Trust Me Please.

Trust Me Please.
CEO baru di perusahaan.



Rahma yang tadi sengaja membeli makanan untuk Riko, lantas membuka bungkusan makanan tersebut ketika berada di mobil.


"Apa itu, sayang??." tanya Riko ketika Rahma membuka kantong plastik yang berisi makanan.


"Mas belum makan siang kan??." sahut Rahma seraya melanjutkan kegiatannya mengeluarkan wadah dari kantong plastik.


Mendapat perhatian dari sang istri tentunya membuat Riko merasa senang.


"Terima kasih, sayang." Riko mengulurkan tangan kirinya untuk mengelus rambut panjang istrinya. Sementara Rahma merespon ucapan Riko dengan anggukan sekilas.


Perlahan Riko mulai membuka mulutnya ketika Rahma hendak menyuapinya. suapan pertama, kedua dan seterusnya, hingga tak terasa makanan tersebut pun tandas.


"Maaf ya mas, tadi aku meninggalkan mas sendiri di rumah sakit." tutur Rahma seraya menoleh ke arah Riko, hendak memberikan sebotol air mineral yang sebelumnya telah di buka penutupnya oleh Rahma.


"Tidak masalah, sayang.". Jawabnya, setelah meneguk air mineral di tangannya, dan kini botol air mineral yang masih tersisa setengahnya telah berpindah tangan pada Rahma.


Setelah beberapa saat kemudian, Rahma pun mulai bercerita sedikit tentang pertemuannya dengan Sintia tadi.


"Benar kata kamu, mas, kebahagiaan tidak bisa di lihat dari permukaan saja. Buktinya dokter Sintia yang terlihat sukses dengan karirnya tetapi banyak menyimpan luka dihatinya.". Penuturan Rahma mampu membuat Riko beralih pada Rahma untuk sejenak. Namun begitu Riko tidak berniat menyela apalagi bertanya, ia memilih menjadi pendengar saat istrinya tengah berbagi cerita.


"Di balik senyumnya ternyata Sintia telah kehilangan sosok seorang ibu untuk selamanya. Setelah dua tahun mama nya meninggal dunia kemudian papa nya menikah lagi dan saat itu ia hanya Tinggal bersama dengan kakeknya, dan sejak saat itu keadaan memaksa Sintia harus berubah menjadi gadis yang tangguh." sebagai sesama perempuan Rahma bisa merasakan bagaimana terlukanya perasaan Sintia kala itu, sehingga tanpa sadar Rahma mengusap sudut matanya yang tampak basah oleh air mata.


"Dan setelah kembali papa-nya justru meminta Sintia untuk segera menikah.dan jika tidak, papanya sendiri yang akan mencari calon suami untuknya." lanjut beritahu Rahma.


Tidak jauh berbeda dengan Sintia, Rahma pun dulu pernah merasakan di mana ia juga dijodohkan oleh kedua orang tuanya, dan itu adalah hal yang tidak mudah untuk di terima oleh hati seorang wanita. meski kenyataannya kini ia telah bahagia bersama Riko, setidaknya dulu Rahma pernah merasakan saat saat menyakitkan di awal pernikahannya dengan Riko. Menghadapi sikap dingin Riko adalah saat saat yang sangat menyakitkan bagi Rahma kala itu.


Rahma khawatir nantinya Sintia pun akan merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan dulu menikah dengan pria asing karena dijodohkan, mengingat Sintia tidak jauh berbeda dengan dirinya, tidak memiliki seorang kekasih.


Jika saja nantinya Sintia bisa beruntung seperti dirinya yang mampu meluluhkan hati pria yang dijodohkan dengannya, mungkin Rahma akan ikut senang tapi bagaimana jika sebaliknya. Begitulah sikap Asli Rahma selalu peduli dengan orang orang sekitarnya, apalagi seseorang yang telah banyak berjasa di dalam kehidupannya, termasuk Sintia.


Rahma sengaja memalingkan wajahnya ke arah jendela samping agar wajah sendunya tak sampai nampak oleh Riko.


***


Setelah usia makan siang, Alan pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Siang ini ada pimpinan sengaja mengumpulkan semua kepala divisi karena beliau ingin menyampaikan sesuatu yang penting. entah hal penting apa, yang jelas Alan sendiri pun tak tahu dengan pasti.


Setelahnya, Alan dan pimpinan beranjak menuju ruangan meeting.


Setibanya di ruang meeting, Alan duduk di kursi yang berada tepat di sebelah kanan pimpinan. bukan tanpa alasan, Alan melakukannya karena di minta langsung oleh Pimpinan, tanpa banyak bertanya Alan pun menurutinya.


Salah seorang satu kepala divisi lantas membuka acara, sebelum kemudian memberikan waktu dan tempat kepada pimpinan perusahaan untuk menyampaikan tujuannya mengumpulkan para kepala divisi di ruang meeting di siang hari ini.


"Selamat siang, sebagai pimpinan sekaligus pemilik perusahaan saya ingin menyampaikan beberapa poin penting. Yang pertama, saya ingin iklan untuk produk kita kali ini di kerjakan oleh seseorang yang menurut saya cukup pantas dan untuk itu saya akan merekomendasikan putri saya. Bukan hanya karena dia putri saya akan tetapi karena dia merupakan seorang dokter jadi menurut saya sangat cocok dengan produk baru Kita yang berhubungan dengan alat kesehatan. Tapi untuk itu saya butuh waktu untuk membicarakan tentang hal ini kepada putri saya." terang Pimpinan dan sepertinya semuanya setuju dengan keputusannya.


Cukup lama pimpinan diam, hingga membuat para kepala divisi bertanya tanya dalam hati, mengenai poin kedua yang ingin disampaikan oleh pria paru baya tersebut.


"Dan untuk poin kedua." Pimpinan yang sengaja menggantung kalimatnya membuat yang berada di ruangan tersebut semakin merasa penasaran, tak terkecuali Alan. Alan berpikir mungkin ada kinerja dari pegawai atau sesuatu yang terjadi hingga merugikan perusahaan, tanpa sepengetahuan dirinya.


Cukup lama pimpinan diam, sebelum kemudian kembali bersuara. "Dan untuk poin kedua, saya ingin menyampaikan kepada kalian semua bahwa mulai saat ini saya akan mengangkat salah seorang kepala divisi sebagai CEO di perusahaan ini." ungkap pimpinan, sekaligus itu membuat Alan bisa bernapas lega, karena pria itu telah menjatuhkan pilihannya kepada seseorang, dengan begitu ia tidak perlu merasa tidak enak untuk menolak lagi.


"Dan orang tersebut tak lain adalah Pak Alan putra Sofyan." Sontak saja Alan terkejut bukan main ketika mendengar pimpinan menyebutkan nama lengkapnya di hadapan semua orang yang berada di ruangan itu. rasa lega yang tadinya sempat dirasakan Alan seolah sirna begitu saja.


"Tapi tuan..." Alan hendak protes, mengingat sebelumnya ia belum memberikan jawaban atas tawaran yang di berikan oleh pemilik perusahaan tempatnya bekerja tersebut, lalu kenapa pimpinan memberi pengumuman seperti itu.


Namun kalimat Alan melayang begitu saja bagai angin lalu, ketika semua yang hadir di ruangan tersebut kompak memberi tepuk tangan serta memberikan ucapan selamat kepadanya. Setelah melihat kinerja Alan yang sudah tidak bisa diragukan lagi selama pria itu bergabung di perusahaan, mereka pun merasa Alan memang pantas menempatkan posisi CEO di perusahaan tersebut.


"Dan mulai hari ini anda resmi saya angkat menjadi CEO di perusahaan ini untuk menggantikan tugas saya, Pak Alan." sepertinya keputusan pimpinan sudah resmi, percuma juga rasanya bagi Alan jika hendak melayangkan protes lagi.


Dengan sedikit terpaksa Alan berdiri sambil mengulum senyum di wajahnya, sebelum kemudian sedikit menundukkan kepalanya tanda hormat. Mengingat hampir semua kepala divisi usianya lebih tua dari dirinya.


Setelah pimpinan mengumumkan berita yang cukup membuat Alan tercengang, secara otomatis meeting untuk hari ini pun di anggap selesai.


"Selamat atas posisi yang baru anda dapatkan pak Alan, selamat mengemban amanah yang cukup besar." pak Hendro yang meninggalkan ruang meeting hampir bersamaan dengan Alan, tampak melontarkan ucapan selamat kepada Alan, tanpa ada rasa iri sedikitpun di hatinya.


"Terima kasih pak Hendro." sahut Alan, sebelum kemudian ia pun berjalan bersama dengan pak Hendro meninggalkan ruang meeting.


Jangan lupa like, koment, vote, give, and subscribe ya Sayang sayangku!!! 😘😘😘🙏🙏🙏🙏 setiap komentar yang kalian tinggalkan pasti akan aku baca dengan sepenuh jiwa dan raga 😅😅.


And don't forget to reading karya recehku yang lainnya.... SEMUA BUKAN INGINKU. 😘😘😘😘