Trust Me Please.

Trust Me Please.
Selalu terlintas di pikiran Alan.



Di perjalanan hendak kembali ke rumah tiba tiba perhatian Sintia beralih pada ponselnya yang kini tengah berdering. Sintia lantas menggunakan handset untuk menerima panggilan telepon.


"Halo."


"Ha_lo dok, maaf saya mengganggu waktu anda." suara dari seberang sana terdengar lemah dan hal itu membuat Sintia berkesimpulan jika kondisi seseorang di seberang sana sedang tidak baik baik saja.


"Tidak, anda sama sekali tidak mengganggu, Nyonya Mona." sahut Sintia apa adanya.


percakapan di antara Mona dan Sintia pun terus berlanjut sampai dengan kini Sintia tampak menutup mulutnya dengan telapak tangannya ketika mendengar satu pengakuan dari Mona. Sebuah kenyataan yang baru di ketahui oleh Sintia hari ini, semenjak ia mengenal sosok Mona sebagai pendonor hati untuk Rahma Tempo hari.


"Ternyata kamu sebaik itu, Ra?? Rupanya aku sangat beruntung bisa berteman denganmu." lirih Sintia setelah panggilannya dengan Mona berakhir.


Setelahnya, pikiran Sintia kembali terfokus pada kondisi Mona saat ini. Sebelum menceritakan kebenaran tentang apa yang terjadi padanya, Riko dan juga Rahma tadi, sebelumnya Mona telah menceritakan tentang kondisi kesehatannya yang akhir akhir ini semakin menurun kepada Sintia selaku dokter yang dulu menangani dirinya pasca operasi donor hati yang ia lakukannya untuk Rahma.


Seketika Sintia merasa iba pada Mona setelah mendengar kondisi kesehatan wanita itu saat ini. apalagi seingat Sintia, Mona pernah bercerita jika ia memiliki seorang anak yang belum genap berusia dua tahun. Sintia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada putranya, jika sampai hal buruk terjadi kepada Mona.


Curahan hati Mona sekaligus membuka mata Sintia, jika ternyata di muka bumi ini bukan hanya dirinya yang pernah merasakan pahitnya kehidupan. bahkan di luar sana masih banyak orang orang yang hidupnya lebih menyedihkan dari dirinya. Dan mereka sama sekali tidak menyimpan dendam di hati.


Air mata lolos begitu saja membasahi pipinya ketika Sintia teringat akan sosok sang ayah, orang tua satu satunya yang kini ia miliki.


"Maafkan Sintia, pa." Lirih Sintia dalam hati.


Ternyata benar kata orang, menyimpan dendam tidak akan membuat kita lebih tenang apalagi bahagia. Jika Rahma bisa memaafkan Mona dengan kesalahan yang begitu besar yang pernah di perbuat Mona terhadapnya, lalu mengapa ia tidak bisa membuka pintu maaf untuk seorang pria yang notabenenya adalah ayah kandungnya sendiri. Setidaknya itu yang kini ada di benak dan pikiran Sintia.


Selain memikirkan tentang ayahnya, kini pikiran Sintia pun terbagi. Ia juga memikirkan tentang permintaan Rahma ketika hendak menerima donor hati dari seseorang yang tidak ia ketahui identitasnya. permintaan Rahma yakni ingin bertemu dengan seseorang yang telah menjadi pendonor hati untuknya, meski hanya sekali saja untuk mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah menyelamatkan hidupnya.


"Ya tuhan...apa yang harus aku lakukan???." Sintia benar benar dilema, di satu sisi ia ingin sekali menyampaikan kebenaran itu kepada Rahma, namun di sisi lain ia juga harus menjaga kode etik sebagai seorang dokter, dengan menjaga rahasia tersebut sesuai dengan permintaan dari pendonor.


Dilema yang kini di rasakan Sintia seolah membuatnya sedikit melupakan kejadian memalukan yang tadi menimpanya di rumah orang tua Ratu.


***


Sementara di perusahaan, Alan mendapatkan kabar dari pak Hendro jika pagi tadi pemilik perusahaan tengah melakukan perjalanan ke luar kota dengan begitu ia harus menggantikan posisi pemilik perusahaan untuk bertemu dengan salah satu investor asing hari ini.


Sejak Alan menduduki posisi CEO sejak itu pula pemilik perusahaan meminta salah seorang pegawai untuk menjadi asisten pribadi Alan. Razak merupakan pria yang ditugaskan untuk menjadi asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Alan.


Razak dan Alan pernah bertugas di divisi yang sama dan keduanya cukup dekat. selain kemapuan yang dimiliki Razak, kedekatannya dengan Alan merupakan salah satu faktor mengapa sampai pemilik perusahaan menempatkan Razak sebagai asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan CEO.


Razak yang sejak tadi memperhatikan gelagat Alan, lantas dibuat bingung ketika melihat pria itu sesekali nampak menggelengkan kepalanya.


"Apa ada yang bisa saya bantu, tuan??." Razak coba bertanya ketika untuk ketiga kalinya ia melihat Alan menggelengkan kepalanya, seakan tengah menepis sesuatu yang terlintas di pikirannya.


Alan menghela napas. Tidak mungkin ia menceritakan pada Razak tentang kejadian di rumahnya pagi tadi, kejadian yang sampai detik ini terus terbayang bayang di benak dan pikiran Alan. namun tanpa di sadari oleh Alan gelagatnya, yang sesekali menggelengkan kepala seolah ingin menepis sesuatu yang terlintas dipikirannya, terlihat jelas oleh Razak.


Ingin mengalihkan pikirannya, Alan lantas memilih mengajak Razak untuk segera menuju restoran di mana mereka akan bertemu dengan investor asing hari ini.


Beberapa saat kemudian mobil Alan yang kini di kendarai Razak tiba di restoran yang dimaksud.


Begitu keduanya masuk ke dalam resto, Razak cukup heran dengan sikap pelayan restoran yang langsung menyambut kedatangan Alan dengan cara menundukkan kepala.


"Selamat pagi tuan." tutur pelayan restoran seraya menundukkan kepala hormat.


"Pagi." jawab Alan sebelum kemudian melanjutkan langkahnya menuju salah satu meja.


"Duduklah!!." pinta Alan ketika melihat Razak justru berdiri siap di sisinya.


"Lagi pula Mr Ahong belum tiba, kau bisa duduk dulu !!." kata Alan yang mengerti betul dengan profesionalitas Razak dalam bekerja.


Pada akhirnya Razak pun menurut, kini ia pun menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi.


Tak berselang lama, Razak yang melihat kedatangan Mr Ahong lantas segera merubah posisinya dengan berdiri siap di sisi tempat duduk Alan.


"Selamat pagi, tuan, maaf sudah membuat anda menunggu." tutur Mr Ahong dengan bahasa asing.


"Tidak masalah Mr, kami pun baru saja tiba." jawab Alan yang juga menggunakan bahasa Asing.


Alan pun mempersilahkan Mr Ahong untuk menempati tempat duduk di hadapannya, sementara asisten pribadinya memilih mengambil posisi yang sama dengan Razak, yakni berdiri di sisi tempat duduk tuannya.


Kini baik Alan dan Mr Ahong mulai terlibat percakapan serius, hingga diakhir pertemuan Alan Berhasil meyakinkan Mr Ahong untuk bekerja sama serta menanam sahamnya di Perusahaan mereka. Setelah mencapai kesepakatan, kini Alan mengajak Mr Ahong untuk menikmati menu spesial di resto tersebut.


Tak lama kemudian, tidak kurang dari empat pelayan restoran tiba untuk menyajikan pesanan di atas meja. Masih melihat tampilannya saja sudah membuat Mr Ahong ngiler dan ingin segera mencicipi berbagai menu spesial yang tersaji di atas meja.


Dan benar saja, setelah mencoba menu andalan di resto tersebut, satu kata yang terlontar dari mulut Mr Ahong. " Nikmat." pujinya.


Alan hanya tersenyum saja.


"Menurut informasi yang saya dengar pemilik restoran ini ternyata masih muda dan beliau juga memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia." komentar Mr Ahong tentang berita yang ia dengar dari anak buahnya mengenai pemilik restoran tersebut.


"Menurut informasi yang saya dengar juga begitu, Mr." ucap Alan dengan seulas senyum di bibirnya.