Trust Me Please.

Trust Me Please.
Resepsi pernikahan Toni dan Ratu.



Tak terasa Siang telah berganti malam, di sebuah ballroom hotel tampak begitu ramai dengan kehadiran tamu undangan yang menghadiri acara resepsi pernikahan Toni dan Ratu. Kebanyakan Tamu undangan berasal dari kalangan pengusaha yang merupakan rekan bisnis dari ayahnya Toni, serta rekan sejawat Toni dan juga Ratu.


Kedua mempelai yang kini duduk di singgasana bak raja dan Ratu sehari tampak begitu serasi. Tidak sedikit pasang mata yang dibuat iri dengan Ratu karena memiliki suami yang begitu tampan dan begitu pun sebalik, tidak sedikit pasang mata pria yang merasa iri pada sosok pria tampan yang kini duduk mendampingi wanita cantik di pelaminan malam hari ini.


Rahma yang menempati sebuah meja bersama dengan sang suami tampak terharu melihat sahabatnya yang saat ini telah bersanding dengan pria pujaan hatinya.


Meski pun menikah karena perjodohan, tetapi setidaknya kini Ratu telah menikah dengan pria yang merupakan cinta pertamanya serta pria satu satunya yang pernah menempati ruang terindah di hati Ratu.


 Menurut Rahma, cinta bisa tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, sama seperti dirinya dan Riko yang awalnya juga menikah karena perjodohan.


Akan tetapi Rahma berdoa dan berharap agar sahabatnya itu tidak sampai merasakan hal yang sama seperti dirinya di awal pernikahannya dengan Riko dulu. menghadapi sikap dingin dari pria yang notabenenya adalah suami sendiri merupakan hal yang paling menyedihkan, dan hal itu dulu sempat di rasakan oleh Rahma di awal pernikahannya.


"Sebagai sahabat aku hanya bisa berdoa agar Tuhan selalu melimpahkan rahmat-Nya di dalam kehidupan rumah tangga kalian, Ratu." dalam hati Rahma penuh harap.


Riko mengusap punggung Rahma seolah mengerti dengan ada yang di rasakan istrinya saat ini. Rahma sontak saja menoleh pada Riko seraya mengulas senyum sekilas di bibirnya.


Di pelaminan, Toni bertanya pada Ratu apakah dia lelah karena sejak ijab qobul siang tadi istrinya itu belum istirahat sama sekali, apalagi nanti mereka harus berdiri untuk waktu yang cukup lama untuk Melayani tamu undangan yang hendak memberikan ucapan doa restu.


Toni bisa sedikit lega ketika melihat Ratu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaannya.


Dari ratusan tamu undangan yang hadir malam hari ini tampak dokter Sintia di antaranya. Sepertinya wanita itu sudah mulai bisa menerima kenyataan jika Toni bukanlah jodohnya, buktinya wanita itu hadir di acara resepsi pernikahan Toni dan Ratu. wanita cantik yang malam ini datang seorang diri tersebut tampak menempati meja paling ujung.


Sintia yang merasa ingin buang air kecil lantas beranjak dari tempat duduknya hendak mencari keberadaan toilet hotel.


Brug.


Seorang pria tampan yang tampak tergesa-gesa tak sengaja menabrak tubuh Sintia yang tengah mencari keberadaan toilet.


"Apa anda tidak bisa menggunakan mata anda dengan baik??." ujar Sintia dengan nada yang terdengar ketus.


"Hei.... Seharusnya saya yang bertanya seperti itu, kenapa anda berjalan tanpa memperhatikan keadaan sekitar." pria yang tidak mau kalah dengan Sintia tersebut lantas mendebati Sintia.


"Anda sendiri kenapa berjalan dengan terburu-buru??." cetus Sintia tak mau kalah.


"Tidak ada gunanya berdebat dengan wanita seperti anda." balas pria itu sebelum kemudian beranjak meninggalkan Sintia yang masih terlihat geram padanya.


"Permisi nona, apa yang ingin lakukan di sini?? Apa anda sedang mencari seseorang??." Masih dengan perasaan geramnya, tiba tiba seorang OB hotel bertanya pada Sintia.


"Saya sedang mencari toilet, mas." sahut Sintia.


Setelah OB tersebut menunjukkan di mana keberadaan toilet, Sintia lantas bergegas beranjak menuju toilet berada.


***


"Kamu dari mana saja, Lan?? Di malam acara resepsi pernikahan adikmu, kamu malah datang terlambat." tanya ibunya ketika Alan baru saja tiba dan bergabung dengan anggota keluarga yang lainnya.


"Maaf mah, tadi Alan ada urusan mendadak." jawab Alan apa adanya.


"Ini apalagi, jangan bilang kamu habis berbuat macam-macam dengan anak gadis orang, Lan??." cecar ibunya dengan tatapan curiga ketika tak Sengaja melihat jas yang dikenakan Alan terdapat noda lipstik.


Mendengar tudingan ibunya sontak saja Alan menepis.


"Oh astaga...ini pasti noda lipstik milik wanita tadi." batin Alan ketika teringat kejadian tadi ketika ia berjalan dengan terburu buru.


Berpikir tudingan ibunya tidaklah benar maka Alan tak mau terlalu ambil pusing, kini ia justru fokus memandang ke arah adik perempuannya yang tampak cantik bersanding di pelaminan.


Mengingat apa yang di katakan ibunya benar adanya, Alan hanya bisa mengangguk pelan.


"Nanti akan Alan pikirkan, mah." jawab Alan. dan pada akhirnya ibunya mengusap lembut punggung Alan. "Mama tunggu!!." ucap ibunya.


Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, sepasang pengantin baru tersebut masih tampak menyalami para tamu undangan yang ingin memberikan doa restu.


Sampai pukul dua belas malam barulah acara tersebut selesai. semua tamu undangan telah kembali ke kediaman masing-masing. Kini baik Toni dan juga Ratu serta anggota keluarga dari kedua belah pihak beranjak menuju kamar hotel masing-masing.


***


Ceklek.


Pintu kamar hotel yang baru saja dibuka oleh Toni sontak saja menampilkan sebuah ranjang dengan ukuran king size yang di lengkapi dengan taburan kelopak bunga mawar merah di atasnya, serta lantai yang juga di hiasi lilin putih yang dinyalakan berjejer rapi membentuk hati.


Deg.


Irama Jantung Ratu semakin berdebar tak menentu ketika menyaksikan kamar hotel yang kini tampak kental dengan nuansa pengantin baru.


"Masuklah!!." Toni mempersilahkan Ratu masuk ketika melihat wanita itu masih terpaku di ambang pintu.


"Iy_iya kak." jawab Ratu terbata, entah apa yang kini ada dipikirannya. Entahlah....


"Bersihkan tubuhmu !!! Kamu pasti sudah sangat gerah." tutur Toni melihat gelagat Ratu seperti sudah tak nyaman dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya.


"Aku hanya menyuruhmu untuk membersihkan tubuhmu bukannya mengajakmu mandi bersama, jadi tidak perlu tegang seperti itu!!." lanjut tutur Toni ketika melihat Ratu dengan wajah tegangnya masih berdiri mematung.


"Baik kak." Ratu lantas beranjak menuju kamar mandi setelah sebelumnya meraih sebuah bathrobe.


Malam itu Ratu mandi dengan lancar tanpa adanya drama kesulitan membuka resleting gaun yang melekat di tubuhnya.


Kurang dari setengah jam Ratu keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe untuk menutupi tubuh polosnya.


Setelahnya giliran Toni yang akan membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat gerah.


Tak berselang lama, kini Toni tampak keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan sehelai handuk yang dililitkan pada pinggangnya.


Tanpa malu malu Toni melenggang melewati Ratu yang tengah duduk di tepi tempat tidur.


"Oh astaga.... apa kak Toni ingin berniat membuat jantungku berhenti berdetak dengan penampilannya itu??." dalam hati Ratu . Ada perasaan malu sekaligus kagum di hati Ratu, ketika pandangannya tak sengaja tertuju pada Toni dalam kondisi berte_lanjang dada.


"Apa kamu tidak berniat mengenakan sesuatu yang ada di dalam koper mu??."


Ratu dibuat tersentak ketika merasakan hembusan napas Toni di tengkuknya dan itu artinya saat ini jarak mereka begitu dekat.


"Sesuatu apa yang kak Toni maksud??." tanya Ratu dengan wajah bingung, setelah sebelumnya sedikit menjauhkan wajahnya, tidak ingin sampai kejadian memalukan di bioskop tempo hari terulang kembali.


"Benda yang tersedia dengan berbagai macam warna yang ada di dalam koper mu. Apa kamu tidak berniat untuk mengenakan salah satu di antaranya??." lanjut ucap Toni dengan nada menggoda, sebelum kemudian berlalu begitu saja untuk mengambil bajunya di koper. Setelah itu Toni kembali ke kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya. Meski sudah sah menjadi pasangan suami istri namun Toni tidak lancang mengenakan pakaiannya di depan Ratu, pria itu tidak ingin sampai Ratu di buat trauma ketika melihat ukuran senjatanya.


"Benda apa sebenarnya yang kak Toni maksud???." gumam Ratu setelah menyaksikan tubuh Toni menghilang di balik pintu kamar mandi.


Tidak ingin sampai mati penasaran, Ratu lantas beranjak untuk membuka kopernya. betapa terkejutnya Ratu ketika melihat beberapa buah benda memalukan yang kini berada di dalam kopernya.