
Setelah kemarin libur kerja di habiskan Sintia seharian di kamar, hari ini ia kembali dengan rutinitasnya di rumah sakit.
Sebelum bertugas di poli, Sintia lebih dulu memeriksa kondisi pasien di kamar perawatan, beberapa pasien yang tengah di rawat pasca operasi.
Seperti biasa senyum ramah tak pernah di lupakan Sintia ketika berinteraksi dengan pasien maupun keluarga pasien.
"Selamat pagi." ucap Sintia ketika memasuki salah satu kamar perawatan VVIP.
"Selamat pagi, Dokter." sahut salah satu anggota keluarga yang menjaga pasien.
Setelah berbincang sebentar, Sintia pun memeriksa kondisi pasien.
"Kondisi jahitannya juga bagus, kondisi organ organ vital pasien juga dalam kondisi normal. Hari ini kami akan mulai melakukan observasi pada pasien, jika besok kondisi pasien semakin membaik tanpa bantuan infus maka besok pasien sudah di perbolehkan untuk pulang." jelas Sintia setelah melakukan pemeriksaan.
Setelahnya, Sintia pun pamit untuk melanjutkan tugasnya ke kamar perawatan lainnya.
Di sela langkahnya melintas di koridor rumah sakit menuju kamar perawatan lainnya, Sintia tampak merogoh kantong jas putihnya untuk meraih ponselnya yang baru saja mendapat notifikasi pesan baru.
"Papa." lirih Sintia ketika melihat nama pengirim pesan di ponselnya. Cukup lama Sintia menatap pada layar ponselnya, sebelum kemudian membuka pesan yang baru saja di kirimkan oleh ayahnya.
"Seperti pesan papa kemarin, sebaiknya kamu meluangkan sedikit waktu di sela kesibukan kamu, untuk mencari pendamping hidup!! usia kamu sudah memasuki dua puluh lima tahun, tidak baik seorang wanita terlalu lama menunda untuk menikah, Sintia!!." ucap Sintia dalam hati ketika membaca pesan dari ayahnya.
Dengan wajah malasnya Sintia mencebikkan bibirnya sebelum kemudian mengetik sebuah pesan singkat untuk membalas pesan dari ayahnya.
"Maaf, sepertinya aku tidak punya waktu untuk urusan tidak penting seperti itu." setelah selesai mengetik Sintia pun mengirim balasan pesan untuk ayahnya.
Baru saja hendak kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya notifikasi pesan kembali bergetar.
"Jika kamu tidak punya waktu, papa bisa membantu kamu untuk mencarikannya."
Pesan kedua yang baru saja dikirimkan oleh ayahnya sontak saja membuat Sintia mendengus kesal usai membacanya.
"Terserah." ketik Sintia sebelum kemudian menekan tombol kirim di ponselnya. Sejujurnya Sintia tidak serius dengan isi pesan yang baru saja ia kirimkan untuk ayahnya, akan tetapi untuk menghemat waktu sekiranya pesan itu bisa membuat ayahnya tak lagi mengganggu dirinya yang kini tengah sibuk bekerja.
Sintia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya ketika mendengar seruan dari seorang perawat yang ikut dengannya sudah cukup jauh melangkah meninggalkan dirinya.
***
"Pak Alan, Pimpinan meminta anda untuk datang ke ruangannya!!.". Pak Hendro yang baru saja tiba di ruang kerja Alan lantas menyampaikan pesan dari pimpinan kepada Alan.
"Baik pak." Alan menutup laptopnya lalu bangkit dari kursinya.
Alan berjalan meninggalkan ruangannya hendak menuju ruangan pimpinan yang masih berada di lantai yang sama dengan ruangan kerjanya.
Tok.
Tok.
Tok.
Alan mengetuk pintu, setelah mendapat sahutan dari dalam, ia lantas membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan.
"Duduklah!!!." pemimpin sekaligus pemilik perusahaan mempersilahkan Alan untuk duduk di kursi di hadapan mejanya.
"Saya ingin membahas tentang perusahaan ini dengan anda." penuturan pimpinannya mampu membuat kedua alis Alan saling bertaut bingung.
"Apa maksud anda, tuan??." tidak ingin menerka nerka, Alan lantas melontarkan pertanyaan pada pria dihadapannya itu.
"Kemungkinan besar saya akan kembali lagi ke luar negeri dan saya ingin perusahaan ini di pimpin oleh orang yang tepat, dan menurut saya orang itu adalah Anda."
Jujur saja, Alan sangat terkejut dengan permintaan dari pemilik perusahaan tersebut.
"Saya ingin mengangkat anda menjadi CEO di perusahaan ini, saya yakin anda mampu mengembangkan perusahaan ini dengan kemampuan yang anda miliki." lanjutnya.
"Maaf tuan, sepertinya anda telah salah menilai, saya masih sangat jauh dari apa yang anda pikirkan. Saya hanya seorang pegawai biasa sama seperti yang lainnya, saya rasa anda terlalu berlebihan jika memberikan posisi CEO kepada saya." sahut Alan, tegas menolak tawaran dari pimpinan perusahaan.
"Saya sudah puluhan tahun terjun di dunia bisnis dan saya bisa melihat potensi yang luar biasa pada diri anda, pak Alan. Saya tidak memaksa anda untuk menjawabnya sekarang, pikirkan saja dulu tentang tawaran saya ini, Jika anda sudah mengambil keputusan maka beritahu saya !!! Tetapi besar harapan saya, anda bisa menerima tawaran saya ini, karena anak saya perempuan sangat tidak fer jika saya memberikan beban perusahaan padanya. Lagi pula besik putriku bukan di bidang bisnis, dia seorang gadis yang menurut saya hebat di bidangnya. Putri saya seorang dokter." Pandangan pria itu jauh menerawang, seketika senyum terbit di wajahnya ketika teringat wajah cantik putrinya.
Menurut pandangan Alan, pria itu sangat menyayangi putrinya, terbukti bagaimana pria itu ketika menceritakan sosok putrinya.
Di tengah percakapan keduanya, tiba tiba saja pimpinan memegang dada kirinya. dari wajahnya nampak jelas jika pria itu tengah menahan rasa sakit.
"Ada apa, tuan???." tanya Alan dengan wajah berubah cemas.
"Tidak apa apa." jawabnya seraya mengulas senyum, seolah ingin mengatakan jika ia baik baik saja. Namun apa daya mulutnya tidak sesuai dengan kenyataan, rasa sakit pada dada kirinya akhirnya membuatnya kembali meringis akibat menahan rasa sakit.
Hampir tak kuasa menahan rasa sakit pada dada kirinya, pria paru baya tersebut lantas membuka laci mejanya untuk mengambil sebuah botol yang berisikan obatnya.
Sementara Alan yang melihat pimpinannya itu memasukkan obat ke dalam mulutnya sontak saja menyerahkan segelas air padanya.
"Ini airnya, tuan." pria itu lantas menerima segelas air putih lalu meminum obatnya.
Cukup lama suasana di ruangan itu terasa hening, sampai kemudian pimpinan kembali bersuara saat merasa rasa sakit di dada kirinya mulai berkurang.
Namun sebelum mulai bercerita, Pria itu nampak mengulas senyum. Dari senyumannya justru tersirat kesedihan yang mendalam dan itu terlihat jelas oleh Alan.
"Sudah tiga tahun terakhir saya di vonis oleh dokter menderita penyakit jantung." beritahu pimpinan dan sontak saja pengakuan tersebut membuat Alan cukup terkejut.
"Kamu orang pertama yang mengetahui penyakit yang saya derita setelah dokter." lanjutnya dan hal itu membuat satu pertanyaan lolos begitu saja dari mulut Alan tanpa di sadari olehnya.
"Bagaimana dengan putri anda, apakah Putri anda tidak mengetahui kondisi anda??." tanya Alan dan sontak saja pria paru baya tersebut menggeleng pelan.
"Saya sengaja menyembunyikan semua ini darinya, saya tidak ingin dia bersedih setelah mengetahui kondisi kesehatan saya." Alan tampak menggeleng pelan, seakan tak percaya dengan keputusan pimpinan yang menyembunyikan hal sebesar itu dari putrinya sendiri.
"Dan saya juga minta pada anda, pak Alan, Tolong jangan mengatakan pada siapapun tentang apa yang baru saja anda lihat dan anda dengar !!." pesannya dan Alan pun terpaksa mengangguk setuju, meski hatinya rasanya tak seirama dengan jawabannya.
Untuk mendukung karya recehku, jangan lupa like, koment, vote and give ya sayang sayangku...... Setiap jejak yang kalian tinggalkan pasti aku baca dengan segenap jiwa dan raga 😅😅....
Dan jangan lupa untuk meluangkan waktu menikmati karya recehku yang lainnya.... thank you all......🙏🙏🙏🙏