Trust Me Please.

Trust Me Please.
Mendengar kabar kematian Mona.



"Aku juga tidak mengerti mengapa hatiku rasanya sedih sekali, mas.". Ungkap Rahma seolah menjawab pertanyaan dari sorot mata Riko ketika menatapnya.


Riko hanya diam saja mendengar ungkapan hati Rahma, mungkin karena sedang hamil sehingga Rahma jadi terbawa suasana seperti itu, begitu pikir Riko.


Sepersekian detik kemudian Rahma teringat akan putranya Mona.


"Lalu di mana putranya sekarang??." tanya Rahma pada wanita itu.


"Saya kurang tahu pasti nyonya, tapi menurut kabar yang saya dengar Gibran di adopsi oleh pasangan suami istri yang berdomisili di luar negeri. Mereka sudah lama menikah dan belum di karuniai seorang anak maka dari itu mereka mengadopsi Gibran, dan itu mereka lakukan dua hari sebelum Mona meninggal dunia." beritahu wanita itu sesuai dengan apa yang ia ketahui.


Setelahnya Rahma pun meminta di antarkan ke makam Mona, dengan senang hati wanita yang merupakan tetangga dekat Mona tersebut mengantarkan mereka menuju makam Mona yang letaknya tak begitu jauh.


Hanya butuh waktu sepuluh menit, kini mobil yang dikendarai Sekretaris Danu tiba di area makam, di mana jasad Mona telah bersemayam.


"Ya tuhan, ada apa denganku, kenapa rasanya hatiku sedih sekali mengetahui jika wanita itu telah tiada??." batin Rahma ketika memandang ke arah batu nisan yang bertuliskan nama Mona.


Perlahan Rahma memposisikan diri di tepi makam Mona, begitu pun dengan Riko yang setia mendampingi sang istri tercinta.


"Apapun yang terjadi di antara kita semasa hidup, aku tidak pernah benci sedikitpun padamu Mona. jika memang kau menganggap aku telah merebut mas Riko darimu, maka tolong maafkan aku!!." Rahma kembali terisak di samping pusara Mona.


"Mona, aku pun ingin meminta maaf padamu, aku tidak bermaksud dzolim Dengan memisahkan engkau dari ibumu, aku hanya tidak ingin kau terus terintimidasi oleh keinginan jahat ibumu dan aku juga tidak tega melihatmu terus dijajakan oleh ibu kandungmu sendiri pada pria hidung belang diluar sana." ungkap Riko dalam hati saja, karena tidak ingin sampai istrinya salah paham dan akhirnya bersedih mendengarnya.


**


Di perjalanan dari makam Mona, Rahma lebih banyak diam. Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Setibanya di hotel, Rahma pun segera beristirahat di kamar hotel sementara Riko pamit sebentar untuk mengobrol dengan Sekretaris Danu di bawah.


"Bagaimana kau bisa sampai tidak tahu tentang kabar kematian Mona??." wajah datar Riko membuat Sekretaris Danu semakin tak punya nyali untuk menjawab, hanya permintaan maaf yang terus terlontar dari mulutnya sejak tadi. Jika di hadapan orang lain Sekretaris Danu tampak bagaikan singa lapar namun jika berhadapan dengan Riko seolah taring sekretaris Danu hilang begitu saja.


"Maafkan atas kebodohan saya tuan."


Mendengar permintaan maaf dari sekretaris Danu yang entah sudah ke berapa kalinya, Riko tampak memijat pangkal hidungnya seraya memejamkan matanya untuk sesaat.


Tidak ingin terus mempersalahkan sekretaris Danu dalam hal ini, Riko pun meminta pria itu untuk segera menyediakan tiket kepulangannya bersama sang istri. Jika terus berada di kota itu hanya akan membuat Rahma terus teringat akan Mona, itu pasti akan membuat istrinya terus bersedih dan Riko tidak ingin sampai itu terjadi.


Riko yang tidak ingin meninggalkan istrinya terlalu lama lantas beranjak meninggalkan Sekertaris Danu.


"Kau urus kepulangan kami malam ini!!." titahnya sebelum bangkit dari duduknya, hendak kembali ke kamar hotel.


Setibanya di kamar hotel, Riko di suguhkan pemandangan istrinya yang tengah terlelap di bawah selimut putih. wajah teduh Rahma membuat Riko merasa tenang setiap kali memandanginya.


Dengan gerakan hati hati Riko bergabung bersama sang istri di ranjang. Riko yang memeluk tubuh Rahma dari belakang lantas mengusap lembut perut buncit istrinya.


Mungkin karena lelah atau terlalu nyaman dalam posisi seperti itu, Riko pun ikut terlelap bersama sang istri.


**


Kali ini Riko dan Rahma bukan hanya berdua namun ada sekretaris yang ikut bersama dengan keduanya.


Kini Rahma sudah lebih tenang di bandingkan dengan beberapa saat yang lalu ketika ia pertama kali mengetahui kabar kematian Mona. Dari situ pula Rahma bisa menyimpulkan, mungkin kabar kematian Mona merupakan jawaban dari kegelisahannya beberapa hari terakhir ini.


"Setidaknya aku sudah datang untuk menemuimu, Mona, meski hanya sekedar bertamu ke makam kamu saja aku sudah merasa sedikit tenang." dalam hati Rahma ketika mereka dalam perjalanan menuju bandara.


Namun Satu hal yang masih membuat Rahma bingung yakni kesedihan yang ia rasakan setelah mendengar kabar kematian dari wanita yang merupakan mantan kekasih suaminya itu.


***


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Alan yang baru saja tiba di rumah sakit setelah seharian bekerja di buat bingung ketika mendapati Sintia yang duduk menyendiri di sebuah bangku yang berada di depan kamar perawatan ayahnya.


"Apa yang terjadi??." Alan sudah mulai berpikir negatif ketika melihat Sintia ternyata sedang menangis.


Bukannya menjawab, Sintia justru beranjak dari duduknya lalu memeluk tubuh Alan, dan itu membuat Alan semakin bingung dibuatnya.


Sementara Razak yang cepat tanggap, lekas memutar handle pintu kamar perawatan tuan Mardin untuk memastikan dugaannya, namun kenyataannya saat ini ia melihat tuan Mardin tengah terlelap di atas tempat tidurnya dan itu artinya tidak terjadi sesuatu pada pria paru baya tersebut.


Dengan gerakan yang sangat hati-hati Razak kembali menutup pintu kamar perawatan itu.


Razak menggelengkan kepalanya ketika Alan bertanya melalui sorot matanya.


Jika tidak terjadi sesuatu pada ayahnya lalu mengapa Sintia sampai menangis seperti ini???. Pertanyaan yang kini berputar di kepala Alan.


Perlahan Alan melepaskan pelukan Sintia agar ia bisa menatap wajah wanita itu.


"Ada apa ?? Apa yang membuatmu sampai menangis seperti ini??." tanya Alan saat menatap kedua mata Sintia yang kini nampak sembab.


"Salah satu mantan pasienku ternyata telah meninggal dunia beberapa hari yang lalu dan aku baru mengetahuinya hari ini." beritahu Sintia di sela tangisnya.


Alan menghela napas mendengarnya, sebelum kemudian kembali membawa tubuh Sintia ke dalam pelukannya. Cukup lama mereka dalam posisi berpelukan.


Beberapa saat kemudian, Sintia yang seakan baru sadar dengan tindakannya tersebut lantas menarik diri dari pelukan Alan. "Maaf." ucapnya.


Tanpa menjawab ucapan Sintia Tangan kekar Alan terulur begitu saja untuk mengusap sisa air mata di wajah Sintia.


"Sebaiknya kita segera masuk ke dalam, lanjut ceritanya di dalam!!." kata Alan dan Sintia pun mengangguk setuju.


Di dalam kamar perawatan ayahnya, Sintia mulai menceritakan tentang sosok Mona pada Alan, termasuk pengorbanan Mona yang rela mengorbankan bagian dari tubuhnya untuk seseorang yang kala itu sangat membutuhkan. Namun begitu Sintia tidak sampai menceritakan jika sebenarnya Mona yang telah mendonorkan hatinya pada Rahma.


"Setiap manusia berhak mengambil keputusan di dalam hidupnya, meskipun keputusannya itu harus membuat orang tersebut harus menerima resiko setelahnya. Sebagai sesama manusia kita hanya bisa mendoakan beliau mendapat tempat yang layak di sisi sang maha kuasa berkat pengorbanannya yang mulia." perkataan Alan membuat Sintia sadar semua yang terjadi telah menjadi takdir dari tuhan, termasuk kematian Mona. Namun begitu, Sintia masih dilema apakah dia harus berterus terang pada Rahma jika sebenarnya pendonor itu adalah Mona atau ia memilih diam saja untuk selamanya.