
"Pah, Malam ini Alan rencananya ingin melamar seorang gadis, Alan minta doa restu dari papa.". Setelah pelukan mereka terlerai, Alan menyampaikan niatnya kepada sang ayah.
"Benarkah??." sepertinya malam ini papa Sofyan mendapatkan surprise bertubi tubi dari kedua anaknya sehingga membuat senyum seolah enggan luntur dari wajah pria paru baya tersebut.
Alan mengangguk mengiyakan.
"Sebagai seorang ayah, papa akan selalu berdoa yang terbaik untuk anak anak papa, restu papa selalu menyertai anak anak papa. Siapa gadis beruntung yang mampu meluluhkan hati anak papa, hemt??." tutur papa Sofyan, yang diakhiri dengan senyum menggoda di akhir kalimatnya.
Cukup lama Alan diam sebelum kemudian mengatakan sebuah nama yang telah berhasil membuat dirinya merasakan yang namanya jatuh cinta.
"Dokter Sintia, pah." jawaban Alan membuat semuanya tersenyum senang mendengarnya.
"Cie..... Yang mau melamar calon istri." suara Ratu mulai terdengar menggoda Alan.
"Ratu doakan semoga niat Abang di lancarkan. Lagi pula Ratu yakin dokter Sintia adalah gadis yang tepat untuk bang Alan." lanjut ucap Ratu.
Tidak jauh berbeda dengan anggota keluarga yang lainnya, kakek Harka pun sangat senang mendengar bahwa cucu laki-lakinya itu akan melamar seorang gadis, apalagi gadis itu tak lain adalah Dokter Sintia.
***
Selesai mandi dan bersiap, Alan yang malam ini mengenakan pakaian casualnya tampak menghidupkan mesin mobilnya hendak menuju kediaman tuan Mardin untuk memenuhi ucapannya pagi tadi pada sang pujaan hati.
Beberapa saat kemudian mobil Alan pun tiba di depan gerbang rumah Sintia. Seorang penjaga tampak membukakan pintu gerbang untuk Alan.
"Selamat malam, tuan." sapa pria berpakaian serba hitam dan Alan menanggapi sapaan pria itu dengan anggukan sekilas, sebelum kemudian kembali melajukan mobilnya memasuki gerbang utama.
Dari balik jendela kamarnya, Sintia dapat menyaksikan mobil Alan yang kini memasuki gerbang, dan hal itu membuat jantung Sintia berdebar tak karuan. Dalam hati, Sintia masih meragu dengan ucapan Alan pagi tadi, ia berpikir ucapan Alan hanyalah sebuah candaan belaka, namun entah mengapa sepertinya malam ini jantungnya sangat susah di ajak bekerja sama.
Seorang ART mempersilahkan Alan untuk menunggu di ruang tamu, sebelum kemudian pamit untuk menyampaikan kedatangannya pada Sintia yang kini masih berada di kamarnya.
Tak berselang lama, Sintia pun tampak di belakang langkah Bi Ani, berjalan di menuruni anak tangga.
"Selamat malam." tentunya Alan yang lebih dulu menyapa Sintia, saat melihat gadis itu melangkah ke arahnya.
"Selamat malam." sahut sintia. Ia berusaha menampilkan wajah tenangnya di hadapan Alan, meski kenyataannya jantungnya tak bisa di ajak bekerja sama malam ini. Apalagi saat melihat penampilan Alan yang terlihat lebih tampan dari biasanya, dengan pakaian casualnya.
"Papa sedang berada di kamarnya, jika anda ingin bertemu dengan papa, mari saya antarkan ke kamar papa!!." Sintia yang berpikir jika kedatangan Alan karena ingin menjenguk dan juga melihat kondisi ayahnya lantas mengajak Alan menuju kamar ayahnya.
Kini baik Alan dan juga Sintia telah berada di kamar tuan Mardin. kedatangan Alan di sambut senyuman hangat oleh pria itu.
Sementara seorang perawat yang bertugas merawat tuan Mardin di rumahnya segera pamit meninggalkan kamar tersebut setelah kedatangan Alan dan juga sintia.
Tuan Mardin merubah posisinya menjadi duduk bersandar pada bahu tempat tidur, sedangkan alan kini menjatuhkan bokongnya di sofa.
Tidak berbeda jauh dengan ayahnya, Sintia yang berpikir ucapan Alan tadi pagi hanyalah sebuah candaan belaka lantas pamit hendak meninggalkan kamar ayahnya, membiarkan Alan membahas tentang pekerjaan dengan ayahnya. lagi pula menurut Sintia tak ada gunanya juga ia berada di tengah tengah Alan dan ayahnya, karena ia sama sekali tidak mengerti dengan dunia bisnis.
"Tetaplah di sini!!." pinta Alan ketika melihat Sintia berdiri dari duduknya.
"Maaf tuan, sepertinya keberadaan ku di sini hanya akan menggangu kegiatan anda dan ayah dalam membahas tentang perusahaan, lagi pula saya sama sekali tidak paham dengan dunia bisnis karena itu bukan duniaku." tutur Sintia. demi menjaga sopan santun, sintia kembali menempati tempat duduknya menunggu persetujuan dari ayahnya dengan begitu barulah ia meninggalkan kamar tersebut.
Kali ini pandangan Alan kembali beralih pada tuan Mardin yang duduk di atas tempat tidurnya.
"Kedatangan saya malam ini bukan untuk membahas tentang pekerjaan, tuan, akan tetapi kedatangan saya malam ini ingin melamar putri anda untuk menjadi istri saya." tutur Alan tanpa keraguan sedikitpun.
Deg.
Sepertinya malam ini jantung Sintia berdetak tak normal sejak kedatangan Alan, apalagi saat ini pria itu telah menyampaikan niatnya dihadapan ayahnya.
Sementara tuan Mardin yang mendengar Alan melamar putrinya, semakin merasa kagum dengan sosok pria muda dihadapan saat ini. Tuan Mardin yang sejak awal menginginkan putrinya menikah dengan Alan tentu saja tak butuh waktu lama untuk menerima lamaran Alan.
"Lamaran anda saya terima, nak Alan." jawaban tuan Mardin membuat kedua bola mata Sintia membola dengan sempurna. Bagaimana tidak, ayahnya bahkan tak bertanya akan kesiapan dirinya sebelum menerima lamaran dari seorang pria. Untungnya pria itu adalah Alan putra Sofyan pria yang mampu membuat Sintia terbayang bayang akan sosoknya, jika tidak, bisa di pastikan Sintia akan menentang keputusan ayahnya yang telah menerima lamaran Alan secara sepihak.
Wajah Sintia kini tampak merona, apalagi sejak tadi Alan terus mencuri pandang padanya. Tidak ingin sampai semburat merah di wajahnya sampai terlihat jelas oleh Alan, Sintia pun pamit ke dapur dengan Alasan ingin membuat teh untuk Alan.
"Terima kasih, nak Alan, anda sudah menepati janji anda untuk menikahi putri saya." tutur tuan Mardin dengan kedua bola mata yang mulai berkaca-kaca, setelah kepergian Sintia hendak membuat minuman.
"Anda tidak perlu berterima kasih,tuan, lagi pula saya melakukan semua ini bukan semata-mata karena permintaan dari anda, melainkan saya melakukannya karena saya sudah jatuh hati pada Sintia, jauh sebelum saya tahu jika ternyata dia adalah putri anda." ungkap Alan tentang perasaannya pada Sintia di hadapan tuan Mardin.
Tuan Mardin menghela napas lega mendengar pengakuan alan tentang perasaannya pada Sintia.
"Setelah kalian resmi menikah nanti, saya akan mewariskan perusahan pada anda, nak Alan, saya percaya anda pasti bisa mengurus perusahaan dengan baik." tutur tuan Mardin menyampaikan niatnya.
"Terima kasih sebelumnya tuan, akan tetapi saya tidak menginginkan hal itu. Sampai dengan saat ini saya masih bekerja di perusahaan karena saya hanya ingin membantu anda, bukan ingin memiliki sesuatu yang bukan menjadi hak saya." jawab Alan dengan nada lembut namun terdengar tegas.
Percakapan serius di antara Alan dan juga calon ayah mertuanya itu terpaksa terhenti karena kedatangan Sintia yang tampak membawa sebuah nampan yang berisi segelas teh di tangannya.