Trust Me Please.

Trust Me Please.
Ingin berumah tangga selamanya.



"Tidak, saya tidak setuju." tegas Toni ketika Ratu mengutarakan keinginannya.


Setelah kepergian Rahma meninggalkan cafe, Ratu lantas mengajak Toni untuk bertemu masih di cafe yang sama.


"Apa kamu mau anak kita nantinya di katakan anak haram karena tidak ada orang lain selain anggota keluarga kita yang mengetahui tentang pernikahan kita??.". Sejujurnya Ratu di buat tak percaya, Toni sampai berpikir sejauh itu.


"Apapun yang terjadi saya tetap tidak setuju, lagi pula apa salahnya mengadakan pesta. Pernikahan bukan hal main main dan hanya sekali sekali seumur hidup."


Deg.


Jantung Ratu seakan berdebar lebih cepat setelah mendengar ucapan Toni tentang pandangannya tentang pernikahan mereka kedepannya.


"Apa kak Toni memang berniat berumah tangga selamanya denganku??." gumam Ratu di dalam hati.


Melihat Ratu hanya diam saja membuat Toni mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.


"Kenapa kamu sampai berpikiran bodoh seperti itu, hah??." akhirnya Toni melontarkan pertanyaan yang sejak tadi bersarang di benaknya.


"Jangan pikirkan omongan orang, karena yang menjalani rumah tangga nantinya itu kita bukan mereka!!! Besok saya akan menghadiri seminar di salah satu kampus ternama di kota ini dan saya ingin kamu menemani saya datang ke acara itu!!." tutur Toni.


"Tapi kak??.".


"Tidak ada tapi, saya akan menjemputmu pukul sepuluh pagi karena acaranya akan di mulai pukul sebelas siang." lanjut ucap Toni yang tidak ingin menerima penolakan.


"Baiklah." jawab Ratu pasrah.


"Toni."


Di tengah tengah percakapan keduanya tiba tiba ada seseorang yang terdengar menyerukan nama Toni. Merasa seseorang memanggil namanya lantas Toni beralih ke sumber suara.


"Arta, apa kau juga menetap di kota ini??." Toni lantas berdiri dari duduknya ketika menyadari kebenaran sahabatnya ketika di bangku SMA dulu. Arta dan Toni melakukan tos tinju ala anak muda, kebiasaan yang dulu selalu mereka lakukan kala masih duduk di di bangku sekolah menengah atas.


"Tidak, hanya sampai dua bulan ke depan aku berada di kota ini untuk urusan pekerjaan." jawab Arta, sebelum pandangannya beralih pada Ratu yang duduk semeja dengan Toni.


"Kenalkan, Ratu calon istriku." Toni memperkenalkan Ratu kepada Arta sebagai calon istrinya, ketika melihat Arta menatap Ratu cukup lama.


"Sayang, kenalkan ini Arta, sahabat kakak sewaktu SMA dulu." Ratu di buat terperangah untuk beberapa saat ketika Toni memperkenalkan dirinya pada Arta sebagai calon istri, apalagi pria itu menyebutnya dengan panggilan sayang.


Jika Arta merupakan sahabat Toni sewaktu SMA itu artinya Ratu pun satu sekolah dengan pria itu sewaktu SMA, tetapi Ratu sama sekali tidak mengingat sosoknya. Mungkin karena ia merupakan tipe gadis yang cukup pemalu saat SMA sampai Ratu tidak banyak mengenal sesama siswa di sekolahnya saat itu.


Ratu yang ingin buang air kecil lantas pamit ke toilet.


"Sepertinya wajah calon istrimu tidak asing." tutur Arta setelah Kepergian Ratu.


"Jelas saja wajahnya tidak asing, dulu Ratu juga sekolah di SMA bina bangsa.". Arta nampak mengangguk-anggukan kepalanya seraya mencoba mengingat ingat masa lalu ketika mendengar ucapan Toni tentang Ratu.


"Sekarang aku ingat, saat masih duduk di bangku SMA dulu, beberapa kali aku tidak sengaja bertemu dengannya di mini market depan sekolah." Arta tersenyum ketika teringat akan Ratu yang dulu sering kali meminta petugas mini market untuk membungkus coklat yang dibelinya dengan pembungkus kado. Dari gerak gerik Ratu saat itu, Arta bisa menarik kesimpulan jika coklat tersebut akan diberikan kepada seseorang yang spesial.


"Kenapa kau sejak tadi terus tersenyum tidak jelas??." cicit Toni dengan tatapan curiga.


"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu??." tanya Toni, meski begitu penasaran namun Toni tetap menampilkan wajah biasa saja dihadapan Arta.


Arta pun menceritakan kepada Toni jika saat itu dia sering melihat Ratu membeli hadiah untuk seseorang dan hadiah tersebut sengaja di bungkus dengan rapi dan cantik dengan bungkus kado.


Percakapan Arta dan Toni akhirnya terhenti ketika menyadari kedatangan Ratu yang kini melangkah ke arah mereka.


***


Di mobil Toni lebih banyak diam, entah mengapa cerita Arta tadi mampu mengganggu pikirannya. Di tambah lagi dengan pengakuan Ratu Tempo hari, yang mengakui jika ia memang mencintai seorang pria dan itu sudah berlangsung sejak lama.


"Ehem."deheman Toni mampu mengalihkan perhatian Ratu dari layar ponselnya.


"Kak Toni mau minum?." Ratu menawarkan sebotol air mineral kepada Toni karena berpikir pria itu tengah haus.


"Tidak, saya tidak haus." jawabnya dengan nada datar, sehingga membuat Ratu cukup bingung dengan perubahan sikap Toni.


Suasana kembali hening, sampai beberapa saat kemudian Toni melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mampu mengganggu pikirannya.


"Apa sewaktu duduk di bangku SMA dulu kamu pernah menjalin hubungan dengan salah satu siswa di sekolah.??." tanya Toni dengan raut wajah dibuat sedatar mungkin.


Pertanyaan Toni membuat Ratu kembali teringat masa masa di mana ia begitu bahagia walau hanya sekedar menyaksikan wajah pria pujaan hatinya dari kejauhan. Teringat akan hal itu membuat Ratu tersenyum kecut dibuatnya.


"Jangankan menjalin sebuah hubungan, mungkin pria yang sejak dulu aku kagumi tidak pernah sadar kalau ternyata aku terlahir di muka bumi ini." jawab Ratu dengan di akhiri dengan sebuah seringai di sudut bibirnya.


Mendengarnya jawaban Ratu semakin meyakinkan Toni jika dugaan Arta ada benarnya, Ratu pernah mengangumi seorang pria yang dulu juga satu sekolah dengan mereka, tapi yang menjadi pertanyaan terbesar Toni, siapa pria itu??.


Suasana kembali hening hingga kini mobil Toni tiba di pekarangan rumah orang tua Ratu.


***


Keesokan harinya.


Toni yang terlihat tampan dengan balutan jas lengkapnya yang berwarna biru muda tiba di rumah calon mertuanya untuk menjemput Ratu, yang akan menemaninya menghadiri seminar di salah satu kampus ternama di kota itu.


"Nak Toni, silahkan masuk !!." ibunya Ratu mempersilakan Toni masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih, mah." Toni pun melangkah masuk. Toni menunggu Ratu di ruang tengah seraya memeriksa beberapa email di ponselnya.


Suara langkah kaki membuat Toni sontak Mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


Toni di buat terpana melihat penampilan Ratu yang nampak cantik dengan balutan dres berwarna senada dengannya, dres yang sengaja di kirimkan Toni semalam untuknya. Rambut panjang yang di buat Carli membuat penampilan Ratu semakin terlihat mempesona.


"Kak...kak Toni." Ratu sampai melambaikan tangannya ketika melihat Toni diam terpaku seraya menatapnya dengan tatapan dalam.


"Maaf." Toni di buat terkesiap mendengar seruan Ratu.