
Sudah tiga hari Rahma di rawat di rumah sakit, selama itu pula Riko Harus memutar otak untuk mencari cari alasan.
Tapi sepertinya hari ini Riko tidak bisa lagi terus menyembunyikan kenyataan dari Rahma. Sebagai seorang dokter tentunya Rahma dapat mengenali jenis obat yang sudah tiga hari dikonsumsinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku, Kenapa aku harus terus berada di sini??? Dan untuk obat obatan ini, aku paham betul akan kegunaannya, lalu kenapa aku harus mengkonsumsi ini semua, mas??." ungkap Rahma dengan lembut namun tatapannya terlihat menuntut jawaban dari Riko.
"Tolong katakan yang sebenarnya, mas!!." lanjut pinta Rahma.
Riko yang tidak sanggup menjawab, lantas membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Mas tahu Kamu wanita yang kuat, mas percaya kamu pasti bisa melewati semua ini, sayang." mendengar kalimat Riko yang disertai buliran bening yang lolos di sudut matanya, semakin meyakinkan Rahma akan dugaannya.
Rahma tampak terpaku, hanya air matanya yang dapat mewakili betapa hancurnya perasaannya saat ini.
"Apa kata dokter aku tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk melihat wajah anak anakku nanti, mas??." Pertanyaan dari istrinya membuat hati Riko semakin terasa teriris mendengarnya.
"Jangan berkata seperti itu sayang, percaya lah kamu pasti bisa melihat dan juga membesarkan anak anak kita bersama." Riko tak sanggup lagi menahan air matanya.
Ratu yang menyaksikan kesedihan yang kini menyelimuti sepasang suami istri tersebut lantas ikut menangis tanpa suara.
Ratu mendekat ke arah Rahma yang kini masih berada di pelukan Riko.
"Ra, kamu pasti bisa sembuh aku yakin itu." tutur Ratu sembari mengelus lembut punggung Sahabatnya itu.
"Seandainya pun aku harus pergi, aku hanya ingin melihat wajah anak anakku sebelum itu terjadi." ungkap Rahma.
semakin berlinang bebas air mata Ratu mendengar penuturan sahabatnya itu, begitu pun dengan Riko.
"Jangan berbicara seperti itu, sayang!! Mas yakin kamu pasti akan sembuh." sahut Riko kembali meyakinkan Rahma.
"Kamu tidak perlu meyakinkan aku sampai seperti itu mas, aku ini seorang dokter dan aku tahu kemungkinan itu sangatlah kecil, kecuali ada seseorang yang bersedia mendonorkan hatinya padaku. Dan di zaman seperti saat ini sangat kecil kemungkinan ada seseorang yang mau melakukan itu." ungkap Rahma sesuai dengan pengetahuannya selama ini.
"Dan mas akan berusaha mencari kemungkinan kecil itu, sayang." jawab Riko dengan penuh keyakinan.
"Sudahlah mas, aku tahu kamu sangat mencintaiku dan rela melakukan apapun untukku tetapi kali ini berbeda mas, tidak mudah untuk mendapatkannya."
Bukannya putus asa, namun Rahma hanya berpikir realistis. Jika memang ada yang bersedia mendonorkan hatinya itu artinya tuhan benar benar membuka pintu keajaiban untuknya.
***
Di belahan kota yang berbeda, Gita tampak terisak usai mendengar berita tentang Rahma dari suaminya, Hantara.
Dalam kondisi hamil anak kembar, Rahma harus menerima kenyataan pahit mengidap gagal hati yang bisa saja merenggut nyawanya.
Ingin memastikan keadaan Rahma akhirnya Gita melakukan panggilan video call ke nomor Rahma.
Dua kali panggilan barulah panggilannya tersambung.
"Hai Git." melalui sambungan video call Rahma tampak melambaikan tangannya seraya tersenyum manis pada sahabatnya itu. Gita bisa memastikan jika senyum yang kini di tampilkan Rahma hanyalah senyuman palsu, hanya untuk menutupi perasaannya yang sesungguhnya. melalui sambungan video call ia juga dapat melihat Riko yang duduk di tepi tempat tidur Rahma.
"Aku masih ada di sini, jangan menangis!!." tutur Rahma di sela senyum manisnya.
Melihat senyum manis di wajah Rahma justru semakin membuat air mata Gita mengalir deras. sampai beberapa saat kemudian, Gita yang tidak tega lantas pamit untuk mematikan panggilannya dengan alasan ingin menyusui baby Kay.
Melihat air mata di wajah istrinya membuat Hantara bisa merasakan sekuat apa persahabatan di antara mereka.
Sejak kemarin Hantara sudah membuat iklan di koran dan juga media online lainnya untuk mencari pendonor hati dengan bayaran tak sedikit. Mengingat donor hati masih dalam tahap aman bagi pendonor yang bersedia, Hantara berpikir tidak akan terlalu sulit mendapatkannya akan tetapi sudah tiga hari tak satupun orang yang menghubungi dirinya maupun orang kepercayaannya untuk bersedia menjadi pendonor bagi Rahma.
***
Seorang wanita yang tengah mencari lowongan pekerjaan di koran secara tak Sengaja melihat penawaran dengan jumlah besar bagi yang bersedia menjadi pendonor untuk operasi transplantasi hati bagi seseorang.
"Apa istri dari tuan Hantara sedang sakit??." wanita itu coba menduga-duga. Akan tetapi dugaannya seketika terjawab oleh satu artikel yang menyatakan jika Hantara mencari pendonor untuk istri dari sahabatnya yakni Riko pranata Abraham.
"Jadi yang mengidap gagal hati bukan Istrinya tuan Hantara melainkan istrinya Riko, berarti wanita itu nona Rahma." gumam wanita itu dengan tatapan menerawang jauh.
Semalaman wanita itu tak dapat memejamkan matanya, bayangan seseorang yang pernah di sakitinya dulu terus membayang bayanginya. Seolah membawanya ke dalam perasaan bersalah yang berkepanjangan.
Sudah seminggu berlalu, namun wanita itu terus memikirkan tentang seseorang yang bahkan tidak pernah menaruh dendam padanya setelah kejadian malam itu. Ia bahkan tidak konsentrasi dalam mengurus putranya, akibat memikirkan hal itu.
"Apakah ini saatnya aku membayar kesalahanku padanya?." gumam wanita itu dengan perasaan bersalah.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya wanita itu yakin dengan keputusan yang akan diambilnya. lantas ia mencari tahu alamat rumah sakit tempat Rahma di rawat saat ini.
Setelah berhasil mendapatkan alamat serta nomor telepon pihak rumah sakit, wanita itu lantas menghubungi pihak rumah sakit untuk menyampaikan kesiapan dirinya menjadi pendonor bagi pasien atas nama Mega Rahmawati.
"Semoga setelah ini aku tidak lagi di bayang Bayangi perasaan bersalah padanya." gumam wanita itu.
Setelahnya wanita itu pun memilih mengistirahatkan tubuhnya sebelum kemudian besok ia akan berangkat menuju salah satu kota yang letaknya cukup jauh dari dari tempat tinggalnya saat ini.
Sebelum berangkat wanita itu menitipkan putranya pada sepasang suami istri yang belum dikaruniai seorang anak, meski pernikahan mereka telah berusia enam tahun.
***
Dua hari kemudian, pihak rumah sakit kedatangan seorang wanita yang mengaku ingin menjadi pendonor untuk pasien yang bernama Mega Rahmawati. Dan tentunya Dokter Sintia yang saat itu menyambut kedatangan wanita misterius tersebut tampak berbinar bahagia, ada secercah harapan untuk pasiennya yang kini tengah mengandung anak kembar di rahimnya, untuk sembuh seperti sedia kala.
Dokter Sintia cukup tertegun dengan permintaan dari wanita misterius tersebut. wanita itu menolak tawaran dari keluarga pasien serta menginginkan pihak rumah sakit untuk merahasiakan identitas dirinya, padahal kenyataannya pihak keluarga pasien telah menyiapkan sejumlah uang yang tidak kecil bagi pendonor.
Demi profesionalitas kerja dokter Sintia lantas menerima permintaan wanita misterius tersebut, sebelum kemudian mulai melakukan sejumlah pemeriksaan untuk mencocokkan Sempel dari calon pendonor dengan pasien.
***
Keesokan harinya.
Senyum di wajah dokter Sintia semakin merekah kala hasil pemeriksaan calon pendonor menunjukkan kecocokan dengan Milik pasien.
"Ya tuhan.... tidak ada yang tidak mungkin jika engkau telah berkehendak." gumam dokter Sintia dalam hati setelah membaca hasil pemeriksaan calon pendonor dan juga milik pasien.