Trust Me Please.

Trust Me Please.
Penyesalan selalu datang terlambat.



Riko menyusul langkah istrinya masuk ke dalam kamar. Dipeluknya tubuh sang istri dari belakang, sebelum kemudian membalikkan tubuh Rahma agar menghadap padanya.


"Sayang.... sumpah, mas tidak kenal dengan mereka, apa lagi sampai janjian segala." beritahu Riko yang sebenarnya terjadi, mengingat saat ini istrinya benar-benar terlihat kesal padanya.


"Terus kalau tidak kenal, kenapa bisa joging bareng??". sepertinya ibu hamil satu ini masih kekeh dengan tudingannya.


"Sayang, itu jalan umum, masa iya sih mas harus melarang mereka joging di sana." Riko coba membuat istrinya itu mengerti.


"Aku tidak mau tahu, malam ini pokoknya mas Riko tidur sofa!!." sepertinya keputusan bumil fix dan tidak bisa diganggu gugat lagi, buktinya Rahma tidak mau lagi mendengar alasan Riko, ia berlalu begitu saja menuju kamar mandi.


"Oh astaga... rupanya membujuk wanita hamil lebih sulit di banding memenangkan sebuah tender." Riko tampak menggaruk kepalanya yang tiba tiba saja terasa gatal akibat kecemburuan bumil.


***


Rupanya drama belum selesai sampai di situ, ketika di meja makan saat sarapan, Rahma bahkan tidak mengambilkan sarapan untuk sang suami. Barulah wanita itu beranjak mengisi piring Riko dengan sarapan ketika mendengar seruan dari sang ayah.


"Sepertinya malam ini aku akan benar benar tidur di sofa." dalam hati Riko, ketika melihat raut wajah istrinya yang masih memasang wajah cemberut padanya.


Selesai sarapan Riko pun pamit berangkat kerja. Meskipun kesal namun Rahma tetap mengulurkan tangannya untuk menyalami suaminya. Dan kesempatan itu di gunakan Riko untuk mengecup puncak kepala Rahma dan Rahma pun membiarkan Riko melakukannya.


"Sayang, mas berangkat Ya." pamit Riko.


"Hemt." hanya itu yang terlontar dari bibir Rahma ketika mengantarkan Riko hingga ke depan. Sekali lagi Riko mendaratkan kecupan di kening sang istri sebelum beranjak ke mobilnya.


Barulah Rahma masuk ke dalam rumah setelah mobil Riko tak lagi terlihat oleh pandangannya.


"Begini rupanya jika istri sedang cemburu, bahkan lebih mengerikan dari pada kuburan tua." gumam Riko yang kini berada di perjalanan menuju restoran miliknya. Pagi ini Riko akan bertemu dengan salah satu pebisnis ternama dalam bidang kuliner di restoran miliknya.


Beberapa saat kemudian Mobil Riko pun tiba di restoran.


"Selamat pagi ,tuan." sapa manager restoran ketika menghampiri Riko yang baru saja turun dari mobilnya.


"Pagi." balas Riko dengan ramah. meski moodnya kurang bagus akibat kejadian kecemburuan tak jelas istrinya, tidak membuat Riko menjadikan pegawainya sebagai sasaran untuk melampiaskan amarahnya.


"Tuan, tamunya baru saja tiba dan saat ini menunggu di private room." beritahu manager restoran pada Riko dan Riko pun mengangguk paham. kini Riko yang didampingi oleh manager restoran berjalan menuju ruangan yang di maksud untuk menemui Tamunya tersebut.


Tiba di depan pintu private room manager restoran lantas membukakan pintu untuk akses Riko memasuki ruangan.


Sesaat Riko memandang ke arah pria yang kini tengah sibuk menatap layar ponselnya, sebelum kemudian melanjutkan langkahnya.


"Selamat pagi, maaf saya datang sedikit terlambat." ucapan Riko sontak saja membuat pria itu beralih dari layar ponselnya.


Pria itu lantas berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Riko. "Tidak masalah tuan Riko." ucapnya.


"Anda???." Jika pria itu terlihat tidak terkejut dengan keberadaannya, Riko justru terkejut dengan keberadaan pria yang tidak lain adalah Alan tersebut. Riko bukannya tidak kenal dengan pria itu, ia sangat kenal sosok Alan yang merupakan kakak kandung dari sahabat istrinya.


"Senang bisa bertemu dalam situasi seperti ini dengan anda, tuan Riko." ucap Alan dengan jujur.


"Saya pun begitu, senang bertemu dengan anda." balas Riko. Meskipun dalam hatinya cukup bertanya tanya, jika Alan pemilik salah satu restoran terbesar di kotanya, lalu mengapa pria itu masih bekerja pada orang lain saat ini.


"Mendiang istri dari pemilik perusahaan tempatku bekerja saat ini adalah seorang wanita yang pernah menolong nenek saya sepuluh tahun yang lalu, saya tetap bekerja di sana sampai sekarang tak lain sebagai ungkapan rasa terima kasih saya pada almarhumah, meski setelahnya nenek saya tetap meregang nyawa akibat penyakitnya." tutur Alan seolah menjawab kebingungan di wajah Riko.


"Oh, seperti itu." sahut Riko seakan paham dengan posisi Alan saat ini.


Setelah cukup lama larut dalam pembahasan serius, baik Riko maupun Alan sepakat untuk meninjau langsung lokasi yang akan digunakan Riko untuk pembangunan restoran baru.


Sepulangnya menemani Riko meninjau lokasi, Alan pun kembali ke perusahaan tempatnya bekerja, sementara Riko menuju lokasi proyek pembuatan pusat perbelanjaan yang hampir beberapa bulan terakhir menjadi kesibukan utamanya di kota itu.


***


"Tuan, sejak tadi pagi Nona Sintia belum juga keluar dari kamarnya, padahal sekarang sudah pukul tiga sore. Nona bukan hanya melewati sarapannya tetapi juga makan siangnya, tuan." lapor salah seorang ART di rumah Sintia pada ayahnya Sintia. Wanita yang sudah menganggap Sintia seperti anak kandungnya sendiri itu, di buat cemas sehingga memilih melaporkannya pada majikannya.


"Apa Putriku sering seperti ini sebelumnya??." tanya ayahnya Sintia, dan ART tersebut lantas menggeleng pelan sebagai jawaban.


Pria itu lantas mengusap wajahnya.


"Sepertinya Sintia memang tidak mengharapkan kehadiranku di sini." lirihnya dalam hati. Ada rasa kecewa di hati ayahnya pada Sintia, namun begitu pria itu tidak mempersalahkan putrinya, mengingat dirinya lah yang menjadi penyebab perubahan sikap Sintia selama ini padanya.


"Seandainya saja kamu sudah menikah nak, papa pasti akan tenang meninggalkan kamu di tanah air." dalam hatinya berujar.


"Tuan..." ART lantas menyeru ketika melihat majikannya itu tampak diam melamun.


"Ah....kamu boleh pergi !! Biar saya yang akan melihatnya di kamar." titahnya.


"Baik tuan."


Ayahnya Sintia pun segera melangkah menaiki anak tangga menuju kamar putrinya.


Tok.


Tok.


Tok.


Sintia yang tengah merebahkan tubuhnya di tempat tidur lantas menatap malas ke arah pintu kamarnya ketika mendengar seseorang mengetuk dari arah luar. sudah bisa di tebaknya siapa yang kini berada di balik benda persegi panjang tersebut.


Dengan langkah malas, Sintia beranjak turun dari tempat tidur untuk membuka pintu kamar.


Ceklek.


Seperti dugaannya, setelah membuka pintu kamar Sintia melihat sosok ayahnya berdiri di depan pintu.


Bukannya mengajak ayahnya berbicara, Sintia justru berlalu begitu saja kembali ke dalam kamar meninggalkan ayahnya.


Ayahnya lantas menyusul langkah Sintia ke dalam.


"Papa minta maaf, jika selama ini secara tidak langsung papa sudah menyakiti hati kamu, Sintia."


Sintia hanya diam saja, tidak merespon ucapan ayahnya.


"Sekalipun kamu tidak suka dengan kehadiran papa di sini, tapi papa akan tetap di sini bersamamu. setidaknya sampai kamu menemukan pendamping hidup yang akan menjagamu." sebagai seorang ayah yang pernah melakukan kesalahan besar dengan pergi jauh dari putrinya di saat dirinya sangat dibutuhkan, membuat ayahnya Sintia kini merasakan penyesalan yang amat mendalam.


Penyesalan memang selalu datang terlambat, karena Jika datang di awal bukan penyesalan namanya tapi pendaftaran....bukan begitu besti????