
Akibat pergulatan mereka semalam, baik Riko maupun Rahma baru terjaga ketika mendengar suara alarm ponsel yang terdengar memekakkan telinga.
Rahma tampak memicingkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Secara bersamaan Riko juga baru saja terjaga tampak meregangkan otot-ototnya sebelum kemudian beranjak turun dari tempat tidur.
"Kamu mau kemana, mas?? bukannya ini hari Minggu." Rahma yang nyawanya belum terkumpul sempurna lantas bertanya ketika melihat suaminya beranjak ke kamar mandi.
"Apa kamu lupa jika hari ini adalah hari pernikahan sahabat kamu??." tutur Riko mengingatkan.
"Oh astaga.... Bagaimana aku sampai lupa??." Rahma menepuk jidatnya merutuki diri sendiri.
Rahma segera beranjak dari tempat tidur hendak menyusul Riko ke kamar mandi namun Ketika memegang handle pintu kamar mandi tiba tiba Rahma teringat akan kejadian kemarin, di mana Riko mengajaknya ber_cinta di bathtub.
Rahma lantas menjauhkan tangannya dari handle pintu. "Oh no... Bagaimana kalau mas Riko kembali melakukannya di kamar mandi??." bulu kuduk Rahma sampai bergidik ngeri membayangkannya, pergulatan semalam saja sudah membuatnya terlambat bangun pagi apalagi kalau suaminya itu kembali melakukannya di kamar mandi, bisa bisa dia melahirkan dini, begitu pikir Rahma.
Di dalam kamar mandi, Riko yang baru menyadari jika ia lupa membawa handuk lantas kembali keluar dari kamar mandi.
Ceklek.
Riko yang baru saja membuka pintu, di buat terkejut dengan keberadaan Rahma di depan pintu kamar mandi.
"Kenapa kamu berdiri di sini??." tanya Riko.
"Atau jangan-jangan kamu mau mandi bersa_." belum lagi Riko meyelesaikan kalimatnya, Rahma sontak saja menyela.
"Tidak, mas saja duluan...!!." Rahma bahkan memposisikan tangannya untuk mempersilahkan Riko masuk ke kamar mandi dan hal itu mampu membuat Riko menarik sudut bibirnya ke samping.
"Apa kamu tidak ingin mengulang kegiatan kita kemarin, sayang??." Riko yang berujar dengan nada menggoda tampak menarik turunkan alisnya.
"Terima kasih sebelumnya tuan Riko Pranata Abraham, tetapi sepertinya saya tidak berminat dengan tawaran dari anda." Dengan bahasa Formal Rahma menjawab godaan dari Riko, sehingga membuat pria itu sontak melebarkan senyumnya melihat tingkah istrinya.
"Baiklah sayang, jika kamu belum berminat untuk hari ini." sahut Riko dengan melebarkan senyum di wajahnya, sebelum kemudian kembali ke kamar mandi.
Rahma tampak mendecakkan bibirnya setelah tubuh Riko menghilang di balik pintu.
"Kalau kami mandi bersama bisa bisa hari ini aku tidak punya tenaga untuk menghadiri acara pernikahan Ratu dan kak Toni" gumam Rahma sebelum kemudian beranjak menuju sofa, menunggu sampai Riko selesai dengan kegiatan mandinya barulah giliran dirinya membersihkan tubuh.
Tiga puluh menit kemudian Riko keluar dari kamar mandi, kini giliran Rahma membersihkan diri sebelum kemudian bersiap menuju kediaman orang tua Ratu, di mana acara ijab qobul di laksanakan.
Riko yang kini tengah memasang arloji pada pergelangan tangan sesekali melirik ke arah cermin yang memperlihatkan istrinya yang masih mengenakan handuk putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Rahma tampak membaluri tubuhnya dengan body lotion dan bagi Riko hal itu begitu menggoda iman.
Setelah Memastikan penampilannya telah sempurna lantas Riko beranjak meninggalkan kamar.
"Kamu mau kemana, mas??." Riko yang telah memegang handle pintu lantas memutar pandangannya ke arah Rahma.
"Sebaiknya mas menunggu di bawah, jika mas terus berada di kamar ini bisa bisa kita tidak akan jadi menghadiri acara pernikahan sahabat kamu itu." mengerti kemana arah maksud ucapan suaminya, Rahma lantas mengangguk saja sebagai jawaban.
Setelah pamit pada kedua orang tua Rahma, mereka lantas berangkat menuju kediaman orang tua Ratu.
***
Di kediaman orang tua Ratu telah ramai dengan kehadiran tamu undangan serta sanak saudara yang akan menyaksikan prosesi ijab qobul yang sebentar lagi akan segera di laksanakan.
Riko dan Rahma yang baru saja tiba di tempat itu lantas berbaur dengan anggota keluarga Ratu yang lain.
Tuan Sofyan meminta secara khusus kepada Riko untuk menjadi salah satu saksi dalam pernikahan putrinya.
Tak berselang lama setelah kedatangan Riko dan Rahma, rombongan calon mempelai pria tiba di kediaman calon mempelai wanita.
Kedatangan Toni serta rombongannya di sambut dengan meriah dengan suara alat musik tradisional kakula, Alat musik tradisional suku Kaili yang biasanya di gunakan khusus untuk menyambut kedatangan calon mempelai pria, Mengingat kakeknya Ratu berasal dari suku tersebut.
Tampak ayahnya Ratu secara khusus menyambut kedatangan calon menantunya di depan pintu masuk, suatu prosesi adat yang biasa di lakukan dalam acara pernikahan oleh suku asli di kota tersebut. Setelahnya sang calon mertuanya akan menuntun calon mempelai pria untuk menempati tempat yang telah di sediakan untuk prosesi akad nikah atau ijab Qobul.
Toni tampak gagah dengan stelan jas berwarna hitam serta peci nya, warna yang sangat kontras dengan warna kulit Toni yang putih bersih. Tak sedikit tamu undangan yang berasal dari tetangga maupun keluarga jauh dari Ratu, menatap kagum akan ketampanan calon mempelai pria.
Tepat pukul sepuluh pagi, sesuai dengan rencana awal Toni akan segera mengucap ijab qobul. Setelah prosesi penyerahan atau Qouliyah dari ayahanda dari Ratu sebagai wali kepada penghulu yang akan menikahkan, lantas penghulu tampak bertanya atas kesiapan dari calon mempelai pria.
"Bagaimana, apa bisa kita mulai prosesi ijab qobul nya??." pak penghulu tampak bertanya kepada Toni dan juga para saksi termasuk Riko. dengan mantap Toni mengiyakan.
"Baiklah." tutur penghulu.
"Bismillahirrahmanirrahim dengan menyebut nama Allah, Wahai saudara Toni Wardhana bin Arifin Hamdan, saya nikah dan kawinkan engkau dengan seorang wanita pilihanmu yang bernama Maharatu Wardaningsih binti Sofyan yang di mana ayah kandungnya telah memberikan Qouliyah kepada saya untuk menikahkannya denganmu, dengan mahar darimu uang tunai sebesar dua ratus dua puluh tiga juta delapan ratus tiga belas rupiah serta satu unit rumah mewah." ucap Pak penghulu. mahar Toni sesuai dengan tanggal pernikahan yakni tahun dua ribu dua puluh tiga bulan delapan tanggal tiga belas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Maharatu Wardaningsih binti Sofyan dengan mahar tersebut tunai karena Allah." dengan satu tarikan napas Toni mengucapkan kalimat ijab Qobul.
"Bagaimana para saksi?? Sah?? Terdengar suara penghulu.
Sah.
Sah.
Sah.
Sementara Ratu yang kini berada di kamarnya yang kini telah disulap menjadi kamar pengantin, dengan dekorasi yang tampak begitu indah, tanpa sadar menitihkan air mata setelah mendengar Toni mengucapkan ijab qobul dalam satu tarikan napas, yang di mana secara otomatis kini ia telah sah menjadi istri dari seorang Toni Wardhana.
Kini tanggung jawab atas dirinya telah berada di pundak pria itu bukan lagi pada ayahnya, termasuk tanggung jawab kelak di hadapan Allah SWT.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk menikmati karya recehku...🙏🙏🙏🙏 jangan lupa like, koment, vote and give ya......!!!! 😘😘😘😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰