Trust Me Please.

Trust Me Please.
Tak ingin kehilangannya.



"Apa kamu menangis, mas??." tanya Rahma ketika melihat Riko memalingkan wajahnya lalu mengusap sudut matanya.


"Tidak sayang, mas hanya kelilipan." sahut Riko sembari mengulas senyum di bibirnya, lebih tepatnya senyum palsu yang sengaja ia tampilkan dihadapan Rahma.


 Rahma pun turut mengulas senyum di bibirnya yang tampak sedikit pucat. "aku pikir tadi kamu menangis, mas." ucapnya.


"Sayang, apa kamu mau makan?? Tadi mas beli ini di depan rumah sakit.". tawar Riko yang Sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.


Rahma menatap ke arah mika yang berisi rujak yang ada di tangan Riko.


"Kelihatannya enak sih mas, tapi sayangnya aku masih kenyang soalnya Tadi makan siang bersama Ratu di kantin rumah sakit."


Pandangan keduanya beralih ketika menyaksikan kedatangan seorang perawat yang tengah mendorong sebuah kursi roda.


"Selamat siang dokter Rahma." sapa perawat tersebut dengan ramah.


"Siang suster." Rahma menjawab sapaan perawat tersebut dengan tak kalah ramah.


"Kami akan memindahkan anda ke kamar perawatan ya dok." ujar perawat seraya mendekatkan kursi roda ke tepi tempat tidur Rahma.


"Tapi kenapa saya harus di pindahkan ke kamar perawatan, Suster?? Bukankah kondisi saya baik baik saja??." tanya Rahma dengan wajah bingung, sementara perawat tersebut tak langsung menjawab pertanyaan dari Rahma, ia justru menatap ke arah Riko.


"Sayang..." Riko mendekat pada Rahma.


"Mas hanya khawatir dengan kondisi kamu dan calon anak anak kita, makanya mas meminta pada dokter agar kamu di rawat di rumah sakit sampai dengan beberapa hari ke depan." dengan nada lembut Riko bertutur pada Rahma. Tentunya itu hanya alasan dari Riko agar Rahma bisa mendapatkan perawatan serta pemeriksaan intensif dari dokter spesialis tentang penyakit yang kini dideritanya.


"Oh begitu..." Rahma tampak mengangguk paham. Ia percaya begitu saja dengan ucapan suaminya.


Kini Rahma telah berada di kamar perawatan VVIP, sementara Riko pamit keluar sebentar dan Rahma pun mengiyakannya.


Riko yang merasa dadanya seakan dihimpit batu besar hingga menyesakkan dada, semenjak mengetahui kondisi kesehatan Rahma tidak punya pilihan lain selain menceritakan tentang kondisi tersebut pada mertuanya melalui sambungan telepon.


Terdengar jelas oleh Riko jika wanita yang telah bertaruh nyawa melahirkan istrinya ke dunia ini tersebut tengah menangis setelah mendengar kabar darinya.


Sebelum mematikan sambungan telepon Riko meminta agar kedua mertuanya bersikap seperti biasa di depan istrinya dan jangan sampai menyampaikan tentang berita itu pada Rahma.


Baru saja hendak memutar handle pintu kamar perawatan istrinya setelah berbicara dengan mama Ening melalui sambungan telepon, Riko di kejutkan dengan kedatangan seorang perawat yang kini menghampiri dirinya.


"Permisi tuan Riko, dokter spesialis ingin bicara dengan anda!!." Perawat tersebut tampak menyampaikan pesan dari dokter spesialis kepada Riko.


"Baiklah, saya akan segera ke ruangan dokter." jawab Riko, namun sebelumnya ia ingin bertemu sebentar dengan Rahma.


Baru saja membuka pintu kamar perawatan, tampak Rahma yang tengah terlelap di atas tempat tidur rumah sakit. Riko melangkah mendekati tempat tidur Rahma.


"Rahma, sangat sangat mencintaimu, jika bisa memilih, mas lebih rela berbaring di sana menggantikan kamu daripada harus melihat kamu dalam kondisi seperti ini, sayang." Riko bergumam dalam hati, lalu mengecup kening Rahma untuk waktu yang cukup lama sebelum kemudian beranjak untuk menemui dokter spesialis yang akan menangani istrinya.


Di ruangan dokter.


"Silahkan duduk, tuan !!!." seorang dokter perempuan mempersilahkan Riko untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Terima kasih dokter." jawab Riko.


"Saya sudah membaca hasil pemeriksaan laboratorium istri anda, dan dari hasil yang pemeriksaan istri anda memang benar mengidap gagal hati. dalam kasus yang menimpa istri anda, sepertinya hanya bisa di tangani dengan tindakan transplantasi hati, dan tentunya itu membutuhkan pendonor." terang seorang dokter perempuan yang bername tag Sintia Ramadani Sp.PD.


"Untuk sementara ini saya akan membicarakan kasus ini dengan dokter spesialis bedah, cara terbaik untuk menangani istri anda." lanjut terang dokter.


"Tanpa anda meminta sekalipun kami akan tetap melakukan yang terbaik untuk pasien karena itu sudah menjadi tugas kami, akan tetapi tidak semudah itu untuk mendapat pendonor hati, Tuan Riko."


Riko tampak mengusap wajahnya dengan kasar ketika mendengar penuturan dari dokter. Bahkan tanpa sadar sudut mata Riko telah basah. Dokter yang melihat itu sontak saja merasa prihatin.


"Untuk sementara waktu sebaiknya kita mencari pendonor dari kalangan keluarga dekat pasien!! Mungkin ada dari salah seorang anggota keluarga yang cocok dengan pasien." terang dokter selanjutnya.


"Istri saya merupakan anak tunggal dokter. Apa selain anggota keluarga tidak bisa menjadi pendonor??." tanya Riko dengan wajah yang hampir putus asa.


"Tentu saja tidak tuan, sekalipun bukan anggota keluarga jika memiliki kecocokan dengan pasien maka bisa menjadi pendonor." mendengar penjelasan dokter setidaknya Riko masih memiliki harapan akan kesembuhan istrinya.


Setelah merasa cukup mendengar penjelasan dari dokter Riko Lantas pamit untuk kembali ke kamar perawatan istrinya.


Tiba di kamar perawatan Rahma, Riko melihat ada ayah Roland dan bunda Ening yang tampak menyuapi Rahma dengan semangkuk bubur.


Tampak jelas kesedihan di raut wajah sepasang suami istri ketika melihat kondisi anak semata wayang mereka yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit.


"Mas Riko." Riko lantas mendekati tempat tidur ketika mendengar Rahma menyerukan namanya.


"Iya sayang.". sahut Riko Seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya.


"Apa kata dokter, mas?? kapan dokter akan mengizinkan aku pulang???." Untuk sejenak Riko terdiam Kala Rahma bertanya demikian. Pria itu hanya menatap kedua mertuanya secara bergantian, sebelum kemudian kembali memutar otak untuk mencari alasan.


"Mas Tadi lupa bertanya tentang itu sayang, nanti mas akan menanyakannya pada dokter." Riko lantas mengatakan sebuah alasan yang saat ini terlintas di benaknya.


"Kalau begitu sebaiknya sekarang mas kembali ke ruangan dokter untuk bertanya!! Lagi pula aku tidak betah berbaring lama-lama di sini, mas." pinta Rahma dengan nada terdengar merengek.


"Ba _baiklah sayang, mas akan kembali ke ruangan dokter untuk bertanya.


Dengan perasaan tak menentu Riko keluar dari kamar perawatan Rahma.


"Oh tuhan...apa yang harus aku lakukan?? aku tidak tega harus berterus terang pada istriku alasan Mengapa ia harus di rawat di sini." Riko yang kini tengah menjatuhkan bokongnya di bangku depan ruangan perawatan Rahma kembali mengusap wajahnya dengan kasar.


Di tengah kebingungan Riko tiba tiba ponselnya bergetar tanda seseorang tengah melakukan panggilan di sebrang sana.


"Hantara." gumam Riko ketika melihat nama pemanggil di ponselnya, sebelum kemudian menekan ke atas ikon hijau untuk menerima panggilan dari Hantara.


"Halo." ucap Riko dengan nada yang terdengar berat.


"Ada apa denganmu??." tanya Hantara dari seberang sana. Sebagai sahabat tentunya Hantara dapat merasakan jika saat ini Riko sedang tidak baik baik saja, meski tidak melihatnya secara langsung.


Riko menghela napas panjang sebelum kemudian berkata. "Istriku mengidap penyakit gagal hati stadium awal." jawab Riko dengan suara tercegat seolah kini ada sebongkah batu besar yang menghadang saluran pernapasannya.


"Astaga." meski Hantara berucap lirih namun masih terdengar jelas oleh Riko.


Mendengar lirih suara isakan, Hantara bisa menebak jika saat ini Riko pasti sedang menangis.


"Tenangkan dirimu!! Aku akan membantumu untuk mencari pendonor hati yang cocok untuk istrimu. walaupun aku tidak bisa berjanji bisa mendapatkannya tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin." tutur Hantara.


"Aku tidak ingin kehilangan istri dan juga calon anak anakku, Tara."


Dari seberang sana semakin terdengar jelas oleh Hantara jika saat ini Riko tengah terisak. bahkan selama mereka berteman selama sepuluh tahun lebih, tak sekalipun Hantara mendengar Riko sampai menangis.