
Setelah kepergian Rahma, Ratu pun beranjak menuju di mana mobilnya berada.
Beberapa saat kemudian Ratu pun terlihat merogoh tasnya untuk mengambil kunci mobil ketika tiba di basemen, namun Jantung Ratu serasa mau copot ketika sebuah mobil yang tiba tiba berhenti di dekatnya.
"Kak Toni." gumam Ratu ketika menyadari ternyata mobil tersebut adalah milik Dr Toni.
"Apa kak Toni ingin membuatku mati jantungan." oceh Ratu saking terkejutnya.
"Masuk!!." Tanpa peduli dengan ocehan Ratu, Toni meminta gadis itu untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
Setelah memastikan kondisi aman, tak seorang pun yang melihatnya, Ratu pun segera masuk ke dalam mobil Toni.
"Apa yang akan kak Toni lakukan??." tanya Ratu dengan wajah curiga ketika Toni mendekatkan tubuhnya ke arahnya.
"Tentu saja membantumu memasang seat belt, memangnya kamu pikir apa yang ingin saya lakukan padamu??." tanya Toni dengan menaikan salah satu alisnya, pertanda bingung.
Wajah Ratu terlihat memerah, sepertinya gadis itu tengah menahan malu karena sempat berpikir yang tidak-tidak.
"Tidak perlu malu, lagi pula setelah kita menikah nanti aku memiliki hak atas semuanya yang ada pada dirimu, termasuk _." Ratu spontan menyilangkan kedua tangannya ke da_da ketika menyadari tatapan Toni jatuh pada bagian da_danya.
"Termasuk apa??." tanya Ratu dengan tatapan tajam.
Toni kembali menegakkan tubuhnya."Termasuk melarang istriku mengenakan pakaian ketat seperti itu" jawab Toni yang tidak suka melihat pakaian yang digunakan Ratu saat ini, pakaian yang sedikit ketat. Namun untungnya gadis itu masih mengenakan jas putih kebanggaannya.
**
"Untuk apa kak Toni mengajakku ke sini??." batin Ratu, sementara Toni segera turun dari mobil kemudian mengitari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Ratu.
"Ayo turun, Jangan takut saya hanya mengajakmu ke mall bukannya masuk ke kamar hotel!!!." ucapan Toni membuat Ratu berdengus kesal dibuatnya.
"Memangnya apa yang akan kita lakukan di sini, kak??." tanya Ratu setelah turun dari mobil.
"Tentu saja untuk Mencari cincin pernikahan, memangnya mau apa lagi." jawab Toni apa adanya.
"Kenapa secepat ini sih kak, bukankah pertunangan kita baru akan di laksanakan tiga bulan mendatang??." pertanyaan Ratu sontak membuat Toni menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Ratu.
"Siapa bilang?? malam ini saya bersama dengan kedua orang tua saya akan menemui kedua orang tuamu guna melakukan lamaran sekaligus meresmikan pertunangan kita."
Jawaban Toni mampu membuat kedua bola mata Ratu membulat sempurna.
"Apa??." tanpa sadar Ratu menaikan intonasi suaranya, sehingga membuatnya menjadi pusat perhatian orang di sekelilingnya.
Menyadari hal itu sontak ratu menutup mulutnya dengan telapak tangannya untuk sejenak.
"Kak Toni, kenapa harus secepatnya ini, apa kak Toni tidak berpikir sekali lagi untuk menikah denganku ?? Lagi pula aku tahu kak Toni tidak mencintaiku, kenapa justru mempercepat pertunangan kita??." saking terkejutnya, Ratu sampai mencecar Toni dengan berbagai macam pertanyaan.
"Mau tidak mau suka atau tidak dan cepat atau pun lambat kita tetap akan menikah, lalu untuk apa menundanya terlalu lama?? Sekarang atau pun nanti kita tetap akan menikah dan akan menjalani kehidupan rumah tangga layaknya pasangan suami istri pada umumnya, Termasuk memiliki seorang anak."
"Memiliki seorang anak??." Ratu mengulang kalimat Toni yang terakhir.
"Ya, seperti yang kamu pikirkan, setelah menikah nanti kita akan melewati semua proses itu." jawab Toni, sebelum kemudian kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Ratu yang masih diam terpaku, mencoba mencerna setiap perkataan Toni.
Tersadar dari lamunannya, Ratu pun segera menyusul langkah Toni memasuki pintu masuk Mall.
"Selamat sore tuan dan Nona, ada yang bisa kami bantu??." Dengan ramah pelayan toko perhiasan menyambut kedatangan mereka.
"Kami ingin mencari cincin pernikahan." jawab Toni, sebelum kemudian melihat lihat beberapa mobil cincin yang terpajang rapi di etalase.
Pada saat melihat siapa yang saat ini mendatangi tokonya, pemilik Toko pun turun langsung untuk melayani Toni.
"Selamat sore Toni." wanita paru baya yang merupakan pemilik Toko perhiasan Tersebut menyapa Toni dengan sapaan akrab seperti biasa.
"Sore Tante." jawab Toni ketika menyadari kedatangan Tante Wilda. Tante Wilda merupakan salah satu sahabat baik dari mama Sinta.
"Ternyata ucapan Sinta bukan omong kosong calon menantunya memang sangat cantik." puji Tante Wilda ketika melihat Ratu.
"Biasa saja, tante." mendapat pujian dari tante Wilda lantas tidak membuat Ratu jadi besar kepala.
Kini Tante Wilda kembali fokus pada etalase yang menampilkan berbagai model perhiasan, sebelum kemudian Tante Wilda mengambil beberapa pasang cincin berlian dengan kwalitas terbaik yang di miliki tokonya.
"Sepertinya yang ini sangat cocok dan terlihat sangat manis di jari calon istri kamu, Ton." ucap Tante Wilda seraya memperlihatkan sebuah cincin berlian dengan tambahan permata kecil di tengahnya.
Tante Wilda membantu Ratu untuk mencoba beberapa model cincin berlian kwalitas terbaik, sehingga membuat Ratu jadi bingung untuk menentukan pilihan sebab semuanya terlihat cantik di matanya.
Untungnya Tante Wilda memberi masukan dengan membantu memilih sepasang cincin berlian yang terlihat paling cocok dan manis di jari Ratu, sehingga ia pun tak harus dibuat pusing tujuh keliling hanya karena perkara cincin pernikahan.
Kedua bola mata Ratu melebar sempurna ketika melihat nota pembelian cincin berlian tersebut.
"Oh astaga...harga cincin berlian sekecil ini hampir setara dengan harga rumahku." pandangan Ratu beralih kepada Toni yang baru saja menandatangani surat pembelian cincin berlian tersebut.
"Sepertinya cincin ini terlalu mewah untuk dipakai oleh gadis biasa sepertiku ,kak." Ratu merasa tidak enak mengingat tidak sedikit kocek yang harus di gelontorkan Toni untuk membeli cincin tersebut.
"Sudah jangan berpikiran yang bukan bukan, lagi pula saya tidak sampai menjual ginjal jika hanya untuk membeli cincin itu untukmu." jawab Toni seakan tahu apa yang kini ada di pikiran Ratu.
"CK." ratu di buat berdecak kesal mendengarnya, sedangkan Toni tanpa sadar menarik sudut bibirnya ke samping ketika melihat raut wajah ratu yang justru terlihat menggemaskan di matanya.
Setelahnya mereka pun beranjak meninggalkan mall.
"Mestinya tadi kak Toni tidak perlu membelikan cincin semahal ini." ucap Ratu ketika teringat akan harga cincin yang terbilang sangat fantastis untuk ukuran gadis biasa Seperti dirinya.
"Memangnya apa salahnya ??? Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk calon istri saya, dan kelak jika kita dikaruniai seorang anak, dia pun bisa menghargai pasangannya dengan berusaha memberikan yang terbaik." ucap Toni ketika mereka di perjalanan menuju rumah ratu.
Sementara Ratu hanya bisa menghela napas dalam mendengarnya.
Sayang sayangku jangan lupa like, koment, vote and give ya,,,,,,😘😘😘😘🙏🙏🙏🙏🙏