Trust Me Please.

Trust Me Please.
Kedatangan Gita dan Anis.



Ratu kini berada di ruang perawatan kakeknya duduk di kursi yang berada di tepi tempat tidur pasien, sementara papa Sofyan dan yang lainnya masih menunggu di luar.


Di tatapnya wajah lemah kakeknya dengan tatapan sendu.


"Bagaimana perasaan kakek?? Apa ada yang sakit??." dengan lembut Ratu bertanya.


Pria yang tak lagi muda tersebut tampak mengulum senyum lemah di bibirnya yang masih tampak sedikit pucat. "Tidak ada cucu kakek sayang, hanya saja tenggorokan kakek terasa kering." dengan suara lemah pria tua itu berujar.


Di usapnya rambut kakeknya yang telah memutih akibat termakan usia dengan lembut. "Kakek sabar dulu ya !!! Karena untuk sementara waktu Dokter belum mengizinkan kakek untuk makan atau pun minum." meskipun tidak tega melihat kakeknya yang mengeluh haus namun Ratu juga tidak bisa melanggar larangan dari Sintia, selaku dokter yang saat ini bertugas menangani kakeknya.


Kakeknya hanya mengangguk saja.


Berhubung kedua orang tua serta abangnya juga ingin mengunjungi kakeknya, Ratu lantas pamit meninggalkan kamar perawatan itu.


Melihat Ratu yang baru saja keluar dari ruangan tersebut papa Sofyan lantas beranjak masuk bersama sang istri.


"Bagaimana dengan kakek??." tanya Alan. pria itu membiarkan kedua orang tuanya yang lebih dulu masuk untuk melihat kondisi kakeknya sebelum kemudian dirinya Setelahnya.


Ratu menghela napas. "Kakek merasa kehausan tapi dokter belum mengizinkannya untuk minum untuk sementara waktu." jawab Ratu apa adanya.


Kedua alis Alan tampak saling bertaut satu sama lain. "Kenapa bisa begitu??." tanyanya dengan wajah bingung. Sebagai masyarakat awam yang tidak berkecimpung di dunia kesehatan tentunya larangan tersebut di luar pengetahuan Alan.


"Hal itu untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada pasien pasca operasi." timpal Toni. Meskipun bukan spesial bedah namun sedikit banyaknya sebagai seorang dokter, Toni paham akan tujuan dari larangan tersebut.


Perhatian Ratu, Toni dan juga Alan beralih ke sumber suara ketika mendengar pantofel yang saling beradu di lantai mengarah ke mereka.


"Selamat sore, saya hanya ingin menyampaikan kepada keluarga jika sebentar lagi tuan Harka akan segera di pindahkan ke ruang perawatan." terang Sintia. melihat kondisi pasien yang terbilang cukup baik, maka pasien akan segera di pindahkan dari ruang perawatan pasca operasi ke ruang perawatan umum yang berkelas VVIP sesuai dengan permintaan dari papa Sofyan sebelumnya.


"Baik, dokter Sintia." Ratu mewakili keluarga untuk menjawab.


Sintia mengulas senyum di wajah cantiknya. "Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Sintia lantas berbalik hendak kembali ke ruangan staf dokter.


Namun baru beberapa langkah, ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar suara bariton milik seseorang.


"Thank you." tiada angin tiada hujan tiba-tiba Alan mengucapkan terima kasih pada Sintia.


"Thank you for saving my grandpa." Alan memperjelas kalimatnya sehingga membuat Ratu tampak mengulum senyum mendengarnya.


Tidak ingin dianggap tidak sopan apalagi tidak profesional Sintia lantas berbalik badan menghadap ke arah seorang pria yang baru saja berujar padanya.


"Tidak perlu berterima kasih karena itu sudah menjadi kewajiban Saya sebagai seorang dokter. Sekaligus membuktikan kepada seseorang, jika selama ini saya menggunakan kedua mata saya dengan baik." jawab Sintia sengaja memberi tekanan pada kalimat terakhirnya.


"Kalau begitu saya permisi.". Lanjut tutur Sintia dengan nada ramah sebelum benar benar berlalu.


Alan yang merasa tersindir dengan kalimat terakhir dari Sintia, tampak mengelus tengkuknya.


**


Di waktu yang sama.


Demi menjenguk sahabatnya, Gita bahkan rela meninggalkan baby Kay bersama dengan suaminya, Hantara. Begitu juga dengan Anis, gadis itu bahkan sengaja mencari cari alasan agar mendapat izin cuti.


Rahma kini sengaja menunggu kedatangan kedua sahabatnya di ruang tengah bersama dengan kedua orang tuanya, sedangkan Riko kini tengah menjemput keduanya di bandara.


Empat puluh lima menit kemudian, akhirnya mobil Riko tiba di rumah dan itu artinya kedua sahabatnya pun tiba bersama dengan kedatangan suaminya.


"Gita....Anis..." Rahma tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya ketika menyaksikan kedatangan kedua sahabatnya.


"Ra..."


Baik Gita maupun Anis berjalan mendekat pada Rahma.


Ketiga sahabat tersebut tampak melepas rindu dengan saling berpelukan satu sama lain, sebelum kemudian ketiganya menyatukan pelukan layaknya Teletubbies. Tentu saja Gita dan Anis melakukannya dengan hati-hati mengingat Rahma baru kembali dari rumah sakit.


"Bagaimana keadaan kamu, Ra." tanya Gita dan juga Anis memastikan, setelah saling melerai pelukan.


Setelah menyalami kedua orang tua Rahma, lantas Anis dan Gita menempati sofa yang masih kosong di sisi Rahma.


"Seperti yang kalian lihat, keadaanku jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku juga tidak menyangka bisa kembali seperti ini, mungkin jika tidak ada seseorang yang telah begitu baik menolongku mungkin saat ini aku masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit seraya menunggu kematian datang menjemputku." mengingat hal itu membuat raut wajah Rahma berubah sendu.


Gita yang kini duduk tepat di sisi kanan Rahma lantas mengusap punggung sahabatnya itu. "Jangan bicara seperti itu !!." Raut wajah Gita pun ikut berubah sendu. Sebagai sahabat Gita bisa ikut merasakan bagaimana perasaan Rahma ketika berada di masa masa sulit itu.


"Sudah...jangan pada bersedih lagi !!." timpal Anis yang tidak ingin sampai Rahma kembali bersedih karena teringat masa masa sulit kemarin.


"Karena yang seharusnya bersedih di sini itu aku karena belum juga mendapatkan tambatan hati, sementara kalian sudah bahagia dengan pasangan hidup masing-masing. Apa kalian berdua tidak kasihan padaku??" seperti itulah sikap Anis, yang selalu mampu merubah suasana sendu kembali berwarna.


Rahma tersenyum mendengar ungkapan hati Anis yang Sengaja di buat sedramatis mungkin, bahkan mengalahkan drama Korea.


"Memangnya hingga saat ini kau belum bisa menaklukkan asisten pribadi tuan Hantara itu??." tanya Rahma dengan tatapan menggoda.


Anis lantas menghembus napas bebas ke udara ketika mendengar pertanyaan dari Rahma. "Jangankan takluk, melirik padaku saja sepertinya pria itu enggan." ucapan Anis terkesan putus asa.


"Sepertinya kau harus lebih banyak bersabar jika menginginkan pria sedingin salju seperti pak Armada, tapi jika kau tidak sanggup apa salahnya berubah haluan mencari yang lain!!." tutur Rahma yang di akhiri dengan senyum.


"Aku juga bingung dengan sikap pria itu, apa jangan-jangan pak Armada itu kaum pelangi ya??? sebab yang aku lihat selama ini dia tidak pernah mau melirik pada wanita manapun." Anis terdengar mengungkapkan isi hatinya tentang dugaannya terhadap sosok pria bernama Armada.


Rahma dan juga Gita yang kini mendengar ungkapan Anis tampak berpikir.


"Jangan berpikir negatif dulu, belum tentu tidak suka melirik ke sembarang wanita merupakan kaum pelangi, bisa jadi pak Armada memang tidak mudah ditaklukkan." Riko yang baru saja tiba di ruangan tersebut terdengar memberi komentarnya.


Jangan lupa like, koment, vote, and give ya,,,,,


Dan jangan lupa mampir ke karya recehku yang lainnya


_MENIKAH DI USIA REMAJA.


_SEMUA BUKAN INGINKU, masih on going.....😘😘😘😘😘🙏🙏🙏🙏🙏