
Di sela kesibukannya meninjau lokasi proyek yang sedang berjalan, Riko menyempatkan waktu untuk menghubungi seseorang melalui sambungan telepon.
Baru dua kali deringan, panggilan Riko telah tersambung dengan seseorang di seberang sana.
Entah apa yang tengah dibicarakan Riko dengan seseorang yang ada di seberang telepon, yang jelas saat ini Riko terlihat menghela napas lega. Sebelum kemudian mengakhiri panggilannya dan kembali bergabung bersama Kumala dan juga Tuan Sofyan.
"Maaf sudah membuat anda menunggu, pak Sofyan." tutur Riko dan tentu saja tuan Sofyan tidak mempermasalahkannya sama sekali.
"Tidak masalah, tuan Riko."
Kini Riko kembali fokus pada pembahasan mereka tadi.
"Pak, saya ingin waktu pengerjaan proyek ini berjalan sesuai dengan rencana awal dan saya juga ingin bahan bangunan yang di gunakan harus sesuai dengan anggaran yang telah disediakan. Saya tidak ingin sampai ada yang dengan sengaja memanipulasi anggaran proyek, yang nantinya akan merugikan perusahaan saya!!." pesan Riko dengan pelan mengingat pak Sofyan seusia dengan ayahnya, namun dari setiap perkataan Riko tersirat ketegasan.
"Baik tuan." jawab pak Sofyan yang tak lain adalah ayah kandung Ratu. Sebagai pria yang berpegang teguh pada kejujuran tentunya tidak sulit bagi pak Sofyan untuk mewujudkan keinginan Riko.
Setelahnya Riko pun mengulurkan tangannya pada pak Sofyan untuk berjabat tangan sebelum kemudian pamit meninggalkan lokasi proyek.
Kini baik Kumala dan Riko berjalan menuju mobil mereka berada. Seperti biasa Kumala selalu menumpangi mobil yang berbeda dengan atasannya tersebut.
Di sela langkahnya menuju mobilnya berada, Riko menoleh pada Kumala yang kini berjalan di belakang langkahnya.
"Ada apa tuan?? Apa ada yang ketinggalan??." tebak Kumala ketika menyadari pergerakan Riko.
"Tidak, saya hanya ingin kamu menyiapkan satu unit rumah sebagai hadiah pernikahan untuk putrinya pak Sofyan!!." titah Riko dan Kumala pun mengiyakannya. sebelum Riko kembali melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.
Setelah menyambangi lokasi proyek rencananya Riko akan menjemput Damar di bandara. meski awalnya Riko menolak kehadiran sahabatnya itu karena merasa Damar hanya akan menganggu waktu kebersamaannya dengan sang istri, namun begitu Riko pun tidak sampai hati melakukannya. Hingga kini Riko tampak melajukan mobilnya menuju Bandara.
***
"Katakan, apa yang menyebabkan kau sampai datang ke sini ??." tanya Riko pada Damar tanpa basa basi ketika Mereka telah berada di mobil meninggalkan bandara.
Damar mendecakkan bibirnya mendengar pertanyaan to the point dari sahabatnya itu.
"Tidak bisakah kau mengajakku makan dulu kemudian memesankan aku kamar hotel, baru kau bertanya seperti itu???." protes Damar yang tujuannya datang ke kota tersebut untuk sedikit merefresh otaknya yang sudah seperti mau pecah akibat berbagai macam permasalahannya di ibu kota.
"CK...." kini Giliran Riko yang terdengar berdecak akibat Mendengar begitu banyak permintaan Damar.
"Untung kau ini sahabatku jika tidak sudah ku buang tubuhmu ke sungai." Damar dibuat bergidik ngeri mendengar ancaman Riko yang sebenarnya tidaklah serius, namun kebetulan mobil yang di kendarai Riko tengah melintas di jembatan yang aliran sungainya cukup deras.
"Dasar sahabat Gila." umpat Damar.
Kini mobil Riko tiba di salah satu hotel yang cukup ternama di kota itu. Setelah melakukan cek in Riko pun mengantarkan Damar hingga ke depan unit kamar hotel.
"Kau bisa meminta pihak hotel untuk membawakan makanan, setelahnya Istirahatlah....!!! malam nanti aku akan ke sini untuk menjemputmu. berhubung kamar di rumah kami hanya ada dua dan saat ini sedang di tempati oleh mertuaku maka malam nanti aku akan mengantarmu ke sebuah Vila. di mana kau akan menginap bersama dengan beberapa orang tim dari perusahaankum." tutur Riko dan Damar pun akhirnya mengangguk tak ikhlas.
"Dasar sahabat laknat.... Bilang saja kau tidak ingin kebersamaanmu dengan istrimu sampai terganggu dengan keberadaan ku." umpat Damar dengan nada mencibir kesal ketika menyaksikan punggung Riko hampir tak lagi terlihat.
Merasa otak dan tubuhnya sudah meminta di istirahatkan, Damar pun lantas masuk ke dalam kamar hotel.
***
Siang itu Toni tampak menunggu Ratu di area basemen rumah sakit. Rencananya ia akan mengajak Ratu untuk makan siang di luar sekaligus untuk mengecek langsung kondisi hotel yang akan mereka gunakan sebagai tempat untuk menggelar resepsi pernikahan nanti.
"Maaf sudah membuat kak Toni menunggu." Tutur Ratu merasa sungkan.
"Tidak masalah." jawab Toni sebelum kemudian mulai menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan menginjak pedal gas. Kini mobil Toni telah meninggalkan area rumah sakit, membela jalanan yang tidak terlalu padat, mungkin karena sebagian besar penggunanya masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Untuk mempersingkat waktu karena mereka hanya menggunakan waktu makan siang saja, Toni lebih dulu melajukan mobilnya menuju sebuah hotel, setelah itu barulah mereka akan mampir untuk makan siang.
Di tengah perjalanan tiba tiba saja Toni teringat akan kejadian kemarin.
"Apa perut kamu masih sakit???." Sekilas Toni menatap Ratu.
"Alhamdulillah... sudah tidak sakit lagi." jawab Ratu seadanya.
"Syukurlah kalau begitu." mendengar jawaban Ratu membuat Toni lega mendengarnya.
Kurang lebih empat puluh lima menit kini mereka tiba di salah satu hotel ternama di kota tersebut, di mana Toni telah membookingnya guna lokasi resepsi pernikahan mereka.
Setibanya di hotel itu, seorang pria muda yang berprofesi sebagai manager hotel lantas mengajak mereka untuk melihat dan mengecek langsung kondisi ballroom hotel. Tak lupa Toni juga memesan beberapa kamar hotel untuk anggota keluarganya dan juga anggota keluarga Istrinya nanti untuk menginap. Jika untuk kamar yang akan di gunakan sebagai kamar pengantin, tentunya Toni telah memesan satu unit kamar dengan fasilitas president suite.
Jujur saja ketika melihat persiapan yang di lakukan sendiri oleh Toni, Ratu berpikir jika pria itu niat sekali untuk mempersiapkan pesta untuk pernikahan mereka. Padahal setahu Ratu, Toni tidak memiliki perasaan apapun padanya. namun begitu, sesuai dengan permintaan dari Toni yakni mari menjalani pernikahan layaknya pasangan suami istri pada umumnya, dengan begitu cinta pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Keraguan Ratu berangsur berkurang.
Setelah merasa cukup untuk pengecekan gedung hotel, kini Toni kembali melajukan mobilnya menuju sebuah restoran.
Karena jarak Antara hotel dan restoran tak begitu jauh, kurang dari lima belas menit mobil Toni pun tiba di pelataran restoran.
Toni sengaja memilih meja yang berada di sudut ruangan, mungkin agar tidak terlalu bising. Bukan tanpa alasan, sejak beberapa hari terakhir Toni telah berniat menanyakan sesuatu hal kepada Ratu.
Sembari menunggu pesanan tiba, Toni menatap Ratu dengan tatapan cukup dalam sehingga membuat Ratu jadi salah tingkah dibuatnya.
"Ada apa kak?? Kenapa kak Toni menatapku seperti itu??." tanya Ratu yang kini berusaha mengatur degup jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Bukankah sebentar lagi kita akan segera menikah. saya akan menjadi suami kamu dan kamu akan menjadi istri saya." penyataan Toni tersirat makna dan Ratu seakan paham, ada sesuatu yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pria itu.
"Apa saya boleh bertanya sesuatu padamu?? Dan saya juga ingin kamu menjawabnya dengan jujur." tutur Toni, pria itu bahkan telah menggenggam kedua tangan Ratu yang diletakkan di atas meja.
"Memangnya apa yang ingin kak Toni tanyakan???." tanya Ratu.
"Siapa sebenarnya pria yang telah membuatmu jatuh cinta?? Apa aku mengenalnya???." pertanyaan Toni membuat lidah Ratu terasa kelu tidak bisa menjawabnya.
Cukup lama suasana hening di antara keduanya, sampai Toni kembali bersuara.
"Baiklah, jika memang kamu tidak bisa mengatakannya, maka saya tidak akan memaksa." meskipun bibir pria itu mengukir senyum kala berujar namun dari sorot matanya terlihat jelas kekecewaan ketika melihat Ratu hanya diam saja.
"Bukan begitu kak, aku berjanji akan mengatakannya pada kak Toni, tapi tidak sekarang. Aku mohon kak, berikan aku waktu untuk itu." pinta Ratu dengan wajah berubah sendu.
Sementara Toni yang mendengarnya bisa sedikit mengurangi rasa kecewa yang kini di rasakannya, setidaknya masih ada harapan untuknya mengetahui siapa sebenarnya pria itu.
"Baiklah." jawab Toni seraya mengulas senyum tipis di wajah tampannya.
Percakapan kedua lantas berakhir ketika seorang pelayan tiba untuk membawa pesanan mereka.