Trust Me Please.

Trust Me Please.
Mencoba gaun pengantin.



"Maaf." jawab Sintia. meskipun kesal dengan sikap datar Toni terlebih di hadapan Ratu, Sintia mencoba menyembunyikan kekesalannya dengan mencoba mengulas senyum palsu di wajahnya.


Tidak ingin ikut campur apalagi menjadi orang bodoh menjadi pendengar setia di ruangan itu, Ratu lantas meninggalkan Toni dan Sintia dengan alasan Ingin pergi ke toilet.


pergerakan Ratu terpaksa terhenti ketika Toni mencekal lengannya.


"Tetap di sini!!." pinta Toni dengan tatapan tak ingin di bantah, karena ia tahu betul saat ini Ratu hanya beralasan saja ingin ke toilet.


"Dokter Sintia, jika ada yang ingin anda sampaikan maka silahkan tetapi jika tidak ada silahkan kembali ke ruangan anda karena masih banyak yang harus saya kerjakan bersama dengan dokter Ratu!!." kedua bola mata Sintia melebar sempurna seakan tak percaya jika saat ini Toni mengusirnya begitu saja.


"Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan pada anda, tapi berhubung anda sedang sibuk sepertinya lain kali saja." Tutur Sintia masih dengan senyum palsu di wajahnya, sebelum kemudian pamit kembali ke ruangan di mana ia bertugas.


"Sebenarnya ada hubungan apa Toni dan dokter itu?? Sampai Toni menyuruhku pergi begitu saja?? Dasar wanita si_alan." tidak hentinya Sintia menggerutu kesal setelah meninggalkan ruangan kerja Ratu.


"Sepertinya ada hal yang sangat penting yang ingin di bahas dokter Sintia pada anda, kenapa malah memintanya pergi begitu saja.". Tutur Ratu dengan bahasa Formal setelah kembali duduk di kursinya.


"Saya tidak ingin membuat kepalaku pusing karena berurusan dengan wanita itu, lagi pula berurusan dengan satu wanita saja kepalaku sudah seperti mau pecah apalagi berurusan dengan dua wanita, bisa bisa kepalaku benar benar pecah nantinya." jawaban Toni sanggup memicu tatapan tajam dari Ratu untuknya.


"Tidak baik bersikap seperti itu terhadap teman dekat." tutur Ratu sengaja menekan kata teman dekat sehingga membuat Toni menarik senyum tipis di bibirnya.


"Kenapa, kamu cemburu??." tebaknya seraya mendekatkan wajahnya ke arah Ratu dan hal itu sontak saja membuat Jantung Ratu berdebar tak karuan.


"Siapa juga yang cemburu." jawaban Ratu sangat tidak sinkron dengan hatinya saat ini. Ia memalingkan wajahnya ke samping, di mana posisi sebelumnya ia dapat merasakan aroma min yang berasal dari hembusan napas Toni.


"Jika tidak cemburu kenapa wajahmu terlihat kesal seperti itu??." Tutur Toni seraya menahan senyum, Sengaja ingin menggoda calon istrinya itu.


"Aku hany_." ucapan Ratu melayang begitu saja di udara ketika Toni tanpa aba aba melayangkan kecupan di pipi kirinya.


Cup.


Kecupan Toni di pipi kirinya semakin membuat jantung Ratu berdebar kencang. bagaimana tidak, pria itu sudah mengambil kecupan pertamanya. Sampai dengan usianya sekarang tak ada seorang pun pria yang pernah menciumnya sekalipun hanya di pipi saja, dengan begitu bagaimana tidak mau copot rasanya jantung Ratu dibuatnya, coba.


"Jangan katakan itu yang pertama bagimu??." tebak Toni ketika melihat wajah Ratu semakin merah merona. Selain itu Toni juga dapat mendengar suara detak jantung Ratu sebab posisi keduanya yang begitu dekat.


Melihat Ratu hanya diam saja dengan wajah masih merah merona semakin meyakinkan Toni jika dugaannya benar, sehingga membuat Toni tanpa sadar menarik sudut bibirnya ke samping. Tanpa di ketahui oleh Ratu, ini juga pertama kalinya Toni berbuat demikian pada seorang gadis.


Cukup lama suasana hening, sampai kemudian Toni memecah keheningan dengan memberi penjelasan tentang Sintia.


"Kami memang berteman saat kuliah dulu tapi hanya sebatas teman biasa tidak lebih." entah mengapa Toni merasa ia perlu menjelaskan tentang hal itu kepada calon istrinya tersebut.


"Mulai sekarang jangan lagi percaya begitu saja dengan omongan dokter Sintia, dia hanya sengaja melebih lebihkan.!!." lanjut Toni sebelum kemudian meraih reka medik pasien lalu membacanya.


Sedangkan Ratu hanya diam saja tidak berniat merespon ucapan Toni.


Kini Toni kembali dalam mode serius ketika memeriksa satu persatu reka medik milik pasien.


"Untuk pasien atas nama anak Bayu arahkan ke dokter penyakit dalam, ada indikasi pasien mengalami gagal hati!!." tutur Toni yang kini telah menempati kursi yang berhadapan dengan Ratu.


"Baik dok." jawab Ratu dengan bahasa Formal.


"Tidak ada apa apa dok, saya cuma merasa iba dengan pasien bernama Bayu di usianya yang masih kecil sudah harus menderita penyakit seperti ini." jawab Ratu masih dengan wajah sendunya, apalagi mengingat kondisi perekonomian orang tua pasien yang terbilang di bawah rata rata, hal itu semakin membuat Ratu merasa iba pada anak itu.


Toni menghela napas berat mendengarnya.


"Itulah mengapa saya selalu melarang kamu untuk mengkonsumsi makanan yang terlalu pedas selain tidak baik untuk kesehatan, makanan yang terlalu pedas bisa berpengaruh pada anak jika ibunya sedang mengandung." jawaban Toni akhirnya membuat Ratu sadar akan kebiasaan buruknya yang hobi sekali mengkonsumsi makanan yang sangat pedas. Meski tahu itu tidak baik untuk kesehatan namun Ratu tidak sampai berpikir dampaknya bisa se-fatal itu.


"Mulai sekarang berhentilah mengkonsumsi makanan yang terlalu pedas, sebentar lagi kita akan menikah kamu tidak ingin kan sampai calon anak kita nantinya kenapa napa??." entah sadar atau tidak dengan kalimat Toni, Ratu pun mengangguk paham.


Selesai memeriksa reka medik pasien, Toni beranjak meninggalkan ruangan perawatan anak hendak menuju ruang poli anak yang berada di area gedung depan.


***


Setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya akhirnya waktu yang di nanti Ratu pun tiba, ratu tampak bersiap untuk pulang.


Ratu yang sejak sepuluh menit sebelumnya telah di nanti oleh Toni di area basemen tampak beranjak menuju mobil Toni berada.


Seperti biasa sebelum memasuki mobil Toni, Ratu menyapu pandangan ke sekelilingnya untuk memastikan kondisi aman tak ada yang melihatnya masuk ke mobil Toni. Bukan apa apa, Ratu hanya belum siap menjawab berbagai macam pertanyaan dari sesama rekan kerjanya jika mendapati mereka datang dan pulang bersama.


Sore ini setelah pulang kerja rencananya Toni dan Ratu akan ke butik untuk mencoba gaun pengantin.


Tiga puluh menit kemudian, kini mobil Toni tiba di butik milik sahabat dari mama Sinta.


"Selamat sore, nak Toni." sapa Tante Rara sebelum kemudian beralih pada seorang gadis yang kini datang bersama dengan putra dari sahabatnya itu.


"Selamat sore, Nona."


"Selamat sore Nyonya." Ratu sedikit menundukkan kepalanya untuk menghargai yang lebih tua.


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam butik. Setelah melihat gaun yang sengaja didesain khusus oleh Tante Rara sesuai dengan permintaan dari mama sinta, lantas Ratu menuju ruang ganti dengan di temani oleh salah seorang pegawai butik untuk mencoba gaun tersebut. Sementara Toni memilih menunggu di ruang tunggu yang telah di sediakan.


"Calon istri kamu cantik banget, nak Toni, kalian bertemu di mana sebelumnya??." tanya Tante Rara penasaran.


"Kebetulan Kami bekerja di rumah sakit yang sama Tante." jawab Toni singkat.


"Jadi calon istri kamu juga seorang dokter, pantas saja auranya memenangkan Bu dokter rupanya." ucap Tante Rara dan Toni menanggapinya dengan sebuah senyuman tipis, sebelum kemudian suara notifikasi pesan yang baru saja masuk membuat Toni kembali menatap layar ponselnya.


Tak berselang lama.


"Waw.... beautiful.....".suara pujian Tante Rara lantas mengalihkan perhatian Toni dari layar ponselnya.


Deg.


Jangan lupa like, koment, vote and give ya,,,,,


Jangan lupa untuk mampir juga ke karyaku yang lainnya. _MENIKAH DI USIA REMAJA.