
Setelah beberapa saat kemudian kini mobil Riko tiba di depan rumah sakit.
"Hubungi mas lima belas menit sebelum waktunya pulang biar tidak terlalu lama menunggu!!." pesan Riko sebelum Rahma turun dari mobilnya.
Rahma hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
"Jangan terlalu lelah, mas tidak ingin sampai terjadi sesuatu sama kamu dan calon anak kita, sayang!!!." kembali Riko memberi pesan pada Rahma dan masih sama Rahma hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Bukannya tidak sopan namun Rahma sendiri masih dibuat tak mengerti dengan perubahan sikap Riko yang terlihat semakin perhatian padanya.
Di belakang mobil Riko saat ini ternyata ada mobil Ratu. Ratu sengaja menepikan mobilnya sejenak saat melihat mobil Riko di depan pintu gerbang rumah sakit.
"Apa sebenarnya niat tuan Riko mendekati Rahma, apa tuan Riko menaruh hati pada Rahma??? Oh astaga....jika itu benar ini tidak bisa di biarkan, tuan Riko sudah menikah dan aku tidak ingin Rahma di cap sebagai pelakor nantinya.". Ratu mulai merasa awas dengan sikap Riko pada Rahma, apalagi pagi ini ia melihat Riko mengantarkan Rahma berangkat kerja.
"Seandainya anda belum menikah tentu saja aku tidak akan menentang anda tuan Riko, tapi kenyataannya kata kak Mala saat ini anda sudah menikah." sampai dengan mobil Riko kembali melaju Ratu masih nampak bermonolog, sebelum kemudian kembali melajukan mobilnya memasuki gerbang rumah utama sakit.
Ratu buru buru memarkirkan mobilnya lalu kemudian menyusul langkah Rahma.
"Ra." sapa Ratu ketika hampir mensejajari langkah Rahma
"Kamu mengangetkan aku saja." ujar Rahma seraya mengelus dadanya akibat terkejut dengan kedatangan Ratu secara tiba tiba.
"Maaf."
"Tadi Kau di antar sama Tuan Riko??."
"Kenapa bertanya jika sudah tahu jawabannya." jawaban Rahma membuat Ratu memutar bola mata malas.
"Ish...kau ini, Ra yang aku lihat sepertinya tuan Riko suka padamu. sampai bela belain mengantarkan kamu berangkat kerja." pernyataan Ratu membuat Rahma berdecak.
"CK. belum tentu juga."
"Belum tentu Gimana Ra, tatapannya itu loh....masa kamu nggak nyadar sih Ra kalau tuan Ruko itu suka sama kamu??." pernyataan Ratu Mampu membuat Rahma menghentikan langkahnya lalu menoleh ke samping di mana Ratu tengah menatapnya.
Rahma kembali melanjutkan langkahnya."Sudah, jangan berpikir yang aneh aneh, tuan Riko hanya mengantarku saja tanpa maksud apa apa apalagi kau tahu sendiri jika tuan Riko sudah menikah." jawab Rahma, Meski kenyataannya saat ini ia cukup kepikiran dengan pernyataan Ratu tentang perasaan Riko padanya.
"Justru itu Ra, karena tuan Riko sudah menikah aku jadi cemas jika kau terlalu dekat dengannya, aku tidak mau nantinya kau di sebut pelakor." akhirnya Ratu mengeluarkan unek-uneknya di hadapan Rahma.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas tentang tuan Riko lagi!!!." jawaban Rahma membuat Ratu berdengus kesal dibuatnya.
"Apa dugaan Ratu benar, perasaan mas Riko telah berubah padaku, mas Riko mulai Suka padaku?? Apa itu mungkin??." batin Rahma di sela langkahnya.
Tak lama kemudian keduanya pun berpisah, Rahma masuk ke ruang Instalasi Gawat darurat sementara Ratu melanjutkan langkahnya menuju ruang perawatan anak, di mana ia bertugas.
**
Setelah mengantarkan Rahma bekerja, Kini mobil Riko tiba di Vila di mana sekretaris dan beberapa orang timnya menginap.
Pagi ini Riko akan meeting dengan Kumala dan juga timnya guna membahas pembangunan pusat perbelanjaan di kota tersebut yang hampir memasuki dua puluh persen.
Kurang dari satu jam akhirnya meeting pun usai. Para tim yang di tugaskan Riko mulai beranjak menuju lokasi proyek sementara Kumala sendiri masih stay menunggu perintah dari Riko.
"Iya Tuan??." Kumala yang tengah fokus pada berkas di hadapannya beralih memandang ke arah Riko.
"Tolong kau hubungi mamaku dan minta beliau untuk mengirimkan dokumen pernikahanku ke sini!!." titah Riko dan Kumala pun mengiyakannya tanpa banyak bertanya, menurutnya melaksanakan perintah Riko itu wajib tanpa harus mengetahui apa alasannya.
"Satu lagi, hadiah seperti apa yang biasanya di sukai wanita??." Meski Rahma bukan wanita pertama di dalam hidupnya namun Riko masih merasa bingung hendak memberikan hadiah apa untuk Sang istri. Mengingat saat masih bersama Mona dulu Riko jarang sekali memberikan hadiah pada Mona karena wanita itu lebih suka membelinya sendiri dengan uang pemberian Riko.
"Maaf tuan, untuk itu sepertinya saya tidak terlalu mengerti sebab sampai saat ini saya belum pernah mendapatkan hadiah dari seorang pria." meski sejujurnya ia merasa malu mengakui hal itu di hadapan Bosnya namun tepaksa Kumala melakukannya karena ia tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa kepada Riko.
"Memalukan sekali pengakuan kamu Mala." batin Kumala karena secara tidak langsung ia telah mengakui kejomloan sejati nya di hadapan Bosnya itu.
"Oh begitu ya." ucap Riko sebelum kemudian meminta Kumala untuk kembali melanjutkan pekerjaannya sementara ia sendiri kini hendak beranjak meninggalkan vila.
***
Kumala yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya teringat akan janjinya bersama Ratu semalam. Malam ini ia dan Ratu janjian untuk mengunjungi wisata yang cukup familiar untuk kalangan anak muda di kota palu.
Mala mandi kemudian bersiap siap. seraya menunggu kedatangan Ratu untuk menjemputnya, Mala memilih mengecek kembali beberapa pekerjaan yang ia selesaikan selama berada di tanah kelahirannya tersebut.
Sampai suara deru mesin mobil di pekarangan Vila membuatnya menutup berkas tersebut lalu meraih tas selempangnya kemudian menghampiri Ratu.
"Let's go!!." ucapan Ratu yang terdengar begitu bersemangat membuat Mala geleng geleng di buatnya.
"Kau ini tidak pernah berubah sejak dulu sampai sekarang masih saja heboh." ujar Mala ketika berada di dalam mobil Ratu.
"Harus dong kak, siapa tahu saja di sana kita bisa menemukan pasangan hidup." kelakar Ratu yang membuat Mala akhirnya ikut tergelak mendengarnya.
Setibanya di tujuan, mata Kumala di manjakan dengan indahnya pemandangan kota palu dari ketinggian bukit doda.
"Wah,,,, indahnya.".puji Mala dengan mata berbinar. Untuk pertama kalinya ia mendatangi tempat tersebut setelah merantau di ibukota cukup lama.
Pilihan keduanya jatuh pada salah satu cafe yang tempatnya cukup strategis, bisa menikmati pemandangan indahnya kota seraya menikmati segelas minuman khas kota tersebut yakni saraba. minuman yang terbuat dari rebusan air jahe, gula merah serta susu, Rasanya enak dan juga menghangatkan tubuh. Setidaknya saraba bisa menjadi penghangat bagi jomblo Wati setia seperti Ratu dan juga Mala.
"Kak, sebegitu luasnya ibukota dan penduduknya yang juga ramai apa tidak satupun yang melirik padamu??." pertanyaan Ratu membuat Mala berdecak mendengarnya.
Ck
"Bukan tidak ada hanya belum ada saja sampai saat ini karena aku masih fokus bekerja, mana tahu ke depannya banyak yang akan mengantri." jawab Mala dengan percaya dirinya namun kepercayaan diri Mala sirna seketika saat mendengar gelak tawa Ratu.
"Kayak kamu udah punya pacar aja, Kamu sendiri masih setia menjomblo sampai sekarang.". Mala balik meledek Ratu hingga tawa keduanya pun pecah bersamaan.
"Iya juga yah."
Setelah puas tertawa kini keduanya kembali pada mode serius.
"Kamu cantik seorang dokter pula, kalau di pikir pikir mana mungkin tidak ada seorang pun pria yang menyukaimu??." tutur Mala tidak habis pikir seorang wanita secantik Ratu tak seorang pria pun yang menyukainya.
"Kalau ada pun jika pria itu bukan pria yang Ratu Suka sepertinya akan percuma saja kak." dari jawaban Ratu, Mala bisa menarik kesimpulan jika saat ini adik sepupunya itu tengah menaruh hati pada seorang pria. Namun begitu Mala tidak ingin memaksa Ratu untuk mengakui siapa pria itu, jika waktunya tiba Ratu pasti akan menceritakan padanya, begitu pikir Mala.