Trust Me Please.

Trust Me Please.
Drama rumah tangga 1.



Sekembalinya dari ruangan pimpinan Alan kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa banyak berpikir, seperti apa dan juga bagaimana pandangan pemilik perusahaan terhadap dirinya, bagi Alan yang terpenting ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendedikasikan diri pada perusahaan.


***


Sintia menatap malas ke arah jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. jika biasanya ia akan senang jika waktu telah menunjukkan pukul empat sore karena itu menandakan jam kerjanya telah usai, namun hari ini sepertinya berbeda.


Jika harus memilih pulang ke rumah atau lembur mungkin Sintia akan lebih memilih lembur saja. ia menghembus napas bebas di udara sebelum mulai mengayunkan langkahnya meninggalkan ruangan kerjanya, hendak kembali ke rumah.


Tiga puluh menit kemudian mobil Sintia tiba di rumah. Helaan napas Sintia terdengar berat ketika Melihat beberapa pria bertubuh kekar yang berpakaian serba hitam berdiri di depan rumah mewah milik orang tuanya.


"Selamat sore, Nona." para pria bertubuh kekar kompak menunduk hormat ketika melihat kedatangan Sintia.


"Sore." sahut Sintia tanpa menghentikan langkahnya. Ia terus melangkah memasuki pintu masuk utama, sampai dengan suara bariton seseorang membuatnya menghentikan langkahnya.


"Kamu baru pulang, nak??." tanya pria yang sudah beberapa tahun terakhir tak pernah bertemu dengannya itu.


"Hemt." Sintia menghentikan langkahnya namun sama sekali tidak berniat memandang ke arah lawan bicaranya.


"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu pada papa, Sintia??." suara pria itu terdengar melemah, mungkin karena merasa kecewa dengan sikap dingin putri semata wayangnya.


"Seharusnya Sintia yang bertanya, sejak kapan papa peduli dengan kehidupan Sintia??." bukannya menjawab, Sintia justru balik bertanya dengan nada yang terdengar begitu dingin.


"Kamu tahu sendiri Sintia, papa terpaksa pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan kita di sana dan itu semua papa lakukan untuk kamu." tuturnya.


Sintia menoleh pada ayahnya. "Untuk Sintia???." ulang Sintia, sebelum kemudian mengukir seringai di sudut bibirnya.


"Papa melakukan semua itu demi masa depan kamu, anak semata wayang papa." kedua mata pria paru baya itu mulai tampak berkaca.


"Demi Sintia atau demi istri baru papa itu??." koreksi Sintia masih dengan nada yang terdengar dingin, seolah menggambarkan hubungan di antara mereka selama ini.


Tidak ingin menjadi anak durhaka terus mendebati ayahnya, Sintia lantas melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Ceklek.


Sintia membuka pintu kamarnya. Setelah kembali menutup pintu kamar, Sintia tampak menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. Air mata Sintia luruh bersamaan dengan tubuhnya yang kini luruh ke lantai.


"Mah, seandainya mama masih ada di sini, Sintia pasti tidak akan kesepian seperti saat ini. Mah, Sintia Kangen sama, mama."


Dari balik pintu ayahnya dapat mendengar tangisan pilu putrinya. Sesak, sudah pasti di rasakan ayahnya, kesalahannya yang pernah jatuh cinta pada wanita materialistis sampai membuat hubungannya dengan putri semata wayangnya kian merenggang.


Sesuatu yang tidak pernah orang lain tahu di balik kesuksesan seorang Sintia, ia tinggal seorang diri setelah kematian ibu dan kakeknya. Berharap suatu hari ada pangeran yang datang di dalam kehidupannya pun rasanya mustahil, mengingat selama ini Sintia begitu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memiliki waktu untuk urusan asmaranya.


***


Rahma yang baru saja makan malam, tiba tiba teringat akan sosok wanita yang menurutnya hebat, siapa lagi kalau bukan dokter Sintia.


"Mas, menurut aku kehidupan serta karir dokter Sintia nyaris sempurna. bagaimana tidak coba, sudah cantik, baik, dan juga masih muda tapi sudah begitu banyak gelar yang tertera di belakang namanya." komentar Rahma tentang sosok Sintia, seorang dokter yang banyak membantu dalam proses kesembuhannya.


"Tidak seorangpun yang bisa mengetahui kehidupan seseorang selain diri orang itu sendiri, begitu pun dengan dokter Sintia. belum tentu apa yang kita lihat sesuai dengan kenyataan yang ada. lagi pula kebahagiaan itu asalnya dari hati, bukannya dari pandangan orang lain." beri tahu Riko, sesuai dengan hukum kehidupan yang biasanya terjadi di dalam kehidupan manusia, tanpa maksud apa apa.


"Iya juga sih, mas." jawab Rahma. Setelah di pikir pikir apa yang di katakan suaminya ada benarnya, karena kebahagiaan itu memang asalnya dari hati dan hanya pemiliknya yang tahu bagaimana isi hati seseorang.


Tidak ingin membahas tentang wanita lain, meskipun itu dokter yang telah banyak membantu mereka, Riko lantas mengalihkan pembicaraan dengan membawa tubuh istrinya ke pangkuannya.


"Ingat ya mas, kata dokter aku belum bisa melakukan pekerjaan berat." tutur Rahma Sirat akan makna, ketika mulai merasakan ke_cupan Riko pada tengkuk lehernya.


"Iya ..iya...." Jawab Riko pasrah dan itu membuat Rahma menahan senyum di bibirnya meski tak dapat terlihat oleh Riko, sebab saat ini posisi dirinya yang tengah membelakangi Riko.


Hingga malam itu pun berlalu tanpa adanya sesuatu yang iya iya, Karena istilah yang bukan bukan hanya berlaku pada pasangan yang belum halal. Bukan begitu besti???


*


Ketika baru saja membuka matanya, Rahma tidak lagi mendapati Riko di tempat tidurnya, menandakan pria itu telah bangun dari tidurnya. entah kemana suaminya itu pagi pagi, itu menjadi pertanyaan Rahma ketika tak menemukan Riko di seluruh ruangan.


"Suami kamu sedang joging keliling komplek." beritahu bunda Ening, seolah tahu isi kepala putrinya.


"Joging??." ulang Rahma. Mendapat anggukan dari bundanya lantas membuat Rahma beranjak ke teras depan untuk menunggu Riko. Benar saja, baru sepuluh menit Rahma menunggu, kini Riko tampak berlari kecil memasuki pekarangan rumah. Namun yang membuat wajah Rahma berubah seketika yakni ketika melihat beberapa orang gadis yang juga tengah joging bersama Riko. lebih tepatnya di belakang langkah Riko, karena sebenarnya Riko sendiri tidak tahu dan tidak mau tahu akan keberadaan gadis gadis itu.


Riko dibuat bingung ketika melihat raut wajah istrinya berubah seketika, yang tadinya tersenyum padanya tiba tiba kini memasang wajah cemberut.


Setelah menoleh ke belakang barulah Riko menyadari penyebabnya.


"Sayang." seruan Riko terdengar mendayuh.


Bukannya senang, Rahma justru menghentakkan kakinya ke lantai sebelum kemudian beranjak meninggalkan Riko begitu saja.


"Sayang, pelan pelan jalannya!!." pinta Riko seraya menyusul langkah Rahma, ketika istrinya itu berjalan dengan langkah cepat karena kesal padanya.


Bunda Ening yang melihat putrinya seperti sedang memainkan drama seorang istri yang tengah dibakar api cemburu lantas menggelengkan kepalanya seraya mengulum senyum, ketika melihat aksi sepasang suami istri itu.


"Sayang, kamu kenapa sih sampai marah marah seperti ini??." pertanyaan Riko lantas membuat kedua alis Rahma saling bertaut.


"Kamu masih nanya, mas?? Kamu pasti janjian kan sama mereka, tumben kamu joging pagi pagi sekali." tuding Rahma dengan tatapan sinis.


"Oh astaga.....mas bahkan baru menyadari keberadaan mereka ketika tiba di depan rumah kita, sayang." jawab Riko apa adanya.


Sepersekian detik kemudian Riko tampak menarik sudut bibirnya ke samping, lalu menatap wajah istrinya dengan intens.


"Sepertinya, ada yang cemburu nih??." sindir Riko dengan nada menggoda.


"Tau ah..." ucap Rahma malas, sebelum kemudian masuk ke dalam kamar.


Sayang sayangku untuk membantu karya recehku untuk berkembang, jangan lupa like, koment, vote and give ya.....🙏🙏🙏 dukungan dari kalian adalah penyemangat terbesar bagiku .....