
Tiga puluh lima menit kemudian mobil Riko tiba di rumahnya. Boy segera turun dari mobil meninggalkan Riko begitu saja.
Kedatangan Boy di sambut oleh bunda Ening yang baru saja membuka pintu rumah saat mendengar suara deru mobil Riko.
"Selamat datang cucu, Oma." saking gemasnya, bunda Ening sampai mengusap rambut Boy.
"Aduh... Oma, rambut Boy jadi berantakan jadinya, nggak ganteng lagi nanti di lihat sama tante cantik." keluh Boy seraya merapikan rambutnya yang sebenarnya tampak baik baik saja.
Bunda Ening sampai dibuat geleng geleng dengan tingkah bocah itu.
Boy beranjak masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Rahma.
"Tante cantik, Boy datang."
Dengan wajah ceria, Boy menghampiri Rahma yang kini tengah duduk di sofa ruang tengah. Sementara Riko kini di sibukkan dengan koper milik Boy.
"Anak ganteng sudah tiba rupanya." sambut Rahma dengan senyum di wajah cantiknya menyadari kedatangan bocah itu.
Boy mendekat pada Rahma, lalu mengulurkan tangannya untuk menyalaminya.
Rahma tampak menepuk sofa yang kosong di sisinya, mengajak Boy duduk di sana.
Banyak hal yang menjadi topik percakapan keduanya, mulai dari boy yang menceritakan tentang teman teman sekelasnya pada Rahma, sampai dengan salah seorang teman perempuannya di sekolah, yang kerap kali bertengkar dengannya pun di ceritakan Boy pada Rahma. Sesekali Rahma tampak tertawa lepas mendengar cerita dari bocah itu.
Riko yang baru saja membawa koper Milik boy ke dalam kamar mereka lantas bergabung bersama istri dan kedua mertuanya serta keponakannya tersebut.
"Masa, jagoan berantem sama anak cewek sih Boy." timpal Riko yang tadi secara tak sengaja mendengar percakapan boy dan istrinya.
"Habisnya Si Zizi sangat menyebalkan, Om, masa dia mengatakan pada teman teman Boy kalau Boy ini cengeng sih, padahal itu semua kan bohong. Boy paling tidak suka dengan anak perempuan yang suka berbohong, Om." jawab Boy sambil memasang wajah kesalnya, kala teringat akan beberapa hari lalu ketika teman sekelasnya bernama Zizi tersebut menyebarkan gosip jika dirinya adalah anak laki-laki yang cengeng.
"Selagi apa yang di katakan si Zizi itu tidak benar kenapa harus di ambil pusing, santai saja tidak perlu di ambil hati!!." pesan Riko, sementara Boy hanya tampak menghela napas mendengar nasehat dari pamannya itu.
Merasa malas terus membahas tentang teman sekelasnya yang sangat menyebalkan itu, Boy lantas bertanya tentang dedek bayi yang kini berada di dalam kandungan Rahma.
"Tante Cantik, kapan dedek bayinya akan lahir?? Boy tidak sabar ingin bermain dengan mereka." tutur Boy antusias. Bahkan saat ini bocah itu mulai mengulurkan tangannya pada perut buncit Rahma.
"Wah...dedek bayinya bergerak Tante..." ungkap boy ketika tangannya merasakan pergerakan bayi yang ada di dalam perut Rahma.
"Iya sayang, sepertinya dedek bayi sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan Abang ganteng mereka." sahut Rahma dengan diiringi senyum di wajahnya.
Sedangkan Riko yang melihat interaksi di antara istri dan keponakannya tersebut turut mengulas senyum di wajah tampannya.
"Sepertinya mulai sekarang kamu harus siap siap boy, karena bisa jadi anak Om jauh lebih ganteng dari kamu." Riko sengaja menggoda Boy, ingin melihat reaksi dari bocah itu.
"Tidak masalah Om, kalau dedek bayi akan lebih tampan nantinya dari Boy, justru Boy bangga bisa memiliki adik yang tampan." jawaban Boy benar benar di luar ekspektasi Riko, ia berpikir bocah itu akan merasa sebal dengan ucapannya atau bahkan sampai marah, namun kenyataannya Boy sangat dewasa dalam memberikan jawabannya, Sehingga membuat Riko sontak mengusap kepala keponakannya itu.
Setelah makan malam, Boy memilih menghampiri Riko yang kini tengah duduk di teras depan.
Boy menjatuhkan bokongnya di kursi yang masih kosong di samping Riko, hanya sebuah meja yang membatasi.
"Kamu belum tidur, Boy??." tanya Riko ketika menyadari keberadaan Boy.
"Belum ngantuk, Om.". jawabnya.
Beberapa saat kemudian, Riko pun bertanya akan cita cita dari keponakannya itu.
"Kalau besar nanti kamu ingin menjadi apa Boy??." tanya Riko serius.
Boy tampak menghembus napas bebas di udara, sebelum kemudian menjawab pertanyaan dari pamannya itu.
"Awalnya sih Boy bercita cita ingin menikah dengan Tante cantik, tapi sekarang tidak lagi karena Tante cantik sudah menjadi istrinya Om Riko." jawab Boy dengan santainya.
"Sepertinya jika terus dekat dengan bocah ini, aku bisa terkena serangan jantung di usia muda." gumam Riko dan itu masih terdengar jelas oleh Boy.
"Tenang Om !!! Itukan dulu sebelum Boy tahu kalau ternyata tante cantik adalah istrinya Om Riko." kembali dengan santainya Boy mengungkap.
"Oh astaga....kak Cristi ngidam apa sih saat mengandung kamu dulu, Boy???." Riko tampak memijat kepalanya yang tiba tiba terasa berdenyut. lama lama kesabaran Riko mulai menipis menghadapi tingkah tengil keponakannya itu.
Menyadari kekesalan di wajah Pamannya, Boy tampak biasa saja seolah tak peduli akan hal itu, ia bahkan terus bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Rahma sore itu. Setelah merasa cukup dengan ceritanya, Boy pun pamit ke kamar karena ia sudah merasa mengantuk.
"Oh tuhan.... sebenarnya tingkah tengil mu ini menurun dari siapa sih Boy, kalau di pikir pikir mas Tian tidak seperti itu??." gumam Riko setelah kepergian Boy. Namun sesaat kemudian ia pun tersadar, mungkin sikap tengil Boy sedikit banyaknya menurun darinya. Bocah tengil pernah di sematkan oleh ayahnya pada Riko ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas dulu.
Tak berselang lama setelah kepergian Boy, Riko pun segera beranjak dari duduknya, merasa angin malam semakin terasa menusuk hingga ke pori-pori.
Ceklek.
Riko hanya bisa menghela napas panjang ketika melihat tempat tidurnya kini di isi oleh Boy, dan juga istrinya yang telah sama sama terlelap di alam bawah sadar masing masing.
"Sepertinya sampai dengan besok malam aku akan tidur di sofa." gumamnya. Riko lantas meraih sebuah bantal kemudian beranjak menuju Sofa kamarnya. Tidak ingin sampai membuat istrinya tak nyaman seranjang bertiga, maka Riko memilih tidur di sofa. Untungnya sofa di kamarnya merupakan sofa bed sehingga tidak membuat badannya Harus sakit semua ketika bangun tidur besok pagi.
Sebelum merebahkan tubuhnya di Sofa, Riko lebih dulu mencuci wajahnya serta menggosok gigi, karena itu sudah menjadi rutinitas Riko dan juga Rahma setiap hari sebelum tidur malam.
Selesai Dengan aktivitasnya di kamar mandi Riko lantas merebahkan tubuhnya di sofa.
Merasa cukup lelah dengan aktivitasnya yang berada di luar ruangan seharian membuat Riko tak sulit memejamkan matanya. terbukti, baru beberapa saat meletakkan kepalanya pada bantal kini hembusan napas Riko mulai terdengar teratur, pertanda pria itu pun telah memasuki alam bawah sadarnya.
Jangan lupa like, koment, vote and give ya sayang sayangku.....🙏🙏🙏😘😘😘😘
And jangan lupa untuk mampir ke karya recehku yang lainnya.....