
"Bagaimana dengan mobil anda??." tanya Sintia seraya menatap keberadaan mobil Alan dari balik kaca mobilnya.
"Saya bisa kembali lagi ke sini nanti untuk mengambilnya." jawab Alan, sebelum kemudian menghidupkan mesin mobil dan mulai menginjak pedal gas meninggalkan area basement mall.
Ingin rasanya Sintia bertanya, mengapa sampai Alan bela belain mengantarnya pulang, akan tetapi urung di lakukannya, mengingat suasana di antara mereka saat ini cukup canggung baginya.
Ketika mobil yang dikendarai Alan meninggalkan mall, ia lantas bertanya tentang keberadaan alamat rumah Sintia dan Sintia lantas menjawabnya, sebelum kemudian suasana di antara keduanya kembali hening.
Sampai kini mobil yang di kendarai Alan pun tiba di alamat yang tadi diberikan Sintia. tepatnya di depan gerbang rumah Sintia, Alan menepikan mobil.
Seorang pria yang bertugas menjaga gerbang Lantas membuka pintu gerbang ketika mendengar suara mobil nona mudanya.
"Terima kasih sebelumnya." ucapan terima kasih dari Sintia sekaligus memecah keheningan di antara mereka berdua.
Alan hanya menanggapi ucapan terima kasih Sintia dengan anggukan sekilas.
"Apa anda tidak mau mampir dulu??." tawar Sintia sekedar basa basi, ketika ia dan Alan sudah turun dari mobilnya.
"Terima kasih, sepertinya lain kali saja, tidak enak bertamu malam malam begini." sahut Alan apa adanya dan Sintia hanya bisa mengangguk, mengingat apa yang dikatakan Alan benar adanya.
Tak berselang lama, ternyata mobil Alan yang entah di kendarai oleh siapa terlihat menepi.
"Selamat malam, tuan." Seorang pria yang berpakaian serba hitam nampak turun dari mobil milik Alan. dari penampilannya, Sintia bisa menarik kesimpulan jika pria itu merupakan seorang bodyguard.
"Malam." sahut Alan.
Alan kembali beralih memandang ke arah Sintia yang masih berdiri tak jauh darinya.
"Masuklah!!." kata Alan dengan nada pelan.
Saking tak bisa berkata apa-apa dengan sikap Alan, Sintia hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Kini Sintia berjalan memasuki pintu gerbang rumahnya, kemudian meminta penjaga di depan untuk memarkirkan mobilnya ke garasi.
Sedangkan Alan sendiri, segera masuk ke mobilnya setelah melihat Sintia telah memasuki gerbang rumahnya.
"Bagaimana kau bisa tahu kebenaran mobilku??." tanya Alan setelah mobilnya telah meninggalkan rumah Sintia.
"Tadi seorang wanita yang mengaku adiknya tuan menghubungi saya dan meminta untuk mengambil mobil anda di sana tuan. Dan mengenai alamat kekasih tuan, saya juga mendapatkannya dari adik anda, tuan." jawab pria itu apa adanya.
Mendengar pengakuan dari bodyguard tersebut Akan baru menyadari jika ponselnya tadi ia titipkan pada Ratu ketika ia hendak ke toilet.
Alan menarik sudut bibirnya ke samping.
"Ternyata kesigapan adikku bisa diperhitungkan juga." lirihnya dalam hati.
Alan kembali menarik kedua sudut bibirnya dengan sempurna ketika mengingat ucapan bodyguardnya tadi, yang mengira Sintia adalah kekasihnya.
Sementara bodyguard Alan hanya bisa menahan senyum di bibirnya ketika melirik dari spion mobil, tuannya itu sedang senyum senyum sendiri.
***
"Sayang, apa kamu yakin pria itu tepat waktu tiba di alamat yang kamu berikan??." tanya Toni pada sang istri ketika mereka di perjalanan pulang ke rumah.
"Aku rasa pria itu masih sayang dengan pekerjaannya, sehingga tidak akan membuat bang Alan sampai jalan kaki dari rumah Sintia sampai ke rumah papa." kelakar Ratu yang diakhiri dengan senyuman, membayangkan jika sampai Abangnya itu benar benar jalan kaki pulang ke rumah orang tuanya.
Di perjalanan kembali ke rumah tiba tiba Ratu teringat akan adik iparnya.
"Kak mampir sebentar di toko Roti yang ada di depan sana ya!!.". pinta Ratu dan Toni pun mengangguk.
"Siap sayang." sahutnya.
Ratu pun memesan beberapa roti dengan varian rasa yang berbeda setelah berada di dalam toko.
"Ini rotinya, kak." kata pelayan toko seraya menyerahkan kantong plastik yang berisikan roti pesanan Ratu.
"Terima kasih, ini uangnya kembaliannya buat kamu saja." kata Ratu.
"Terima kasih banyak ya kak, semoga kakak di berikan rezeki yang melimpah oleh tuhan." kata pelayan yang hampir seusai dengan adik iparnya, sakha.
"Aamiin....."
Ratu pun segera pamit meninggalkan toko.
Setelah Ratu kembali ke mobil, Toni lantas melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.
Di sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Ratu terus memperhatikan wajah suaminya yang kini tengah fokus menatap ke depan.
"Ya tuhan.... sampai detik ini aku seperti belum percaya jika pria tampan di sampingku ini telah menjadi suamiku." lirih Ratu dalam hati.
Mungkin karena terlalu fokus menatap wajah tampan Toni, sehingga Ratu tidak menyadari jika saat ini Toni sedang menoleh padanya. Pria itu tampak mengulum senyum ketika menyadari jika saat ini ia menjadi pusat perhatian sang istri.
"Sudah puas??." pertanyaan Toni membuat Ratu terkesiap dibuatnya.
"Kalau belum puas, nanti kita lanjutkan di rumah." lanjutnya dengan senyum menggoda.
Sementara Ratu yang kini merasa malu karena sudah ketahuan menatap kagum pada sang suami itu pun ikut tersenyum dengan wajah merah merona.
"Memangnya salah apa mengagumi ketampanan suami sendiri??." Ratu tampak memasang wajah sebal untuk menutupi rona di wajahnya, dan itu membuat Toni merasa gemas melihatnya.
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di rumah.
"Hai kak...Hai kakak ipar.....baru pulang pacaran nih??." goda Sakha ketika menyaksikan Toni dan Ratu yang baru saja tiba.
"Anak kecil di larang kepo!!." cetus Toni, yang kini telah menjatuhkan bokongnya di sofa tak jauh dari Sakha.
"CK..." Sakha terdengar berdecak kesal ketika mendengar Toni menyebutnya anak kecil.
"Ini roti kesukaan kamu, kebetulan tadi kami lewat sekalian mampir deh." tutur Ratu seraya menyerahkan kantong plastik yang berisikan roti pada Sakha.
"Wah....kak Ratu memang kakak ipar yang paling the best." puji Sakha. kantong plastik yang telah berpindah ke tangan Sakha tersebut lantas segera di buka olehnya.
"Tunggu.... Sayang, jadi roti yang kamu beli tadi hanya untuk anak ini??". tanya Toni memastikan, dan wajah Toni seketika berubah sewot ketika Ratu mengiyakannya dengan anggukan kepala.
"Thank you ya kak...". Ucap Sakha dengan wajah yang berbinar. Perlahan Sakha memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya, dari pergerakannya terlihat jelas jika Sakha tengah menerek Toni.
"Kak Toni mau?? tapi sayang sekali kakak ipar hanya membelikannya untuk adik ipar kesayangannya ini." dari raut wajahnya, terlihat jelas jika Sakha ingin meledek Toni, kesal karena tadi Toni menyebutnya anak kecil.
Sementara Toni yang menyadari maksud dan tujuan dari adiknya itu hanya tersenyum dalam hati. meskipun sering kali mengatai Sakha dengan sebutan anak kecil, namun di dalam hati Toni kini mengakui jika adik kecilnya dulu kini telah dewasa, bahkan telah duduk di bangku kuliah.
Toni lantas berdiri dari duduknya hendak ke kamarnya berada, namun sebelum itu Toni yang melintas lantas mengarahkan tangannya untuk mengacak gemas kepala Sakha.
"Makanlah, Kakak sudah kenyang !!." ucapnya.
Sakha tahu betul bagaimana besarnya kasih sayang Toni padanya, namun ia juga tahu jika kakaknya itu bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaannya, termasuk rasa sayangnya pada adiknya sendiri.
Sakha menatap punggung Toni yang semakin menjauh. diperlakukan seperti itu saja oleh Toni sudah membuat Sakha terharu sekaligus senang.