Trust Me Please.

Trust Me Please.
Calon istri????



Tepat pukul delapan malam, Alan telah bersiap untuk pulang setelah cukup lelah berkutat dengan begitu banyak pekerjaannya hari ini.


Di perjalanan pulang, Alan yang tengah fokus menatap jalanan tiba tiba teringat akan sesuatu yang tadi ia masukan ke dalam saku jasnya.


Alan tampak merogoh saku jasnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih stay pada kemudi.


Sebelum kembali ke rumah, Alan memutuskan untuk mampir dulu ke rumah Sintia untuk mengantarkan barang milik Sintia yang tadi tertinggal di ruangannya, Meski kenyataannya arah menuju rumah Sintia berlawanan dengan arah menuju rumahnya.


Beberapa saat kemudian kini Alan telah tiba di depan gerbang rumah Sintia. Alan yang sebelumnya telah memiliki nomor ponsel Sintia, lantas mengirim pesan singkat pada wanita itu.


"Sekarang saya ada di depan gerbang rumah anda." seperti biasa, Alan yang kaku terutama terhadap lawan jenisnya tentunya masih menggunakan bahasa Formal saat mengirim pesan pada Sintia.


Suara notifikasi pesan di ponselnya mengalihkan perhatian Sintia dari layar laptopnya.


"Tuan Alan." lirih Sintia ketika membaca nama pengirim pesan di ponselnya. Sintia lantas membuka pesan tersebut lalu membacanya.


"Tumben sekali tuan Alan datang ke sini???.". Meski wajahnya tampak biasa saja namun di entah kenapa Sintia merasa senang mengetahui kedatangan Alan, sehingga membuatnya segera beranjak ke arah jendela kamarnya. Dan benar saja dari lantai dua kamarnya, Sintia dapat menyaksikan mobil Alan terparkir di depan gerbang rumahnya. Tanpa sadar sebuah senyum terbit di sudut bibirnya, sebelum mengetik pesan balasan untuk Alan.


"Tunggu sebentar, Aku akan segera turun!!." Alan tampak mengulum senyum ketika melihat layar ponselnya yang menunjukkan balas pesan dari Sintia.


Setelahnya, Alan memilih turun dari mobilnya untuk menanti kedatangan Sintia. Kini Alan berdiri di samping pintu mobilnya, dengan posisi salah satu tangannya berada di saku celananya.


Tak berselang lama, Sintia yang telah mengenakan piyamanya tampak menghampiri Alan.


Sintia terlihat salah tingkah ketika menyadari Alan menatapnya dengan intens.


Sintia berusaha menyembunyikan salah tingkahnya di hadapan Alan ketika pria itu berkunjung di rumahnya malam malam seperti ini.


"Maaf jika kedatangan saya telah mengganggu waktu istirahat anda. Saya hanya ingin mengembalikan milik anda yang tertinggal di ruang kerja saya." kata Alan, sebelum kemudian merogoh saku jasnya untuk mengambil sesuatu dari dalam sana, kemudian mengembalikan lipstik tersebut pada pemiliknya.


"Oh astaga... Bagaimana aku bisa tidak menyadarinya??." tutur Sintia seraya menerima lipstik tersebut dari tangan Alan.


"Terima kasih banyak, tuan Alan sudah repot repot mengantarnya ke sini. Lipstik ini adalah hadiah dari seseorang" tutur Sintia pada Alan. Dari raut wajah Sintia saat ini Alan bisa menebak jika lipstik tersebut sangat berharga bagi Sintia.


"Apa lipstik ini hadiah dari seseorang yang spesial??." pertanyaan itu seolah terlontar begitu saja tanpa di sadari oleh Alan.


Sintia tersenyum mendengarnya.


"Tentu saja, karena lipstik ini adalah pemberian almarhumah mama saya, demi menjaganya dengan baik aku selalu membawanya di dalam tas." beritahu Sintia. tentunya pengakuan Sintia membuat Alan merasa lega mendengarnya dan itu terlihat jelas dari raut wajahnya.


Kedua alis Sintia saling bertaut ketika menyadari senyuman tipis di sudut bibir Alan, senyuman yang nyaris tak terlihat kalau saja Sintia tidak memperhatikannya dengan seksama.


"Apa kamu sudah makan malam??." bukan hanya terkejut mendengar pertanyaan dari Alan, namun Sintia tak kalah terkejutnya ketika mendengar Alan memanggilnya dengan sebutan, kamu.


"Kamu??." ulang Sintia dalam hati.


"Heey....." lambaian tangan Alan di depan wajahnya seolah membuyarkan Sintia dari lamunannya.


"Apa kamu sudah makan malam??.".Alan mengulang pertanyaannya ketika melihat Sintia masih diam saja.


Perlahan Sintia menggelengkan kepalanya.


Sintia memang belum sempat makan malam, ia begitu sibuk dengan pengolahan data pasien sehingga membuatnya hampir melewati waktu makan malamnya.


"Bagaimana kalau kita makan malam diluar!!." ajak Alan. Pria itu tampak mengelus tengkuknya, cemas jika Sintia justru menolak mentah-mentah ajakannya. Sepertinya dugaan Alan tidak terjadi ketika Sintia menerima ajakannya.


Senyum terbit di wajah Alan saat menyaksikan punggung sintia yang telah berjalan meninggalkannya.


Tak berselang lama, Sintia kembali dengan mengenakan celana jeans yang di padukan dengan switer crop berwarna putih serta tas selempang dengan warna senada dengan switer yang dikenakannya, dan itu membuat Sintia terlihat lebih muda dari usianya.


Melihat Sintia yang kini berjalan ke arahnya membuat Alan seolah enggan mengedipkan kedua matanya.


Deheman Sintia membuat Alan tersadar dan kembali fokus setelah cukup lama menatap Sintia dengan tatapan kagum.


"Maaf, sudah membuat anda menunggu lama." tutur Sintia merasa tidak enak.


"Tidak masalah, lagi pula hanya dua puluh menit." sahut Alan, sebelum kemudian beranjak untuk membukakan pintu mobil untuk Sintia.


Dua puluh menit kemudian kini mobil Alan tiba di salah satu resto yang tak terlalu jauh dari kediaman orang tua Sintia.


Alan yang turun dari mobil lebih dulu, lantas beranjak untuk membukakan pintu mobil untuk Sintia.


"Aku bisa melakukannya sendiri." tutur Sintia merasa sungkan ketika Alan membukakan pintu mobil untuknya.


"Ayo turun!!." Alan tak merespon ucapan Sintia, ia justru meminta Sintia untuk segera turun dari mobil. Alan bahkan mengulurkan tangannya untuk membantu Sintia turun dari mobil, dan tentu saja hal itu membuat jantung Sintia berdegup tak menentu.


Setelahnya, baik Alan maupun sintia segera berjalan memasuki pintu masuk resto. Keduanya berjalan beriringan menuju meja yang berada di tepi dinding kaca. Alan sengaja memilih meja tersebut agar dapat menyaksikan suasana di luar resto.


Alan meraih buku menu yang tersedia di atas meja kemudian memilih beberapa menu yang akan menjadi menu makan malamnya. Setelahnya, Alan pun menyerahkan buku menu kepada Sintia, meminta wanita itu untuk memilih menu pilihannya.


Setelah memilih menu, Alan pun melakukan pesanan pada pelayan resto.


Sembari menunggu pesanan tiba, Alan memilih membuka percakapan di antara mereka.


"Kenapa tidak pamit ketika meninggalkan perusahaan sore tadi ??." tanya Alan seraya memandang Sintia yang tengah meletakkan ponselnya di atas meja, usai membalas pesan dari Rahma.


"Aku pikir anda sedang sibuk jadi aku tidak ingin mengganggu." jawab Sintia apa adanya, dan Alan hanya mengangguk sekilas mendengarnya.


Beberapa saat kemudian, pelayan pun datang membawa pesanan mereka.


"Terima kasih." ucap Alan setelah pelayan restoran usai menata hidangan di atas meja.


Setelahnya, Alan segera mengajak Sintia untuk menikmati makan malamnya mengingat waktu makan malam sudah terlewat beberapa saat.


Di sela makan malam Alan dan Sintia, sapaan dari seseorang membuat Alan beralih ke sumber suara.


"Tuan Alan.". Sapa seseorang yang merupakan rekan bisnis Alan. pria itu kebetulan baru saja usai makan malam di restoran yang sama.


Cukup lama pria itu berbasa-basi pada Alan, sebelum kemudian perhatiannya beralih pada sosok wanita cantik yang duduk hadapan Alan.


"Cantik sekali calon istri anda, tuan Alan." pujian dari pria yang hampir sebaya dengan Alan tersebut membuat Sintia hampir saja tersedak makanannya, kalau saja ia tidak dengan cepat meraih segelas air minum di hadapannya lalu meneguknya.


Siapa yang tidak akan berpikir demikian, dua orang insan yang berbeda jenis tengah makan malam bersama, tentunya akan membuat siapapun berpikir mereka adalah pasangan kekasih, Dan begitu itu pula pikir rekan bisnis Alan tersebut ketika mendapati Alan dan Sintia tengah makan malam bersama.


"Terima kasih." sahut Alan yang diakhiri dengan senyum tipis di sudut bibirnya, dan itu sontak membuat kedua bola mata Sintia nyaris keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak, ucapan terima kasih yang diucapkan Alan sama saja seperti pria itu mengiyakan dugaan dari pria itu.


Maaf ya sayang sayangku... kemarin tidak bisa update soalnya kemarin kepala migrain 😢.


Jangan lupa like, koment, vote, give, and, subscribe ya,,,, sayang sayangku....!!!! agar aku makin semangat untuk berkarya.... BTW thank you so much untuk semua pengikut setiaku,,,,,😘😘😘😘😘😘😘😍😍😍😍😍