Trust Me Please.

Trust Me Please.
Ketahuan.



Setelah bertemu empat mata dengan Toni Akhirnya Alan bisa sedikit bernapas lega.


Kini baik Toni maupun Alan beranjak meninggalkan cafetaria, hendak kembali ke rumah masing-masing.


Tiga puluh menit kemudian.


Ratu yang tengah duduk di sofa ruang tengah sembari menikmati acara TV di buat mengeryit heran ketika melihat wajah Alan yang terlihat begitu ceria, bahkan raut ceria di wajah Alan saat ini mampu mengalahkan raut wajahnya ketika ia memenangkan sebuah tender.


"Idih... Abang kenapa senyum senyum sendiri??." dengan raut wajah bingung Ratu bertanya pada Alan yang telah menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Apa Abang berhasil memenangkan tender besar???." tebak Ratu ketika Alan tak kunjung menjawabnya.


"Ini bahkan lebih dari sekedar memenangkan tender, dek." jawab Alan apa adanya. Menurut pria itu perasaan lega dihatinya setelah bertemu dengan Toni malam ini bahkan mengalahkan kebahagiaannya ketika berhasil memenangkan sebuah tender.


Ratu yang tidak ingin sampai gila karena penasaran akhirnya memilih meninggalkan Alan begitu saja menuju kamarnya berada.


"Punya Abang cuma satu, eh... sikapnya suka seenaknya begitu, kalau aku sampai mati penasaran Gimana coba??." di sela langkahnya Ratu tak henti hentinya menggerutu akibat kesal dengan Alan yang tidak mau menceritakan tentang sesuatu yang berhasil membuatnya begitu bahagia malam ini.


***


Sesuai dengan janjinya siang tadi, Riko kembali ke hotel di mana Riko berada. Namun sayangnya Riko baru tiba pukul sembilan malam sehingga membuat Damar yang telah menanti sejak tadi tampak berdecak kesal.


"Kenapa tidak sekalian pukul dua belas malam kau datang ke sini." sindir Damar ketika ia baru saja membuka pintu kamar hotel.


"Sorry... Tadi aku harus mengantar istriku untuk membeli salad buah." Riko melangkah begitu saja ke dalam hotel melewati Damar yang kini tengah memasang wajah kesal padanya.


Riko menjatuhkan bokongnya di sofa kamar hotel sementara Damar kini tampak merapikan kopernya. Setelahnya mereka pun meninggalkan hotel hendak menuju Villa, di mana Kumala dan juga beberapa orang tim Riko menginap.


"Apa di jakarta kau tidak punya kerjaan sehingga kau harus buang buang waktu datang ke sini??." kalimat Riko lebih terdengar seperti ledekan bukannya pertanyaan yang sesungguhnya.


"CK..... Apa salahnya jika sekali kali aku berlibur untuk merefresh otakku dari urusan pekerjaan??? lagi pula sudah beberapa bulan terakhir ini aku sendiri tanpa seorang kekasih, siapa tahu saja di kota ini ada seorang gadis yang sengaja di turunkan tuhan untukku." tutur Damar dengan nada yang sengaja dibuat se-dramatis mungkin, sehingga membuat Riko berdecak dongkol mendengarnya.


Tiga puluh menit kemudian, mobil Riko telah memasuki gerbang Villa.


Seorang pria paru baya yang bertugas menjaga Vila tampak menyambut kedatangan mereka.


"Selamat malam tuan." ucap mang ojo yang kini menghampiri mobil Riko.


"Malam, mang." sahut Riko ketika baru saja turun dari mobilnya.


Pria yang biasa di sapa Riko dengan sebutan mang ojo tersebut Lantas membantu membawa koper milik Damar ke dalam Villa.


"Selamat malam, Tuan." Kumala yang baru saja keluar dari kamarnya tampak menyapa, ketika menyadari kedatangan Riko.


Kini Pandangan Kumala beralih pada pria yang terkenal dengan sifat Casanova yang di milikinya, siapa lagi kalau bukan Damar.


"Selamat malam, tuan Damar." Mengenal sosok Damar sebagai sahabat dari atasannya, Kumala lantas menyapa Damar meski dalam hati Kumala malas sekali rasanya menyapa pria itu.


"Selamat malam juga cantik."


"Ehem."


Melihat tingkah Damar mulai menebar pesona dengan sapaannya yang terdengar menggoda, Riko lantas berdehem ria sampai membuat Damar menoleh ke sumber suara.


"Dasar teman lak_nat, enggak bisa apa lihat teman senang sedikit." rutuk Damar ketika melihat Sorot mata Riko padanya.


Sedangkan Damar sendiri ikut dengan mang ojo menuju kamar yang telah disediakan untuknya.


Dua puluh menit kemudian Riko pun pamit meninggalkan Vila dan kembali ke rumah.


Beberapa saat kemudian.


"Sayang." Riko terdengar menyerukan nama sang istri ketika baru saja tiba di rumah.


Ceklek.


Riko membuka pintu kamar.


"Say_." Riko tidak melanjutkan seruannya ketika melihat Rahma telah terlelap di bawah selimut.


Riko membuka jaket yang dikenakannya lalu beranjak ke tepi tempat tidur. dengan gerakan lembut Riko menyingkirkan helaian rambut Rahma yang menutupi wajah cantiknya.


Cukup lama Riko memandangi ciptaan Tuhan yang terbilang nyaris sempurna dihadapannya itu, sebelum kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak lama Riko kembali dari kamar mandi hanya dengan sebuah handuk yang dililitkan pada pinggangnya, sebelum kemudian masuk ke ruang ganti. Setelah mengenakan piyamanya, Riko kembali dari ruang ganti dan berbagi selimut dengan sang istri.


*


Keesokan harinya, Rahma yang lebih dulu terbangun dari tidurnya tampak mengulum senyum ketika menyadari tubuhnya yang berada di pelukan Riko.


Rahma sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah tampan suaminya.


"Kenapa dalam keadaan tidur sekalipun mas Riko masih saja terlihat tampan???.". Puji Rahma dengan nada lirih seraya menelisik setiap inci wajah suaminya dengan jari telunjuknya.


Di tengah kesibukannya menikmati mahakarya tuhan yang tersaji di depan mata, tiba tiba tercetus satu ide di pikiran Rahma. Ia yang selalu saja malu untuk mulai menci_um suaminya, lantas menggunakan kesempatan di mana Riko masih memejamkan matanya untuk melakukannya.


Cup.


Di saat Rahma mengikis jarak di antara keduanya di saat bersamaan pula Riko membuka matanya sehingga membuat Rahma tersentak dan membulatkan kedua matanya.


Rahma sontak menjauhkan wajahnya dari wajah Riko. Malu ??? sudah pasti dirasakan Rahma ketika ketahuan mengecup bibir Riko secara diam diam.


"Kenapa harus melakukannya diam diam??? Bukankah Kamu bisa melakukannya secara terang-terangan, sayang." semakin merona wajah Rahma ketika mendengar ucapan Riko yang bernada menggoda.


Tampak jelas pria itu menahan senyum di bibirnya saat melihat reaksi sang istri.


"Aku mau mandi mas, takut terlambat berangkat kerja." Rahma yang sengaja mengalihkan pembicaraan bergegas turun dari tempat tidur.


Setelah menyaksikan Rahma menghilang di balik pintu kamar mandi, Riko lantas melebarkan senyum di wajahnya.


"Bagaimana aku tidak sampai tergila gila jika tingkahmu begitu menggemaskan, Ra." Riko terdengar bermonolog, sebelum kemudian beranjak dari tempat tidur ketika merasakan celananya mulai terasa sesak.


Rahma membulatkan matanya ketika menyadari Riko yang kini telah berada di kamar mandi dan yang lebih parahnya lagi pria itu melenggang begitu saja ke arahnya tanpa mengenakan sehelai benang pun.


"Kamu mau ngapain, mas??." tanya Rahma dengan tatapan curiga.


"Sayang, sepertinya akan seru jika kita melakukannya di sini." tutur Riko dengan tatapan menggoda.


Tanpa menunggu persetujuan dari sang istri, Riko sudah lebih dulu memulainya dengan mengarahkan kepalanya pada dua buah gunung kembar milik Rahma.