Trust Me Please.

Trust Me Please.
Kegelisahan Rahma.



Di tengah kebersamaan Sintia dan Alan menjaga tuan Mardin di rumah sakit, Di tempat yang berbeda Rahma justru tak kunjung dapat memejamkan matanya meskipun waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Ada apa denganku??." batin Rahma, merasa bingung sendiri dengan perasaan gelisah yang kini tengah merajai hati dan perasaannya.


Pergerakan Rahma yang entah sudah berapa kali merubah posisi tidurnya membuka Riko terjaga dari tidurnya.


"Ada apa, sayang??.tanya Riko dengan suara seraknya.


"Tidak ada apa apa, mas." jawab Rahma yang tidak ingin membuat suaminya jadi kepikiran dengan apa yang kini dirasakannya, Namun Riko tidak percaya begitu saja dengan jawaban istrinya itu.


Riko merubah posisinya, kini ia ikut duduk bersandar di bahu ranjang mengikuti posisi Rahma saat ini.


"Sayang, bicaralah !! Mas tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari mas." tebakan Riko membuat Rahma menghela napas.


"Aku juga tidak tahu mas, tapi entah kenapa sudah beberapa hari terakhir ini aku terus kepikiran tentang...." Rahma yang saat ini menatap suaminya tak melanjutkan kalimatnya, tak ingin sampai kelanjutan dari kalimatnya membuat Riko sampai marah mendengarnya. Walaupun pada kenyataannya Riko mana bisa marah padanya.


"Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan, sayang??." Riko mengusap lembut puncak kepala Rahma.


Rahma menatap intens wajah suaminya dengan perasaan was.


"Sejak beberapa hari terakhir entah kenapa aku terus kepikiran tentang Mona, mas." ungkapan Rahma membuat Riko menghela napas berat mendengarnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuat mas Riko marah tapi aku hanya_." Rahma tak menuntaskan kalimatnya, ia kini tampak menundukkan kepalanya.


"Hei....Mas tidak marah, sayang." Riko mengangkat pandangan Rahma agar kembali menatapnya.


"Lalu, apa yang kamu inginkan??." kini Riko menatap intens wajah cantik Istrinya yang semakin hari semakin tampak menggemaskan di matanya, apalagi kini pipi Rahma tampak semakin cabi sejak usia kehamilannya semakin bertambah.


"Bolehkah aku mengunjunginya??." permintaan Rahma kembali membuat Riko menghela napas berat mendengarnya.


Sementara Rahma yang mendengar helaan napas suaminya yang terdengar berat hampir merasa pesimis, ia berpikir pasti Riko tidak akan mengizinkannya.


"Baiklah, jika itu keinginan kamu, tapi sebelumnya kita harus ke dokter terlebih dahulu untuk memeriksa kondisi kehamilan kamu. jika dokter mengizinkan kamu melakukan penerbangan, maka mas akan mengatur jadwal untuk kita pergi ke sana." jawaban Riko di luar dugaan Rahma.


"Benarkah??." tanya Rahma memastikan jawaban dari suaminya.


Anggukan Riko membuat senyum sempurna terbit di bibir Rahma.


"Terima kasih, mas." ucap Rahma, seraya membawa tubuhnya ke dalam dekapan suaminya.


Riko hanya menjawab ucapan terima kasih Rahma dengan anggukan sekilas.


Sejujurnya, saat ini Riko masih merasa bingung mengapa istrinya itu sangat ingin sekali bertemu dengan Mona, yang notabene adalah mantan kekasih dari pria yang telah menjadi suaminya kini. Namun begitu Riko memilih diam tak bertanya, tidak ingin sampai pertanyaannya membuat mood istrinya berubah menjadi buruk.


**


Sesuai dengan ucapan Riko semalam, pagi ini mereka bersiap hendak menuju rumah sakit. Selain ingin memeriksa kondisi kesehatan Rahma secara berkala, Riko juga ingin memeriksakan kondisi kesehatan calon anak anaknya yang kini berada di dalam kandungan Rahma. Maka dari itu, sebelum menuju rumah sakit, Riko lebih dulu menuju klinik ibu dan anak untuk memeriksa kondisi kehamilan Rahma.


Kurang lebih satu jam Rahma dan Riko berada di klinik untuk memeriksakan kondisi kehamilan Rahma, sebelum kemudian Riko kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Seperti biasa, setibanya di rumah sakit Rahma mengikuti prosedur yang berlaku untuk pasien, termasuk ikut bergabung menunggu antrian bersama dengan pasien lainnya.


Setelah beberapa saat menunggu antrian, kini giliran nama Rahma yang di panggil untuk memasuki ruangan dokter. ketika sudah berada di dalam ruangan dokter, pandangan Rahma seakan mencari keberadaan seseorang.


"Selamat pagi tuan dan nyonya Riko Pranata." sapa seorang dokter yang menggantikan tugas Sintia pagi ini.


"Selamat pagi, dokter." jawab Riko dan Rahma hampir bersamaan.


Hampir satu jam lamanya, akhirnya kini sesi konsultasi pun usai namun sosok yang sejak tadi di cari Rahma tak kunjung terlihat.


"Hari ini dokter sintia tidak masuk, beliau meminta izin untuk menjaga papanya yang sedang sakit." ungkap suster Ita ketika melihat Rahma seakan mencari keberadaan seseorang di ruangan tersebut.


Rahma cukup terkejut mendengarnya.


"Papanya Sintia sedang sakit??." lirihnya setelah mendengar pengakuan dari perawat ber-nametag Paramita tersebut.


"Benar, dan beliau juga di rawat di rumah sakit ini." lanjut beritahu suster Ita pada Rahma.


*


Setelah menerima informasi tentang kamar perawatan ayahnya sintia, kini Rahma yang ditemani oleh sang suami menuju kamar perawatan ayahnya sintia.


Sebagai seorang dokter yang juga bertugas di rumah sakit itu tak sulit untuk Sintia mencari keberadaan kamar perawatan ayahnya Sintia, hingga kini lift yang mengantarkan mereka pun tiba di lantai tiga gedung rumah sakit.


Rahma dan Riko yang baru saja keluar dari lift lantas menuju kamar perawatan VVIP nomor dua belas.


Rahma yang sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu, lantas memutar handle pintu setelah mendapat sahutan dari dalam.


"Rahma...tuan Riko." Sintia cukup terkejut dengan kedatangan Rahma dan juga Suaminya pagi ini.


Rahma yang baru saja memasuki ruangan tersebut lantas memeluk Sintia barang sejenak.


Kini pandangan Rahma dan juga Riko beralih pada sosok pria yang tengah berbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.


"Selamat pagi om, saya Rahma temannya Sintia." Rahma mendekat ke arah tempat tidur tuan Mardin untuk menyalami pria paru baya tersebut, begitu pula dengan Riko.


"Selamat pagi." senyum pun terbit di wajah Tuan Mardin ketika melihat pasangan muda yang terlihat saling mencintai dihadapannya tersebut. Bagaimana tidak, bahkan di depan tuan Mardin, Riko tak sungkan memperlihatkan rasa sayangnya kepada sang istri.


"Sudah berapa bulan usia kandungan kamu, nak??." entah kenapa pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut tuan Mardin pada Rahma.


"Sebentar lagi masuk tujuh bulan, Om. Memang kelihatannya seperti sudah sembilan bulan karena saat ini saya tengah mengandung anak kembar." dengan bersemangat Rahma menjawab pertanyaan dari tuan Mardin.


Sementara Riko, ikut tersenyum ketika melihat tuan Mardin yang begitu antusias menanyakan perihal kehamilan sang istri.


"Melihat kehamilan kamu membuat Om tidak sabar ingin memiliki seorang cucu." ungkapan hati tuan Mardin mampu membuat Sintia dan Rahma saling melempar pandangan satu sama lain.


***


"Apa kamu tidak ingin berniat mengabulkan keinginan papa kamu??." pertanyaan itu di lontarkan Rahma ketika Sintia mengantarkan mereka hingga ke depan kamar.


"Kamu ini ada ada saja, bagaimana mungkin aku bisa mengabulkan keinginan papa jika suami saja aku tidak punya." Sintia tampak menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum di bibirnya.


Rahma mengelus lembut punggung Sintia.


"Kamu adalah wanita baik, aku percaya tuhan sedang merencanakan yang terbaik untuk kehidupanmu, termasuk mempersiapkan calon suami terbaik untuk wanita sebaik dirimu." tutur Rahma dan Sintia hanya tersenyum saja mendengarnya.


Setelahnya Rahma dan Riko pun segera pamit pulang pada Sintia.


untuk mendukung karya recehku jangan lupa like, koment, vote, give and subscribe ya sayang sayangku 🙏😊!!!.


Jangan lupa untuk mampir ke karya recehku yang lainnya....😘😘😘😘😘😘