
Setibanya di rumah, Sintia teringat akan permintaan ayahnya tempo hari yang meminta dirinya menjadi model iklan untuk produk yang baru diluncurkan oleh perusahaan ayahnya.
"Sebaiknya aku segera ke perusahaan papa, lagi pula hari ini aku sedang tidak ada kegiatan." gumam Sintia. Ia yang tadinya duduk di sofa ruang tengah, lantas beranjak menuju kamarnya untuk segera bersiap menuju perusahaan.
Kurang lebih tiga puluh menit, kini Sintia sudah selesai bersiap. Setelah memastikan penampilannya telah rapi melalui pantulan kaca, Sintia pun segera beranjak dari kamarnya.
Sebelum berangkat, seperti biasa Sintia pasti pamit pada ART yang bekerja di rumah.
Dengan kecepatan sedang mobil Sintia melaju menuju perusahaan ayahnya.
Empat puluh lima menit kemudian, kini mobil Sintia tiba di basemen gedung perusahaan.
"Selamat pagi Nona Sintia??." sapa salah seorang security yang bertugas berjaga di depan pintu utama gedung perusahaan.
Sebagai security yang telah bekerja lebih dari lima tahun di perusahaan tersebut tentunya pria itu sangat mengenal sosok Sintia sebagai putri semata wayang dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Selamat pagi, pak." sahut Sintia menjawab sapaan dari security yang bertugas.
"Maaf nona, tapi sepertinya sejak tadi pagi papa anda belum datang ke perusahaan untuk hari ini." beritahu pria itu yang mengira kedatangan Sintia ingin mencari keberadaan ayahnya.
Sintia tersenyum.
"Maaf pak, tapi kedatangan saya ke sini bukan untuk mencari papa, saya ke sini untuk bertemu dengan CEO di perusahaan ini, saya ingin membahas tentang pekerjaan dengan beliau." Jawab Sintia apa adanya. Sintia teringat akan cerita ayahnya tempo hari yang mengatakan jika beliau telah mengangkat seseorang untuk menempati posisi CEO di perusahaan. Mengingat saat ini ayahnya sedang berada di perjalanan ke luar kota, maka menurut Sintia langkah yang tepat adalah menemui CEO perusahaan guna membahas tentang iklan untuk produk baru.
"Baiklah, kalau begitu mari saya antar ke lantai atas, Nona Sintia." tawar security tersebut, dan Sintia pun mengangguk setuju.
Kedatangan Sintia pagi itu membuatnya menjadi pusat perhatian dari para pegawai.
"Siapa wanita itu, cantik sekali?? " terdengar bisik bisik salah seorang pegawai wanita pada rekannya, ketika tak Sengaja melihat Sintia yang di temani salah seorang petugas keamanan berjalan menuju lift.
"Mungkin pegawai baru." tebak salah seorang di antaranya.
"Jika benar, kita bakalan punya saingan berat nih." kata pegawai yang tadi memuji kecantikan Sintia.
"Kalian pada ngapain sih?? Ingat kalian di gajih untuk bekerja, bukannya untuk bergosip seperti ini!!." Kartika yang baru saja melintas terdengar menasehati rekan kerjanya yang dilihat tengah bergosip.
Melihat tatapan tak bersahabat dari Kartika akhirnya para pegawai yang tadi menggunjing Sintia lantas membubarkan diri dan kembali melanjutkan pekerjaan masing masing.
Di lantai dua puluh, di mana Sintia baru saja keluar dari kotak besi kembali menjadi perhatian.
"Mas ya Allah, cantiknya ciptaan tuhan." lirih salah seorang pegawai yang tak sengaja melihat keberadaan Sintia yang baru saja melintas di depan ruang kerja mereka.
"Memangnya Kamu sedang melihat siapa??." salah seorang yang lainnya lantas mengikuti arah pandang rekannya.
"Sebentar, jangan jangan wanita cantik itu sedang mencariku??." celetuknya dengan percaya diri.
"Kaca mana kaca?? Muka pas pas an juga berharap di cariin sama yang bening bening." kelakar pria yang tadi memuji Sintia.
Kedua pria itu tampak saling dorong untuk mengintip keberadaan Sintia. Dan kegiatan mereka terpaksa harus berakhir ketika tubuh Sintia tidak lagi terlihat oleh pandangan keduanya.
"Selamat pagi, Nona Ambar." ucap Security yang mengantarkan Sintia, ketika mereka tiba di depan meja kerja sekertaris CEO.
"Selamat pagi, pak, ada yang bisa saya bantu??" tutur Ambar dengan nada yang terdengar ramah.
Kini perhatian Ambar beralih pada Sintia.
"Maaf nona, tapi saat ini beliau sedang tidak ada di ruangannya, beliau dan asisten pribadinya sedang meeting di luar." beritahu Ambar pada Sintia.
"Tidak masalah Nona, saya bisa menunggu." jawab Sintia.
"Apa sebelumnya anda sudah membuat janji dengan beliau??." tanya Ambar yang merasa ragu untuk mengizinkan Sintia menunggu di ruangan CEO.
Sintia tampak tersenyum, seolah paham dengan isi kepala Ambar saat ini.
"Tidak perlu cemas, saya bukan orang jahat. Katakan saja pada CEO anda, jika anak dari tuan Mardin ingin bertemu dengannya." mau tidak mau Sintia akhirnya mengaku sebagai anak dari pemilik perusahaan, agar ia mendapat izin untuk meninggalkan di ruangan CEO.
Mendengar pengakuan dari sintia, Ambar lantas beranjak untuk mengantarkan Sintia ke ruangan CEO.
"Mari nona, saya antarkan ke ruangan CEO, anda bisa menunggu beliau di sana!!." ucap Ambar dan Sintia pun mengangguk, ia bisa mengerti dengan kekhawatiran Ambar sebelumnya. jika ia berada di posisi Ambar mungkin ia pun akan berpikiran sama, enggan membiarkan orang asing sembarangan masuk ke ruangan CEO.
"Silahkan masuk, Nona!!!." setelah membuka pintu,ambar lantas mempersilahkan Sintia untuk segera memasuki ruangan CEO.
"Terima kasih." jawab Sintia seraya mengayunkan langkah memasuki ruangan tersebut.
Setelah mengantarkan Sintia ke ruangan CEO, Ambar pun pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, dan Sintia pun mengiyakannya.
Sintia tampak mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, sampai pandangannya tertuju pada sebuah pigura besar dengan gambar ayah dan ibunya yang terpajang di dinding.
Kedua bola mata Sintia mulai berkaca-kaca ketika melihat ibunya tampak tersenyum di dalam gambar tersebut. Ia jadi teringat akan pesan terakhir ibunya, yang meminta dirinya untuk menjaga ayahnya dengan baik jika kelak ibunya telah tiada.
"Mah, maafkan Sintia karena belum bisa menunaikan pesan mama untuk menjaga papa dengan baik." lirih Sintia dalam hati. Sintia melangkah untuk mendekat ke arah pigura tersebut.
Puas memandangi gambar yang ada di dalam pigura yang terpajang di dinding ruangan itu, sintia lantas menjatuhkan bokongnya di sofa.
***
Setelah selesai makan bersama dengan Mr Ahong, Alan lantas mengajak Razak untuk segera kembali ke perusahaan, namun sebelumnya Alan pamit sebentar pada Razak untuk menemui manager restoran dengan alasan untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas pelayanan terbaik yang telah mereka berikan hari ini.
Kurang dari tiga puluh menit, akhirnya Alan kembali menghampiri Razak yang sejak tadi menunggu di mobil.
"Maaf sudah membuatmu menunggu." ungkap Alan dan Razak sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
"Tidak masalah, tuan." jawabnya.
Kini mobil yang di kendarai Razak melaju dengan kecepatan sedang menuju perusahaan. tepat pukul sepuluh lewat Lima belas menit, mereka pun tiba di perusahaan.
Alan dan Razak terlihat melintasi lobby gedung, hendak menuju lift khusus petinggi perusahaan.
"Selamat pagi, tuan.". Sapa Ambar ketika menyadari kedatangan Alan dan juga Razak yang kini melintas di depan meja kerjanya.
"Selamat pagi.".
"Maaf tuan, putri dari pemilik perusahaan kini tengah menunggu kedatangan anda, dan saat ini beliau sedang berada di ruangan anda." lanjut beritahu Ambar, sementara Alan tampak mengangguk paham, sebelum kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.