
Dari dalam kamarnya, Sintia dapat mendengar sayup-sayup para saksi dan juga tamu undangan yang kompak mengucapkan kata.
Sah.
Sah.
Sah.
Setelah Alan mengucapkan ijab qobul dengan satu tarikan napas, dan itu artinya kini statusnya telah berubah menjadi nyonya Alan putra Sofyan.
"Selamat atas pernikahan anda, nona, selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah dan semoga pernikahan anda selalu dalam lindungan Tuhan." petugas MUA yang menemani Sintia di kamar itu memberikan ucapan selamat pada Sintia.
"Terima kasih." Jawab Sintia dengan seulas senyum yang terukir di bibirnya dan itu semakin menambah kecantikan di wajahnya.
"Pernikahan ibarat kapal yang tengah mengarungi lautan, akan ada terpaan ombak di dalamnya. Jangan pernah melompat jika kapal di terpa ombak, tetaplah bertahan sampai kapal yang anda tumpangi bersama suami melewati terjangan ombak bersama sama !!! Maaf Nona, jika sudah banyak bicara, sebagai sesama wanita saya hanya ingin berbagi petuah." kata petugas MUA tersebut pada Sintia.
"Tidak apa apa, terima kasih atas petuahnya, insya Allah saya akan selalu mengingatnya." sahut sintia yang justru merasa senang di perlakukan layaknya adik sendiri oleh wanita itu.
Perhatian keduanya pun beralih ke arah pintu kamar ketika mendengar suara pintu di buka dari arah luar. Ternyata mama Rani dan seorang wanita yang merupakan adik sepupu dari mama Rani yang datang menjemput Sintia untuk segera menemui suaminya di bawah.
"Masya Allah.... cantik sekali menantu mama." puji mama Rani ketika pertama kali melihat Menantunya itu yang nampak begitu cantik dengan balutan gaun pengantin.
"Selera keponakan aku memang tidak perlu diragukan lagi." puji tantenya Alan yang datang bersama dengan mama Rani, ia begitu takjub dengan gadis pilihan keponakannya itu.
Setelahnya, Sintia pun beranjak dari duduknya, dengan di apit oleh mama Rani dan juga tantenya Alan ia berlalu meninggalkan kamar pengantin untuk menemui pria yang kini telah berstatus sebagai suaminya.
Deg.
Jantung Alan berdebar tak menentu ketika melihat sosok wanita cantik yang kini di apit oleh dua orang wanita paru baya berjalan ke arahnya.
"Pilihan anak papa memang tak bisa di ragukan lagi." ucap papa Sofyan dengan nada yang terdengar begitu lirih sehingga hanya ia dan Alan saja yang dapat mendengarnya.
Setibanya di hadapan Alan, Sintia mengulurkan tangannya untuk menyalami pria yang telah sah menjadi suaminya tersebut. Untuk pertama kalinya insan berbeda jenis itu saling berpegangan tangan dan hal itu membuat perasaan Alan dan juga sintia bergetar tak karuan. Apalagi saat Alan mengecup kening Sintia untuk pertama kalinya sebagai pertanda kasih sayang seorang suami pada sang istri, setelah Sintia mencium punggung tangannya dengan khidmat.
Setelah menandatangani berkas untuk keperluan pernikahan, kini saatnya kedua mempelai menempati pelaminan bak raja dan ratu sehari.
Kedua bola mata Tuan Mardin yang kini tengah menatap putrinya dari jarak yang cukup jauh nampak mulai berkaca-kaca, pria itu benar benar terharu melihat putrinya telah bersanding dengan seorang pria. Seorang pria yang ia percaya dapat menjaga dan melindungi putrinya di kala ia tak lagi memiliki kesempatan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang ayah di dunia ini.
Begitu banyak rangakaian acara di pagi menjelang siang hari itu sehingga membuat Sintia mulai merasa pegal, mungkin karena terlalu lama duduk.
"Apa kamu lelah??." tanya Alan dengan nada yang terdengar begitu lembut ketika melihat Sintia beberapa kali Sintia memperbaikinya posisi duduknya.
"pinggangku sedikit pegal, mungkin terlalu lama duduk." jawab Sintia apa adanya.
"Apa mau saya memijatnya??." tawaran Alan yang menurutnya tidak masuk akal dilakukan apalagi di atas pelaminan, sontak saja membuat Sintia menggelengkan kepalanya.
Hampir semua prosesi telah berlangsung hingga kini tiba pemberian ucapan selamat pada kedua mempelai.
"Selamat atas pernikahan kalian." ucap Toni layaknya seorang teman pada Sintia.
"Terima kasih.".jawab Sintia dengan seulas senyum yang terukir di bibirnya.
Kini giliran Ratu yang memeluk tubuh wanita yang telah resmi menjadi Kakak iparnya itu.
"Terima kasih sudah sudi menjadi istri dari pria sedingin dan sekaku Abang ku ini, Sintia." ucapan Ratu sontak mendapat lirikan tajam dari Alan.
Sintia tersenyum mendengar candaan Ratu.
"Aku juga mau berterima kasih, Terima kasih karena sudah mau menjadi teman sekaligus adik iparku." jawab Sintia dengan tulus ketika ia dan Ratu berpelukan untuk sejenak.
Kini gurat wajah Ratu berubah serius, ketika ia hendak memberi ucapan selamat pada kakak laki-lakinya itu.
"Selamat atas pernikahan kalian, bang Alan, Ratu berdoa semoga kehidupan rumah tangga Abang berjalan sakinah, mawadah, warahmah." seraya menahan haru Ratu membawa tubuhnya ke dalam pelukan Alan.
"Terima kasih adik tengilku, Abang juga berharap rumah tangga kamu berjalan dengan baik dan kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kalian.". tutur Alan.
Papa Sofyan yang kini duduk di sebuah kursi seraya memandang ke arah kedua anaknya nampak terharu, kedua anaknya yang dulu selalu berebut pelukannya tak terasa kini sudah berubah dewasa dan telah memiliki pasangan masing masing.
Kini giliran Rahma dan Riko yang memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai.
"Selamat atas pernikahan anda, tuan Alan , Dokter Sintia." ucap Riko pada kedua mempelai.
"Terima kasih, tuan Riko." ujar Alan, kini rekan bisnis tersebut saling berpelukan ala lelaki sejati untuk sejenak.
"Selamat atas pernikahan anda, tuan Alan.". Ucap Rahma sebelum kemudian beralih untuk memberikan ucapan selamat pada temannya, Sintia.
"Selamat atas pernikahan kamu, Sintia, Sepertinya keinginan Om yang ingin segera menimang cucu akan segera terkabul sebentar lagi." goda Rahma Kala teringat akan keinginan dari tuan Mardin yang tidak sabar ingin menimang cucu.
Mendengar kalimat menggoda dari Rahma, sontak perhatian Sintia beralih pada Alan yang berdiri tepat di sisinya. Ia berharap Alan tidak mendengar kalimat Rahma barusan, tetapi sepertinya harapan Sintia tak terwujud ketika melihat Alan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, ketika pandangan mereka bertemu."
Prosesi ijab qobul yang dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan tersebut berlangsung hingga sore hari, sehingga membuat Sepasang pengantin baru tersebut kelelahan menyalami begitu banyak tamu undangan yang hadir.
Di atas tempat tidur dengan ukuran king size yang telah di taburi kelopak bunga mawar merah yang tampak begitu cantik, Sintia terlelap begitu saja usai membersihkan tubuhnya yang terasa lengket Akibat seharian mengenakan gaun pengantin. Sementara Alan yang melihat istrinya telah terlelap hanya nampak menyunggingkan senyum di bibirnya. Bagaimana tidak, wajah Sintia yang tengah terlelap begitu menggemaskan di matanya.
Malam pengantin yang seharusnya di lewatkan dengan begitu indah akhirnya berlalu begitu saja.
Untuk pertama kalinya Sepasang pengantin baru tersebut terlelap di atas tempat tidur yang sama.