Trust Me Please.

Trust Me Please.
Berdebar tak menentu.



Seminggu kemudian, Fandi yang kini menangani kondisi tuan Mardin telah mengizinkan pria itu untuk kembali ke rumah, mengingat kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Meski penyakit jantung yang dideritanya masih bersarang di tubuhnya, setidaknya pria itu bisa melakukan rawat jalan ke depannya.


Alan yang pagi itu akan ikut serta mengantarkan tuan Mardin kembali ke rumah lantas membantu Sintia untuk mengemas barang barang sebelum meninggalkan rumah sakit.


"Terima kasih karena anda sudah banyak membantu saya dalam menjaga papa di rumah sakit." ungkap Sintia pada Alan.


"Tidak perlu berterima kasih." sahut Alan.


Sintia yang kini menoleh ke arah Alan lantas tersenyum kecil mendengar jawaban Alan.


"Aku jadi merasa tidak enak pada kekasih anda karena beberapa hari terakhir anda banyak menghabiskan waktu di sini untuk menjaga papa." pernyataan sintia sontak saja membuat perhatian Alan beralih padanya.


"Jika saya memiliki seorang kekasih, tidak mungkin ia mengizinkan saya bersama dengan wanita lain di sini." jawaban Alan membuat Sintia terdiam untuk sesaat. Bagaimana tidak, secara tidak langsung Alan mengakui jika saat ini dirinya tidak memiliki seorang kekasih.


Tuan Mardin yang saat ini duduk bersandar pada bahu tempat tidur hanya tampak diam sembari menyaksikan percakapan di antara keduanya.


"Atau jangan-jangan justru kamu yang memiliki seorang kekasih??." lanjut tutur Alan, sehingga membuat sintia tersenyum kaku mendengarnya.


"Tidak jauh berbeda dengan anda, jika aku memiliki seorang kekasih mana mungkin dia membiarkan kekasihnya bersama dengan pria lain di sini." Alan tersenyum dalam hati mendengar jawaban Sintia, yang secara tidak langsung mengakui dirinya pun masih single.


Sepertinya percakapannya dengan Alan membuat tenggorokan Sintia terasa kering sehingga kini Sintia tampak meraih sebotol air mineral kemudian mulai meneguknya.


"Jika kenyataannya seperti itu, maka tidak ada salahnya kan jika saya mendekatimu??."


"Uhuk...uhuk.....uhuk.....". pernyataan Alan yang terkesan terang terangan membuat Sintia tersedak mendengarnya, Sintia bahkan sampai terbatuk-batuk dibuatnya.


"Pelan pelan minumnya!!." kata Alan seraya mengusap punggung sintia dengan lembut.


Beberapa saat kemudian.


"Karena kamu hanya diam saja, saya anggap kamu memberikan saya kesempatan untuk itu." lanjut tutur Alan seraya menatap Sintia yang kini tampak tertunduk malu, sebelum kemudian beranjak untuk membantu tuan Mardin menaiki kursi roda.


"Oh astaga....ada apa dengan jantungku??? Kenapa jantungku rasanya mau lepas?? Apa aku juga menderita penyakit jantung seperti papa??." gumam Sintia setelah kepergian Alan mendorong kursi roda ayahnya.


**


Setelah pertanyaan Alan tadi, baik Alan dan juga sintia tak banyak terlibat percakapan. Keduanya hanya larut dalam pemikiran masing masing, sampai kini mobil Alan tiba di kediaman tuan Mardin.


Cukup lama Alan berada di kediaman tuan Mardin sampai kemudian ia pamit karena waktu telah menunjukkan pukul sebelas siang dan ia harus segera kembali ke perusahaan.


Untuk menghargai, Sintia lantas mengantarkan Alan hingga ke depan.


"Terima kasih banyak atas bantuan anda selama ini." ungkap Sintia dengan memberanikan diri menatap Alan.


"Bukankah sudah saya katakan, tidak perlu berterima kasih!! Lagi pula sudah sewajarnya seorang pria membantu calon kekasihnya, bukan begitu??." baru saja Sintia memberanikan diri menatap Alan, kini pria itu sudah kembali melontarkan pernyataan yang membuat Sintia tertunduk.


"Maaf tuan, jika anda hanya ingin menjadikan aku sebagai kekasih untuk sekedar bermain main, maka anda salah orang. di usiaku saat ini aku tidak ingin membuang waktu untuk sekedar bermain-main." bukannya berniat menolak Alan, namun Sintia lebih mengedepankan logika di banding perasaan saat ini.


"Jika kamu merasa ragu, maka menikahlah denganku!! Agar kamu yakin jika saya tidak berniat mempermainkan dirimu."


Jantung Sintia rasanya mau lepas dari tempatnya ketika mendengar ucapan Alan.


Kini Sintia mengangkat pandangannya menatap Alan dalam diam.


"Malam ini saya akan kembali ke sini dan untuk menunjukkan keseriusan saya, maka saya akan melamarmu pada papa kamu." kata Alan ketika melihat Sintia hanya diam saja, sebelum kemudian beranjak menuju mobilnya.


Setelah menyaksikan mobil Alan berlalu meninggalkan gerbang rumahnya, Sintia lantas memegangi dadanya yang berdebar tak menentu.


"Apa aku sedang bermimpi??." untuk memastikan jika saat ini ia tidak sedang bermimpi, sintia lantas memukul pipinya.


"Arghh...." ringisnya. "Ternyata aku tidak sedang bermimpi, tuan Alan ingin melamarku??." Sintia memegang Wajahnya yang tampak merah merona karena malu dan juga merah karena tamparannya tadi.


***


Di perjalanan menuju perusahaan, senyum seakan enggan luntur dari bibir Alan. Bahkan sampai tiba di perusahaan Alan masih terlihat sesekali menyunggingkan sudut bibirnya kala membayangkan sesuatu yang membuat jantungnya berdebar kencang.


Sikap tak biasa Alan tersebut tak luput dari perhatian para pegawainya, terutama pegawai wanita yang melihat kedatangannya.


Razak yang menyadari kedatangan Alan lantas memposisikan diri di belakang langkah pria itu menuju lift petinggi perusahaan.


Razak bisa menebak jika saat ini suasana hati atasannya itu sedang baik, terbukti dari senyuman yang terukir di sudut bibir Alan.


Razak mendahului langkah Alan untuk menekan tombol pada lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dua puluh, di mana ruangan CEO berada.


Di dalam lift, Alan yang melihat pantulan dirinya di dinding lift lantas menyudahi senyuman di sudut bibirnya. Kini pria itu kembali memasang datar seperti biasanya, dan itu membuat Razak sontak melipat bibirnya menahan senyum.


"Sepertinya pesona dari putri pemilik perusahaan mampu mencairkan es balok.". dalam hati Razak seraya menahan senyumnya agar tak pecah di hadapan Alan.


Tak berselang lama, pintu lift pun terbuka baik Alan dan juga Razak beranjak keluar dari kotak besi tersebut menuju ruangan Alan.


"Tuan, apa malam ini saya harus ke rumah anda ??." tanya Razak di sela langkah menuju ruangan Alan, kala Razak teringat akan perintah Alan pagi tadi.


"Tidak perlu, malam ini saya ada urusan yang lebih penting, kita tunda besok saja untuk membahas tentang proyek baru itu." dengan cepat Alan menjawab pertanyaan Razak.


Jawaban dari Alan semakin membuat Razak tersenyum dalam hati mendengarnya.


"Baik tuan." jawab Razak.


Setibanya di ruangan kerjanya, Alan membuka jasnya lalu menyampirkannya pada kursi kebesarannya sebelum kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi tersebut.


Kini Alan kembali fokus pada berkas di hadapannya, sementara Razak masih setia berdiri siap di depan meja kerja Alan. Seperti biasa, Razak baru akan meninggalkan ruangan Alan dan kembali melanjutkan pekerjaannya jika di minta sendiri oleh Alan.


Di tengah kegiatannya tiba tiba Alan mendapat kabar dari manager restoran miliknya, jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya selaku pemilik restoran dan kini tamu tersebut telah berada di restoran miliknya sejak beberapa saat yang lalu.


Tidak ingin dikatakan tidak profesional, maka dengan terpaksa Alan meninggalkan pekerjaannya di perusahaan menuju restoran miliknya untuk menemui tamunya itu.


Alan tidak tahu pasti siapa tamu itu, yang ia tahu hanya tamu tersebut merupakan WNA yang tertarik dan penasaran dengan sosoknya.