Trust Me Please.

Trust Me Please.
Kucing kecilku.



Mendengar suara pintu yang tertutup Sintia lantas menarik wajahnya dari dada bidang Alan.


"Arg... memalukan sekali." Sungutnya.


Di saat wajahnya sudah nampak memerah menahan malu, Alan justru terlihat mengukir senyum di bibirnya dan itu membuat Sintia sontak mengerucutkan bibirnya karena merasa sebal.


Alan merasa gemas melihat tingkah istrinya itu.


"Sayang...." seru Alan dengan lembut.


"Hemt." masih dengan bibir yang mengerucut sebal, Sintia menjawab.


"Apa kamu tidak ingin kita berbulan madu??."


 bukan baru kali ini Alan mengajak sang istri untuk berbulan madu, namun dengan alasan pekerjaan terpaksa Sintia menolak ajakan suaminya itu. namun entah kenapa, berat rasanya jika kali ini ia kembali menolak, apalagi ia melihat suaminya itu ingin sekali mengajaknya Bulan madu.


"Sebenarnya aku ingin sekali pergi berbulan madu, bang, nanti akan aku bicarakan lebih dulu dengan direktur utama ruma sakit, semoga beliau memberi izin cuti untukku." Tutur Sintia belum berani mengiyakan permintaan dari suaminya.


Melihat Alan tampak menghela napas dalam mendengarnya, Sintia lantas memainkan jemarinya pada dada bidang Alan.


"Lagian kan kita bisa melakukannya di mana saja yang Abang mau, tanpa harus pergi berbulan madu sekalipun." dengan gerakan manjanya, Sintia memainkan jemarinya pada dada bidang Alan, bahkan kini Sintia sudah mulai nakal dengan memainkan kancing kemeja suaminya itu.


Seperti kata orang, kekesalan seorang pria akan sirna seketika jika sudah di rayu, sepertinya hal itu yang kini di rasakan Alan.


"Yakin, kamu tidak keberatan kita melakukannya di mana saja??."


Tanpa berpikir panjang Sintia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


mendapat anggukan kepala dari Sintia, Alan lantas tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ia mulai memasukan tangan kekarnya ke dalam kemeja istrinya, dan itu membuat kedua mata Sintia membulat dengan sempurna. Seketika Sintia menahan pergerakan tangan kekar Alan yang mulai bergerilya di balik kemejanya.


"Bukannya kamu sendiri yang bilang, kita bisa melakukannya di mana saja. Lalu kenapa kamu malah menolak, sayang."


"Tapi bukan di sini juga kali bang." tutur Sintia. Memang benar kata sintia, mereka bisa melakukan hubungan suami-istri tanpa harus pergi berbulan madu, tapi Sintia tidak menyangka jika Alan menginginkannya saat itu juga, apalagi saat ini mereka sedang berada di kantor. Apa kabarnya jika kegiatan mereka sampai kepergok pegawai Alan, mau di taruh di mana mukanya. Setidaknya begitu pikiran Sintia saat ini.


Tanpa aba aba, Alan sontak menggendong tubuh istrinya ala bridal style menuju sebuah ruangan khusus yang masih berada di dalam ruang kerjanya.


Sintia sungguh di buat takjub pada akses untuk memasuki ruangan tersebut. Bagaimana tidak, pintu ruangan tersebut secara otomatis terbuka ketika ia dan Alan telah berada tepat di depan pintu ruangan tersebut.


"Waaaahhhhh......"


Alan hanya tersenyum ketika menyaksikan istrinya itu menampilkan wajah kagumnya.


Belum habis rasanya kekaguman Sintia akan akses masuk ke ruangan itu, kini ia kembali dibuat kagum dengan perlengkapan di dalam ruangan tersebut. Ruangan khusus milik suaminya itu di lengkapi fasilitas yang sama dengan kamar mereka di rumah, bahkan kamar mandinya pun tak jauh berbeda dengan kamar mandi di kamar mereka.


"Kenapa??? mau mencobanya di sini, sayang??." goda Alan ketika ia menyusul langkah Sintia di kamar mandi.


Alan sungguh tidak menyangka jika Niatnya yang hanya ingin menggoda, ternyata di sambut Sintia dengan menarik sudut bibirnya.


"Sepertinya ide Abang tidak buruk juga." tentu saja Alan melebarkan senyum mendengarnya. Setelah mencoba sensasi di kamar mandi kamar Alan, lalu apa salahnya mencoba suasana baru di sini, setidaknya begitu pikir Sintia.


Puas menikmati suasana kamar mandi dengan fasilitas super lengkap, kini Alan menggendong tubuh p*los istrinya menuju ranjang, berniat melanjutkan kegiatan p*nas mereka di atas tempat tidur.


Kali ini Alan benar benar merasa puas. Bagaimana tidak, Sintia yang biasanya hanya mengimbangi permainan suaminya kini justru lebih mendominasi suaminya dengan memegang kendali permainan mereka.


***


Sudah dua jam Razak bolak balik dari ruangan meeting ke ruangan kerja Alan, namun belum juga ada tanda-tanda jika majikannya itu akan segera keluar dari ruangan pribadinya, Sehingga Razak harus berusaha memutar otak untuk memberi alasan pada klien yang sejak tadi menunggu di ruangan meeting.


Razak yakin jika saat ini Alan sedang berada di ruang pribadinya, mengingat lampu sinyal yang tersembunyi di belakang rak buku Alan tengah menyala, pertanda ruangan pribadi Alan tengah berpenghuni. Tak ada yang mengetahui keberadaan Lampu sinyal itu, selain Alan dan juga Razak.


*


Melihat wajah lelah istrinya yang tengah terlelap membuat Alan mengukir senyum di sudut bibirnya. Bayangan permainan mereka tadi membuatnya seakan tak percaya, kucing kecilnya yang lucu dan juga lugu bisa berubah menjadi seekor macan menguasai permainan p*nas Mereka.


"Kamu memang sangat menggemaskan sayang, bagaimana aku tidak tergila gila padamu." gumamnya, sebelum kemudian mendaratkan kecupan di kening Sintia yang terlelap, sebelum melangkah menuju kamar mandi.


Tak berselang lama Alan keluar dari kamar mandi, dengan rambut yang tampak basah. Ia kemudian mengambil satu set pakaian kerja baru dari dalam lemari kemudian mengenakannya. Kini Alan sudah kembali terlihat rapi dengan stelan jas berwarna navi, secara bersamaan Sintia bangun dari tidurnya.


"Bang Alan mau kemana??." Tanya Sintia dengan suara serak khas bangun tidur.


"Abang mau pergi ke ruang meeting sebentar, tidak masalah kan kalau Abang tinggal sebentar, sayang???."


"Meeting???." ulangnya. sepersekian detik kemudian, Sintia tersadar jika ia harus segera kembali ke rumah sakit.


"Oh astaga, jam berapa sekarang??." tanya Sintia seraya turun dari tempat tidur.


"Memangnya kenapa??." bukannya menjawab, Alan justru balik bertanya ketika melihat wajah Sintia yang kini berubah panik.


"Bisa bisanya aku tidur di sini sementara di rumah sakit sedang banyak pasien." bukannya menjawab pertanyaan Alan, Sintia justru terdengar menggerutu seraya melangkah ke arah kamar mandi.


Bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelahnya Sintia mengenakan pakaiannya yang tadi sempat teronggok tak beraturan di lantai.


"Pakai pakaian yang baru, tidak perlu memakai pakaian kamu yang sebelumnya!!." Alan yang baru saja mengeluarkan sepasang pakaian wanita dari dalam lemari lantas menyerahkannya pada Sintia.


Bukannya senang, Sintia justru menatapnya dengan tatapan tajam.


"Pakaian siapa itu, bang??." tanya sintia dengan tatapan tajam sehingga membuat Alan tampak menahan senyumnya.


Alan bukanlah seorang anak kecil yang tidak tahu kemana arah dan maksud dari pertanyaan istrinya.


"Pakailah dan jangan berpikiran yang bukan bukan!!. Abang sengaja meminta Razak untuk menyiapkan beberapa pakaian wanita untukmu di dalam lemari, untuk menjaga jaga jika sesuatu yang diinginkan seperti saat ini sampai terjadi." jawabnya dengan nada menggoda.


Bukan langsung percaya, Sintia malah menyipitkan kedua matanya kala menatap sang suami.


"Awas saja kalau sampai aku mendengar bang Alan mengajak seorang wanita ke sini!!." kalimat sintia bernada ancaman tersebut membuat Alan semakin gemas dibuatnya.


"Tidak akan pernah istriku, sayang." jawab Alan seraya mengulurkan tangannya mengelus lembut puncak kepala Sintia.