
"Lelahnya." Sintia yang baru saja kembali dari kamar operasi tampak merenggangkan otot ototnya, setelah menjatuhkan bokongnya di kursi.
Belum juga hilang rasa lelahnya, kini wanita cantik itu harus kembali disibukkan dengan kegiatan yang sudah beberapa tahun terakhir di kerjakannya yakni mengejar gelar spesial bedah sesuai dengan permintaan dari almarhum kakeknya sebelum meninggal dulu.
Sintia memilih menuntut ilmu di salah satu universitas swasta di ibu kota, mengingat kegiatannya di rumah sakit di pagi hari maka dari itu ia memilih kuliah di fakultas kedokteran yang berkegiatan sore hingga malam hari.
Tidak mudah bagi Sintia yang bergelar Sp.PD beralih ke spesialis bedah, banyak tantangan yang harus di lewati oleh wanita itu. Tidak sedikit keringat bahkan air mata yang harus menetes karenanya.
Namun sepertinya usaha Sintia tidak sia sia, terbukti sebentar lagi ia akan segera mendapat gelar dokter spesialis bedah di usianya yang ke dua puluh lima tahun. Bahkan demi mendapatkan gelar tersebut Sintia harus mengorbankan masa mudanya dengan bersantai seperti kebanyakan gadis seusianya.
Melihat jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul setengah empat sore, Sintia lantas bersiap meninggalkan rumah sakit hendak menuju kampus.
Di sela langkahnya menuju basemen gedung rumah sakit, Sintia tiba tiba menghentikan langkahnya ketika melihat Ratu berdiri menghadang jalannya.
"Ada apa, dokter Ratu?? Apa saya sudah berbuat kesalahan pada anda??." tanya Sintia, berpikir jika kedatangan Ratu saat ini adalah karena ingin melabraknya.
Tanpa bicara Ratu memeluk tubuh Sintia tanpa peduli dengan pandangan wanita itu terhadap dirinya.
Sintia dibuat terkesiap dengan tindakan tiba tiba-tiba Ratu tersebut sehingga membuat tubuhnya hampir terhuyung ke belakang kalau saja ia tidak dengan sigap mempertahankan posisi tubuhnya.
"Ada apa ??." Sintia dibuat bingung. Namun sesaat kemudian Sintia akhirnya paham dengan tindakan Ratu.
"Terima kasih sudah banyak membantu dalam meyelamatkan nyawa sahabat saya." ungkap Ratu dengan perasaan yang tulus.
Sintia tersenyum mendengarnya.
"Tidak perlu berterima kasih, saya hanya melakukan sesuatu yang sudah seharusnya saya lakukan." jawaban Sintia membuat Ratu merasa lega. Ternyata wanita itu sudah benar-benar berubah, tak ada lagi tatapan tak bersahabat yang dulu sering kali di layangkan Sintia padanya.
Mengingat sebentar lagi ia ada jam kuliah, Sintia lantas pamit pada Ratu.
"Aku percaya kau wanita yang baik dan hebat. mungkin karena rasa cintamu pada kak Toni yang telah membuatmu sampai merasa kesal padaku dulu." gumam Ratu ketika menyaksikan kepergian Sintia.
***
Di salah satu kamar perawatan seorang wanita cantik dengan wajahnya yang terlihat sedikit pucat, tampak baru saja sadarkan diri.
Seorang perawat terlihat begitu telaten dalam merawat wanita tersebut mengingat pengakuan dari wanita itu ia tidak punya sanak saudara di kota itu.
Wanita itu tampak beberapa kali mengerjapkan matanya untuk mengusir sisa rasa pusing di kepalanya akibat reaksi dari tindakan anastesi.
"Semoga setelah ini aku tidak lagi dihantui perasaan bersalah padamu Rahma." gumam nya.
"Jika pun akhirnya aku tidak bisa bertahan setelah ini, aku tetap tidak ingin kalian sampai mengetahui jika sebenarnya aku yang telah menjadi pendonor untuknya." lanjut gumam wanita misterius tersebut, berandai-andai jika sampai kejadian tidak diinginkan sampai menimpa dirinya dikemudian hari.
Sudah dua jam usai operasi, namun belum juga ada tanda tanda Rahma akan segera siuman, dan itu membuat Riko kembali dibuat cemas.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu, Ko!! sudah beberapa hari bunda lihat kamu tidak tidur." tutur bunda Ening pada menantunya itu.
"Riko baik baik saja Bun, Riko akan tetap di sini sampai istri Riko sadar." di satu sisi bunda Ening sedih karena putrinya belum juga menunjukan tanda tanda akan siuman namun di sisi lain bunda Ening merasa bahagia karena anaknya mendapatkan cinta yang begitu besar dari sang suami.
"Istirahat lah .. mulut kamu mungkin bisa mengatakan baik baik saja, ko, tapi tidak dengan mata kamu." lanjut tutur bunda Ening yang melihat lingkaran hitam di bawah mata Riko.
"Riko bisa istirahat di sini Bun, jika Riko lelah." tutur Riko, ia tetap kekeuh ingin tetap berada di sisi Rahma, hingga wanita itu siuman.
"Baiklah jika memang kamu tetap ingin di sini, kalau begitu bunda akan menunggu di luar bersama ayah."
Akhirnya bunda Ening membiarkan Riko tetap menemani putrinya hingga sadarkan diri.
Pukul tiga dini hari, mungkin karena kelelahan Riko lantas memposisikan kepalanya di ranjang seraya terus menggenggam tangan Rahma.
Tepat pukul empat dini hari Riko yang tengah tertidur dapat merasakan pergerakan jemari Rahma yang kini berada di genggamannya.
"Kamu sudah sadar, sayang??.". Seketika senyum terbit di wajah Riko ketika melihat Rahma telah membuka matanya, meski dengan pergerakan yang masih terlihat lemah.
Menyadari itu, Riko lantas saja menekan tombol yang menghubungkan ke ruangan dokter dan perawat.
Tak berselang lama, seorang dokter yang bertugas malam ini serta beberapa orang perawat mendatangi ruangan ICU tempat Rahma di rawat pasca operasi.
Menyadari kedatangan dokter, Riko lantas memberi ruang bagi tenaga medis untuk memeriksa kondisi istrinya.
"Bagaimana kondisi istri dan juga janin yang ada di dalam kandungan istri saya, dokter??." tanya Riko setelah dokter selesai memeriksa kondisi pasien.
"Alhamdulillah....semua atas izin Tuhan, istri dan juga Janin yang ada di dalam kandungan istri anda dalam kondisi baik baik saja." jawaban dari dokter membuat Riko merasa lega mendengarnya.
Setelah memeriksa kondisi terkini Rahma, baik dokter maupun perawat pamit kembali ke ruangan staf dokter dan perawat.
Setelah kepergian Dokter, Riko mendaratkan kecupan lembut yang berdurasi cukup lama di kening Rahma. "Terima kasih sudah berjuang sampai dengan di titik ini, sayang." ungkap Riko setelah menyudahi kecupannya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih, mas. Terima kasih karena mas selalu ada bersamaku di dalam kondisi terberat sekalipun. terima kasih untuk semuanya suamiku, aku sangat mencintaimu, mas Riko."
Setelah melewati situasi dan kondisi berat ini, Rahma semakin yakin akan besarnya cinta Riko padanya. pria itu bahkan rela tidak tidur dengan nyenyak untuk menjaganya selama berada di rumah sakit.
Mendengar ungkapan hati Rahma lantas membuat Riko menyatukan keningnya dengan kening sang istri. "I love you more, Mega Rahmawati." ungkap Riko dengan perasaan bahagia, bisa kembali melihat senyuman tulus di wajah istrinya. Bukan lagi senyuman yang sengaja ditampilkan Rahma untuk menutupi kesedihannya seperti beberapa hari yang lalu.