
Mengingat waktu istirahat makan siang hampir usai, Toni lantas mengajak Ratu untuk segera menyantap makan siang mereka.
Dua puluh menit kemudian, usai makan siang mereka lantas kembali ke rumah sakit.
Ratu yang lebih dulu turun dari mobil Toni bergegas menuju ruangannya, begitu pun dengan Toni. Sebelum kemudian Keduanya berpisah di salah satu persimpangan koridor rumah sakit.
Ratu yang baru saja tiba di ruangannya tampak menghela napas ketika mendapati Sintia berada di sana. Sintia lantas berdiri dengan posisi menyilangkan kedua tangannya di dada ketika menyadari kedatangan Ratu.
"Seperti yang anda lihat dokter Sintia, dokter Toni sedang tidak ada di sini. Jika anda ingin mencari beliau sepertinya anda harus mencarinya di ruangan lain !!!." Tutur Ratu. Menurutnya apa lagi yang membawa langkah wanita itu ke ruangannya jika bukan untuk mencari keberadaan Toni, Pria yang konon katanya merupakan teman dekatnya dulu.
"Saya ke sini bukan untuk mencari keberadaan Dokter Toni melainkan ingin bertemu dengan anda." jawaban Sintia mampu membuat Ratu menautkan kedua alisnya.
"Mencari saya??." Ratu menunjuk dirinya dan Sintia mangangguk mengiyakan.
Untuk beberapa saat keduanya Tampak diam, larut dalam pemikiran masing masing. Sampai akhirnya Ratu menanyakan keperluan Sintia menemui dirinya.
"Ada keperluan apa anda menemui saya, dokter Sintia??." Ratu masih berucap dengan nada ramah, bahkan gadis itu masih mengukir senyum di wajahnya.
"Tidak perlu basa-basi." Sintia yang sudah tidak sabar ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sejak tadi membuat pikirannya galau itu pun lantas merogoh tasnya.
"Apa ini??." dengan raut wajah yang tidak bersahabat Sintia memperlihatkan sebuah kertas undangan pernikahan ke hadapan Ratu.
"Undangan pernikahan." jawaban Ratu yang terlihat begitu santai lantas membuat Sintia mencebikkan bibirnya karena kesal.
Dari model serta bentuknya Ratu yakin sekali jika kertas undangan tersebut adalah undangan pernikahannya dan Juga Toni.
"Semua orang juga tahu kalau ini Undangan pernikahan. tapi yang saya maksud, kenapa di dalam surat undangan ini nama calon mempelai wanita memiliki nama yang mirip dengan nama anda??." Sintia yang sudah sangat kesal ketika mendapat undangan pernikahan Toni semakin bertambah kesal ketika membaca nama calon mempelai wanita yang tertera di kertas undangan.
"Kenapa anda menanyakannya kepada saya, bukankah anda merupakan teman dekat dari dokter Toni, lalu kenapa tidak bertanya langsung saja kepada yang bersangkutan??." jawaban yang bernada sindiran dari Ratu semakin membuat Sintia kesal hingga membuat Wanita itu tampak mengepalkan tangannya.
Merasa tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan di sana, Sintia lantas pergi begitu saja meninggalkan ruangan Ratu. Ia bahkan menghempaskan pintu dengan sedikit kasar.
Ratu tampak menghembus napas bebas di udara setelah melihat kepergian Sintia, sebelum ia menjatuhkan bokongnya di sebuah kursi.
Ceklek.
Pintu ruangan kembali terbuka dan menampilkan seorang perawat yang baru saja tiba di ruangan staf dokter dan juga perawat.
"Apa yang terjadi dengan dokter Sintia, dok??? Sepertinya wajahnya muram sekali." seorang perawat yang tadi tidak sengaja berpapasan dengan Sintia di depan pintu ruangan tampak bertanya pada Ratu.
Ratu hanya menanggapi pertanyaan dari rekannya itu dengan mengedikan bahunya, pertanda tak tahu. Setelahnya perawat itu pun tampak mengambil alat tensi tanpa peduli lagi pada Sintia, sebelum kemudian kembali meninggalkan ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Di ruangan yang berbeda, Tepatnya di ruang poli anak, akhirnya Sintia menemukan keberadaan Toni yang baru saja selesai melayani pasiennya. Sebelum masuk tadi tak lupa Sintia mengetuk pintu lebih dulu, tidak ingin sampai Toni mengeluarkan perkataan ketus lagi untuknya seperti sebelumnya.
"Ada yang bisa saya bantu, dokter Sintia?." tanya Toni dengan bahasa Formal ketika menyaksikan keberadaan Sintia.
Ceklek.
Setelah kembali menutup pintu ruangan tersebut Sintia lantas melangkah ke arah Toni. Kini wanita itu menjatuhkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Toni.
"Ada yang bisa saya bantu??." Toni sampai mengulang pertanyaannya ketika melihat Sintia masih saja diam.
Barulah setelah Sintia mengeluarkan kertas undangan pernikahannya, Toni sedikit paham akan maksud dan tujuan wanita itu datang menemuinya.
"Apa benar apa yang tertulis di kertas undangan ini??." dengan tatapan yang berubah sendu Sintia bertanya, meski hati kecilnya sendiri telah meyakini undangan tersebut adalah undangan pernikahan Toni dengan seorang wanita, Sintia tetap ingin mendengar jawaban langsung dari mulut Toni.
"Seperti yang kamu lihat, undangan itu adalah undangan pernikahanku." Toni tampak membalas tatapan Sintia, tetapi bukan dengan tatapan sendu seperti tatapan yang saat ini di layangkan wanita itu padanya, melainkan sebuah tatapan datar nyaris tanpa ekspresi.
"Kenapa Ton, kenapa kamu Menikah dengan gadis lain sementara kamu sendiri tahu jika aku sangat mencintaimu sejak dulu??."
Toni menghela napas berat mendengarnya.
"Bukankah sejak dahulu sudah kukatakan padamu, perasaanku padamu tidak akan pernah berubah. Aku hanya menganggap dirimu sebagai teman biasa tidak lebih. Aku harap kau bisa lebih bijak dalam menanggapi hal ini, jangan sampai perasaanmu justru semakin merusak pertemanan kita!!." mendengar ucapan Toni membuat Sintia tak sanggup lagi menahan air matanya.
"Tapi kenapa Ton, apa kurangnya aku??." dengan berlinang air mata Sintia melontarkan pertanyaan yang membuat Toni merasa iba melihatnya. Namun begitu Toni sama sekali tidak berniat untuk menenangkan wanita itu apalagi dengan kontak fisik.
"apa benar wanita yang akan kau nikahi itu adalah wanita itu??." Toni yang paham wanita mana yang di maksud Sintia tampak menghembus napas kasar di udara.
"Maharatu Wardaningsih, namanya Maharatu Wardaningsih." protes Toni, seolah tidak suka jika Sintia menyebut Ratu dengan sebutan wanita itu.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, sebaiknya kau segera kembali melanjutkan pekerjaanmu !!!. Lagi pula masih banyak yang ingin aku kerjakan." pinta Toni dengan pelan namun terdengar seperti belati yang menusuk di jantung hati Sintia karena merasa Toni mengusirnya begitu saja.
Dengan langkah lesu Sintia beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
Toni menghela napas dalam kemudian menghembusnya perlahan.
"Aku pernah ada di posisimu saat ini Sintia, mencintai seseorang yang tidak pernah mencintai kita rasanya memang sangat menyakitkan. aku tahu bagaimana rasanya hatimu saat ini tapi aku tidak bisa melakukan apa apa untukmu, karena sampai kapanpun aku hanya akan menganggap kamu sebagai teman biasa." Toni tampak bermonolog setelah kepergian Sintia. Toni tampak mengulum senyum seraya menggelengkan kepalanya kala teringat bagaimana bodohnya dirinya dulu, yang terus memupuk rasa terhadap cinta pertamanya yakni Rahma, Meski sudah beberapa kali menerima penolakan dari wanita itu.
Namun setelah mengetahui tentang pernikahan Rahma dan Riko akhirnya Toni memilih menghapus nama Rahma dari hatinya dan sepertinya usahanya tidak sia sia terbukti kini tak ada lagi nama itu di hatinya.