Trust Me Please.

Trust Me Please.
Hamil.



Dua puluh menit kemudian Toni pun kembali dengan membawa sebuah kantong plastik hitam di tangannya.


Pandangan Alan tertuju pada kantong plastik hitam di tangan Toni.


"Saya harus memastikan sesuatu, bang." tutur Toni seolah paham dengan sorot mata Alan.


Alan hanya mengangguk saja, meski ia tidak tahu dengan pasti apa yang hendak di lakukan Toni.


"Stop it!!." Toni terpaksa menghentikan langkahnya ketika mendengar seruan mendadak dari istrinya.


"aku tidak tahan dengan aroma tubuh kakak." dengan nada merengek Ratu berujar sehingga membuat Toni hanya bisa menghembus napas dalam mendengarnya.


"Sepertinya kau harus mengganti bajumu terlebih dahulu sebelum mendekat pada istrimu, Sepertinya Ratu tidak menyukai aroma parfum yang kau kenakan!!." pikir Alan.


Menurut Toni tak ada salahnya menuruti ide Alan. Toni pun berlalu untuk mengambil pakaiannya di dalam lemari milik Ratu sebelum kemudian beranjak menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan yang lain.


Setelah mengganti pakaiannya dengan Kaos serta celana pendek, Toni lantas beranjak dari ruang ganti lalu mendekati tempat tidur di mana saat ini istrinya tampak berbaring dengan wajahnya yang tampak sedikit pucat.


Sepertinya ide Alan tidak sia sia, buktinya Ratu tak lagi mengeluhkan aroma tubuh suaminya.


"Sayang, boleh Kakak bertanya sesuatu padamu??." tanya Toni dengan nada lembut.


Ratu mengangguk sebagai jawaban. Mendapat anggukan dari Ratu, Toni lantas mengutarakan pertanyaannya dan itu membuat Ratu seketika menyadari sesuatu.


**


Di dalam kamar mandi, dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya Ratu tampak menutup matanya, sebelum kemudian membuka matanya secara perlahan.


Air mata haru lantas jatuh begitu saja membasahi pipinya ketika melihat benda persegi panjang yang berbentuk pipih di genggamannya tersebut menampilkan dua garis merah.


Sementara di depan kamar mandi, Toni yang tampak mondar mandir menunggu Ratu keluar dari kamar mandi dibuat cemas ketika mendengar suara Isakan dari dalam kamar mandi.


Spontan Toni dan Alan saling melempar pandangan satu sama lain ketika keduanya sama sama mendengar Isak tangis dari dalam kamar mandi, di mana saat ini Ratu berada.


"Sayang.... sayang....kamu baik baik saja kan??." dengan perasaan cemas, Toni mulai mengetuk pintu kamar mandi. Untungnya tak berselang lama Ratu segera membuka pintu kamar mandi jika tidak, bisa di pastikan Toni akan mendobrak pintu tersebut karena mencemaskan keadaan istrinya.


Ratu yang baru saja keluar dari kamar mandi lantas menyerahkan benda persegi panjang tersebut pada Toni, tanpa bersuara hanya sesekali sisa Isak tangisnya yang masih terdengar.


"Kamu hamil sayang.....???" meski sudah tahu jawabannya namun Toni memilih kembali bertanya. "Terima kasih, Tuhan.... terima kasih, sayang..." melihat anggukan Ratu, Toni lantas membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya lalu menghujani wajah Ratu dengan ciuman bertubi-tubi tanpa peduli dengan keberadaan sosok kakak iparnya yang kini berdiri di antara mereka.


Sebagai seorang kakak tentunya Alan bahagia mendengar kabar kehamilan Ratu, dengan begitu sebentar lagi adik perempuannya itu akan segera memberikan seorang keponakan untuknya.


Setelah pelukannya terlepas kini pandangan Ratu beralih pada Alan.


"Ratu mengandung bang, sebentar lagi Ratu akan menjadi seorang ibu dan Abang akan segera menjadi paman." kata Ratu dengan wajah harunya.


"Terima kasih doanya bang. sebagai adik, Ratu juga berdoa agar Tuhan segera memberikan jodoh yang baik untuk bang Alan. Seorang wanita yang akan setia menemani bang Alan dalam suka suka menjalani kehidupan ini." doa yang selalu di panjatkan Ratu setiap saat untuk abangnya tercinta akhirnya kini terlontar di hadapan Alan. Tanpa di ketahui Ratu, Alan yang hanya terlihat diam nyatanya mengamini doa Ratu di dalam hatinya.


Setelahnya pelukan di antara kakak adik itu pun terurai.


Tak berselang lama kedua orang tua mereka pun tiba di rumah usai menghadiri acara resepsi pernikahan dari keluarga jauh mama Rani.


"Bi, apa Alan sudah kembali dari kantor??." tanya mama Rani pada bi Inah.


"Sudah Bu. Sekarang den Alan bersama dengan den Toni lagi ada di kamar Non Ratu, soalnya tadi non Ratu muntah muntah.". beritahu Bi Inah.


"Muntah muntah??." ulang mama Rani dan BI Inah mengangguk sebagai jawaban.


Raut wajah mama Rani berubah cemas, wanita itu lantas berlalu begitu saja menuju kamar putrinya.


Pintu kamar Ratu yang tidak tertutup membuat Mama Rani segera memasukinya.


"Mama." menyaksikan kedatangan mamanya membuat Ratu beranjak ke pelukan wanita paru baya tersebut.


"Ada apa ini??." Mama Rani mencoba melepas pelukan Ratu. mama Rani menatap intens wajah putrinya yang tampak memerah seperti habis menangis.


Pandangan Mama Rani beralih pada Toni dan juga Alan secara bergantian, seolah meminta jawaban dari kedua pria itu.


"Ratu hamil, mah." jawaban Toni yang di sertai senyum di sudut bibirnya membuat raut wajah mama Rani berubah seketika.


"Benarkah??." tanyanya memastikan. Anggukan dari Alan membuat mama Rani semakin melebarkan senyumnya.


"Kamu hamil, sayang??." mama Rani yang ingin mendengar jawaban langsung dari mulut Ratu lantas mengatupkan kedua tangannya pada wajah putrinya.


"Benar, mah. Ratu sedang mengandung cucu mama."


Pengakuan dari mulut Ratu membuat papa Sofyan yang hendak memasuki kamar putrinya itu mengembangkan senyumnya dengan sempurna. Kebahagiaan papa Sofyan bahkan mengalahkan rasa bahagianya ketika mendapat proyek besar. Bagaimana tidak, seorang cucu yang telah lama ia dambakan sebentar lagi akan di dapatkannya dari putri bungsunya.


"Papah." Ratu yang menyadari keberadaan papa Sofyan lantas beranjak pada cinta pertamanya itu.


Ratu memeluk tubuh pria yang merupakan cinta pertamanya itu, pria yang selalu melindungi dan menjaganya sejak pertama kali ia dilahirkan ke dunia ini.


Papa Sofyan tampak menengadahkan wajahnya untuk menghalau air mata harunya agar tak sampai jatuh, ketika Ratu memeluknya. Dengan lembut papa Sofyan mengusap puncak kepala putrinya "Tidak terasa, Sebentar lagi putri kecil papa dulu akan segera menjadi seorang ibu." ucapnya seraya menahan tangis haru.


Papa Sofyan meminta Alan untuk mendekat padanya.


"Rasanya baru kemarin mama melahirkan kalian ke dunia ini, tanpa sekarang kalian berdua sudah dewasa." Papa Sofyan kini memeluk kedua buah hatinya yang telah tumbuh menjadi pria dewasa dan juga wanita dewasa. meski begitu dimata papa Sofyan, Alan dan juga Ratu tetaplah anak anaknya yang harus selalu ia jaga.


Seperti itulah karakter papa Sofyan yang selalu membuat Alan begitu mengagumi sosok ayahnya. Sosok suami yang sayang pada istrinya dan juga sosok ayah yang begitu menyayangi buah hatinya, ayahnya merupakan Spek ayah sempurna bagi Alan.