
Rahma yang baru saja keluar dari kamar mandi tampak mengerucutkan bibirnya, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Riko yang kini justru menampilkan wajah berseri-seri.
"Mulai besok sepertinya aku harus mengunci pintu jika sedang mandi." Gumam Rahma seraya memasang wajah sebal di sela langkahnya menuju ruang ganti.
Bagaimana tidak cemberut, masih pagi pagi Riko sudah menodongnya di kamar mandi untuk meminta jatah preman.
Pagi ini pilihan Rahma jatuh pada dres berwarna hitam dengan panjang selutut.
Sudah hampir dua bulan Rahma lebih nyaman mengenakan dress mengingat perutnya semakin membesar.
Tiga puluh menit kemudian usai bersiap dan juga sarapan, Rahma pun berangkat kerja dengan di antarkan oleh Riko.
Setelah memastikan istrinya memasuki pintu masuk rumah sakit, Riko lantas kembali melajukan mobilnya menuju restoran miliknya. Hari ini rencananya Riko akan bertemu dengan salah seorang pengusaha ternama di bidang kuliner dan rencananya mereka akan bertemu di restoran milik Riko.
***
Toni yang baru saja turun dari kamarnya lantas bergabung bersama anggota keluarganya yang lain di meja makan untuk sekedar menikmati sarapan bersama.
Pandangan Toni beralih pada ayahnya yang kini telah rapi dengan stelan jas lengkapnya.
"Apa papa akan berangkat ke Jakarta lagi hari ini??." tebak Toni. Mengingat sudah hampir dua tahun terakhir ayahnya harus bolak balik jakarta -palu untuk mengurus perusahaan mereka yang berada di kota metropolitan tersebut.
"Iya Ton, sebenarnya mama tidak tega melihat papa kamu diusianya yang sudah tidak muda lagi harus bolak balik jakarta-palu tapi mau bagaimana lagi." tutur mama Sinta dengan raut wajah tak tega saat menatap suaminya.
"Apa kamu tidak berniat mengantikan posisi papa di perusahaan, nak??." dengan wajah penuh harap mama Sinta bertanya pada putra sulungnya.
Toni menghela napas mendengarnya.
"Menggantikan posisi papa mengurus perusahaan bukan berati mama meminta kamu untuk meninggalkan profesi yang kamu cintai, Toni." lanjut mama Sinta, seolah ingin menjawab kekhawatiran Toni.
"Nanti setelah menikah akan Toni pikirkan, mah." sejujurnya Toni pun tak tega, apalagi jika melihat gurat lelah di wajah ayahnya setelah melakukan perjalanan yang cukup menyita waktu dan tenaga.
Ada raut bahagia di wajah ayahnya ketika mendengar jawaban dari putra sulungnya itu.
Sebenarnya mama Sinta ingin sekali kembali ke ibukota namun karena ibu mertuanya yang tidak ingin meninggalkan kampung halamannya akhirnya mau tidak mau ayahnya Toni harus bolak balik jakarta-palu.
Setelah itu, Toni pun menghabiskan sarapannya dan segera berangkat kerja mengingat waktu telah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit.
Karena jalanan di kota palu belum sepadat jalanan di kota besar lainnya di Indonesia, hanya butuh waktu tiga puluh menit kini mobil Toni tiba di basemen rumah sakit.
***
Di sela aktivitasnya, sesekali Toni teringat akan permintaan ibu dan ayahnya.
"Apa ratu tidak akan keberatan jika saya mengajaknya menetap di ibukota setelah kami menikah nanti??." dalam hati Toni. Tidak ingin berpersepsi sendiri maka siang ini Toni berencana membahas tentang hal itu dengan Ratu.
Toni meraih ponselnya di atas meja kerjanya kemudian mengirimkan pesan pada Ratu.
"Saya tunggu di mobil di saat jam makan siang nanti, kita akan makan siang di luar. ada yang ingin saya bicarakan denganmu!!." begitulah kira kira bunyi pesan yang baru saja di kirimkan Toni pada Ratu.
"Siapa??." tanya Rahma ketika cukup lama Ratu menatap layar ponselnya.
Ratu menghela napas. "Kak Toni." jawabnya.
"Oh." Rahma hanya berohria mendengarnya.
"Ada apa??." tanya Rahma ketika melihat Ratu seperti ingin menyampaikan sesuatu namun merasa sungkan.
"Maafkan aku, Ra, sepertinya siang ini aku tidak bisa makan siang bersamamu di kantin karena kak Toni mengajakku makan di luar, sepertinya ada sesuatu yang ingin kak Toni bicarakan denganku." Tutur Ratu merasa tidak enak karena ia baru saja mengiyakan ajakan Rahma untuk makan siang di kantin rumah sakit.
"I'ts ok, pergilah...!!! kita bisa makan siang bersama lain waktu." sahut Rahma pengertian.
"Thank you, Ra." jawab Ratu merasa lega karena Rahma tidak kecewa karena ia menggagalkan rencana makan siang mereka.
Waktu terus berlalu, waktu makan siang pun tiba. Ratu yang baru saja menerima pesan baru dari Toni yang mengatakan jika saat ini ia sudah berada di basemen, lantas beranjak menemui pria itu.
Setelah Ratu masuk ke mobilnya, lantas Toni segera menghidupkan mesin mobilnya lalu mulai menginjak pedal gas meninggalkan area rumah sakit.
Berhubung waktu Istirahat makan siang tidak begitu panjang maka Toni memilih restoran yang letaknya tak terlalu jauh dari kawasan rumah sakit.
"Pilihlah menu makan siang untukmu !!." Toni menyerahkan buku menu pada Ratu ketika mereka telah menempati sebuah meja yang berada di sudut restoran.
Setelah menentukan pilihan, Toni lantas melambaikan tangannya ke arah pelayan untuk membuat pesanan.
"Ratu, jika seandainya setelah kita menikah nanti, saya akan membawa kamu pergi meninggalkan kota ini, apa kamu tidak akan keberatan??." Seraya menunggu makanan datang, Toni mulai mencoba membahas keinginan orang kepada Ratu.
"Apa maksud kak Toni??." tanya Ratu yang belum sepenuhnya paham dengan maksud ucapan Toni.
"Sejujurnya saya tidak tega melihat papa harus bolak balik jakarta -palu untuk mengurus perusahaan diusianya yang sudah memasuki kepala lima." Toni tampak menghela napas panjang dan menghembusnya perlahan sebelum mengatakan hal itu pada Ratu.
"Mama ingin saya menggantikan posisi papa untuk mengurus perusahaan di ibu kota."
Akhirnya Ratu paham dengan maksud ucapan Toni.
"Apapun keputusan yang akan kak Toni ambil aku akan tetap mendukungnya dan kemanapun kak Toni akan membawaku aku tidak akan keberatan, bukankah sudah menjadi tugas seorang istri untuk selalu berada di sisi suaminya." sungguh, Toni tidak menyangka jika Ratu akan mengeluarkan jawaban bijak seperti itu. dan hal itu sekaligus semakin meyakinkan Toni akan pilihannya menikahi gadis cantik itu.
"Terima kasih." saking lega mendengar jawaban dari Ratu, tanpa sadar Toni menggenggam kedua tangan Ratu yang berada di atas meja dan tentunya hal itu membuat jantung Ratu seperti mau lepas dari tempatnya, ketika merasakan hangatnya genggaman tangan Toni.
Melihat kedatangan pelayan yang hendak menyajikan pesanan di atas meja sekaligus menyadarkan Toni dari tindakannya.
"Maaf." ucapnya seraya menarik genggaman tangannya, tidak ingin sampai Ratu berpikir ia bertindak tidak sopan. padahal tanpa sepengetahuan Toni, Ratu merasa begitu senang bahkan wanita itu sampai berpikiran bodoh, tidak ingin membasuh tangannya yang tadi di genggam Toni sampai dengan sebulan ke depan. Gila bukan pemikiran seorang Maharatu Wardaningsih ???
Tak lupa Toni mengucapkan terima kasih pada pelayan restoran setelah menyajikan pesanan di atas meja.
Setelah itu mereka pun fokus menghabiskan makan siang sebelum kemudian kembali ke rumah sakit.
Thank you sudah meluangkan waktu untuk menikmati karya recehku.... jangan lupa like, koment, vote and give ya sayang sayangku....!!!