Trust Me Please.

Trust Me Please.
Malam pengantin.



Beberapa saat yang lalu.


Toni yang hendak mengambil pakaian dalamnya di dalam koper miliknya tampak menautkan kedua alisnya ketika menyadari tak satupun pakaiannya yang berada di dalam koper tersebut.


"Oh astaga.... Sepertinya ini bukan koper milikku." gumam Toni menyesali tindakannya. namun baru saja hendak menutup kembali koper tersebut tak sengaja pandangan Toni tertuju pada sosok benda dengan berbagai macam warna yang ada di dalam koper milik Ratu.


"Benda apa ini??." setelah mengetahui benda apa itu, Lantas Toni menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah senyum tipis.


"Ratu sampai menyiapkan semua ini??." dalam hati Toni, seolah tidak percaya jika Istrinya tersebut bahkan sudah melakukan persiapan sejauh itu untuk melewati malam pertama mereka.


Setelah itu, Toni kembali merapikan koper milik Ratu kemudian kembali meletakkannya di tempat semula. tak berselang lama setelah Toni mengembalikan koper tersebut di tempat semula, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Ratu yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe.


***


Kedua bola mata Ratu melebar sempurna ketika menyadari keberadaan benda keramat itu di dalam koper nya.


"Siapa yang memasukkan lingerie sia_lan ini ke dalam koperku?? memalukan sekali, kak Toni pasti berpikir aku sengaja mempersiapkan semua ini??. Oh tuhan...." Ratu sampai menepuk jidatnya.


Ratu sontak saja menoleh ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Ratu tampak memejamkan matanya. Sekedar bernapas saja sulit bagi Ratu Saat ini saking malunya.


Sementara Toni yang baru saja menghampiri Ratu tampak melingkarkan tangan kekar miliknya pada pinggang Ratu, sehingga wanita itu tersentak dibuatnya.


"Apa yang kak Toni lakukan??." pertanyaan bodoh yang seharusnya tidak ia tanyakan di lontarkan Ratu.


Mendengar pertanyaan tersebut lantas Toni merubah posisi Ratu menghadap padanya.


Ratu yang merasa malu lantas menundukkan pandangannya.


Toni mengangkat pandangan Ratu agar menatap wajahnya.


"Kenapa masih saja bertanya?? Bukankah sebelumnya sudah pernah aku katakan, aku ingin kita menjalani pernikahan layaknya pasangan suami istri pada umumnya." ucapan Toni tersirat makna dalam. Sebagai wanita dewasa tentunya Ratu paham ke mana arah maksud dan tujuan Toni saat ini.


"Kak To_." ucapan Ratu melayang begitu saja layaknya angin lalu ketika Toni membungkam mulutnya dengan sebuah ciu_man lembut. Ratu yang baru pertama kalinya berciu_man lantas merasa tubuhnya mulai terasa kaku bingung harus berbuat apa, sehingga membuat Toni yang baru saja mengakhiri ciumannya tampak mengulum senyum di bibirnya.


"Manis." ucapnya seraya mengusap sudut bibir Ratu, dan hal itu membuat semburat merah tampak di wajah Ratu.


Toni yang menyaksikan wajah Ratu yang tampak merah merona menahan malu lantas kembali mendaratkan sebuah ci_uman dibibir mungil milik Ratu, Sebuah ciu_man yang perlahan berubah menjadi ******* yang semakin menuntut lebih.


Tanpa sadar bibir Ratu mulai terdengar mengeluarkan suara keramat ketika tangan kekar milik Toni telah menelusup ke dalam piyamanya.


"I want it, baby." tutur Toni dengan sorot mata yang mulai dipenuhi kabur gai_rah.


Cukup lama Ratu terdiam. Sampai kemudian hatinya merasa tidak tega ketika melihat suaminya yang begitu menginginkan dirinya.


pada akhirnya Ratu pun tampak mengangguk pelan sebagai jawaban jika ia bersedia menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri sepenuhnya.


Bak mendapatkan angin segar, Toni lantas mengangkat tubuh Ratu menuju tempat tidur, di mana sebentar lagi Rahma akan mengakhiri statusnya sebagai seorang gadis perawan.


Di atas tempat tidur hotel dengan ukuran king size dengan taburan kelopak bunga mawar Toni mulai mencumbui istrinya. Meski pun ini juga yang pertama kalinya bagi Toni namun tidak membuat pria itu tidak bekerja maksimal untuk melewati malam panjang mereka.


Ratu yang awalnya merasa kaku perlahan mulai terbuai dengan sentuhan lembut suaminya, sampai Ratu baru tersadar jika saat ini tubuhnya telah polos tanpa sehelai benangpun begitu pun dengan Toni, yang kini berada di atas tu_buhnya.


"Baby, can i do it now??." pertanyaan itu di lontarkan Toni, sebelum kemudian mencoba memasukkan miliknya ke inti tubuh Ratu setelah mendapat anggukan pelan dari sang istri.


Tampak jelas di mata Toni ketika Ratu mencoba menahan rasa sakit saat dirinya mencoba menghujamkan junior nya ke inti tubuhnya.


Rintihan Ratu semakin terdengar jelas di telinga Toni sehingga membuat pria itu merasa iba, namun sayangnya saat ini keinginannya yang ingin memiliki sang istri sepenuhnya lebih besar dari rasa iba nya. Sehingga tidak sampai membuat Toni menghentikan kegiatannya, Namun begitu ia tetap berusaha melakukannya dengan sangat lembut dan juga berusaha agar Ratu bisa menikmati setiap sentuhannya.


Setelah beberapa kali sempat gagal akhirnya kini Toni berhasil menembus pertahanan sang istri dengan susah payah. Seiring dengan keberhasilan Toni setetes buliran bening lolos di sudut mata indah Ratu. dengan lembut Toni mengusapnya, sebelum kemudian mencoba membuat Ratu rileks dengan memberikan ci_uman lembut bibir mungil Ratu.


Sepertinya usaha Toni tidak sia sia, terbukti saat ini Ratu tak lagi merintih kesakitan. rintihan yang tadi lolos dari bibir mungilnya kini berganti dengan er_angan serta le_guhan ni_kmat.


Sampai dengan suara eran_gan terdengar secara bersamaan ketika Toni menyudahi permainannya.


"Terima kasih sayang, karena sudah menjaga sesuatu yang paling berharga dalam dirimu." tutur Toni dengan tatapan dalam, sebelum kemudian mendaratkan kecupan yang cukup lama di kening Ratu.


"Hemt." hanya itu yang bisa di ucapkan Ratu, Mengingat tubuhnya terasa sangat lelah usai melewati adegan pa_nas mereka tadi.


Kini Toni tidak peduli lagi dengan pria yang pernah membuat istrinya merasakan yang namanya jatuh cinta, yang terpenting bagi Toni saat ini, ia merupakan pria beruntung yang mendapatkan kesucian sang istri.


"Maaf sudah membuatmu kesakitan, sayang." rasa lelah dan kantuk yang tadi di rasakan Ratu seakan sirna begitu saja saat mendengar Toni memanggilnya dengan sebutan sayang.


Jika di sela kegiatan panas Mereka tadi Toni memanggilnya dengan sebutan sayang, mungkin karena pria itu terbawa suasana, begitu pikir Ratu. Tapi kini kegiatan panas Mereka baru saja berakhir, lalu kenapa pria itu masih memanggilnya dengan sebutan sayang???


"Apa kak Toni sayang padaku??." dalam hati Ratu seraya menatap manik mata Toni dalam diam.


Mungkin karena tenaganya yang hampir terkuras habis sehingga membuat kantuk Ratu kembali melanda. Perlahan mata Ratu yang sudah tampak sayu akhirnya terpejam dengan sempurna bersamaan dengan Suara napasnya yang mulai terdengar teratur.


Toni tampak mengulas senyum di wajah tampannya ketika melihat Ratu sudah terlelap begitu saja, padahal tadinya ia masih fokus menatap Toni.


Satu kecupan di daratkan Toni pada bibir Ratu yang berwarna merah jambu, sebelum kemudian ikut merebahkan tubuhnya di sisi sang istri.