumu sebanyak – banyaknya. Aku akan makan ber-


Tok tok tok


Sebelum menyelesaikan pesan yang ingin wanita itu kirimkan, seseorang telah mengetuk pintu ruangannya.


“Masuk” ucap Shita yang kemudian menyelesaikan pesan dan mengirimkannya pada Rendra.


Ceklek


“Dokter, apa kamu sibuk?” tanya laki – laki yang masih berdiri diambang pintu. Laki – laki yang tak diharapkan sama sekali keberadaannya.


“Eh, dokter Andi silakan masuk. Aku tak sibuk. Ngomong – ngmong ada perlu apa dokter Andi? Tanya Shita basa basi untuk mencairkan kecanggukannya.


“Aku ingin mengajakmu makan siang bersama, bagaimana dokter? Ada yang mau aku bicarakan padamu.” Ucap Andi yang kini sudah berdiri di hadapan Shita yang tengah duduk di kursi belakang meja kerjanya.


“Baiklah dokter.” Shita merasa ia harus menyelesaikan semuanya sekarang sebelum perasaan laki – laki itu begitu dalam untuknya.


Andi yang mendengar jawaban dari Shita begitu menghela nafas lega akhirnya wanita itu menerima ajakan makan siangnya setelah berpuluh – puluh kali di tolak. Andi membiarkan wanita itu memilih dimana mereka akan makan. Shita akhirnya mengajak makan siang di restoran yang berada tak jauh dari rumah sakitnya.


Ia tidak ingin bepergian jauh dengan laki – laki selain Rendra dan sahabatnya, ia tak ingin Rendra salah paham dengan apa yang ia lakukan bersama Andi. Dengan cepat Shita merogoh ponsel yang berada didalam tasnya dan mengirim pesan pada sahabatnya dan mengatakan ia diajak makan bersama dokter Andi untuk menyelesaikan segala urusan.


Setelah beberapa menit, mereka sampa di restoran X1 dan duduk di meja yang menghadap ke jalan raya. Andi segera memanggil pelayan dan memesan makanan.


“Kamu ingin memesan apa dokter?” tanya Andi pada wanita yang kini tengah duduk di depannya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. ‘Sangat cantik’ gumam Andi tersenyum.


Sadar dari kesibukannya, Shita mengembalikan ponselnya ke tempat semula. “Aku pesan iga bakar dan avocado juice.”


“Aku pesan steak dan orange juice.”


Setelah pelayan mencatat pesanan keduanya, pelayan segera berlalu untuk menyiapkan pesanannya. ‘Diam’ itulah kata yang mewakili keadaan mereka saat ini, hanya ada keheningan yang tercipta diantara mereka. Sampai akhirnya Shita memberanikan diri untuk memulai percakapan.


“Dokter Andi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku tadi?” tanya Shita yang kini menatap mata Andi dengan intens, bukan untuk mengintimidasi namun membuat laki – laki itu agar lebih berani mengutarakan maksudnya mengajak ia makan siang bersama.


“Panggil saja aku Andi. Tidak ada embel apapun. Aku akan memberitahukannya saat kita sudah selesai makan siang.” Ucap Andi dengan tenang dan tersenyum dengan manisnya.


Beberapa saat kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka. Shita mulai makan makanan yang sudah ia pesan karena ingin cepat waktu berlalu, mendengar apa yang ingin dikatakan oleh Andi.


Seorang wanita yang sejak tadi berada di restoran itu melihat sepasang manusia yang sedang makan bersama hanya mengernyitkan dahi kemudian tersenyum begitu licik. Segera ia mengambil ponsel dan memotret dua orang yang tengah menikmati makan siangnya. Seringai wanita itu tak pernah lepas dari wajahnya ketika ia berhasil mengirimkan foto itu pada seseorang.