Trust Me Please.

Trust Me Please.
Pernikahan Alan dan Sintia.



Sudah hampir sebulan berlalu sejak Rahma mengetahui jika sebenarnya seseorang yang pernah mendonorkan hati padanya adalah Mona. kini Rahma mulai tersadar jika keikhlasan jauh lebih baik di banding harus menaruh rasa dendam pada seseorang.


Dirinya yang pernah begitu ikhlas memaafkan kesalahan yang pernah di lakukan Mona padanya, kesalahan Mona yang pernah memfitnah dirinya malam itu, justru membuat Mona merelakan anggota tubuhnya sendiri karena rasa bersalahnya. Meskipun kenyataannya Rahma telah memaafkan kesalahannya walau Mona tak memintanya sekalipun.


Tak jauh berbeda dengan Sintia, Riko pun mengatakan hal yang sama. setiap sesuatu yang terjadi pada manusia merupakan takdir dari Sang kuasa yang tidak bisa diubah oleh manusia termasuk dirinya. Seperti halnya yang telah terjadi pada Mona, takdir tuhan yang tidak bisa di ubah. Sebagai rasa terima kasih pada Mona, Riko meminta pada sang istri untuk hidup bahagia selamanya bersama dengannya dan juga calon anak anak mereka, karena itulah tujuan Mona menjadi pendonor bagi Rahma.


***


Di kediaman tuan Mardin tengah di lakukan persiapan guna pelaksanaan pernikahan Sintia dan Alan yang akan di laksanakan esok hari.


Rahma yang hari itu menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah Sintia, lantas membantu mempersiapkan berbagai macam persiapan yang diperlukan besok.


Di saat semua anggota keluarga Alan dan juga sintia berbahagia menanti hari pernikahan Alan dan juga Sintia, seseorang justru nampak terluka dengan kabar tersebut.


Di perusahaan Mardin Group, Kartika yang tengah melintas di depan salah satu ruangan sayup-sayup mendengar beberapa pegawai membicarakan tentang pernikahan Alan dan seorang gadis yang tak lain adalah putri dari pemilik perusahaan membuat telinga Kartika semakin panas mendengarnya.


Suasana di ruangan tersebut seketika hening ketika menyadari kedatangan Kartika, beberapa pegawai wanita yang tadi mengatakan jika Alan dan Sintia merupakan pasangan yang sangat serasi seketika diam tak bersuara.


"Kenapa kalian diam, bukankah sejak tadi saya mendengar kalian tengah asyik bergosip??." sindir Kartika dengan wajah tak bersahabat.


"Asal kalian tahu wanita yang kalian anggap sangat cocok dengan tuan Alan itu hanya bisa mengandalkan diri sebagai putri dari pemilik perusahaan, dengan begitu ia sengaja meminta ayahnya untuk menjodohkan dirinya dengan CEO di perusahaan ini. Sangat memalukan.... Jika saja bukan karena permintaan dari pemilik perusahaan, saya yakin tuan Alan pasti tidak akan memilih wanita itu sebagai calon istrinya." dengan gaya arogannya Kartika mengeluarkan statemen yang membuat hampir semua pegawai terkejut mendengarnya.


"Anda jangan asal bicara nona Kartika, apa anda tidak takut jika ucapan anda akan menjadi bumerang bagi kelangsungan karir anda di perusahaan ini." salah seorang dari pegawai melontarkan sebuah pernyataan, seolah ingin menepis tudingan Kartika pada sosok Sintia, yang mereka kenal dengan sosok yang baik dan bersahaja.


"Saya tidak asal bicara, karena siang itu saya tidak sengaja mendengar sendiri percakapan tuan Bram dan juga tuan Mardin di ruangannya, sehari sebelum tuan Mardin melakukan perjalanan ke luar kota." ujar Kartika dengan percaya diri, ia berpikir jika Alan bersedia menikahi Sintia hanya karena merasa tidak enak bahkan tertekan dengan permintaan dari tuan Mardin selaku atasannya.


Ruangan tersebut kembali hening dan tak lama kemudian Kartika pun meninggalkan ruangan divisi keuangan ketika ia melihat Razak tengah melintas di depan ruangan itu, hendak menuju divisi pemasaran.


***


Seminggu tak melihat wajah pujaan hatinya membuat Alan tak sabar menunggu hari esok, di mana ia akan melafazkan kalimat suci ijab qobul yang akan merubah status Sintia dari seorang gadis menjadi istrinya.


"Cie....yang besok mau nikah..." goda Ratu ketika menghampiri Alan di kamarnya.


Alan hanya menatap datar ke arah adiknya itu, ia tak berniat menimpali godaan dari Ratu, karena sekali saja ia menimpalinya sudah pasti akan begitu banyak godaan yang akan dilontarkan adik tengilnya itu.


Ratu melangkah mendekati Alan yang tengah duduk bersandar di bahu tempat tidurnya.


"Bang Alan sudah belajar belum?" tanya Ratu dengan nada yang terdengar menggoda.


"Bang Alan sudah belajar membuat calon keponakan untuk Ratu, belum??." seketika tatapan tajam dari Alan membuat Ratu terkekeh lalu beranjak meninggalkan kamar Alan.


Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika menyaksikan Ratu berlalu keluar dari pintu kamarnya, ia tidak habis pikir dengan ucapan mes_um adiknya itu barusan.


"Bisa bisanya anak itu bertanya demikian??." Alan lantas memijat pangkal hidungnya.


Tidak terasa malam telah berganti pagi, di kediaman tuan Mardin telah ramai dengan kedatangan tamu undangan yang akan menyaksikan prosesi ijab qobul yang akan berlangsung beberapa saat lagi.


Sintia yang kini telah mengenakan gaun pengantin berwarna putih nampak begitu cantik di depan cermin meja rias. MUA yang hari ini bertugas membantunya dibuat kagum dengan kecantikan Sintia.


"Anda benar benar cantik, Nona, saya yang perempuan saja sangat kagum dengan kecantikan anda, apalagi calon suami anda." puji MUA tersebut seraya membantu merapikan makeup Sintia, Meksi sebenarnya make up di wajah Sintia terlihat baik baik saja.


Sebuah make up natural di pilih Sintia di hari pernikahan.


Kedatangan Rahma dan juga Ratu membuat Sintia menoleh ke arah keduanya.


"Wah... cantik sekali calon kakak ipar ku ini, pantas saja Abang ku di buat klepek klepek." goda Ratu yang kini melangkah masuk ke kamar Sintia.


"Aku tidak bisa membayangkan seperti apa cantik dan gantengnya keponakanku nanti, jika calon ibunya saja secantik ini." Sintia hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah calon adik iparnya itu, yang sejak tadi terus melontarkan pernyataan yang membuat wajahnya merona.


"Apa benar kau sedang mengandung??." tanya Sintia pada Ratu dengan niat mengalihkan pembicaraan wanita itu. Sintia mengetahui kabar kehamilan Ratu dari calon suaminya, Alan.


"Iya benar. tapi kau tidak perlu cemas, aku yakin Abang ku pasti akan cepat membuatmu menyusul kami." Sintia tidak menyangka, niatnya yang ingin mengalihkan pembicaraan Ratu justru semakin membuat wanita itu melontarkan kalimat yang membuat wajahnya merona menahan malu.


Rahma yang menyadari jika saat ini Sintia merasa malu dengan semua kalimat tak berakhlak dari Ratu itu pun lantas menyenggol lengan sahabatnya itu.


"Kau ini bicara apa sih??.".ucap Rahma seraya mendelik pada Ratu, dan hal itu membuat Ratu cengengesan sehingga ingin sekali Rahma menyentil dahi sahabatnya itu.


Dengan adanya Ratu di kediaman Sintia itu artinya calon pengantin pria pun telah tiba di kediaman calon mempelai wanita.


Alan nampak begitu tampan dengan stelan jasnya yang berwarna senada dengan gaun yang dikenakan Sintia. Di depan penghulu, Alan yang tengah duduk di tempat yang telah di sediakan guna prosesi ijab qobul sesekali tampak mencuri pandang ke arah kamar Sintia, yang berada di lantai atas.


"Ehmt." deheman ayahnya membuat Alan tersadar dan mengalihkan pandangannya dari arah kamar calon istrinya.


"Tidak perlu memandang ke arah sana, Sebentar lagi kamu juga akan masuk dan bahkan tidur dengan pemilik kamar itu.". Sindiran ayahnya yang di sertai dengan senyum tertahan membuat Alan mengelus tengkuknya untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Papa.".