Trust Me Please.

Trust Me Please.
Hasil karya Sintia.



Pagi ini Sintia berangkat kerja dengan diantarkan oleh sang suami.


Alan menepikan mobilnya di depan gerbang rumah sakit sesuai permintaan dari Sintia.


"good work, my wife." ucap Alan setelah sintia pamit dan mencium punggung tangannya. tangan Alan terulur untuk mengelus lembut rambut Sintia, sebelum Sintia benar benar beranjak turun dari mobil.


Sintia pun merespon ucapan Alan dengan anggukan sekilas.


Setelah menyaksikan tubuh sang istri tak lagi terlihat oleh pandangannya, Alan kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam kini mobil Alan tiba di perusahaan Mardin group. Seperti biasa, kedatangan Alan di sambut Razak yang sejak tadi menunggu di depan pintu utama gedung.


"Selamat pagi, tuan Alan." Razak menunduk hormat.


"Selamat pagi." sahut Alan tanpa menghentikan langkahnya. Razak lantas berjalan di belakang langkah Alan melintasi lobby hendak menuju ke arah lift.


Dalam hati Razak bertanya tanya, mengapa semalam atasannya itu tak jadi datang ke apartemennya.


Beberapa saat kemudian Alan dan Razak tiba di lantai dua puluh, Razak yang masih setia berjalan di belakang langkah Alan lantas ikut masuk ke ruangan Alan seperti biasanya.


"Apa schedule saya hari ini???." tanya Alan yang baru saja mulai menatap layar laptopnya.


"Hari ini hanya ada satu meeting dan itu di adakan di perusahaan. Meeting yang di hadiri oleh beberapa investor asing serta beberapa dari pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita, akan di laksanakan pada pukul sepuluh pagi ini, tuan Alan." beritahu Razak dan Alan pun mengangguk paham. sikap Alan pagi ini sangat jauh berbeda dengan sikapnya kemarin, dan itu membuat Razak bertanya tanya dengan perubahan tersebut.


Razak lantas meninggalkan ruangan CEO ketika Alan memintanya untuk menyiapkan berkas untuk keperluan meeting yang akan di mulai sebentar lagi.


Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit, dan kini Razak telah kembali ke ruangan Alan untuk mengingatkan atasannya itu jika sebentar lagi meeting akan segera di mulai.


Tepat pukul sepuluh pagi, Alan yang di dampingi Razak berjalan menuju ruangan meeting untuk menyambut kedatangan para rekan bisnis serta beberapa calon investor.


"Selamat pagi tuan Alan." ucap Riko yang pagi itu hadir sebagai calon investor tampak mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alan .


"Selamat pagi." sahut Alan seraya menerima uluran tangan Riko. Dengan posisi yang cukup dekat dengan Alan membuat Riko tampak menahan senyum saat pandangannya tertuju pada salah satu bagian tubuh Alan.


"Sepertinya pagi ini anda sangat bersemangat, tuan Alan." lirih Riko dengan nada penuh makna.


Alan hanya tersenyum saja karena tak sepenuhnya paham dengan maksud ucapan Riko.


Sepanjang meeting berlangsung, Alan cukup bingung ketika melihat Semua yang hadir di ruangan itu seperti sedang menahan senyum ketika memandang ke arahnya.


Razak yang cepat tanggap lantas mencoba memperhatikan penampilan atasannya itu dari jarak yang cukup dekat, karena saat ini Razak menempati kursi yang berada tepat di sisi kanan Alan.


"Oh astaga..... tenyata istri anda cukup kreatif, tuan Alan." dalam hati Razak. Pertanyaan yang sejak tadi berada di benak Razak kini terjawab sudah setelah melihat hasil karya Sintia yang cukup banyak di leher Alan.


Tanpa terasa dua jam berlalu dan meeting pun berakhir dengan menghasilkan kesepakatan kerja sama yang telah di sepakati oleh berbagai pihak.


Setibanya di ruangannya, Alan menatap Razak dengan salah satu alisnya yang terangkat ke atas.


"Ada apa?? Apa ada yang aneh denganku??." tanya Alan karena sejak tadi selain Razak tak sedikit yang menatapnya seperti sedang menahan senyum.


Bukannya menjawab, Razak justru mengarahkan sebuah cermin segiempat ke arah leher Alan. Dan itu membuat Alan terkejut bukan main.


Setelah melihat beberapa tanda merah di lehernya melalui pantulan cermin, bukannya marah, Alan justru tersenyum seolah bangga dengan hasil karya istrinya.


"Bagaimana saya tidak menyadarinya jika ternyata istriku telah mengukir karyanya di sini." gumam Alan saat meletakkan telapak tangannya pada bekas merah di lehernya, seraya melihat tanda itu dari pantulan cermin. Pria itu nampak tersenyum sehingga membuat Razak geleng-geleng dibuatnya.


"Oh astaga... ternyata jatuh cinta bisa membuat pikiran seseorang berjalan tak normal." dalam hati Razak ketika menyaksikan Alan justru tersenyum melihat karya istrinya.


Sintia sengaja mengukir karyanya di leher Alan dengan tujuan agar terlihat oleh wanita bernama Kartika, yang begitu mengidolakan suaminya. Sintia tidak mengetahui jika kenyataannya Kartika telah di pecat langsung oleh suaminya, dan Sintia pun tak tahu jika pagi ini suaminya akan memimpin meeting penting di perusahaan.


Sore itu setelah pulang dari kantor, Alan menyempatkan waktu untuk mampir ke rumah orang tuanya untuk melihat kondisi kakek Harka.


Setibanya di kediaman orang tuanya, kedatangan Alan di sambut oleh mama Rani yang begitu merindukan putranya itu. Sementara Ratu yang sore itu kebetulan mampir ke rumah orang tuanya tak kalah antusias menyambut kedatangan abangnya itu.


"Bang Alan." mendengar suara deru mobil yang begitu di kenalinya, Ratu lantas beranjak dari ruang tengah menuju teras depan untuk menyambut kedatangan Alan.


Melihat Alan yang baru saja turun dari mobilnya, ratu nampak menarik sudut bibirnya ketika pandangannya tertuju pada sesuatu yang bisa ia jadikan bahan untuk menggoda abangnya tersebut.


Ratu pun mengulurkan tangannya untuk menyalami Alan.


Kini semua anggota keluarga termasuk Kakek Harka menghabiskan waktu di ruang tengah sambil menyaksikan siaran TV.


Kedua alis Alan tampak saling bertaut ketika melihat Ratu sejak tadi terus menatapnya.


"Ada apa?? Apa kau rindu pada Abang??." tebak Alan.


"CK...pede banget, siapa yang rindu sama bang Alan, Ratu lagi menikmati hasil karya kakak ipar Ratu." jawaban menggoda dari Ratu sontak mengingatkan Alan akan bekas merah pada lehernya. Meski merasa cukup malu, namun Alan tetap memasang wajah biasa saja di hadapan anggota keluarganya.


Semua anggota keluarga nampak menahan senyum setelah arah pandang mereka mengikuti arah pandang Ratu.


"Apaan sih." sanggahan Alan akhirnya membuat Ratu beralih dari objek pemandangannya.


"Nggak nyangka, ternyata kakak iparku sekreatif itu.". Lagi lagi Ratu melontarkan pernyataan yang membuat Alan menatapnya dengan tatapan tajam. Bukannya takut dengan tatapan Alan, Ratu justru tersenyum seperti orang bodoh.


"Kalian berdua seperti anak kecil saja, dan kamu Ratu berhenti menggoda Abang kamu!!!." seperti biasa mama Rani pasti akan turun tangan jika kedua buah hatinya itu sudah terlibat pertengkaran kecil seperti saat ini.


Setelahnya mama Rani kembali tersenyum bahagia, Kesunyian yang seminggu tak terlihat kini kembali ketika kedua buah hati mereka datang berkunjung ke rumah.