
Setelah cukup puas mengungkapkan kerinduannya terhadap sang istri lewat sambungan video call, kini Riko telah mematikan panggilannya mengingat waktu semakin larut dan ia tidak ingin sampai Rahma bergadang karenanya.
Mungkin karena kelelahan, Riko pun terlelap usai membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Keesokan harinya.
Mendatangi Perusahaan Putra Adipura Sanjaya group merupakan tujuan utama Riko hari ini. dengan sekertaris Danu yang selalu setia menemani, Riko beranjak menuju Putra Adipura group, perusahaan milik sahabatnya, Hantara.
"Kapan kau tiba di jakarta??." tanya Hantara ketika menyadari kedatangan Riko secara tiba-tiba di perusahaannya.
"Aku membutuhkan bantuanmu." ujar Riko to the point tanpa peduli pertanyaan Hantara tentang kedatangannya.
Lidah Hantara terdengar berdecak mendengarnya.
"Memangnya bantuan seperti apa yang kau butuhkan dariku??." Hantara lantas bertanya ketika menyaksikan raut wajah Riko terlihat serius.
Bukannya menjawab, Riko justru meletakkan amplop coklat yang berisikan bukti hasil pemeriksaan DNA dirinya dan seorang anak laki-laki ke atas meja kerja Hantara.
"Apa ini??." tanya Hantara dengan wajah bingung. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Riko, Hantara pun memilih membuka amplop tersebut.
"Sejak kapan kau memiliki seorang anak??." Hantara yang terkejut setelah membaca goresan tinta yang tertera di kertas tersebut lantas bertanya pada Riko.
"Aku tidak pernah menyentuh wanita manapun selain istriku dan saat ini istriku belum melahirkan lantas bagaimana mungkin aku bisa memiliki seorang Putra." jawab Riko ambigu sehingga membuat kedua alis Hantara nampak bertaut, mencoba mencerna maksud dari ucapan Riko.
"Jadi maksudmu hasil pemeriksaan DNA ini sengaja di palsukan??." tebak Hantara beberapa saat kemudian setelah berhasil mencerna maksud ucapan Riko, dan Riko pun mengangguk sebagai jawaban.
Pandangan Hantara kembali beralih pada kertas yang kini berada di tangannya.
Paham dengan bantuan seperti apa yang saat ini di butuhkan Riko, Hantara pun meraih ponselnya kemudian menghubungi seseorang. Cukup lama Hantara berbicara lewat sambungan telepon dengan seseorang di seberang sana, sampai akhirnya Hantara pun mengakhiri panggilan, lalu beralih pada Riko.
"Jangan cemas !! Aku akan mengurus semua ini." ujar Hantara kepada Riko dan Riko pun berterima kasih untuk itu.
"Sepertinya kau sudah terlalu baik pada Mona sehingga dia tidak jerah untuk terus berusaha mengganggu ketenanganmu." kembali ujar Hantara kala teringat akan keputusan Riko beberapa bulan yang lalu, di mana sahabatnya itu memutuskan untuk memaafkan kesalahan Mona yang dulu pernah menjebak Rahma bersama Atala di sebuah kamar hotel.
"Saat itu aku mendengar kabar jika Mona harus berjuang membesarkan putranya, maka dari itu aku memutuskan untuk memberi kesempatan padanya dengan harapan ia tidak akan kembali mengulang perbuatan yang sama, tetapi sepertinya Mona tidak jerah dan masih saja melakukan tindakan yang akan merugikan dirinya sendiri." sahut Riko dan Hantara dapat mengerti akan hal itu.
"Tetapi aku tidak menyangka Mona justru membalasnya dengan melakukan semua ini padaku." lanjut tutur Riko, tidak habis pikir di dunia ini ada manusia yang bersifat seperti mantan kekasih itu. Ibarat pepatah melepaskan anjing terjepit begitu terlepas malah menggigit.
"Oh tuhan, kegilaan apa lagi yang dibuat wanita itu." gumam Riko dengan wajah merah padam menahan emosinya. Melihat wajah Riko yang kini berubah merah padam membuat perhatian Hantara turut beralih pada ponsel Sekretaris Danu.
"Sepertinya kali ini kau harus bertindak tegas padanya, jika tidak kau bisa kembali kehilangan istri dan calon anakmu karena ulah mantan kekasihmu itu!!!." komentar Hantara setelah melihat layar ponsel Sekretaris Danu.
***
Di belahan kota yang berbeda, Rahma tengah asyik membuka akun sosial media miliknya.
Tak sengaja ia melihat ada sebuah akun sosial media yang sengaja men-tag akun sosial media milik suaminya. merasa penasaran, Rahma pun mencoba membuka profil pemilik akun sosial media tersebut.
"Mis you Daddy." Rahma berucap dalam hati ketika membaca caption yang memposting Foto seorang anak laki-laki berusia satu tahunan dan itu baru saja di unggah sepuluh menit yang lalu, oleh sebuah akun sosial media yang bernama Monalisa dan yang membuat jantung Rahma seakan berhenti berdetak yakni, akun tersebut dengan sengaja men-tag nama akun sosial media milik suaminya, Riko.
"Apa benar anak yang ada di dalam foto ini adalah anaknya mas Riko bersama mantan kekasihnya dulu??."
"Kamu jahat mas, kamu telah berbohong padaku. kamu mengatakan bahwa aku adalah wanita pertama bagimu tetapi kenyataannya kamu memiliki seorang anak dengan mantan kekasihmu, mas." air mata Rahma mengalir semakin deras sehingga kini wajah cantiknya telah dihujani air mata.
Tanpa sepengetahuan Rahma, jauh di sana Riko tiba tiba kepikiran akan dirinya.
Riko yang baru saja meninggalkan perusahaan milik Hantara mencoba untuk menghubungi Rahma. Bukan tanpa alasan, ketika memposting foto di akun sosial media miliknya, Mona sengaja men-tag akun sosial media miliknya. Dan tidak menutup kemungkinan saat ini Rahma telah melihatnya.
Sudah beberapa kali melakukan panggilan ke ponsel Rahma namun sayangnya panggilannya tak kunjung tersambung.
Riko semakin dibuat tak tenang ketika Rahma tak kunjung menerima panggilan darinya. Namun beberapa saat kemudian notifikasi pesan masuk ke ponsel Riko dan ternyata pesan tersebut berasal dari istrinya.
"Sebagai lelaki sejati seharusnya mas bertanggung jawab atas akibat dari sesuatu yang pernah mas lakukan, bukannya justru menelantarkannya begitu saja!!!." dari bunyi pesan yang baru saja di kirimkan Rahma padanya, Riko bisa menyimpulkan jika saat ini istrinya itu telah melihat postingan Mona di akun sosial media miliknya.
Setelah membacanya Riko kembali menghubungi Rahma dengan niat dan tujuan ingin menjelaskan yang sebenarnya, tapi sepertinya di seberang sana Rahma urung menerima panggilan darinya.
"Arrrggghhh." Riko terdengar mengerang emosi ketika panggilannya tak kunjung tersambung. Riko mengerang emosi mengingat tindakan Mona.
***
"Terpaksa aku harus melakukan semua ini, karena dengan cara baik baik kamu tidak bisa menerima kehadiran putraku, Ko." seraya memandang layar ponselnya, Mona terlihat bergumam dengan seringai di sudut bibirnya.