
"Ada apa kak, apa terjadi sesuatu??." tanya Ratu ketika melihat Toni yang tampak seperti orang kebingungan.
"Aaaa,,,, tidak terjadi apapun, apa kita bisa berangkat sekarang?". Toni sengaja mengalihkan perhatian Ratu dengan segera mengajaknya berangkat.
"Tentu saja." sahut Ratu seolah melupakan begitu saja kejadian tadi.
"Kenapa aku baru menyadarinya, ternyata Ratu sangat cantik apalagi jika berdandan seperti ini." dalam hati Toni ketika mencuri pandang pada Ratu di sela aktivitasnya mengemudikan mobilnya.
Untuk kesekian kalinya Toni mencuri pandang ke arah Ratu dan kali ini tanpa sadar bibirnya terdengar memuji. "Cantik."
"Apa kak Toni mengatakan sesuatu??." tanya Ratu yang tak begitu jelas mendengar ucapan Toni.
"Tidak ada." dusta Toni yang kini tengah memandang lurus ke depan.
"Oh,,,aku pikir kak Toni mengatakan sesuatu." tutur Ratu sebelum kemudian kembali fokus pada ponselnya, melanjutkan berbalas pesan dengan Rahma melalui aplikasi hijau di ponselnya.
Empat puluh lima menit kemudian akhirnya mobil Toni memasuki area kampus ternama di kota itu.
Tanpa menunggu pergerakan Toni untuk membukakan pintu mobil untuknya, Ratu melakukannya sendiri sebelum kemudian melangkah bersama Toni memasuki area gedung yang telah di persiapkan untuk keperluan acara hari ini.
Kedatangan mereka di sambut dengan hangat oleh dekan fakultas kedokteran serta tim yang bertugas di pagi menjelang siang hari itu.
"Selamat datang di kampus kami Dokter Toni, selamat datang Nona." dekan mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Toni dan juga Ratu yang kini datang bersamanya.
Ketika memasuki gedung, kedatangan Toni di sambut antusias oleh para mahasiswa yang sejak tadi telah menunggu kedatangannya. Toni melambaikan tangannya ke arah mahasiswa seraya mengulas senyum tipis di wajah tampannya.
Tidak sedikit mahasiswi yang saling berbisik satu sama lain, memuji ketampanan pria yang bergelar dokter spesialis tersebut.
"Ganteng banget sih."
"Iya, pengen jadi kekasih pak dokter deh." celetukan salah seorang mahasiswi Lantas mendapat toyoran dari salah seorang mahasiswa, yang merupakan temannya.
"Pede banget sih, mana mau pria tampan dan mapan seperti pak dokter sama mahasiswi abadi seperti kamu." mahasiswa tersebut Sengaja meledek mengingat temannya tersebut belum juga menyelesaikan studinya padahal saat ini rekan seangkatan sudah mendapatkan gelar dokter.
"Hish... nggak asik banget sih."
Setelahnya Toni dan Ratu pun menempati tempat duduk yang telah di sediakan.
Mulai dari acara pembukaan hingga kini tiba waktunya Toni mengisi seminar dengan memberikan sedikit motivasi bagi para mahasiswa dan mahasiswi dalam mengejar mimpi menjadi seorang dokter tentunya.
Riuh antusias para mahasiswa kembali memenuhi ruangan ketika Toni di persilahkan untuk naik ke atas panggung untuk bergabung bersama Rektor kampus serta pengisi acara lainnya.
Dari jarak yang cukup jauh Ratu bisa menyaksikan betapa berwibawanya pria itu ketika mengisi seminar di atas panggung. Berdialog serta sesi tanya jawab yang sengaja dilakukan bersama para mahasiswa.
Mulai dari kiat belajar untuk menjadi seorang dokter yang mampu menguasai bidangnya dengan baik hingga pertanyaan seputar hal pribadi tak lupa dilontarkan para mahasiswa, lebih tepatnya mahasiswi yang terpesona dengan ketampanan seorang Toni Wardana.
Menyaksikan pria pujaan hatinya berdiri di atas panggung saat ini membuat Ratu semakin terpesona akan sosok pria yang tak lama lagi akan berstatus sebagai suaminya tersebut.
"Kak Toni memang Spek pria idaman, tidak heran banyak mahasiswi yang memuji ketampanan serta wibawanya." dalam hati Ratu bergumam.
"Silahkan, jika ada yang ingin di tanyakan!!!." Toni menunjuk ke arah salah satu mahasiswi yang terlihat mengangkat tangannya, ingin bertanya.
"Apa saat ini dokter sudah menikah???." pertanyaan yang baru saja dilontarkan salah satu mahasiswi tersebut lantas mendapat sorakan dari para mahasiswa lainnya.
Sementara Toni hanya mengulas senyum tipis di wajahnya ketika mendengar pertanyaan dari salah satu mahasiswi.
"Gila, ternyata anak jaman sekarang ngeri juga pertanyaannya." dalam hati Ratu. Bagaimana tidak, di jamannya kuliah dulu mana ada mahasiswi yang berani bertanya seperti itu.
"Jawab dong, pak dokter ganteng." celetuk mahasiswi lainnya ketika melihat Toni masih diam.
"Baiklah, untuk saat ini saya belum menikah tetapi." Toni sengaja menggantungkan kalimatnya sehingga membuat para mahasiswi jadi semakin penasaran.
"Tapi apa pak dokter??."
"Tapi sebentar lagi saya akan segera menikah, tepatnya dua Minggu lagi saya akan menikah dengan seorang wanita cantik yang saat ini duduk di sana." Toni menunjuk ke arah Ratu yang kini tengah duduk di salah satu kursi bergabung dengan beberapa orang dosen.
Ratu hanya bisa tersenyum kaku ketika menyadari hampir semua tatapan para mahasiswa tertuju padanya.
Meski merasa malu dan juga kikuk, mau tidak mau untuk menghargai lantas Ratu berdiri lalu sedikit menundukkan kepalanya ke arah para mahasiswa dan juga mahasiswi.
**
"Semoga rencana pernikahan anda berjalan dengan lancar dokter Toni." dengan ketulusan hati pak dekan Mendokan kelancaran untuk rencana pernikahan Toni dan juga Ratu.
"Aamiin... terima kasih untuk doanya pak." jawab Toni sebelum kemudian masuk ke mobil dan meninggalkan kawasan kampus, setelah berpamitan sebelumnya.
"Tidak perlu menatapku seperti itu!!." Meski saat ini Toni fokus pada kemudi namun ia masih bisa menyadari jika sejak tadi Ratu terus mencuri pandang padanya.
"Percaya diri banget sih." Ratu sontak memalingkan pandangannya ke sembarang arah ketika ketahuan menatap pria di sampingnya tersebut, dan hal itu mampu menciptakan sebuah senyum di wajah Toni.
"Kita mampir makan siang dulu!!.". Ajak Toni dan Ratu pun tak menolak mengingat tadi pagi ia bahkan tidak sempat sarapan, kini rasanya cacing cacing di perutnya sudah meronta ingin di beri makan.
Toni memarkirkan mobilnya di area parkiran sebuah restoran.
Toni dan Ratu menempati meja yang berada di tepi ruangan, di mana mereka bisa melihat orang berlalu lalang di depan restoran melalui dinding kaca.
Toni membaca buku menu untuk memilih menu yang tersedia. setelah memilih beberapa menu untuk makan siang, Toni lantas melambaikan tangan ke arah pelayan restoran.
Setelah mencatat pesanan, pelayan lantas meninggalkan meja mereka untuk menyiapkannya.
"Bukankah itu gambar wajah tuan Riko, kenapa gambar wajah tuan Riko terpampang di restoran ini??." Tanya Ratu bingung ketika melihat stiker besar dengan gambar wajah Riko.
"Itu Karena restoran ini milik tuan Riko." jawab Toni seraya menatap layar ponselnya.
"Wuaahhh hebat....Selain memimpin perusahaan besar ternyata tuan Riko juga memiliki restoran semewah ini." puji Ratu.
"Jika kamu mau, saya juga bisa membuka restoran semewah ini untukmu." sahut Toni, bukannya iri dengan kehebatan Riko tetapi entah kenapa Toni merasa tidak suka ketika mendengar Ratu memuji kehebatan pria lain dihadapannya.
Kalimat Toni mampu membuat kedua alis Ratu saling bertaut bingung. "Ada apa dengannya???." dalam hati Ratu.
"Terima kasih." Toni mengucapkan terima kasih setelah pelayan menyajikan pesanan mereka di atas meja.
Ratu yang baru menyadari jika ternyata Toni Sengaja memesan makanan yang tidak pedas untuknya, Lantas menghembus napas bebas di udara.
"Tidak perlu protes, ingat!!! hari pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. aku tidak ingin sampai kamu sakit dan tidak bisa melayaniku nantinya."
"Hah???." Kedua mata Ratu melebar sempurna saat mendengar kalimat Toni yang terdengar ambigu.