Trust Me Please.

Trust Me Please.
Menginap di rumah mertua.



Cukup lama Alan berada di kediaman orang tuanya sebelum kemudian beranjak menuju rumah sakit untuk menjemput istrinya.


Dari dalam mobilnya, Alan dapat meyaksikan istrinya yang tengah berjalan ke arah mobilnya. Ia segera beranjak turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk sang istri.


Sebelum masuk ke mobil, Sintia mengulurkan tangannya untuk menyalami Alan.


"Manisnya istriku." dalam hati Alan.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Kamu tahu, seharian tadi banyak yang tertarik dengan hasil karya kamu." ucap Alan sebelum menghidupkan mesin mobilnya.


Sepersekian detik kemudian Sintia pun paham dengan maksud ucapan suaminya, wajah Sintia mulai terlihat merona.


Alan nampak menahan senyum ketika melihat istrinya hanya diam saja dengan semburat merah di wajahnya.


Tidak ingin semakin membuat istrinya merasa malu, Alan lantas mengalihkan pembicaraan.


"Tadi saya mampir ke rumah mama, dan mama meminta kita menginap di rumah mama malam ini, kebetulan malam ini Ratu dan suaminya menginap juga di rumah mama." Alan menyampaikan pesan dari mamanya pada Sintia.


"Boleh, kebetulan aku juga merindukan mereka." Seketika senyum terbit di bibir Alan, ia tidak menyangka istrinya begitu antusias ketika ingin menginap di rumah orang tuanya.


"Sekarang mau langsung ke rumah mama atau ke rumah dulu??." tanya sintia.


"Terserah kamu saja istriku sayang." ucapan Alan yang memanggilnya dengan sebutan sayang terdengar begitu manis di telinga Sintia, hingga wanita itu dibuat salah tingkah jadinya.


Sore itu Sintia memutuskan untuk langsung menuju kediaman mertuanya, namun sebelumnya ia menelepon ke rumah untuk menyampaikan jika malam ini Meraka akan menginap di rumah orang tua Alan.


Tiga puluh menit berkutat di jalanan, kini mobil Alan tiba di rumah orang tuanya. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh mama Rani, sementara papa Sofyan belum kembali dari proyek.


Tidak berbeda jauh dengan ibunya, Ratu pun tak kalah antusiasnya menyambut kedatangan kakak iparnya itu. Bukan karena kepalang rindu, namun tak sabar untuk menggoda Sintia si pengantin baru.


"Hai ....Sintia." melihat Ratu yang baru saja keluar dari dalam, Sintia yang baru saja melerai pelukannya bersama ibu mertuanya lantas beralih memeluk adik iparnya itu untuk sejenak.


"Hai."


Melihat Sintia masih mengenakan pakaian kerjanya, Ratu akhirnya mengurungkan niatnya untuk menggoda kakak iparnya itu dan membiarkan Sintia lebih dulu membersihkan tubuhnya di kamar Alan.


Namun bukannya langsung menuju ke kamar Alan, Sintia justru memilih menyusul mama Rani di dapur.


"Mama masak apa??? apa ada yang bisa Sintia bantu??."


Mama Rani yang tengah berkutat dengan spatula lantas menoleh ketika mendengar suara menantunya itu.


"Mama sedang memasak untuk makan malam. Tapi, kamu baru saja pulang kerja, sebaiknya kamu mandi dan istirahat sebentar kamu pasti lelah seharian bekerja." tutur Mama Rani.


"Tidak kok mah, Sintia tidak lelah Sama sekali lagi pula tadi pasien tidak begitu banyak." tidak ingin mengecewakan menantunya, akhirnya mama Rani pun tak mempermasalahkan Sintia membantunya di dapur.


"Mama sengaja memasak udang asam manis karena itu makanan kesukaan suami kamu." beritahu mama Rani, sedangkan Sintia tampak mengangguk paham.


Mama Rani di buat kagum dengan kepandaian Sintia dalam memasak, ia tidak menyangka putri dari seorang konglomerat ternyata bisa memasak. Sebelumnya, mama Rani berpikir Sintia adalah anak yang manja karena berasal dari keluarga berada, namun ternyata dugaannya salah.


"Mama jadi terharu, ini pertama kalinya ada yang menemani mama memasak selain Ratu." ucap mama Rani.


Pengakuan mama Rani membuat Sintia jadi penasaran, kemudian melontarkan pertanyaan yang membuat mama Rani tergelak mendengarnya.


"Memangnya selama ini pacarnya mas Alan sebelumnya tidak pernah membantu mama memasak." melihat mama Rani tergelak, ingin rasanya sintia menepuk mulutnya yang Asal bicara itu.


"Pacar dari mana, bahkan sejak belum menikah sampai dengan hari ini suami kamu itu tidak punya teman wanita." jawaban mama Rani membuat Sintia tertegun mendengarnya.


"Jadi sebelumnya bang Alan sama sekali belum pernah pacaran??." entah yang kini di rasakan Sintia, yang jelas hatinya merasa berbunga bunga setelah mengetahui jika ternyata ia wanita pertama bagi Alan, begitu pun sebaliknya. Meskipun ia pernah menaruh hati pada Toni, namun mereka tak pernah menjalin hubungan selain pertemanan.


Selesai membantu mama Rani memasak, Sintia pun beranjak menuju kamar suaminya.


Ceklek.


Ketika membuka pintu kamar, Sintia langsung di suguhkan pemandangan Suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Alan hanya mengenakan sebuah handuk yang dililitkan pada pinggangnya, dan itu membuatnya terlihat seksi, apalagi sisa air di rambutnya yang jatuh mengenai bahu tegapnya semakin menambah kesan seksi pada pria itu.


"Oh astaga.... suamiku nyaris sempurna." batin Sintia, bahkan saking fokus dengan lamunannya Sintia sampai tak sadar jika kini Alan sudah berdiri di hadapannya.


Cup


Kecupan di bi_birnya menyadarkan Sintia dari lamunannya.


"Eh...." Sintia terkesiap sekaligus terkejut.


"Sebaiknya kamu segera mandi, tidak baik mandi terlalu malam nanti masuk angin, sayang!!." ucap Alan yang kini berlalu menuju ruang ganti.


"Hemt." Sintia pun meraih bathing suit kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.


Sintia yang kini telah berada di kamar mandi lantas menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya, hingga kini menyisakan tubuh polosnya.


Baru beberapa saat menikmati kucuran air di bawah shower Sintia sudah di kejutkan dengan tangan kekar yang melingkar di perutnya.


"Bang Alan?." kedua bola mata sintia melebar sempurna setelah menyadari keberadaan suaminya. Bagaimana tidak, tadi sebelum masuk ke kamar mandi ia melihat Alan berlalu memasuki ruang ganti, lalu kenapa kini pria itu tiba-tiba sudah berada bersamanya di kamar mandi.


Bukannya menjawab, Alan yang kini sama polosnya dengan Sintia membalikkan tubuh sang istri menghadap ke arahnya. Keduanya berada di bawah kucuran air shower.


"Aghhhh....." erangan Sintia mulai terdengar ketika Alan mulai men_ciumnya serta memainkan salah satu aset berharga miliknya, dan itu semakin membuat Alan bersemangat melakukan kegiatannya.


Kali ini Alan kembali mengulang kegiatan panas Mereka di bathtub, dan itu berlangsung cukup lama dan juga menguras tenaga Sintia.


"Thank you, sayang." diakhir kegiatannya, Alan mengecup lembut kening Sintia, sebelum kemudian menggendong tubuh istrinya ke arah Shower.


Beberapa saat kemudian, baik Sintia dan juga Alan telah berlalu meninggalkan kamar mandi.


"Jika setiap hari seperti ini, bisa bisa aku masuk angin karena ulah bang Alan." omel Sintia, merasa badannya seperti mau remuk semua karena kelelahan mengimbangi permainan suaminya.


***


Setelah usai makan malam bersama, Alan, ayahnya dan juga Toni memilih mengobrol di teras depan, sementara Ratu sendiri kini mengajak kakak iparnya untuk mengobrol santai di ruang tengah.


Di tengah obrolan mereka, tiba tiba Ratu melontarkan pertanyaan yang membuat wajah Sintia jadi Merona dibuatnya.


"Apa kalian sudah_" Ratu memperagakan gerakan kedua tangannya yang saling beradu.


"Maaf, jika abangku belum bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang suami, mungkin karena dia belum pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita sebelum menikah denganmu. Jadi dia tidak_" ucapan Ratu melayang begitu saja ketika Sintia sudah terdengar menyela.


"Belum apanya, Abang kamu itu bahkan hampir membuat aku tidak bisa berjalan, saat ini saja badanku rasanya mau remuk semua.". Sanggah Sintia menepis dugaan Ratu.


Sontak saja Ratu melebarkan senyumnya mendengar jawaban polos dari kakak iparnya itu, sementara Sintia sendiri langsung tersadar jika Ratu sengaja ingin memancing dirinya saat melihat Ratu tersenyum lebar.


"Akhirnya kakak iparku mengaku juga." ucapan Ratu terdengar begitu menyebalkan di telinga Sintia.


"CK..." Sintia hanya dapat berdecak kesal dengan keisengan adik iparnya itu.