Trust Me Please.

Trust Me Please.
Ide Ratu.



Tidak terasa sudah dua hari Boy menginap di rumah Riko dan Rahma, malam ini Riko baru saja kembali dari rumah Cristi untuk mengantarkan keponakannya itu.


**


Waktu terus berjalan hingga malam pun berganti pagi.


Pagi ini Riko tengah berada di perjalanan untuk mengantarkan Rahma ke rumah sakit untuk mengontrol kondisi kesehatannya pasca operasi transplantasi hati.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih Empat puluh menit, kini mobil Riko tiba di rumah sakit XXX.


Meski sudah dapat berjalan sendiri namun Riko masih tetap khawatir jika istrinya itu kelelahan, sehingga Riko masih meminta istrinya untuk menggunakan kursi roda.


Riko mendorong kursi roda yang kini tengah digunakan Rahma menuju ruangan poli bedah. tak ayal kegiatan Riko tersebut menjadi perhatian pengunjung rumah sakit serta rekan kerja Rahma yang lain.


"Mas, apa tidak sebaiknya aku jalan kaki saja."Usul Rahma, risih ketika menjadi pusat perhatian.


"Pilih mana, tetap duduk diam di kursi roda atau mas gendong sekalian??."


Rahma tampak menghembus napas bebas di udara.


"Baiklah." jawab Rahma dengan nada pasrah. Kalau sudah seperti ini tidak ada pilihan lain selain duduk, diam dan tetap tenang. Karena dari wajahnya, Riko tidak tampak bercanda dengan ucapannya.


Kini mereka pun tiba di depan poli bedah untuk menunggu antrian Karena sebelumnya Riko telah mendaftar untuk pemeriksaan via online.


Tak berselang lama, Ratu yang di temani oleh Alan baru saja tiba di depan poli bedah untuk mengantarkan kakek Harka.


"Hai, Ra." Ratu melangkah mendekati Rahma, keduanya pun tampak cipika cipiki. Sedangkan Alan tampak mendorong kakek Harka dengan menggunakan kursi roda.


"Hai dedek bayi, bagaimana kabar kalian hari ini??." tutur Ratu seraya mengulurkan tangannya pada perut Rahma.


"Alhamdulillah, kabar kami baik, Tante." Jawab Rahma dengan suara yang menyerupai suara anak kecil, dan di akhiri dengan senyum di wajah cantiknya.


Tak lama kemudian, Rahma pamit pada Ratu ketika nomor antriannya telah di panggil. Meski pun ia juga bekerja di rumah sakit tersebut, akan tetapi Rahma tetap mengikuti prosedur yang berlaku, dengan mengikuti antrian bersama pasien yang lainnya, begitu pun dengan Ratu yang kini tengah menunggu antrian untuk kakek Harka.


"Selamat pagi, dokter Rahma.... selamat pagi, Tuan...." dengan ramah Sintia menyapa Rahma dan juga Riko yang baru saja memasuki ruangan.


"Selamat pagi, bu dokter."


"Selamat pagi, dokter Sintia."


"Sebagai pasien yang berprofesi sebagai seorang dokter tentunya saya tidak perlu bertanya, apakah Pasien mengkonsumsi obatnya secara rutin atau tidak." candaan lantas di lontarkan Sintia, lalu di tanggapi Rahma dengan seulas senyum, sebelum kemudian Sintia beranjak untuk memeriksa kondisinya.


"Alhamdulillah....bekas jahitannya bekas operasinya pun sudah mulai mengering, dan kondisi anda pun jauh lebih lebih baik dari sebelumnya, Dokter Rahma. Akan tetapi, jauh lebih baik jika anda membiasakan diri untuk berjalan sendiri tanpa bantuan kursi roda, untuk memantau sejauh mana anda mampu beraktivitas tanpa bantuan kursi roda!!." terang Sintia.


Mendengar penjelasan Sintia, Rahma lantas menatap ke arah suaminya yang kini duduk di tepi tempat tidur pemeriksaan pasien, dari sorot matanya Rahma seolah ingin menyampaikan pada Riko, jika ia bukannya lumpuh sehingga harus terus duduk di kursi roda.


"Baik dokter." jawab Rahma merasa lega mendengar penjelasan dari Sintia.


"Apa tidak akan berakibat fatal nantinya, bu dokter, jika istri saya beraktivitas tanpa bantuan kursi roda??."


Berbeda dengan Rahma, Riko justru terlihat masih ragu untuk membiarkan istrinya beraktivitas tanpa bantuan kursi roda.


Sintia tersenyum mendengarnya.


"Mas, aku ini hanya baru mendapatkan tindakan operasi, bukannya lumpuh." akhirnya Rahma mengeluarkan unek-uneknya pada Riko. bagaimana tidak, selama di rumah suaminya itu bahkan tidak mengizinkan ia berjalan dengan alasan takut jika sesuatu terjadi pada Rahma.


Rahma tampak memutar bola matanya malas dan itu terlihat jelas oleh Riko.


"Sayang, bukan begitu, mas hanya mencemaskan keadaanmu, mas tidak ingin sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Riko mencoba memberi pengertian akan kekhawatirannya.


Melihat Rahma masih memasang wajah sebal padanya, Riko pun mendaratkan sebuah kecupan di kening Rahma.


"Maaf sayang, jika kekhawatiran mas yang berlebihan membuat kamu jadi kurang nyaman." ucap Riko.


Sementara dokter Sintia yang menyaksikan keromantisan Riko memperlakukan Rahma, rasanya ingin segera membeli tiket menuju planet mars.


Setelah selesai sesi konsultasi, Baik Riko dan juga Rahma pamit meninggalkan ruangan dokter.


"Nasib jomblo memang ngenes, Bu dokter." celetuk salah seorang perawat yang bertugas sebagai asisten Sintia, seolah paham dengan isi hati Sintia saat ini. Perawat itu bahkan tampak mengulum senyum di bibirnya.


"Kamu Ngomong apa sih." tepis Sintia.


"Dari pada ngomong yang aneh aneh, Lebih baik kamu panggil pasien selanjutnya!!." lanjut tutur Sintia.


"Baiklah, Bu dokter."


"Pasien atas nama tuan Harka." perawat itu pun lantas memangil nama pasien selanjutnya.


 Tak lama kemudian, seorang pria lansia duduk di kursi roda tampak memasuki ruangan dokter dengan di antarkan oleh kedua cucunya.


"Selamat pagi dokter.". Ucap Ratu dan juga tuan Harka ketika memasuki ruangan.


"Selamat pagi." sahut Sintia dengan ramah dan juga senyum tipis di bibirnya.


Sintia lantas beranjak dari duduknya kemudian meminta bantuan pada perawat untuk membaringkan tuan Harka di tempat tidur tindakan pemeriksaan pasien.


Di tengah kegiatannya, tiba tiba Sintia menoleh ke sumber suara ketika mendengar suara ketukan dari balik pintu. Setelah mempersilahkan masuk, Sintia pun kembali fokus memeriksa kondisi tuan Harka.


ketika mendapat sahutan dari dalam seseorang di luar sana pun lantas masuk ke dalam.


"Sayang, kenapa tidak bilang kalau hari ini jadwalnya kakek untuk kontrol???"


Penuturan Toni yang baru saja tiba di ruangan tersebut sontak saja membuat Alan menatap ke arah adiknya dengan tatapan penuh tanya, Ratu. Bagaimana tidak, Alan Sampai meninggalkan meeting penting di kantor karena Ratu menyampaikan padanya jika Toni tidak dapat menemaninya untuk memeriksakan kondisi kakek Harka pagi ini.


Sementara Ratu yang kini mendapat tatapan dari Abangnya itu hanya menampilkan senyum bodoh.


"Bang, aku titip kakek sebentar ya, ada yang ingin aku bicarakan dengan kak Toni." Ratu lantas mengajak Toni meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari Alan.


"Ada apa Sayang?? Apa yang ingin kamu bicarakan dengan kakak??." tanya Toni dengan gurat penasaran di wajahnya, karena berpikir istrinya itu akan menyampaikan hal yang penting padanya.


"Aku lapar kak, belum sempat sarapan tadi sebelum ke sini.". suara Ratu terdengar manja sehingga membuat Toni melupakan begitu saja apa yang ingin di sampaikan istrinya hingga mengajaknya keluar tadi.


Toni mencubit gemas pipi Ratu, sebelum kemudian mengajak Ratu menuju sebuah cafe yang berada di depan rumah sakit untuk sarapan.