
Kini Alan berada di perjalanan menuju rumah Sintia untuk mengantarkan wanita itu pulang, setelah usai makan malam. selama di perjalanan tak banyak percakapan di antara Alan dan juga Sintia, kedua justru larut dalam pemikiran masing masing.
*
Kini Alan menepikan mobilnya di depan gerbang rumah Sintia.
"Terima kasih untuk makan malamnya." ucap Sintia sebelum beranjak turun dari mobil Alan .
"Seharusnya saya yang berterima kasih. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk makan malam denganku." ujar Alan.
Sintia merespon ucapan Alan dengan anggukan sekilas, yang disertai senyuman kecil yang terukir di sudut bibirnya.
Kini Sintia beranjak turun dari mobil Alan. Sintia yang berniat masuk ke dalam rumah setelah menyaksikan mobil Alan beranjak pergi, akhirnya mengurungkan niatnya ketika Alan justru meminta dirinya untuk masuk lebih dulu.
"Masuklah!! saya akan pergi setelah melihatmu masuk." tutur Alan dari balik jendela mobil pada Sintia yang masih berdiri di dekat mobilnya.
Mendengar seruan dari Alan, Sintia lantas mengangguk sebelum kemudian beranjak memasuki gerbang rumahnya.
Sintia yang tak sadar mengukir senyum di wajahnya lantas membuat bi Ani yang cukup dekat dengannya mempertanyakan kondisi Sintia, ketika ia baru saja memasuki pintu utama.
"Apa anda baik baik saja, Nona??." tanya salah satu ART di rumahnya dengan wajah bingung.
"Aku baik baik saja, bi. Memangnya kenapa bibi bertanya seperti itu??." Sintia balik bertanya.
"Tidak ada apa apa non, bibi cuma bingung saja karena sejak tiba bibi lihat Non Sintia senyum senyum sendiri." jawab bi Ani apa Adanya.
"Atau jangan-jangan non Sintia lagi jatuh cinta ya??." tebakan bi Ani membuat Sintia mencebikkan bibirnya sebal.
"Bi Ani ngomong apa sih." tepisnya, sebelum kemudian pamit menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Sintia sengaja menghindari bi Ani, jika tidak masih banyak lagi pertanyaan yang akan di lontarkan oleh wanita itu.
Di kamarnya, Ya di sinilah Sintia berada. Merebahkan tubuhnya terlentang sembari menatap langit langit kamarnya. Pandangan Sintia jauh menerawang, mengingat kejadian beberapa saat yang lalu di restoran tadi.
"Kenapa tuan Alan tidak menepis dugaan dari pria tadi???." lirih Sintia dalam hati.
"Oh astaga...ada apa denganku, kenapa aku terus memikirkan hal itu?? Kenapa hatiku merasa senang saat tuan Alan tidak menepis dugaan pria itu??." gumam Sintia yang merasa bingung dengan perasaannya sendiri.
Tidak ingin besok pagi ia sampai terlambat berangkat karena terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak, akhirnya Sintia pun memilih membersihkan tubuhnya kemudian kembali merebahkan tubuhnya di balik hangatnya selimut tebal miliknya.
Keesokan harinya, Sintia yang baru saja tiba di rumah sakit di kejutkan dengan buket bunga mawar yang diletakkan di atas mejanya.
Sintia lantas mengambil selembar kertas ucapan yang terselip pada buket bunga. Belum sempat membaca tulisan yang ada di kertas ucapan tersebut, Sintia sudah mendengar kalimat godaan terlontar dari mulut salah seorang perawat yang bertugas bersama dengannya di ruangan poli bedah.
"Cie.... yang dapat bunga... Dari calon suami ya dok??." pertanyaan dari suster Ita terdengar begitu menyebalkan di telinga Sintia.
"Calon suami dari mana coba, sekedar pacar saja saya tidak punya apalagi calon suami." jawab Sintia sembari menjatuhkan bokongnya di kursinya.
Setelah melihat suster Ita keluar ruangan untuk mengambil sesuatu, Sintia lantas membuka kartu ucapan itu lalu membacanya.
"Apa bunga ini memang untukku?? Apa Mereka tidak salah kirim??." Sintia dibuat bertanya tanya mengingat tak ada nama pengirim ataupun nama penerima yang tertera di sana. Namun kata suster Ita, kurir yang mengantarkan bunga tadi menyebutkan nama lengkap sintia, jadi tidak mungkin salah kirim.
"Apa bunga ini dari, tuan Alan??." dugaan Sintia mengarah pada Alan, namun dengan cepat wanita itu menepis dugaannya, karena tidak ingin terlalu percaya diri jika pengirimnya benar-benar Alan. Bisa jadi bunga itu berasal dari salah satu pasiennya sebagai ungkapan Terima kasih, begitu pikir Sintia tak ingin terlalu percaya diri jika pengirimnya adalah Alan.
***
Di tempat yang berbeda, Alan tampak mencecar Razak dengan berbagai banyak spekulasi dan juga pertanyaan.
"Apa kau yakin dia akan menyukainya??." tanya Alan dengan perasaan cemas.
"Awas saja jika ide gila darimu yang menyarankan mengirimkan Bunga untuknya justru membuatnya ilfil padaku!!." pernyataan Alan yang berbau ancaman membuat Razak menelan ludahnya dengan susah payah, namun Begitu ia tetap berusaha meyakinkan Alan jika idenya pasti akan berhasil.
Sebagai seorang pria yang cukup kaku pada lawan jenisnya membuat Alan bingung sendiri ketika ingin memilih hadiah untuk seseorang, sehingga membuatnya terpaksa meminta bantuan dari asisten pribadinya, Razak untuk mencari ide.
"Ya tuhan ... Semoga anda menyukainya Nona Sintia, dengan begitu manusia kaku ini tidak akan marah, apalagi sampai memberi hukuman padaku." lirih Razak dalam hati.
**
Di tengah kegiatannya yang kini tengah memimpin rapat direksi tiba tiba Alan mendapatkan pesan dari pak Bram, jika saat ini Sintia telah mengetahui keberadaan dan kondisi kesehatan tuan Mardin.
Deg.
Setelah membaca pesan dari asisten pribadi tuan Mardin, Alan jadi tak tenang. Bahkan ia seperti tidak konsentrasi dalam memimpin rapat pagi ini, tidak seperti Alan yang biasanya.
Razak yang duduk di samping Alan dapat melihat dengan jelas kegelisahan di wajah Alan.
"Sepertinya untuk rapat hari ini, cukup sampai di sini!! Kita akan membahas kelanjutannya Minggu depan sesuai dengan hasil dari keputusan Minggu ini."sebagai asisten pribadi, dengan sigap Razak mengambil alih untuk menutup rapat ketika melihat Wajah Alan yang terlihat tak seperti biasanya, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit sekarang!!! Sintia sudah tahu tentang kondisi ayahnya, saya takut terjadi sesuatu pada tuan Mardin jika melihat putrinya sampai bersedih." Alan lantas meraih kunci mobilnya kemudian memberikannya pada Razak, sebelum kemudian mulai beranjak keluar dari ruangan meeting.
"Dari yang saya lihat anda bukan hanya mencemaskan kondisi tuan Mardin, tapi anda mencemaskan kondisi putrinya." Razak bergumam di dalam hati sebelum mengikuti langkah Alan menuju lift petinggi perusahaan yang akan mengantarkan mereka ke lantai dasar.
Beberapa saat kemudian, Alan yang di temani oleh Razak nampak mendatangi rumah sakit di mana tuan Mardin tengah mendapat perawatan.
Seperti dugaannya, Alan yang baru saja membuka handle pintu kamar perawatan sudah menyaksikan Sintia tengah menangis sesenggukan saat menggenggam tangan lemah ayahnya.
Pandangan tuan Mardin beralih pada Alan ketika mendengar suara pintu yang baru saja di buka dari arah luar.
"Kemari lah!!." pinta tuan Mardin pada Alan.
Alan lantas berjalan mendekati tempat tidur tuan Mardin.
Sintia lantas mengusap wajahnya yang basah karena air mata begitu menyadari keberadaan Alan yang kini telah berada dekat dengannya.