Trust Me Please.

Trust Me Please.
Jatuh pingsan.



Keesokan harinya Ratu dan juga Sintia Turut mengantarkan Rahma hingga ke bandara. Suasana sendu begitu terasa di tengah perpisahan mereka. Sejujurnya Rahma sudah merasa nyaman tinggal di kota itu namun tanggung jawabnya sebagai seorang istri mengharuskan Rahma ikut kembali ke ibukota bersama sang suami.


"Kalian harus janji!! Jika aku melahirkan anak anakku nanti kalian harus datang untuk menjengukku!!." Di balik senyum yang terukir di wajah cantiknya tersimpan kesedihan ketika hendak berpisah dengan kedua sahabatnya, Ratu dan juga Sintia.


"Kami janji.". sahut Ratu dan Juga Sintia hampir bersamaan, sebelum kemudian ketiganya saling berpelukan sebelum Rahma hendak memasuki terminal keberangkatan.


Sintia menatap kepergian Rahma dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Terima kasih atas semuanya, selama mengenal dirimu banyak mengajarkan aku hal baru. thank you, Ra, sudah menerima aku sebagai sahabatmu." batin Sintia, saat menatap punggung Rahma dan juga sang suami yang kini hampir tak lagi terlihat oleh pandangannya.


Usapan Ratu di punggungnya seakan menyadarkan Sintia dari lamunannya tentang sosok Rahma.


Sintia menoleh pada Ratu.


"Rahma memang sangat baik, siapapun yang berteman dengannya pasti akan merasa beruntung karena bisa memiliki seorang teman sebaik dirinya." Sintia nampak mengangguk mengiyakan ucapan Ratu.


"Belum sehari saja aku sudah merindukannya." ungkap Sintia tulus.


"Sudah, jangan cengeng !!! Kalau sampai bang Alan melihat kamu menangis seperti ini, dia pasti akan menghukumku karena berpikir aku telah membuat istri tercintanya sampai bersedih seperti ini." candaan Ratu membuat Sintia mengulum senyum sambil menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak, di dalam suasana seperti ini adik iparnya itu masih sempat sempatnya melontarkan kalimat candaan seperti itu.


Setelah menyaksikan pesawat yang ditumpangi Rahma dan juga Riko telah bertolak meninggalkan bandara mutiara palu, kini Ratu dan sintia pun beranjak meninggalkan bandara. Namun baru beberapa langkah, tiba tiba Sintia merasa kepalanya terasa sangat pusing, rasanya bumi berputar hingga beberapa detik kemudian Sintia pun tak sadarkan diri.


Untungnya Ratu yang berjalan beriringan dengannya sempat menopang tubuh Sintia hingga tak langsung membentur lantai.


"Oh astaga.... Sintia...Sintia bangun... Sintia....!!!." para pengunjung bandara yang saat itu turut menyaksikan hal itu lantas membantu Ratu untuk membawa tubuh sintia ke dalam mobil Ratu. dengan perasaan panik, Ratu mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


Dari pantulan spion di depannya, Ratu menyaksikan tubuh sintia yang tergolek tak sadarkan diri di jok belakang, untungnya ada seorang wanita yang berbaik hati bersedia menemani mereka menuju rumah sakit.


"Kalau bang Alan sampai tahu kamu jadi seperti ini ketika bersamaku, bisa bisa bang Alan benar benar memecatku sebagai adik." saking paniknya, Ratu sampai menggerutu tak jelas, dan itu membuat wanita yang kini memangku Kepala Sintia Nampak mengulum senyum di bibirnya.


Dua puluh menit kemudian mobil Ratu pun tiba di salah satu puskesmas setempat, dengan gerakan cepat Ratu meminta bantuan pada petugas puskesmas untuk membantu membawa tubuh sintia yang masih belum sadarkan diri.


Di depan ruangan pemeriksaan, Ratu nampak mondar mandir karena panik setelah menghubungi Alan untuk menyampaikan tentang kejadian yang menimpa istri tercintanya.


Awalnya Ratu ragu untuk menyampaikan tentang kabar pingsannya Sintia pada Alan, akan tetapi setelah menimbang nimbang akhirnya Ratu pun memutuskan menghubungi Alan.


Tak berselang lama, Ratu menyaksikan kakak laki-lakinya yang nampak cemas tersebut kini berjalan ke arahnya.


"Di mana Sintia??." pertanyaan pertama yang dilontarkan Alan ketika tiba di hadapan Ratu.


Merasa lidahnya seakan kelu ketika berhadapan dengan kakaknya itu, Ratu lantas menunjuk dengan ekor matanya ke arah ruangan di mana Sintia tengah di mendapat penanganan oleh dokter.


"Bagaimana kondisi istri saya, dok??." tanya Alan pada dokter yang baru saja memeriksa kondisi Sintia.


"Tidak ada masalah yang serius tuan, mungkin istri anda terlalu kelelahan sehingga membuatnya sampai pingsan seperti ini. Jika dalam kondisi hamil muda seperti ini ibu hamil memang sangat mudah kelelahan dan bisa saja sampai jatuh pingsan." terang dokter.


"Hamil??." ulang Alan.


"Iya tuan, istri anda sedang hamil dan saat ini usia kandungannya telah memasuki lima Minggu." mendengar jawaban dari dokter tersebut tanpa sadar kedua bola mata Alan mulai berkaca-kaca. Dan secara bersamaan Sintia pun baru saja sadar.


Pertama kali membuka mata, Sintia memandang ke arah suaminya yang kini berdiri di tepi tempat tidurnya.


"Abang...." mendengar seruan istrinya sontak membuat Alan mengalihkan pandangannya pada Sintia.


"Kamu sudah sadar, sayang?? Apa yang sakit, sayang??."


"Kepalaku terasa sangat pusing sekali." tutur Sintia dengan wajah sayu.


Kini Alan merasa perasaannya bercampur aduk, antara sedih dan juga bahagia. Sedih karena harus melihat sang istri terbaring lemas seperti saat ini namun ia pun merasa bahagia karena ternyata saat ini sang istri tengah mengandung buah cinta mereka. Buah cinta yang telah di nanti nantikan oleh keduanya.


Cup.


"Maafkan Abang, sudah membuat kamu harus merasakan pusing seperti ini." mendengar hal itu sontak saja kedua alis Sintia saling bertaut karena bingung.


"Sebentar lagi kamu akan segera menjadi seorang mommy dan Abang akan menjadi seorang Daddy, sayang."


Cukup lama Sintia terdiam seakan mencerna kalimat yang baru saja di lontarkan Alan.


"Mommy...Daddy.... Apa maksud bang Alan saat ini aku sedang hamil???.".tanya Sintia, memastikan.


Alan pun mengangguk sebagai jawaban, sebelum kemudian memeluk tubuh istrinya itu.


"Terima kasih sayang, ini adalah hadiah terindah dari Tuhan tepat di hari ulang tahun Abang." kata Alan dengan sudut mata yang mulai basah.


"Happy birthday suamiku.... happy birthday Daddy dari calon anakku. semoga ke depannya Abang semakin sukses dalam karirnya dan kelak menjadi Daddy yang baik untuk anak anak kita." ucap Sintia


"Terima kasih sayang untuk ucapan serta hadiahnya hari ini, menjadikan mu sebagai istri serta calon mommy dari anak anak kita adalah hal yang paling Abang syukuri dalam hidup ini." jawaban Alan semakin membuat Sintia merasa begitu diistimewakan oleh sang suami. Wanita mana yang tidak merasa bahagia diperlakukan dengan sangat baik oleh sang suami, sepertinya hal itu pula yang kini dirasakan Sintia. Bisa mengandung seorang anak dari pria sebaik Alan adalah satu kebahagiaan serta keberuntungan tersendiri bagi sintia.


Di saat begitu banyak wanita yang tergila-gila dengan ketampanan Seorang Alan putra Sofyan, ternyata pria itu menjatuhkan pilihan hatinya pada dirinya. Seperti kata pepatah habis gelap terbitlah terang, sepertinya pepatah itu pantas di sematkan di dalam kehidupan seorang sintia. Kesedihannya setelah kehilangan sosok ibu serta kakeknya kini di gantikan tuhan dengan kehadiran seorang Suami setampan dan sebaik Alan.