Trust Me Please.

Trust Me Please.
Pengakuan secara tidak langsung.



Sampai langit berwarna merah berubah menjadi gelap, Alan belum juga berniat meninggalkan rumah sakit.


"Apa malam ini anda akan menginap di sini, tuan??." tanya Razak ketika ia menyusul langkah Alan keluar dari kamar perawatan, hendak menerima panggilan di ponselnya.


"Sepertinya begitu." jawaban singkat padat dan jelas di berikan Alan, sebelum kemudian menerima panggilan seseorang di ponselnya.


Razak hanya bisa tersenyum dalam hati mendengar jawaban dari Alan.


"Sebaiknya kau pulang saja, agar besok kau datang ke sini lebih pagi untuk menjemputku berangkat ke kantor, dan jangan lupa bawakan pakaian kerjaku!!.".tutur Alan sebelum kemudian beranjak menuju kamar perawatan tuan Mardin. Sedangkan Razak memutuskan untuk segera beranjak meninggalkan rumah sakit.


Setengah jam kemudian, Razak yang sangat peka terhadap sesuatu yang dibutuhkan oleh tuannya itu, lantas kembali untuk mengantarkan makan malam serta pakaian ganti untuk Alan malam ini.


"Sepertinya gunung es mulai mencair." dalam hati Razak yang kini tampak menahan senyum agar tak terbit di bibirnya, ketika melihat Alan rela menemani Sintia menjaga ayahnya di rumah sakit.


"Sepertinya ide tuan tidak ada salahnya, Hitung hitung sebagai bentuk perhatian pada calon mertua."


Alan yang mendengarnya lantas mencebikkan bibirnya ketika mendengar jawaban Razak yang terdengar seperti sedang meledeknya, untungnya saat itu Razak berujar lirih sehingga tak sampai terdengar oleh Sintia.


Sementara Sintia yang menyaksikan Razak menyerahkan paper bag yang berisi pakaian ganti untuk Alan, bisa menebak jika Alan juga berniat menginap di rumah sakit untuk menjaga ayahnya. Sintia tidak merasa ada yang aneh sebab pikirnya Alan melakukan semua itu karena ayahnya merupakan pemilik perusahaan tempat Alan bekerja saat ini.


setelah merasa tugasnya malam itu telah selesai, Razak pun pamit pada Alan.


*


Setelah beberapa saat berada di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, kini Alan kembali dengan wajah yang lebih segar usai mandi. pria itu kini telah mengenakan pakaian santainya.Meski hanya mengenakan kaos dan celana puntung namun tak sedikitpun mengurangi porsi ketampanan di wajah Alan.


Dari balik kaos putih yang kini di kenakan Alan, Sintia dapat melihat bentuk tubuh atletis milik Alan yang terjiplak dengan jelas.


Glek.


Dengan susah payah Sintia menelan salivanya. Jika tempo hari Alan yang dibuat terbayang bayang, bisa jadi kini giliran sintia yang akan dibuat terbayang bayang setelah melihat bentuk tubuh atletis milik Alan , meski hanya dari balik kaos putih yang kini dikenakan oleh Alan.


Sintia memalingkan pandangannya ke arah lain ketika menyadari Alan yang kini berjalan ke arahnya.


Wajah Merona yang kini di tampilkan Sintia mampu membuat Alan menarik sudut bibirnya ke samping.


"Sebaiknya kamu segera makan malam sekarang sudah pukul delapan malam, Jangan sampai kamu juga sakit karena tidak makan tepat waktu!!." tutur Alan setelah puas memandangi wajah menggemaskan Sintia.


Perlahan Sintia menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menuju sofa.


Sementara Alan, kini memandang ke arah tempat tidur di mana kini tuan Mardin telah terlelap usai meminum obat. mengingat masih ada beberapa file yang harus ia periksa, maka Alan memutuskan untuk mengambil laptopnya lalu duduk di sofa yang masih kosong, di sisi Sintia.


Kini Alan terlihat fokus menatap layar laptopnya.


Sebelum hendak menyantap makan malamnya, pandangan Sintia beralih Alan.


"Sebaiknya anda makan malam dulu, sebelum lanjut bekerja!!." tutur sintia.


"Kamu makan saja duluan, setelah selesai memeriksa beberapa file ini saya akan segera makan." sahut Alan tanpa menoleh dari layar laptopnya.


Beberapa saat kemudian, Alan yang mengalihkan pandangannya sejenak dari layar laptopnya dibuat bingung ketika melihat Sintia tak kunjung memakan makan malamnya.


"Ada apa?? Apa kamu tidak suka dengan makanannya??." tebak Alan ketika Sintia tak kunjung memakan makanannya.


"Aku akan menunggu ada selesai mengerjakan pekerjaan anda lebih dulu." jawaban Sintia membuat Alan tertegun mendengarnya.


Tanpa sadar tangan Alan terulur untuk mengelus puncak kepala Sintia, dan itu membuat jantung Sintia serasa ingin melompat dari tempatnya.


Setelah menutup laptopnya Alan lantas mengajak Sintia untuk segera makan malam, kini keduanya menikmati makan malam berdua, jika ada yang melihatnya pasti akan mengira keduanya merupakan sepasang kekasih.


Apalagi secara spontanitas Alan mengusap noda saos di bibir sintia dengan ibu jarinya dan tanpa rasa jijik Alan mengemut ibu jarinya yang masih menyisakan noda bekas saos dari bibir sintia.


Tanpa mereka sadari pemandangan tersebut terlihat oleh tuan Mardin yang baru saja terbangun karena merasa tenggorokannya terasa kering.


"Papa...." Sintia lantas beranjak dari duduknya ketika menyadari ayahnya yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Apa papa menginginkan sesuatu???" tanya Sintia ketika telah berada di sisi tempat tidur ayahnya.


Alan yang melihat itu lantas ikut berdiri dari duduknya dan segera menyusul langkah Sintia.


"Papa ingin minum, tenggorokan papa rasanya kering sekali." mendengar itu, sintia lantas mengambil sebotol air mineral serta sebuah pipet, lalu membantu ayahnya untuk meminumnya.


"Terima kasih." ucap tuan Mardin setelah beberapa kali meneguk air mineral tersebut, sebelum kemudian kembali melanjutkan tidurnya. Mengkonsumsi begitu banyak obat obatan membuat pria itu sering sekali merasa kan kantuk yang tak tertahankan.


Setengah jam kemudian, baik Alan dan juga Sintia telah selesai menyantap makan malam.


Tak berselang lama seorang dokter tiba di kamar perawatan tersebut. Seorang dokter spesialis jantung yang sudah beberapa hari sebelumnya telah membuat janji dengan Sintia untuk menangani kondisi tuan Mardin.


"Selamat malam, Sintia." ucap dokter yang berusia hampir sebaya dengan Alan. Sementara Alan yang berada di tengah tengah Sintia dan dokter tersebut pun lantas berdehem.


"Ehmt." deheman Alan Mampu mengalihkan perhatian dokter bernama Fandi Handoko tersebut dari wajah Sintia.


Fandi mengulas senyum pada Alan.


"Selamat malam, tuan." pandangan Fandi yang kini beralih pada Alan tersebut lantas menyapa Alan dengan senyum ramahnya.


"Selamat malam.". Sahut Alan dengan wajah datar seperti biasanya.


Fandi merupakan senior Sintia di kampus dulu, meski tak begitu akrab namun Fandi sangat mengenal sosok Sintia. gadis yang terkenal dengan sikapnya yang cuek dengan lawan jenisnya, hanya dengan Toni saja Sintia berteman ketika kuliah dulu.


"Pantas saja sejak kuliah dulu kamu tidak pernah membuka hati pada pria yang mengungkapkan perasaannya padamu, ternyata selera kamu cukup tinggi juga, Sintia." tutur Fandi dengan nada menggoda, dan itu membuat alis Sintia sontak saling bertaut.


Sepersekian detik kemudian, Sintia pun menyadari kemana arah dan maksud ucapan Fandi.


"Dia_." ucapan Sintia yang ingin menepis dugaan Fandi Melayang begitu saja ketika Alan lebih dulu bersuara seraya mengulurkan tangannya.


"Alan." Alan yang sengaja ingin menyela ucapan Sintia, lantas mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Fandi.


"Fandi, saya adalah seniornya Sintia di kampus dulu." beritahu Fandi ketika menerima uluran tangan Alan.


"Ingat, Jangan sampai lupa mengundangku di hari bahagia kalian nanti!!." pesan Fandi yang sebenarnya sudah menikah dan memiliki dua orang anak tersebut.


"Tenang saja, kami pasti akan mengundang anda di hari pernikahan kami nanti." jawaban Alan membuat kedua bola mata Sintia melebar dengan sempurna.


"Apa tuan Alan sedang demam, sampai bicara ngelantur seperti ini??." lirih Sintia dalam hati. namun begitu Sintia tidak berniat menepis ucapan Alan, ia hanya terlihat diam saja dengan wajah syok nya.