
Ketika makan siang di kantin rumah sakit, Rahma di buat hampir tak bisa berkata-kata mendengar semua pengakuan Ratu tentang Dr Toni, termasuk perjodohan yang telah diatur oleh kedua orang tua mereka sebelumnya.
"Aku mohon padamu untuk tetap merahasiakan hal ini dari siapapun, terutama Kak Toni, aku tidak ingin sampai kak Toni mengetahuinya!.". Pinta Ratu dengan wajah bersungguh sungguh.
"Sebagai seorang wanita tentu saja aku ingin dicintai oleh pasanganku kelak, bukannya justru dikasihani. Itulah mengapa Aku tidak ingin sampai kak Toni mengetahui jika sebenarnya aku telah menyukainya sejak dulu." lanjut pinta Ratu dan Rahma pun mengangguk mengiyakan.
"Baik, aku janji padamu." jawab Rahma seraya menggenggam kedua tangan Ratu yang kini berada di atas meja.
"Terima kasih untuk pengertian kamu, Ra."
"Aku ini sahabat kamu, jadi jangan pernah mengucapkan terima kasih lagi!!" tutur Rahma.
Obrolan keduanya terpaksa terhenti ketika melihat kedatangan Dr Toni di kantin, bisa di pastikan pria itu juga hendak makan siang.
Ratu berpura pura tidak menyadari jika saat ini tatapan pria itu tertuju padanya. Ia justru berpura-pura fokus pada semangkuk bakso yang kini di sajikan di hadapannya.
Saat berjalan untuk memesan makanan Dr Toni melintas di dekat meja yang kini di tempati Ratu dan juga Rahma.
Pria itu hanya tersenyum kecil saat tak sengaja pandangannya bertemu dengan Rahma dan Rahma pun membalas senyuman Dr Toni seadanya. sejujurnya Rahma merasa senang karena kini tak ada lagi tatapan cinta yang biasanya di tampilkan pria itu ketika bertemu dengannya.
Setelah selesai melakukan pesanan Dr Toni kembali beranjak menuju salah satu meja yang masih kosong dan tentunya ketika beranjak menuju meja tersebut pria itu kembali melintasi meja Rahma dan juga Ratu.
"Jangan mengkonsumsi makanan yang Terlalu pedas tidak baik untuk kesehatan lambung!!." ujar Toni di sela langkahnya ketika melihat Ratu memasukkan beberapa sendok sambal ke dalam mangkuk baksonya.
"Bagaimana dia bisa tahu sedangkan dia tidak menoleh ke sini??." dalam hati Ratu.
Rahma yang melihat Ratu diam saja tanpa berniat menimpali ucapan Dr Toni lantas mencubit pelan lengan Ratu sehingga membuat perhatian Ratu beralih padanya.
Rahma memberi kode pada Ratu dengan mengangkat kedua alisnya, menurutnya sangat tak sopan jika mereka hanya diam saja atau lebih tepatnya Ratu hanya diam saja.
"Alhamdulillah, sampai saat ini lambungku tidak pernah bermasalah." tutur Ratu, yang paham dengan arti kode dari Rahma.
"Jangan menunggu bermasalah baru mengurangi mengkonsumsi makanan pedas!!." tutur Toni sebelum kemudian mengucapkan terima kasih pada pemilik kantin yang telah menyajikan makanan di hadapannya.
Rahma dan Ratu yang lebih dulu menyelesaikan makan siangnya segera meninggalkan kantin, di mana Dr Toni masih terlihat menyantap makan siangnya. Tanpa sepengetahuan Ratu, Toni pun segera meninggalkan kantin meski belum menghabisi makan siangnya.
"Kau ini sangat aneh, bukankah sebentar lagi Kalian akan segera menikah, lalu kenapa kau masih bersikap seperti itu pada Kak Toni??."
"Bersikap seperti apa maksudmu??." bukannya menjawab Ratu justru balik bertanya seolah tidak paham sikapnya yang mana yang di maksud Rahma.
"Jangan pura pura tidak tahu, kenapa kau bersikap cuek seperti itu pada calon suamimu." Rahma sengaja memberi penekanan pada kata Calon suamimu sehingga membuat Ratu menatapnya dengan tatapan malas.
"Ingat kami Menikah karena perjodohan, lagi pula aku juga sadar kalau sebenarnya kak Toni tidak menginginkan aku menjadi istrinya, tidak ingin di cap sebagai anak durhaka dia pun terpaksa menurut pada kedua orang tuanya." terang Ratu seolah ingin memberi pengertian pada Rahma, mengapa sampai ia bersikap demikian.
"Aku dan mas Riko juga dulu menikah karena dijodohkan." Rahma mencoba merubah stigma Ratu tentang perjodohan, tidak menutup kemungkinan cinta akan datang dengan sendirinya setelah pernikahan.
Ratu hanya diam saja, meski dalam hati ia juga berharap suatu hari nanti Toni bisa seperti Riko, mencintai Rahma dengan sepenuh hati.
Di sela Langkah mereka meninggalkan kantin, Ratu tidak sengaja mendengar seorang wanita menyerukan nama calon suaminya itu.
"Dr Toni."
"Dr Sintia." Toni pun terdengar balik menyapa wanita itu.
"Apa anda juga bekerja di rumah sakit ini??." tanya Toni yang cukup terkejut dengan keberadaan teman seangkatannya di kampus dulu tersebut.
"Iya, mulai hari ini aku akan bekerja di rumah sakit ini. BTW, Tidak perlu bersikap formal seperti itu!!." Tegur wanita itu seolah tidak suka ketika Toni menggunakan bahasa formal padanya.
Toni hanya menarik sudut bibirnya ke samping ketika mendengarnya.
"Ayo buruan!!!." Ratu mengajak Rahma untuk mempercepat langkahnya, entah mengapa Ratu merasa tidak suka ketika mendengar wanita itu yang berbicara dengan suara yang Sengaja di buat manja.
"Apa kau cemburu??." meskipun sudah tahu dari napas Ratu yang terdengar memburu namun Rahma Sengaja melontarkan pertanyaan yang mampu mengundang tatapan tajam Ratu padanya.
"Aku kan cuma bertanya." tutur Rahma seraya menahan tawanya agar tidak pecah ketika menyadari tatapan ratu.
Sementara Toni yang sejak tadi terlihat mencuri pandang ke arah Ratu sontak menaikan sebelah alisnya, ketika melihat Ratu melajukan langkahnya.
***
"Mas Riko akan menjemputku." kata Rahma ketika Ratu menawarkan tumpangan padanya.
Tak berselang lama ponsel Rahma berdering, ternyata Riko yang menelpon.
"Mas tunggu di depan, sayang." dari seberang telepon Riko berucap ketika Rahma baru saja menerima panggilan darinya.
"Baik mas." jawab Rahma sebelum kemudian memutuskan panggilan telepon.
"Mas Riko sudah di depan, aku duluan ya." Rahma pamit pada Ratu pun mengiyakannya.
Ketika berada di pintu utama rumah sakit, Rahma bisa melihat suaminya yang kini berdiri di depan mobil menunggunya. Dengan posisi seperti itu saja Riko terlihat begitu tampan dengan kacamata hitamnya, tidak heran jika pria itu menjadi pusat perhatian kaum hawa di sekitarnya.
Menyadari jika saat ini suaminya menjadi pusat perhatian kaum hawa membuat Rahma membawa tubuh Riko untuk segera masuk ke mobil.
"Kenapa sayang??." tanya Riko dengan dahi berkerut bingung.
"Kamu ke sini ingin menjemput aku atau mau tebar pesona sih, mas??." cetus Rahma dengan raut wajah sebalnya. Riko yang baru menyadari jika ternyata sejak tadi ia menjadi pusat perhatian lantas bersikap biasa saja, seolah hal itu tidak berpengaruh sedikit pun baginya.
Meskipun begitu Riko tetap menurut pada sang istri tercinta, dengan segera masuk ke mobil.
"Sepertinya Daddy kamu memang sengaja ingin tebar pesona, baby." ucap Rahma seraya mengusap perutnya ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Sepertinya mommy tengah cemburu buta, baby." ujar Riko seraya menahan senyum di wajahnya.
"Sorry....enak saja, nggak ada ya." tepis Rahma.
"I love you, sayang." Wajah Rahma di buat merona ketika mendengar ungkapan cinta dari Riko, apalagi pria itu mendaratkan kecupan lembut di pipinya.
Jangan lupa dukungannya ya sayang sayangku,,,, 🙏😊😘🥰 like, koment, vote and give nya ,,,,,dan juga jangan lupa beri ulasan 🙏🙏🙏🙏🙏