Trust Me Please.

Trust Me Please.
Sampai tidak menyadarinya.



Malam itu Riko kembali merasakan kenikmatan tiada Tara bersama istri tercintanya. Sebuah senyuman terbit di wajah Riko kala menyaksikan istrinya yang kini terlelap di balik selimut putih usai pergulatan mereka yang cukup menguras waktu dan juga tenaga.


"Terima kasih untuk semuanya sayang, darimu mas banyak belajar tentang kesabaran dan juga keikhlasan." gumam Riko sebelum kemudian mendaratkan kecupan sayang di kening Rahma yang kini terlelap.


Riko beranjak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, setelah kurang lebih setengah jam berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya kini Riko keluar dari kamar mandi dengan mengenakan sebuah handuk putih yang dililitkan pada pinggangnya.


Riko meraih ponselnya yang di letakan di atas nakas kemudian beranjak menuju balkon kamar. Setelah berada di balkon tak lupa Riko kembali menutup pintu balkon yang mengarah langsung ke kamar, agar angin malam tak sampai mengenai tubuh istrinya.


Riko melakukan panggilan di ponselnya.


Tak butuh waktu lama panggilan pun tersambung dengan seseorang di seberang sana.


"Pantau terus pergerakan wanita itu, jangan sampai dia melakukan sesuatu yang membuat saya sampai benar benar kehabisan kesabaran!!." titah Riko pada seseorang yang berada di seberang telepon.


"Baik Tuan."


"Mengenai perusahaan, lakukan tugasmu dengan baik selama saya berada di kota ini !! Mungkin dalam waktu dekat ini saya belum bisa kembali ke Jakarta karena saat ini istri saya sedang hamil, takut dia kenapa kenapa kalau harus melakukan penerbangan yang cukup lama."


"Mungkin beberapa Minggu ke depan aku baru akan kembali ke Jakarta." lanjut beritahu Riko pada seseorang yang merupakan orang kepercayaannya di perusahaan, sebelum kemudian mematikan sambungan telepon.


Setelah memastikan sambungan telepon Riko beranjak meninggalkan balkon dan kembali ke kamar.


Riko mengambil sebuah celana training di dalam lemari dan mengenakannya sebelum kemudian beranjak naik atas tempat tidur, berbagi selimut bersama sang istri yang lebih dulu terlelap di dalam mimpinya.


***


Rahma menggeliatkan tubuhnya di balik selimut sebelum kemudian mengerjapkan matanya.


"Mas Riko." Rahma dibuat terkejut sekaligus malu ketika membuka matanya dan menyadari kini Riko menatapnya intens. apalagi saat ini hanya selimut putih yang menutupi tubuh polosnya.


"Jangan mas!!." Rahma berusaha mempertahankan selimut yang kini menutupi tubuh polosnya ketika Riko dengan iseng menarik selimut tersebut.


Pagi ini pandangan Riko di penuhi wajah Istrinya yang tetap terlihat cantik meski baru saja bangun tidur.


"Kenapa masih malu, mas bahkan sudah melihat semuanya." Riko masih saja menggoda Rahma meskipun tahu jika saat ini wajah istrinya telah berubah merona.


"Ma Riko." tekan Rahma .


Bukannya menjawab Riko justru membawa tubuh Rahma ke dalam pelukannya.


"Mas kamu mau ngapain??." tanya Rahma dengan tatapan curiga saat melihat gerak gerik mencurigakan suaminya.


"Arrrggghhh." Rahma hanya bisa pasrah saat Riko kembali mengulang kegiatan panas mereka semalam.


"Terima kasih, sayang." kecupan hangat di kening Rahma yang menandakan usainya pergulatan panas Mereka pagi itu.


"Kalau begini aku bisa terlambat berangkat kerja." gerutu Rahma ketika menyadari waktu hampir menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Tanpa aba aba Riko menggendong tubuh Rahma menuju kamar mandi.


"Mas, aku bisa jalan sendiri."


Riko yang tidak menerima penolakan tetap kekeh menggendong Rahma menuju kamar mandi.


"Mau mandi, sayang." jawab Riko dengan wajah pura pura bodoh.


"Oh no." Rahma menggoyang telunjuknya ke arah Riko.


"Bisa bisa aku benaran kesiangan berangkat kerja jika mas ikut mandi bersamaku." lanjutnya sebelum kemudian menutup pintu kamar mandi, menyisakan Riko yang masih berdiri dengan wajah pasrah di depan pintu kamar mandi.


***


Setelah selesai mandi dan bersiap, Rahma beranjak menuju rumah Ratu untuk berangkat bersama. Pagi ini Rahma sengaja meminta izin pada Riko untuk berangkat kerja bersama dengan Ratu, awalnya Riko keberatan namun pada akhirnya Riko pun mengizinkannya.


Setelah mengirim pesan singkat kepada Ratu, Kini Rahma menunggu di teras depan rumah Ratu.


"Maaf membuatmu menunggu." kata Ratu yang baru saja keluar dari dalam rumah kemudian mengunci pintu.


"Ada apa??." tanya Rahma dengan kening berkerut bingung ketika Ratu terus menatapnya.


"Sepertinya sebentar lagi kau benar benar akan berubah menjadi macan tutul dibuat suamimu." seloroh Ratu seraya menatap intens ke area leher Rahma, di mana banyak sekali tanda kepemilikan di sana dan bisa di pastikan itu semua pasti hasil karya Riko.


Melihat kebingungan di wajah Rahma, Ratu pun merogoh tasnya kemudian mengeluarkan sebuah cermin kecil.


"Mas Riko." Rahma merasa sangat malu ketika Ratu mengarahkan cermin di hadapannya, yang kini memperlihatkan begitu banyak tanda kepemilikan yang di ukir Riko di leher jenjangnya.


"kau bisa menggunakan syalku yang ada di dalam mobil!!." ucap Ratu, seolah tahu kegundahan hati Rahma saat ini.


Kini keduanya pun masuk ke mobil Ratu mengingat waktu telah menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit dan bisa di pastikan pagi ini mereka akan terlambat beberapa menit tiba di rumah sakit.


"Ternyata di balik sikap dinginnya Tuan Riko ganas juga ya." canda Ratu seraya menahan senyumnya.


"Semalam tidak sengaja aku melihatmu turun dari mobil kak Toni, apa teman yang kau maksud semalam itu Dr Toni?." bukannya ingin mengalihkan pembicaraan, Namun Rahma tidak ingin sampai melupakan niat kenapa sampai ia ingin berangkat bersama Ratu pagi ini.


"Maaf, bukannya ingin ikut campur terlalu dalam dengan kehidupan pribadimu, aku hanya tidak ingin sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padamu." beritahu Rahma agar Ratu tidak sampai salah paham Dengan niat baiknya.


Ratu mengulas senyum saat mendengarnya. "Yes, I no, btw thanks. Aku hanya pergi makan malam tidak lebih." jawab Ratu yang bisa mengerti akan kecemasan Rahma padanya.


Dret...


Dret...


Dret...


Perhatian Rahma dan juga Ratu kini beralih pada suara getaran ponsel Ratu.


Rahma yang merasa lebih dekat dengan posisi tas milik Ratu saat ini, seperti biasa membantu Ratu untuk mengambil ponselnya di dalam tas. Tanpa sengaja saat merogoh tas milik Ratu, entah mengapa Ratu tiba tiba menginjak pedal rem secara mendadak dan hal itu mengakibatkan hampir seluruh isi tas Ratu berhamburan di lantai mobil.


"Oh astaga, sorry aku nggak sengaja.". Rahma yang merasa tidak enak segera merunduk guna mengambil isi tas Ratu yang berhamburan di lantai mobil, tanpa di sengaja ketika mengambil sebuah buku kecil justru ada sebuah foto yang terjatuh dari tengah buku tersebut.


Setelah melihat dan memastikan wajah siapa yang ada di foto tersebut, Rahma segera meletakan foto tersebut ke tempat semula sebelum kemudian bangkit dari posisinya.


Setelah melihat foto tersebut Rahma lebih banyak diam, fokus pada pemikirannya sendiri.


"Bagaimana selama ini aku tidak menyadarinya, sahabat seperti apa aku ini, apa karena lebih fokus pada Anis dan juga Gita, sehingga aku sampai tak menyadari perasaan sahabat ku yang lain." Begitu banyak perasaan bersalah yang kini bersarang di benak Rahma kepada sahabatnya yang kini tengah fokus menyetir tersebut.