Trust Me Please.

Trust Me Please.
Melepas Rindu.



Setelah kepergian Riko, Hantara memanggil beberapa orang kepercayaannya untuk menyelidiki kesalahan yang terjadi dengan hasil pemeriksaan DNA Riko yang pertama.


"Jika dalam kasus ini ada unsur kesengajaan, maka Hanya orang yang memiliki kuasa dan jabatan tinggi yang mampu melakukan semua ini."


"dan jika dugaanku benar, Kalian cari tahu siapa orangnya!! Saya tidak ingin ada seseorang yang mampu menghalalkan segala cara demi ambisinya bekerja di rumah sakit ini!!. Titah Hantara kepada orang kepercayaannya.


"Baik tuan."


***


Tepat pukul sepuluh pagi pesawat yang ditumpangi Riko tiba di bandara Mutiara sis Al-Jufri palu. Riko yang tidak mengabarkan kedatangannya kepada siapapun termasuk sang istri, memilih meninggalkan bandara dengan menumpangi sebuah taksi online.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah perasaan Riko tak menentu, rasa rindu dan perasaan rasa bersalah kini menyeruak di hati dan pikiran Riko.


Meski pun memiliki bukti akurat jika anak yang dilahirkan Mona bukanlah darah dagingnya namun Riko tetap merasa bersalah karena berita itu sudah terlanjur diketahui Rahma, dan secara otomatis wanita hamil tersebut pasti kini tengah bersedih karenanya.


Setibanya di rumah Riko lantas mencari keberadaan Rahma.


"Di mana dia??." gumam Riko setelah mencari hampir ke seluruh ruangan tetapi Rahma tak kunjung terlihat batang hidungnya.


Perasaan Riko semakin dibuat tak menentu ketika bayangan Rahma kembali meninggalkannya seperti tiga bulan yang lalu terlintas di pikirannya.


"Kamu sudah pulang, Ko?? Kenapa tidak memberi kabar jika kamu akan kembali hari ini??." Tanya mama Rika yang baru saja keluar dari kamarnya, dengan di ikuti oleh papa Abraham di belakang langkah wanita itu.


"Di mana istri Riko, mah??." bukannya menjawab pertanyaan mama Rika, Riko Justru sibuk mempertanyakan keberadaan Rahma.


"Sepertinya Rahma berada di bela_." belum selesai mama Rika berujar Riko telah berlalu begitu saja menuju kolam ikan hias yang letaknya di belakang rumah.


Melihat Mimik wajah Riko membuat mama Rika menautkan kedua alisnya bingung.


"Ada apa dengan anak itu???" gumam Mama Rika seraya menyaksikan punggung Riko hingga tak lagi terlihat oleh pandangannya.


Sedangkan papa Abraham hanya menaikkan kedua bahunya ketika tatapan mama Rika tertuju padanya.


"Sayang." mendengar suara yang sangat familiar di telinganya membuat Rahma beralih dari ikan ikan yang terlihat berenang bebas.


"Mas Riko." Rahma menyambut kedatangan Riko dengan mengulurkan tangannya untuk menyalami suaminya, sehingga Riko di buat terperangah dibuatnya.


Bukannya merasa lega apalagi tenang dengan sikap Rahma saat ini, Riko justru semakin merasa bersalah karena tidak jujur pada istrinya tersebut tentang niatnya kembali ke ibu kota.


Riko membawa Rahma ke dalam pelukannya.


"Sayang, maafkan mas." ucapnya suara tercegat.


"Maaf untuk apa ??." bukannya menjawab Rahma justru balik bertanya seolah tidak tahu dan tidak pernah terjadi apapun.


"Mas minta maaf untuk semuanya." kembali tutur Riko ketika merasakan elusan lembut Rahma di punggungnya, sebelum kemudian menatap kedua bola mata Rahma yang begitu teduh, saat wanita itu melerai pelukannya untuk memberi sedikit jarak di antara mereka.


"Jika saat itu mas bisa memaafkan setelah aku terbukti tidak bersalah, bagaimana mungkin aku tidak bisa memberi maaf untuk suamiku sendiri. Aku sudah tahu semuanya, Gita sudah mengirimkan bukti itu padaku pagi tadi." Jawaban bijaksana Rahma membuat Riko kembali membawa wanita itu kedalam pelukannya.


"Aku juga minta maaf karena sempat berpikiran buruk tentang kamu, mas." lanjut ucap Rahma.


***


Kini percakapan sepasang suami istri tersebut berlanjut di kamar ketika Rahma meminta Riko untuk beristirahat, mengingat perjalanan suaminya itu cukup melelahkan.


Rahma seakan tak percaya setelah Riko menceritakan jika ternyata dalang di balik kejadian malam itu, di mana ia dan Atala ditemukan berduaan di kamar hotel tak lain adalah Mona.Meskipun telah mengetahui semua tindakan keji Mona padanya, entah kenapa Rahma tidak menaruh kebencian kepada wanita itu, Rahma justru merasa iba dengan mantan kekasih dari suaminya itu.


kini Riko dan Rahma bertatapan cukup lama, sampai kemudian Rahma melontarkan pertanyaan yang membuat kedua alis Riko saling bertaut.


"Mas, apa aku boleh menemuinya??.".


"Tidak boleh." tanpa berpikir lama Riko sontak saja menjawab.


"Tapi kenapa mas??."


"Mas tidak ingin wanita itu sampai melakukan sesuatu yang akan membahayakan kamu dan calon anak kita." jawab Riko pelan namun tersirat ketegasan di setiap kata katanya. Jika melihat Riko dalam mode tegas seperti saat ini, Rahma tak lagi berani membantah.


"Lagi pula untuk sementara ini dokter tidak akan mengizinkan kamu melakukan perjalanan jauh." lanjut Ucap Riko mengingatkan tentang pesan dokter seminggu yang lalu.


Dret


Dret


Dret.


Suara ponselnya mengalihkan perhatian Riko ke atas nakas, di mana saat ini ponselnya bergetar tanda seseorang tengah melakukan panggilan.


Ketika melihat nama sekretaris Danu yang tertera di layar ponselnya, Riko pamit sebentar menuju balkon untuk menerima panggilan.


"Pastikan dia pergi sejauh mungkin meninggalkan ibu kota!! Karena Saya takut tidak bisa lagi menahan diri jika nanti kembali bertemu dengan wanita itu." seolah mengetahui apa yang akan di sampaikan Sekretaris Danu, Riko lantas memerintahkan Sekretaris Danu untuk melakukan tugas darinya.


Setelah mendengar sekretaris Danu mengiyakan perintahnya lantas Riko pun mematikan sambungan telepon dan kembali dari balkon menuju kamar.


"Ada apa mas??." tanya Rahma ketika melihat mimik wajah Riko seperti sedang menahan kesal.


"Tidak ada apa apa sayang." jawab Riko kembali mengulas senyum termanisnya di hadapan sang istri.


"Kamu mau ngapain, mas??." tanya Rahma dengan tatapan curiga ketika langkah Riko semakin mendekat ke arahnya.


"Ma_s." suara Rahma terdengar tersendat kala Riko mulai menghujani tengkuknya dengan kecupan.


"Mas kangen, sayang." ucap Riko dengan suara yang mulai terdengar parau. Sebagai seorang istri tentunya Rahma dapat memahami apa yang saat ini diinginkan oleh suaminya. Lantas di pagi menjelang siang hari ini keduanya pun melepas rindu, melakukannya aktivitas panas yang cukup melelahkan.


***


"Mau kemana mah??." tanya papa Abraham ketika melihat istrinya hendak menapaki anak tangga menuju kamar anak dan menantunya.


Mendengar seruan dari suaminya membuat mama Rika sejenak menghentikan langkahnya lalu menoleh pada suaminya.


"Mama ingin mengajak Riko dan Rahma untuk makan siang pah." jawabnya.


"Tidak perlu mah!! biarkan mereka beristirahat saja dulu."


"Tapi pah, sekarang sudah waktunya makan si_." mama Rika tidak melanjutkan kalimatnya setelah sesuatu terlintas di pikirannya, apalagi dugaannya semakin dikuatkan dengan tatapan suaminya.


Mama Rika lantas mengulas senyum di bibirnya. "Astaga, bagaimana mama sampai lupa sih pah." gumamnya sebelum kemudian mengurungkan niatnya.


Papa Abraham merangkul pinggang istrinya kemudian melangkah menuju meja makan. "Mama kayak nggak pernah muda saja." ucapnya seraya menggelengkan kepala.


"Ish papa...."