
Di hadapkan pada kenyataan yang mengharuskan dirinya untuk beristirahat sampai dengan beberapa bulan ke depan, sampai dengan kondisi kesehatannya benar benar pulih dengan sempurna, membuat Rahma mau tidak mau harus cuti dari pekerjaannya dan tentunya hal ini membuatnya merasa sedikit bosan.
"Mas.".
"Hemt." Riko yang tengah memasang arloji pada pergelangan tangannya lantas menoleh ke sumber suara ketika mendengar seruan dari istrinya.
"Apa boleh aku mengajak Boy menginap di sini untuk beberapa hari??."
"Menginap???." ulang Riko dan Rahma pun mengangguk sebagai jawaban.
Riko mendekat pada Rahma yang kini tengah duduk di tepi tempat tidur.
"Tentu saja boleh sayang.... tapi masalahnya, apa kak Cristi akan mengizinkan Boy menginap di sini sementara di rumahnya kak Cristi hanya berdua saja dengan boy." Riko mencoba memberi pengertian pada Rahma. Takutnya ketika ia memperbolehkan, justru Cristi yang tidak mengizinkan karena tidak ingin berada jauh dari putranya.
"Kalau tentang itu mas tidak perlu cemas karena barusan aku sudah membicarakannya pada kak Cristi melalui sambungan telepon dan kak Cristi tidak merasa keberatan jika sampai dengan dua hari ke depan boy menginap di sini bersama dengan kita."
Riko mengusap lembut puncak kepala istrinya sebelum beranjak.
"Baiklah, sore ini mas akan menjemput boy di rumahnya." tentunya Rahma sangat senang mendengar ucapan suaminya.
"Terima kasih, mas." ucapnya, sebelum kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalami Riko yang hendak berangkat kerja.
Mengingat hari ini adalah hari Jumat, maka Rahma berpikir akan lebih menyenangkan jika mengajak Boy menginap sampai dengan dua hari ke depan, mengingat hari Sabtu dan juga hari Minggu Boy libur sekolah.
Setelah itu Riko pun meninggalkan rumah Hendak menuju lokasi proyek, di mana Kumala serta timnya dan juga pak Sofyan telah menunggu kedatangannya.
Tiga puluh menit kemudian mobil Riko tiba di lokasi proyek.
Setelah memarkirkan mobilnya di area yang cukup aman dari kegiatan pelaksanaan proyek, Riko lantas beranjak menemui yang lainnya.
"Selamat pagi, tuan." sapa Kumala Seraya menunduk hormat ketika menyambut kedatangan Riko.
"Selamat pagi."
Melihat kondisi pelaksanaan proyek yang kini telah memasuki tujuh puluh lima persen membuat Riko tidak heran lagi, mengingat kinerja pak Sofyan selama ini selalu saja memuaskan.
Riko yang sudah berada di tengah tengah pak Sofyan, tim nya serta Kumala, tampak memperhatikan bangunan yang terlihat menjulang tinggi di hadapannya.
"Tuan, sesuai dengan permintaan anda pelaksanaan proyek ini telah memasuki tujuh puluh lima persen, dan mengenai bahan bahan yang digunakan telah sesuai dengan anggaran yang dikeluarkan." penjelasan dari pak Sofyan lantas mengalihkan perhatian Riko dari bangunan tinggi di hadapannya. Ia menoleh pada pak Sofyan.
"Terima kasih atas kerja keras anda selama ini pak." ungkap Riko pada pak Sofyan.
"Tidak perlu berterima kasih tuan Riko, karena itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai ketua pelaksana proyek." sahut pak Sofyan seraya mengulas senyum tipis wajahnya yang masih terlihat tampan meski usianya sudah mencapai setengah abad.
Di tengah perbincangan mereka, tiba tiba Riko teringat akan ucapan Rahma jika kakeknya Ratu yang tak lain adalah ayah kandung dari pak Sofyan kini tengah di rawat di rumah sakit.
" Saya dengar dari istri saya jika saat ini ayah anda tengah di rawat di rumah sakit???."
"Benar tuan."
"Lalu Bagaimana kondisi ayah anda saat ini???." tanya Riko lagi.
"Maaf pak, karena kesibukan saya menjaga dan merawat istri saya, sehingga sampai saat ini belum sempat menjenguk ayah anda." lanjut tutur Riko merasa tidak enak.
"Tidak masalah tuan Riko saya bisa mengerti untuk itu." sahut pak Sofyan yang mengetahui kondisi Rahma dari putrinya, Ratu.
Hampir seharian Riko berkutat dengan kesibukannya di lokasi proyek, sebelum kemudian ia pamit pulang ketika melihat jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul lima sore.
Riko melajukan mobilnya membelah jalanan menuju kediaman Cristi, tentunya untuk menjemput keponakannya si boy.
Saat tiba di kediaman Cristi, Riko menyaksikan boy duduk di teras depan, tampak sebuah koper sedang di hadapan bocah itu.
Riko lantas turun dari mobil untuk menghampiri Boy. Kini pandangan Riko tertuju pada Boy, sebelum beberapa saat kemudian beralih pada koper sedang di hadapan keponakannya itu.
"Memangnya kamu mau kemana, Boy, Pake bawa koper segala???." tanya Riko dengan kedua alis yang tampak saling bertaut.
"Mau kemana lagi, Tentu saja mau menginap di rumah om Riko." sahut Boy dengan santainya.
"Cuma mau menginap di rumah Om, kamu sampai membawa koper segala??." tanya Riko tidak habis pikir.
"Harus dong Om, masa iya Deketan sama Tante cantik, penampilan Boy tidak terlihat tampan paripurna sih Om, ada ada saja Om Riko Nih."
"Haaahhhhh????." kedua bola mata Riko melebar sempurna. ia tampak menggaruk kepalanya yang tiba tiba saja terasa gatal ketika mendengar kalimat narsistik dari keponakannya tersebut.
Obrolan kedua pria berbeda generasi tersebut terpaksa harus berakhir ketika menyadari kedatangan Cristi.
"Sudah lama, Ko??." tanya Cristi yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Enggak kok Kak, baru juga sampai.". Sahut Riko yang kini telah beralih memandang ke arah Cristi.
"Masuk dulu, Ko, biar kakak buatkan teh hangat!!." Tawar Cristi, namun dengan cepat Boy menjawab.
"Mah, sepertinya Boy dan Om Riko harus segera pergi, kasian kalau Tante cantik harus menunggu lama. lagian Om Riko nggak haus Kok, Iya kan Om....??."
Kedua bola mata Riko kembali melebar dengan sempurna ketika mendengar kalimat Boy yang terdengar seperti seorang aktor yang tengah memainkan perannya dengan apik.
"Yakin Ko, tidak mau masuk dulu??." kembali tanya Cristi meyakinkan ketika melihat Riko hanya diam dengan gurat wajah bingung. lebih tepatnya Riko bingung, ada ya.. bocah berusia sepuluh tahun pemikirannya seperti si boy.
"Iya kak, sepertinya benar kata Boy kasian kalau istri Riko lama menunggu di rumah." sahut Riko dengan perasaan gemas pada keponakannya yang kini terlihat mengukir senyum tanpa dosa ke arahnya.
"Untungnya keponakan sendiri kalau tidak, sudah aku pites nih bocah." gumam Riko dengan nada lirih dalam hati.
Setelah berpamitan pada Cristi lantas Riko dan Boy segera beranjak ke mobil.
Dari balik kaca mobil, Boy dapat melihat mamanya melambaikan tangan padanya, sebelum kemudian ia beralih pada pamannya yang kini fokus menyetir.
"Jangan marah ya Om !!! Boy hanya tidak ingin sampai Tante cantik kelamaan menunggu kedatangan kita." sadar akan tingkahnya tadi, Boy lantas meminta maaf pada Riko, sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya dengan gemas. Jika sudah begini pertahanan Riko pasti akan runtuh seketika, terbukti ia kini tampak mengulas senyum pada keponakannya itu.
"Baiklah..... kali ini Om maafin, tapi ingat tidak untuk lain kali." tutur Riko seraya memasang wajah yang dibuat sebal.
"Siap Om." jawab Boy. bocah itu memperagakan gerakan hormat pada Riko. dan hal itu membuat Riko semakin merasa gemas pada keponakannya tersebut.