
"Malam mah..." Mama Sinta yang tengah duduk di ruang tengah sembari menyaksikan siaran TV lantas menoleh ke sumber suara.
"Malam sayang, apa malam ini kalian tidak menjaga kakek Harka di rumah sakit??." tanya Mama Sinta ketika melihat kepulangan anak dan menantunya.
"Sepertinya malam ini tidak mah, ada bang Alan yang akan menjaga kakek malam ini.". jawab Ratu sebelum pamit ke kamar pada mama Sinta.
"Apa mereka bertengkar??." lirih mama Sinta dalam hati, ketika melihat sikap Ratu dan Toni yang menurutnya tidak seperti biasanya. Setelahnya perhatian mama Sinta pun kembali fokus ke layar TV lanjut menikmati sinetron kesukaannya.
Di dalam kamar, tiba tiba Toni teringat akan pertemuannya dengan Arta tempo hari yang mengatakan jika Ratu pernah menyukai salah seorang pria di sekolah mereka dulu. Di tambah lagi dengan pertemuan mereka dengan seorang pria bernama Ardi tadi di mini market.
"Sayang....." pergerakan Ratu hendak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terhenti ketika Toni mencekal lengannya.
Toni membalikkan tubuh Ratu agar menghadap padanya. Di tatapnya wajah cantik Ratu yang tampak tertunduk. Dengan telunjuknya Toni mengangkat dagu Ratu, sehingga kini mereka berdua bertatapan.
"Bisa kamu jelaskan padaku, apa maksud dari ucapan pria di mini market, tadi!!." dengan nada yang terdengar begitu lembut Toni berujar tepat dihadapan Ratu.
"Please..!!!." Kini raut wajah terlihat agak memelas, berharap jawaban dari Ratu bisa membuat rasa penasaran di dalam jiwanya kini sedikit terjawab.
Ratu tampak menghela napas dalam.
"Bukankah aku pernah mengatakannya pada kak Toni, jika aku pernah menyukai seorang pria dan bahkan saat ini rasa sukaku pada pria itu telah berubah menjadi cinta." Ratu berpikir mungkin sudah saatnya ia berterus terang di hadapan Toni, meskipun nantinya pria tampan dihadapannya itu akan menganggapnya wanita bodoh atau semacamnya, Ratu tak lagi peduli.
Toni menatap intens wajah cantik Istrinya ketika mendengarkan pengakuan dari Ratu.
"Lalu, apa maksud dari ucapan pria itu, tadi??." tanya Toni dengan alis yang saling bertautan akibat penasaran dihatinya.
"Seperti yang di katakan Ardi tadi dan juga seperti yang ada di pikiran kak Toni saat ini." tutur Ratu sengaja menggantung jawabannya. Ia kembali menundukkan pandangannya, seakan tak sanggup menatap kedua bola mata Toni yang kini menatapnya dengan intens.
"Apa Maksud kamu pria yang kamu maksud selama ini adalah kakak sendiri???." lantas Toni mengungkapkan kesimpulannya, dan benar saja Ratu tampak menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
Toni menarik sudut bibirnya ke samping, sebelum kemudian membawa tubuh Ratu ke dalam dekapannya. Diusapnya rambut panjang Ratu dengan lembut seraya mengendus aroma rambut panjang tersebut dengan mata terpejam. Toni merasa berbunga bunga ketika mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Toni sedikit melerai pelukannya untuk memberi jarak agar dapat melihat wajah cantik Istrinya.
"Maaf.... mungkin pengakuan dariku terkesan memalukan tetapi setidaknya hari ini aku sudah berani mengungkapkan perasaanku dihadapan pria itu.". Tutur Ratu ketika menyadari Toni terus menatapnya intens, bahkan jarak di antara keduanya kini hanya tersisa beberapa centi saja.
Cup.
Tanpa menjawab, Toni mendaratkan ke_cupan mesra sekaligus lembut di bibir merah jambu milik Ratu. Kec_upan yang berdurasi cukup lama tersebut tanpa sadar membuat Ratu perlahan memejamkan kedua kelopak matanya.
Ratu sontak saja membuka kelopak matanya ketika Toni menyudahi ke_cupannya. Toni beranjak menuju salah satu lemari kemudian membukanya. Setelah mengambil satu kotak dari dalam lemari, Toni kembali beranjak pada Ratu.
"Bukalah!!." Toni menyerahkan kotak tersebut pada Ratu lalu memintanya untuk membuka kotak tersebut.
"Apa ini kak??." tanya Ratu dengan wajah bingung.
Perlahan Ratu membuka kotak segi empat berukuran sedang tersebut. betapa terkejutnya Ratu ketika kontak itu mulai terbuka dan memperlihatkan isinya.
"Bagaimana kak Toni masih menyimpan coklat coklat ini?? Aku bahkan menyisihkan uang jajanku untuk membeli semua ini, lalu kakak membiarkannya begitu saja??." Ratu meraih salah satu coklat di antara empat batang coklat yang berada di kotak segi empat tersebut kemudian memperhatikannya dengan teliti.
"Kak, coklatnya bahkan sudah kadaluarsa." ucap Ratu ketika memperhatikan tanggal yang tertera pada kemasan coklat tersebut.
Toni tampak mengulum senyum di wajah tampannya, sebelum kemudian menyelipkan ke telinga anak rambut Ratu yang sedikit menutupi wajah cantiknya dari pandanganya.
"Jadi semua ini dari kamu??." meski sudah tahu dengan jelas akan jawabannya, namun Toni kembali mempertanyakan hal itu kepada Ratu, untuk mendengarkannya langsung dari bibir mungil wanitanya itu.
"Iy_iya." sahut Ratu yang disertai dengan anggukan kepala. Ia baru menyadari jika semua komentarnya tadi justru secara tidak langsung telah mengakui jika pengirim coklat tersebut adalah dirinya.
"Oh astaga...." Toni mengusap wajahnya. "Kamu tau sayang, coklat ini merupakan awal mula perasaan kakak pada sahabat kamu, Rahma, dulu. karena kakak berpikir jika semua ini pemberiannya.
"Bodohnya kakak, begitu cepat mengambil kesimpulan karena saat itu kakak melihat Rahma keluar dari kelas kakak." lanjut ungkap Toni.
Tanpa di ketahui Ratu, Toni sesungguhnya dulu menaruh hati pada pemberi coklat tersebut, karena berpikir jika Rahma lah orangnya maka Toni mengungkapkan rasa itu pada Rahma. Satu hal yang di sesalkan Toni yaitu dirinya yang tidak mempertanyakan tentang coklat itu pada Rahma, justru menarik kesimpulan sendiri, dulu.
Malam ini keduanya pun saling mengungkapkan rasa terpendam sejak masih di bangku sekolah dulu, hingga kini kesalahpahaman antara keduanya berakhir di ranjang pa_nas. era_ngan serta le_guhan memenuhi kamar Toni, sepasang suami istri tersebut kembali bergelut pa_nas di balik selimut putih.
**
Berbeda halnya dengan Toni dan Ratu yang kini menikmati hangatnya ranjang pengantin baru, Alan yang tengah menjaga kakek Harka di rumah sakit justru merasa kedinginan karena baik Ratu ataupun kedua orang tuanya lupa membawakan dirinya selimut.
Ceklek.
Mendengar suara pintu kamar perawatan kakeknya terbuka dari arah luar, Alan lantas merubah posisi tidurnya dengan duduk di sofa.
"Maaf, sudah menganggu istirahat anda, tuan. Saya hanya ingin memastikan kondisi tuan Harka karena sore tadi berdasarkan laporan dari perawat yang bertugas tekanan darah beliau sempat naik." terang Sintia, sebelum kemudian beranjak mendekati tempat tidur pasien untuk melakukan pemeriksaan.
"Tidak masalah." sahut Alan dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan terhadap pasien, Sintia beralih pada Alan yang tampak melipat kedua tangannya ke dada.
"Kondisi tuan Harka jauh membaik, saat ini kondisi tekanan darahnya juga sudah stabil. Mungkin karena lambat mengkonsumsi obat anti nyeri sehingga membuat beliau menahan sakit pada jahitannya dan itulah yang membuat tekanan darahnya naik." lanjut terang Sintia berdasarkan hasil pemeriksaan terkini.
"Kalau begitu saya permisi dulu,tuan." Sintia pun beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
Tak berselang lama setelah kepergian Sintia, seorang perawat tiba, namun kini Alan tak beranjak dari posisi tidurnya. Ia hanya menampilkan wajah datarnya pada perawat tersebut.
"Maaf mengganggu tuan, saya hanya mengantarkan ini untuk anda." perawat tersebut memberikan sebuah selimut yang memang disediakan untuk keluarga pasien yang membutuhkan pada Alan.
Alan tampak berpikir sejenak sebelum kemudian menerima selimut tersebut.