
"Jika tidak ingin agar papa tetap berada di tanah air, maka carilah pendamping hidup!!." pesan ayahnya Sinta sebelum beranjak dari kamar putrinya.
Sinta menatap punggung ayahnya hingga tak lagi terlihat dari pandangannya. Ada rasa sesak di dalam dadanya ketika bersikap dingin seperti itu pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu, namun di sisi lain Sintia juga masih merasakan kecewa, di mana dulu ayahnya lebih memilih mengikuti pujaan hatinya dan meninggalkan dirinya bersama sang kakek, begitu saja.
Sintia menghela napas dalam dalam seolah ingin menghilangkan sesak di dada.
Rasa cinta yang begitu besar pada sang ayah seketika berubah menjadi kekecewaan ketika pria itu lebih memilih meninggalkan dirinya demi seorang wanita, sekiranya itulah yang ada di pikiran Sintia sejak dulu hingga saat ini.
Tuan Mardin yang merupakan ayah kandung Sintia merupakan seorang pria yang sangat setia pada sang istri, namun pria itu tidak menyangka setelah dua tahun kematian istrinya, ia akan kembali merasakan jatuh cinta pada seorang wanita. Di sebabkan oleh wanita itu lah mengapa sampai tuan Mardin meninggalkan Sintia bersama sang ayah di tanah air, sementara dirinya mengajak serta wanita yang saat itu telah di nikahinya ke luar negeri. namun sayangnya, baru setahun menikah, wanita itu terbukti berselingkuh dengan seorang pria bule, dan yang lebih menyakitkan lagi wanita itu mengaku tidak sungguh sungguh mencintai dirinya.
Sejak saat itu, Tuan Mardin memilih hidup seorang diri di luar negeri tanpa pendamping hidup, dan sejak saat itu pula pria paru baya tersebut terus menyibukkan diri dengan pekerjaan hingga dengan saat ini.
***
Setelah seharian berkutat dengan kesibukannya di luar rumah kini Riko pun beranjak menuju mobilnya, hendak pulang ke rumah.
Selama di perjalanan kembali ke rumah, Riko berharap Rahma sudah melupakan kejadian tadi pagi dengan begitu otomatis Rahma tidak akan kesal lagi padanya.
Setibanya di rumah, sepertinya harapan Riko hanyalah sebuah harapan yang tak terwujud. Buktinya Rahma masih saja memasang wajah kesal padanya. Namun hal itu tidak membuat Riko sampai kehabisan akal untuk membujuk sang istri, dan lagi lagi usaha Riko sia sia. Kembali terbukti, saat memasuki pintu kamar, Riko melihat sebuah bantal dan juga selimut sudah tertata rapi di atas sofa.
"Sayang, apa kamu serius menyuruh mas tidur di sofa malam ini??." tanya Riko dengan wajah memelas.
"Apa mas lihat wajahku sedang bercanda??." Bukannya menjawab Rahma justru balik bertanya, sehingga membuat Riko menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Nah....itu artinya malam ini mas tidur di sofa!!." tutur Rahma sengaja memberi tekanan pada setiap kalimatnya.
Riko hanya bisa menghela napas pasrah.
"Baiklah." jawabnya seraya membuka jas serta kaos kakinya.
Tidak terasa petang pun berganti dengan indahnya malam, Rahma yang baru saja selesai makan malam bersama dan juga mengkonsumsi obatnya tampak duduk bersandar pada bahu tempat tidur seraya menyaksikan siaran TV di kamarnya.
Melalui ekor mata ia menyaksikan Riko beranjak ke sofa setelah keluar dari kamar mandi.
Rahma kembali memfokuskan pandangannya pada layar televisi ketika menyadari Riko memandang ke arahnya.
"Sayang." suara Riko terdengar mendayuh.
"Hemt." tanpa memalingkan pandangannya dari layar televisi Rahma berdehem.
"Apa kamu tidak berubah pikiran??." tanya Riko. Berharap Rahma akan mengajaknya tidur di ranjang bersama dengannya.
"No..." tegas Rahma seolah tahu apa yang ada dipikiran Riko.
Melihat suaminya sudah terlelap, Rahma lantas mematikan layar televisi kemudian menyelimuti tubuhnya dengan selimut hingga sebatas perut.
Dua puluh menit kemudian, Rahma tak kunjung dapat memejamkan matanya. Ia bahkan beberapa kali merubah posisi tidurnya, mencari posisi ternyaman namun tetap saja ia tak dapat memejamkan matanya.
"Ada apa denganku??.". Lirihnya bingung seraya merubah posisi tidurnya menjadi duduk, sebelum kemudian pandangannya beralih pada sang suami, yang kini tengah terlelap di sofa.
"Kenapa aku jadi manja begini sih, pake tidak bisa tidur segala lagi saat mas Riko tidak ada di sampingku." gerutu Rahma. Ingin mengajak Riko kembali ke tempat tidur bersamanya pun rasanya mustahil karena pria itu terlihat begitu lelap.
Tanpa berpikir lama lama Rahma pun segera beranjak turun dari tempat tidur. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Riko yang kini tengah tidur dengan posisi menyamping. tak juga melihat pergerakan dari Riko, Rahma pun turut merebahkan tubuhnya di sisi sang suami, lebih tepatnya ia merebahkan tubuhnya di pelukan Riko, tanpa di sadari oleh Riko. Untungnya sofa bed di kamar itu cukup menampung tubuh keduanya sehingga membuat posisi Rahma tetap nyaman.
"Ah...nyaman sekali." ungkapnya setelah berada di pelukan sang Suami. Tak berselang lama, napas Rahma pun terdengar mulai teratur, pertanda ia telah memasuki alam bawah sadarnya.
Tepat pukul tiga dini hari, Riko terjaga dari tidurnya dan pria itu tampak menarik sudut bibirnya ke samping ketika menyadari istrinya telah berada di pelukannya.
Riko lantas mengusap lembut puncak kepala istrinya.
"Katanya ngambek sama suaminya, eh... rupanya tidak bisa tidur tanpa suami." lirih Riko sebelum kemudian kembali memeluk tubuh Rahma dari belakang untuk melanjutkan tidurnya.
Keduanya pun terlelap bersama hingga pagi harinya alarm ponsel Riko membangunkan Rahma dari tidur nyamannya.
Dengan gerakan pelan Rahma merubah posisinya menghadap ke arah Riko.
Rahma menatap wajah Riko dengan intens.
"Sedang tidur seperti ini saja Daddy kalian masih saja tampan, baby, tidak heran jika gadis gadis kemarin itu sengaja mencari perhatian dari Daddy kalian." gumam Rahma. Bukan tanpa alasan Rahma berpikir demikian, sudah beberapa hari terakhir dua orang gadis yang merupakan anak dari tetangga komplek mereka tersebut seperti sengaja mencuri pandang jika Riko sedang berolah raga di halaman dan itu terlihat jelas dari pandangan Rahma.
"Tapi tidak ada yang mampu menggantikan posisi mommy Kalian di hati Daddy." dengan mata terpejam Riko berujar dan tentunya hal itu membuat Rahma terkejut mendengarnya.
Ternyata Riko sejak tadi telah terbangun namun kembali menutup matanya berpura pura tidur ketika menyadari pergerakan istrinya.
"Seribu gadis di luar sana tidak akan mampu membuat Daddy berpaling dari mommy kalian." lanjut ungkap Riko sebelum kemudian mengecup bibir mungil istrinya.
"Mas minta maaf sayang, mas mohon jangan merajuk lagi."
Sepertinya sebagai seorang pria sejati, meski tak merasa salah tetaplah meminta maaf, karena meminta maaf terutama kepada sang istri tidak akan sampai membuatmu terhina, dan hal itulah yang kini di lakukan Riko.
Benar saja, mendengar permintaan maaf dari Riko membuat raut wajah Rahma berubah sendu.
"Aku yang seharusnya minta maaf mas, karena sudah menuduh mas yang bukan bukan." tutur Rahma dengan perasaan bersalah dan itu membuat seulas senyum manis tercipta di sudut bibir Riko.
"Tidak perlu minta maaf sayang, kamu tidak salah. Jika mas yang ada di posisi kamu mungkin mas juga akan melakukan hal yang sama." jawab Riko, sebelum kemudian mengeratkan pelukannya.